KISAH CINTA TUAN PUTRI

KISAH CINTA TUAN PUTRI
SITUASI DAN KECURANGAN


__ADS_3

...***...


Mereka semua tidak menyangka, bukan hanya belajar ilmu hitam saja yang dihayati oleh Putri Rara Saraswati selama ini. Namun ia juga menyimpan pedang lautan kegelapan. Menurut kepercayaan orang suku pedalaman. Pedang itu akan membawa bencana, jika dipegang oleh orang berhati jahat.


"Jadi kau benar-benar telah menjual dirimu pada iblis, rara saraswati?." Putri Andhini Andita merasakan gejolak amarah yang tidak biasa di dalam tubuhnya. Bahkan Pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi keluar sendiri tanpa dipanggil terlebih dahulu. Pedang itu keluar dan melayang, mengarah sendiri ke arah Putri Rara Saraswati. Seakan-akan ia ia ingin menebas kejahatan yang dimiliki oleh Putri Rara Saraswati saat ini.


"Kau tidak usah banyak bicara andhini andita." Putri Rara Saraswati semakin terlihat sangat menyeramkan saat memegang pedang aneh itu. "Maju saja!. Aku tidak takut dengan dengan pedang yang kau gunakan itu!. Pasti akan aku patahkan pedang itu tanpa sisa!." Ada gejolak kesenangan yang ia rasakan saat ini. Sungguh tidak manusiawi lagi perasaannya saat ini.


"Oh, putriku. Kenapa kau bisa berubah seperti ini?. Maafkan ayahandamu yang telah membuatmu kecewa." Hatinya sangat sedih melihat keadaannya saat ini. Semuanya adalah kesalahannya yang telah membuat anak perempuannya hancur berantakan seperti ini.


"Paman patih." Raden Jatiya Dewa juga merasa simpati mendengarkan rintihan kesedihan itu.


"Andhini andita. Segera selesaikan masalah ini. Jika tidak segera kau selesaikan, maka ia akan menjadi lebih ganas lagi. Karena ia sepenuhnya belum menguasai pedang itu." Sukma Dewi Suarabumi menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam pedang panggilan jiwa.


Tap!!!.


Putri Andhini Andita memegang erat gagang pedang panggilan jiwa. "Sandika gusti putri. Akan hamba selesaikan dengan cepat." Putri Andhini Andita tidak juga tidak mau berlama-lama bermain-main dengan Putri Rara Saraswati. "Hawa sekitar jadi tidak enak untuk dihirup karena pengaruh pedang jahat itu." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa tidak enak. Ia segera melompat ke arah Putri Rara Saraswati, namun sabetan pedang panggilan jiwa berhasil di tahan oleh Putri Rara Saraswati dengan menggunakan pedang lautan kegelapan. Hawa pedang itu benar-benar menggambarkan namanya. Keadaan sekitar seperti lautan kegelapan yang memberikan tanda bahaya.


"Nimas dewi, raden jatiya dewa, gusti patih rangga prahaja. Sebaiknya segera mundur dan tinggalkan tempat ini!. Hawa kegelapan ini akan menelan siapa saja!." Putri Andhini Andita menyadari sesuatu yang menyeramkan akan terjadi.

__ADS_1


Saat itu terdengar suara tawa yang mengerikan dari Putri Rara Saraswati. "Ahaha! Kau terlambat menyadarinya andhini andita!. Karena kalian tidak akan bisa pergi kemana-mana lagi!. Ahaha!." Suara itu terdengar sangat tidak biasa. Suara yang dipenuhi dengan dendam, kemarahan, sakit hati yang menjadi satu hingga menghasilkan kegelapan yang tiada tandingannya.


"Uhuk!. Uhuk!." Raden Jatiya Dewa, Putri Dewi Anjarwati, dan Patih Rangga Prahaja terbatuk. Nafas mereka terasa sesak karena udara sekitar semakin menekan. Tenaga dalam mereka seperti diserap sampai ke dalam, hingga mereka tidak bisa mempertahankan diri mereka lagi.


"Raden!. Nimas!. Gusti Patih!." Putri Andhini Andita semakin panik, ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia sangat mencemaskan keadaan mereka saat ini.


