
...***...
Prabu Candana Kumara sangat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. Tidak mungkin anaknya terkena telah, dan tidak mungkin itu terjadi.
"Senopati malakala!. Apakah kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan?!. Bawa orang asing itu pergi dari sini!." Ia terlihat sangat marah, dan tidak terima?.
"Sandika gusti prabu." Senopati Malakala jadi serba salah. Namun ia harus tetap menuruti apa yang telah dikatakan oleh rajanya. "Maaf nimas putih. Mari kita tinggalkan tempat ini. Mungkin tadi kita salah lihat." Dengan masih lembut Senopati Malakala berusaha membujuk Putri Andhini Andita agar pergi meninggalkan tempat.
Namun saat itu, tiba-tiba ada angin kencang mengarah ke pintu bilik Raden Candana Arga. Sehingga mereka yang tadinya berdebat terkejut dengan apa yang mereka rasakan.
"Kanda prabu. Tadi itu apa?. Dinda merasakan ada angin yang kuat menerpa tubuh dinda." Ratu Ayundari Paramita sampai merinding ketakutan.
"Entahlah dinda. Kanda tidak mengetahuinya sama sekali." Kasat memang ia tidak melihatnya, namun ia merasakannya.
"Itu karena jin yang menempel di kaki putra gusti prabu merasa terganggu dengan apa yang kita lakukan." Putri Andhini Andita dari tadi memperhatikan bagaimana menyeramkannya tatapan mata jin hitam itu.
"Kau ini bicara apa?!. Tidak ada jin atau apapun yang kau sebutkan itu!." Ya, mereka memang tidak melihatnya.
"Kalau begitu akan hamba buat ia memperlihatkan wujudnya pada gusti prabu." Putri Andhini Andita lama-lama kesal juga mendengarkan apa yang dikeluhkan Prabu Candana Kumara. Ia menutupi kepalanya dengan selendang yang ia bawa, serta mengenakan pakaian yang agak tertutup. Meskipun mereka melihatnya dengan tatapan aneh, ia tidak peduli sama sekali. Karena setelah itu ia membacakan ayat kursi, sehingga jin itu menjerit sakit.
Terdengar suara seseorang menjerit kesakitan, suara yang sangat menyeramkan, membuat mereka merinding takut. Hingga ketakutan mereka bertambah ketika mata mereka menangkap sosok Jin hitam menyeramkan.
__ADS_1
"Hiyaaa!." Ratu Ayundari Paramita sampai berteriak ketakutan, memeluk lengan Prabu Candana Kumara saking takutnya.
"Demi dewata agung. Bagaimana mungkin makhluk menyeramkan itu bisa berada di bilik anakku?!." Matanya menatap tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Lalu apa yang akan kita lakukan gusti prabu?." Senopati Malakala juga merinding melihat Jin menyeramkan yang sedang kesakitan karena bacaan dari Putri Andhini Andita.
"Hentikan!. Hentikan!. Atau dia akan mati jika kau membunuhku!." Dalam keadaan kesakitan Jin itu mengancam Putri Andhini Andita. Sedangkan Prabu Candana Kumara, dan Ratu Ayundari Paramita sangat terkejut mendengarnya.
"Lakukan sesuatu!. Aku tidak mau kehilangan anakku!." Ratu Ayundari Paramita sangat takut.
"Jangan sampai kau melakukan kesalahan yang membuatku kehilangan anakku, wahai orang asing." Prabu Candana Kumara tidak bisa membayangkan jika ia kehilangan anaknya.
"Nimas, aku percaya padamu." Senopati Malakala hanya berharap, jika Putri Andhini Andita bisa melakukannya dengan baik.
Srakh!.
Sekali tebas, Jin itu menghilang karena tidak bisa menahan kekuatan dari pedang panggilan jiwa. Sementara itu di waktu yang bersamaan, terdengar suara letusan di suatu tempat.
Duar!!!.
Sang pemilik jin sangat terkejut dengan apa yang ia dapatkan?. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi, ketika jin yang ia kirim kembali dengan cara yang mengejutkan. Jin itu terpental dan menabrak dinding yang terbuat dari bambu. Keadaannya sangat parah?. Kulitnya melepuh semua?. Begitu juga dengan kulitnya.
__ADS_1
"Hei!. Katakan padaku!. Siapa yang telah berani mengusirku!." Ia mencoba untuk menahan sakit yang ia rasakan. Tubuhnya terasa panas, perih yang tidak biasa.
"Ampun tuan." Jin itu masih merintih sakit, namun ia berusaha untuk bangkit. "Ada seorang perempuan asing yang mengusir hamba." Jawabnya sambil mendekati tuannya, tubuhnya sangat sakit setelah mendengarkan apa yang dibacakan Putri Andhini Andita tadi.
"Seorang wanita?. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?!." Ia sangat marah dan tidak terima sama sekali. "Bagaimana mungkin seseorang bisa melihat wujudmu!. Tidak ada yang bisa melihatmu selain aku!." Amarahnya semakin memuncak setelah menyadari jika ada seseorang bisa melihat jin yang ia kirim, dan bisa mengusirnya?.
"Hamba juga tidak mengetahuinya. Namun tatapan matanya, serta hawa yang ia tunjukkan dia bukanlah perempuan biasa. Dia seperti dari kalangan bangsawan muslim. Karena apa yang ia bacakan tadi itu bukan mantram, melainkan ayat tuhan. Hamba tidak bisa melawan ayat tuhan, itulah sebabnya hamba kalah tadi." Jin itu memberi tahu pada tuannya alasan kenapa ia kalah.
"Kurang ajar!." Emosinya semakin memuncak, ia tidak menduganya sama sekali. "Kalau begitu aku akan mencari cara agar bisa membalas atas apa yang telah ia lakukan padamu!." Ada kemarahan yang bergejolak, serta niat yang tidak baik sama sekali. Apakah yang akan ia lakukan?. Temukan jawabannya.
Di sisi lain.
Putri Andhini Andita saat ini sedang memeriksa keadaan Raden Candana Arga. Ia membacakan ayat kursi, surat alfatihah, dan beberapa ayat lainnya pada segelas air. Setelah itu ia percikkan air tersebut ke arah Raden Candana Arga yang masih terbaring di tempat tidur.
Kali ini mereka semua melihat hawa hitam yang menguar dari tubuh Raden Candana Arga, hawa hitam itu pergi meninggalkan tubuhnya. Terutama di kakinya yang katanya tidak bisa berjalan?.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Putri Andhini Andita merasa sangat lega, ia tidak merasakan hawa negatif lagi dari tubuh Raden Candana Arga.
"Apa yang terjadi pada putraku?." Ratu Ayundari Paramita ingin mengetahui kondisi anaknya.
"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan tadi?. Makhluk itu kemana?. Katakan pada kami semua." Prabu Candana Kumara sama sekali tidak bisa mencerna apa yang terjadi. "Kenapa ada jin menyeramkan itu di bilik putraku?. Katakan padaku wahai orang asing."
__ADS_1
"Hamba akan menjelaskannya gusti prabu." Putri Andhini Andita memberi hormat. "Akan tetapi gusti prabu harus mendengarkan dengan baik atas apa yang akan hamba jelaskan ini. Hamba tidak mau terjadi fitnah nantinya pada hamba." Lanjutnya lagi. Apakah ia bisa menjelaskan pada Prabu Candana Kumara apa yang terjadi pada Raden Candana Arga?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya, jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...