
...***...
Saat ini Putri Andhini Andita sedang bersama Putri Dewi Anjarwati. Mereka berbincang-bincang mengenai perasaan mereka?. Apakah itu adalah salah satu kedekatan antara mereka sebagai seorang putri Raja yang terhormat?.
"Saat negeri ini dilanda bencana, gusti prabu asmalaraya arya ardhana lah yang telah membantu kami." Hanya sekedar basa-basi saja, Putri Dewi Anjarwati berkata seperti itu. "Setelah masalah itu selesai, ayahanda prabu ingin menjodohkan aku dengan gusti prabu." Lanjutnya lagi.
Tentunya Putri Andhini Andita sedikit terkejut mendengarkan ucapan itu. "Rayi prabu tidak mengatakan apapun tentang itu." Dalam hatinya merasa gelisah. "Oh, benarkah?. Apakah rayi prabu menerimanya?." Putri Andhini Andita bertanya seperti itu. Ia ingin memastikannya, karena adiknya tidak pernah mengatakan masalah perjodohan itu.
Putri Dewi Anjarwati sedikit menghela nafasnya. "Awalnya aku sangat gugup sekali. Apalagi pada saat itu aku sangat terpesona dengan penampilannya. Wajahnya yang sangat rupawan, serta sikapnya yang baik luar biasa dari pangeran manapun yang pernah aku temui." Itu adalah ungkapan kekagumannya pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Tapi sayangnya gusti prabu tidak bisa menerima begitu saja perjodohan itu." Ada perasaan kecewa dihatinya. "Tapi sepertinya, gusti prabu memiliki seseorang yang harus ia jaga perasaannya. Karena itulah aku tidak ingin memaksakan keinginan ku." Ia mencoba untuk tersenyum, walaupun masih ada harapan, bahwa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akan membuka hati untuknya.
"Sungguh luar biasa sekali gusti putri." Putri Andhini Andita sangat kagum akan kesabaran dan kemurahan hati yang dimiliki oleh Putri Dewi Anjarwati.
"Panggil saja namaku, dewi anjarwati. Kau juga seorang putri raja bukan?. Yunda dari gusti prabu." Putri Dewi Anjarwati merasa sungkan dipanggil gusti putri oleh Putri Andhini Andita.
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan memanggil gusti putri dengan panggilan nimas dewi saja." Putri Andhini Andita juga merasa sungkan, jika hanya memanggil namanya saja. Apalagi saat ini ia berada di bilik mewah Putri Andhini Andita. Sama halnya dengan kakaknya Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara yang suka barang mewah.
"Kalau begitu aku juga akan memanggilmu dengan sebutan nimas andhini andita. Nama yang sangat cantik, sama seperti orangnya." Putri Dewi Anjarwati memuji kecantikan Putri Andhini Andita.
"Nimas dewi juga sangat cantik. Sama seperti yunda saya, yunda ambarsari yang suka akan kecantikan." Entah itu pembicaraan basa-basi atau apa, namun rasanya sangat canggung sekali.
"Nimas andhini andita, satu-satunya wanita yang mampu meluluh lantahkan perasaan adikku yang mati rasa pada wanita manapun, bahkan pada nimas rara saraswati tidak mampu melakukannya. Kau adalah satu-satunya wanita yang dapat mengubah adikku yang sombong itu, ke arah yang lebih baik." Putri Dewi Anjarwati langsung mengatakan pada intinya.
"Mungkin itu hanya kebetulan saja nimas." Putri Andhini Andita tidak begitu saja percaya.
Putri Andhini Andita tidak menyangka akan mendengarkan perasaan Raden Jatiya dari kakaknya?. "Sebagai seorang kakak yang selalu mengamati adiknya, tentunya aku mengetahui bagaimana adiknya. Aku bahkan seperti ibundanya yang selalu mengawasinya. Karena itulah aku selalu galak dan tegas padanya. Agar ia tidak salah memilih pasangan hidupnya." Putri Dewi Anjarwati tersenyum kecil. "Itu semua terserah penilaian dari mu saja nimas andhini andita. Aku tidak akan memaksamu untuk menerima rayi jatiya dewa. Karena yang akan menjalani ini semua, jadi pikirkanlah dengan baik-baik apa yang telah aku ceritakan padamu." Putri Dewi Anjarwati mengamati anting yang dipakai oleh Putri Andhini Andita.
"Kadang perasaan cinta itu ada. Hanya saja, membutuhkan waktu untuk menerima apa yang belum bisa dirasakan selama ini. Bahkan aku tidak mengetahui dengan pasti apa itu perasaan cinta." Putri Andhini Andita juga merasa sangat bimbang.
__ADS_1
"Teruslah bersamanya, hingga kau dapat merasakan perasaan yang ingin ia sampaikan padamu. Aku yakin kau juga akan merasakannya secara perlahan-lahan. Tidak perlu memaksakan diri." Putri Dewi Anjarwati berjalan menuju meja riasnya.
Putri Andhini Andita tidak merespon sama sekali, ia tidak mengerti harus berbuat apa. Meskipun beberapa kali ia menangkap perasaan cinta yang ditunjukkan oleh Raden Jatiya Dewa. Ia selalu menyadarinya, sangat jelas menyadari itu. Tidak mungkin ia tidak menyadari bagaimana perasaan itu, hanya saja ia tidak sanggup untuk menerimanya. Apakah ia telah mati rasa?. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
...***...
Sementara itu. Patih Rangga Prahaja datang menghadap, ia sedikit terkejut karena Prabu Lingga Dewa tiba-tiba saham memanggilnya.
"Hormat hamba gusti prabu." Ia memberi hormat pada sang prabu.
"Silahkan duduk patih rangga prahaja." Prabu Lingga Dewa mempersilahkan Patih Rangga Prahaja untuk duduk.
"Terima kasih gusti prabu." Ia kembali memberi hormat. "Kiranya ada keperluan apa gusti prabu memanggil hamba?. Pastinya itu adalah kabar yang sangat penting."
__ADS_1
"Ya, ada kabar penting yang harus aku sampaikan padamu. Dan ini semua ulah anak perempuanmu yang telah mempermalukan aku dihadapan nanda prabu asmalaraya arya ardhana." Tanpa basa-basi lagi, Prabu Lingga Dewa langsung menyampaikan tujuannya.
"Putri hamba gusti prabu?." Patih Rangga Prahaja sangat terkejut sekali. "Bagaimana mungkin putri hamba sampai ke kerajaan suka damai?. Memangnya apa yang telah dilakukan putri hamba di kerajaan suka damai gusti prabu?." Tentunya ia ingin mengetahuinya bukan?. Kesalahan apa yang telah dilakukan anaknya pada Raja muda dari Kerajaan Suka Damai bukan?. Bagaimana jawaban dari Prabu Lingga Dewa?. Apakah ia akan mengatakannya?. Tapi apakah Patih Rangga Prahaja akan percaya jika anaknya telah berbuat hal yang sangat memalukan?. Temukan jawabannya.