"Ahaha!. Kau akan menerima kenyataan ini seumur hidup mu andhini andita!. Kau tidak akan bisa menyelamatkan mereka!." Putri Rara Saraswati tertawa semakin kuat, ia merasa memang saat melihat raut wajah Putri Andhini Andita yang ketakutan.


"Diam kau!." Putri Andhini Andita segera berlari ke arah Raden Jatiya Dewa yang semakin kesakitan. Namun apa yang terjadi saat itu?.


SRAKH!!!


Panggung Putri Andhini Andita mendapatkan sebuah sabetan pedang lautan kegelapan. Benar-benar serangan yang sangat tidak terduga.


"Nimas andhini andita!." Putri Dewi Anjarwati juga terkejut melihat itu. Hatinya bergetar sakit saat melihat serangan tidak manusiawi itu.


"Gusti putri!." Patih Rangga Prahaja juga melihat, bagaimana anaknya dengan tanpa perasaan menyerang seseorang yang sedang lengah seperti itu?.


Brukh!!!.

__ADS_1


Putri Andhini Andita terjatuh, dan bertumpu di tanah. Punggungnya terasa sangat sakit, namun ia masih bisa menggenggam pedang panggilan jiwa. Hatinya terasa sangat sakit, ia tidak menduga akan mendapatkan serangan itu dengan cara yang tidak pernah ia duga sama sekali.


"Benar-benar manusia rendah. Berani sekali kau berbuat curang seperti itu padaku." Ia pegang kuat pedang panggilan jiwa. Tangannya sampai gemetaran menahan gejolak hatinya.


"Gusti putri." Raden Jatiya Dewa sangat ingin menolong, tapi kakinya terasa sangat kaku.


"Nimas andhini andita." Begitu juga dengan Putri Dewi Anjarwati yang ingin menolong Putri Andhini Andita. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Sungguh sangat besar pengaruh dari kekuatan kegelapan pedang yang dipegang oleh Putri Rara Saraswati saat ini.


"Sudah saatnya kau mengucapkan salam perpisahan dengan dunia ini andhini andita." Putri Rara Saraswati mengacungkan ujung pedangnya tepat ke leher Putri Andhini Andita yang masih tertunduk diam. "Ini lah yang akan kau dapatkan, karena kau telah berani bermain-main denganku. Kau pikir kau cukup hebat dengan apa yang kau lakukan andhini andita?." Putri Rara Saraswati kembali merasa di atas angin saat ini.


Namun saat itu, Putri Andhini Andita merasakan suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana adiknya memberi kekuatan padanya. Ia mengikuti apa yang dibacakan oleh adiknya. Yaitunya doa penenang hati dan kekuatan hati. Doa yang selalu ia bacakan ketika ia gelisah.


SRAKH!!!.


Saat itu ia mendapatkan kembali kekuatan hatinya. Tanpa pikir panjang lagi, ia layangkan sebuah tebasan yang cukup kuat ke arah Putri Rara Saraswati. Dengan geraian yang tak terduga ia membalikkan tubuhnya, hingga tebasan itu mengenai perut Putri Rara Saraswati.


"Egkhakh!." Putri Rara Saraswati berteriak kesakitan. Ia tidak menduga sama sekali, jika ia mendapatkan serangan itu tanpa melakukan pertahanan?.


"Raden jatiya dewa!. Segera kumandangkan adzan!." Putri Andhini Andita menatap ke arah Raden Jatiya Dewa.

__ADS_1


"Baiklah gusti putri." Raden Jatiya Dewa mencoba untuk berdiri dengan benar, meskipun tubuhnya sulit untuk digerakkan, namun ia akan mencobanya. Sementara itu, Putri Dewi Anjarwati dan Patih Rangga Prahaja hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Raden Jatiya Dewa. Apa sebenarnya yang diperintahkan oleh Putri Andhini Andita padanya?. Kenapa ia bersikeras untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita?. Sedangkan Putri Rara Saraswati tampak sangat marah, ia tidak terima atas apa yang telah dilakukan oleh Putri Andhini Andita padanya?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2