
...***...
Senopati Malakala sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita. Memang tidak semuanya baik, dan tidak semuanya jahat, atau bahkan tanpa sadar seseorang telah melakukan keduanya.
"Maaf nimas. Apakah aku boleh bertanya pada mu?." Senopati Malakala terlihat sangat penasaran sekali.
"Hamba akan menjawab sebisa hamba gusti patih." Putri Andhini Andita hanya tersenyum kecil.
"Baiklah. Kalau begitu mari kita masuk ke dalam. Supaya lebih enak kita berbicara." Senopati Malakala mempersilahkan Putri Andhini Andita untuk masuk ke dalam rumah. "Maaf, jika aku mengganggu masa istirahatmu nimas, karena ada hal penting yang ingin aku tanyakan." Senopati Malakala tidak dapat lagi menahan dirinya untuk tidak bertanya. Apakah yang akan ditanyakan oleh Senopati Malakala?. Simak terus ceritanya.
...***...
Di kerajaan Suka Damai.
Di padepokan Al-Ikhlas.
__ADS_1
Perasaan Raden Jatiya Dewa saat ini sangat tidak karuan. Hatinya sangat gelisah, tidak tenang, serta pikiran jahatnya telah menguasai dirinya. Sehingga hampir larut malam ia belum juga bisa tertidur.
"Putri andhini andita." Dalam hatinya menyebut nama Putri Andhini Andita. Wanita yang telah mencuri hatinya, pikirannya, perasaanya, jiwa dan raganya. "Apakah aku menyesal telah mengenal mu andhini andita?." Dalam hatinya mencoba mengingat bagaimana pertemuannya pertama kali dengan Putri Andhini Andita. "Rasanya aku ingin menghilang mengingat bagaimana sikap sombongku padanya." Hatinya benar-benar gelisah memikirkan bagaimana pertama kali, dan kesannya seperti itu?. "Ingin rasanya aku kembali ke masa itu, mengubah apa yang terjadi. Tapi aku bahkan tidak bisa mengubah apa yang terjadi satu langkah ke belakang. Oh jatiya dewa, kenapa kau malah jadi orang yang menyedihkan seperti ini?." Hatinya benar-benar menderita mengingat kesan pertamanya. "Aku yakin, itulah alasan kenapa andhini andita tidak bisa melihat ke arahku. Ternyata benar apa yang dikatakan ibunda, bahwa kesan pertama itu sangat penting, dan aku telah mengabaikan apa yang telah dikatakan oleh ibunda. Oh ya Allah, rasanya hamba tidak kuat memikirkannya." Hatinya benar-benar sangat kacau, tidak karuan, seperti orang kehilangan akal sehatnya.
Ia menghela nafasnya dengan pelan, mencoba menenangkan dirinya serta pikirannya yang sangat kacau. "Haruskah aku menggunakan santet supaya kau takluk padaku andhini andita." Perasaan putus asa telah menggoda imannya, hanya karena Putri Andhini Andita sama sekali tidak mau menanggapi perasaannya?. "Apalagi saat ini ia sedang mengembara, melakukan perjalanan untuk menangkan dirinya." Ia membalikkan badannya menghadang ke atas. "Perasaanku semakin terasa jauh, dan ia semakin jauh dari jangkauan." Ucapnya dengan penuh putus asa. "Aku yakin aku tidak memiliki harapan lagi. Aku yakin, dia telah menemukan seseorang yang ia cintai selama melakukan perjalanan. Ya, aku sangat yakin itu." Rasa putus asa yang tercipta dari pikiran buruknya sendiri mengenai Putri Andhini Andita. Perasaan takut, jika orang yang ia cintai telah jatuh hati pada seseorang yang mungkin lebih baik darinya. "Ya Allah. Jagalah putri andhini andita untuk hamba. Hanya kepada-Mu lah hamba meminta pertolongan. Kabulkan doa hamba ya Allah." Hatinya yang dipenuhi perasaan yang tidak karuan, sangat kacau karena memikirkan Putri Andhini Andita. Apakah perasaan itu muncul dari hatinya yang gelisah?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali pada Putri Andhini Andita yang saat ini bersama Senopati Malakala.
"Aku sangat terkejut sekali, saat nimas mengatakan tentang penolakan itu. Karena tidak ada satupun orang yang boleh mengingat masalah itu, atau sampai bocor ke luar." Senopati Malakala masih ingat itu.
"Jadi seperti itu?. Sungguh luar biasa sekali nimas, jika nimas mengetahuinya hanya melalui penglihatan seperti itu." Ada perasaan kagum pada dirinya. Karena memang tidak semua orang bisa melakukannya bukan?.
"Hamba hanya melakukannya gusti patih." Putri Andhini Andita tidak merasa istimewa sama sekali. "Sebelum gusti patih bertanya, ada satu hal yang ingin hamba pastikan." Putri Andhini hanya terlihat sangat serius.
__ADS_1
"Apa yang ingin nimas pastikan?. Katakan saja." Perasaanya sedikit gelisah.
"Apakah seperti itu sikap seorang raja?. Sehingga membuat rakyatnya merasa sangat tersinggung, bahkan melakukan kejahatan." Putri Andhini Andita dapat merasakan ada hal yang sangat aneh dengan sikap Prabu Candana Kumara.
Senopati Malakala menghela nafasnya yang terasa sangat lelah. "Memang seperti itulah keluarga istana." Jawabnya dengan berat hati. "Nimas tahu sendiri bukan?. Jika seseorang yang memiliki derajat tinggi, maka sikapnya akan berubah." Lanjutnya lagi dengan perasaan tidak nyaman sama sekali.
"Ayahanda ku, kakek prabu, bahkan rayi prabu, serta orang-orang terdahulu yang memimpin istana suka damai tidak seperti itu. Bahwa ketika aku beberapa kali tidak sengaja terlibat dengan raja, putra mahkota. Mereka tidak seperti raja yang satu ini. Sungguh sangat berbeda sekali wataknya yang satu ini." Dalam hatinya merasakan ada perbedaan.
"Apakah hanya ingin memastikan itu saja nimas?." Senopati Malakala bertanya.
"Ada satu hal lagi. Bahwa saat kejadian itu terjadi, apakah prabu candana kumara dan ratu ayundari paramita pada saat itu benar-benar telah menghina wanita itu. Apakah itu hukuman mati atas kelancarannya atau memang bunuh diri?. Karena sekilas hamba melihat gusti patih berada di sana." Ya, ia hanya ingin memastikannya.
Senopati Malakala terdiam sejenak. "Sejauh apa nimas mengetahuinya?. Kenapa nimas bisa mengetahuinya?. Padahal aku sama sekali tidak mengatakan apapun padamu nimas." Senopati Malakala sangat terkejut, dan tidak percaya sama sekali. "Sebenarnya nimas ini siapa?. Apakah nimas adalah seorang Dewi yang datang ke kerajaan ini?." Saking tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia bahkan berkata seperti itu.
"Hamba hanyalah manusia yang biasa gusti patih." Jawanya dengan lembut. "Namun ada kelebihan yang hamba miliki sebagai seorang pengembara. Yaitunya bisa melihat apa yang terjadi, apa yang telah menimpa seseorang." Lanjutnya lagi. "Jadi hamba mohon, jawablah dengan jujur. Apakah wanita itu meninggal karena memang bunuh diri, atau karena hukuman mati yang telah dilakukan oleh prabu candana kumara padanya?." Tatapannya sangat serius sekali. Seakan-akan ingin menelan Senopati Malakala agar berkata yang sebenarnya. "Semuanya tergantung pada jawaban gusti Senopati. Karena bukan hanya jin itu saja yang mengincar nyawa raden candana arga. Akan tetapi, perasaan kutukan dari wanita itu lah yang telah membuat raden candana arga menderita." Putri Andhini Andita menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Demi dewata yang agung. Itu sangat berbahaya sekali. Tapi aku telah berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun." Ada keraguan di dalam dirinya karena sumpah yang ia katakan. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Senopati Malakala akan mengatakannya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta. Salam penuh cinta.
...***...