LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
TUGAS BARU PENGHALAU RINDU


__ADS_3

...Rindu seperti pengganjal laju waktu. Kamu akan melalui malam-malam panjang dan siang yang membosankan, saat terjebak kerinduan....


Hampir sebulan penuh Maira tak bisa menghubungi Janu. Suaminya sedang berada di lokasi tugas, bandara perintis di daerah terpencil. Tak ada sinyal yang bisa membuat mereka terhubung dengan alat komunikasi. Tak ada yang bisa dilakukan, kecuali menunggu.


Maira tak mau terjebak dalam kegelisahan penantian. Dia habiskan waktu dengan aktivitas-aktivitas di rumah dan mengikuti kegiatan di kantor suaminya. Bahkan dia mulai menjahit lagi, meski hanya membuat baju untuk dirinya sendiri.


"Mbak Maira, bajumu jahitannya rapi. Ini beli jadi apa njahitin?" tanya Nina, pagi itu saat mereka ada kegiatan pertemuan rutin di kantor suami.


"Aku jahit sendiri, Mbak."


Mata Nina membulat. "Serius?"


Maira mengangguk sambil tersenyum. Ekspresi wajah terkejut Nina terlihat lucu.


"Kamu bisa jahit?"


"Sedikit-sedikit, Mbak."


"Ini mah, bukan sedikit-sedikit lagi, tapi expert!" Nina mengacungkan jari jempol. Matanya menelusuri blouse warna pastel yang dipakai Maira. Modelnya simpel dan elegan. Jahitan rapi seperti produk butik. "Kapan-kapan aku pengen ngejahitin ke Mbak Maira, deh!'


"Boleh, tapi aku nggak bisa cepet ngerjainnya. Takut si dedek kenapa-kenapa kalau duduk terlalu lama," ujar Maira sambil mengelus perutnya.


"Iya, ya. Eh, tapi sehat kan, kandungannya?"


"Alhamdulillah. Kemarin habis kontrol. Kata dokter, bagus perkembangannya."


"Alhamdulillah. Nggak pakai mabuk atau nyidam?'


"Enggak, mungkin tahu kalau bapaknya jauh, ya?" Maira tertawa getir.


Nina menimpali. Mereka sama-sama ditinggal tugas. Bedanya Nina tak sedang hamil dan sudah cukup lama menikah dengan Serka Untung.


"Hei, ada yang lagi nggosip pagi-pagi!"


Teguran dengan nada sopran mengagetkan mereka. Serentak Maira dan Nina menoleh. Perempuan berambut sebahu dengan make up wajah agak berlebihan itu tampak tertawa lebar. Dewi, istri Serka Andre, berdiri sambil menenteng tas dan membawa kipas di tangan. Pipinya agak merona oleh panas sinar matahari yang mulai tinggi.


"Mbak Andre, sini duduk sini!" ajak Nina, sambil menepuk kursi lipat di sebelahnya.


"Em, sebentar, ya. Aku ada janji ketemu dengan ibu Rana. Beliau ada perlu sama aku," tolak Dewi. "Hmm, nggak tahu, deh, apa-apa aku, apa-apa aku. Emangnya yang lain nggak bisa apa ya?!" Bibir Dewi mencong ke kanan dan ke kiri. Dari cara bicaranya, siapa pun tahu kalau perempuan itu bukan sedang mengeluh. Aroma kesombongan nampak jelas di sana.


"Ya, udah, gue ke sono dulu ya, Cyin!" Mata Dewi berkedip sebelah. Satu ujung bibir ditarik ke atas. Ekspresi wajah centil dan angkuh sekilas terlihat.

__ADS_1


"Huh, sok penting!" sungut Nina, setelah Dewi berlalu.


Maira hanya mengulum senyum. Dalam hati, dia membenarkan ucapan Dewi.


Ibu Rana adalah istri komandan kompi. Beliau memang sering ada perlu dengan Dewi, karena istri Serka Andre itu adalah salah satu pengurus PIA (Persatuan Istri Angkatan Udara). Kebetulan Bu Rana adalah Ketua Seksi dengan Dewi sebagai salah satu bawahannya.


"Aku juga pengurus, tapi nggak kayak gitu juga, deh!" Nina melanjutkan kejengkelannya.


"Sttt ..., Pagi-pagi jangan ghibah!" Maira menempelkan jari telunjuk di depan bibir. Dia tersenyum melihat kegusaran Nina yang terlihat lucu.


Pertemuan pagi ini berjalan seperti biasa. Ada bazar, ada kegiatan ketrampilan, juga wejangan dari ibu komandan. Acara selesai sebelum jam 11 siang. Maira sudah berkemas hendak meninggalkan tempat duduknya ketika Nina tergopoh-gopoh menghampiri.


"Jangan pulang dulu, Mbak Maira!" serunya. Perempuan itu dari tadi memang sibuk di depan. Posisinya sebagai pengurus membuat dia tak bisa santai mengikuti pertemuan. Ada saja yang diurusi selama acara berlangsung.


"Mbak Maira ...." Nina menata nafas yang tersengal-sengal akibat berjalan setengah berlari dari barisan depan ke tempat duduk Maira. "Mbak, jangan pulang dulu. Bu Sapto mau ketemu."


Maira mengernyitkan kening. Bu Sapto adalah salah satu istri perwira di situ. Menjabat di organisasi PIA juga. "Ada apa, ya?"


Alih-alih menjawab, Nina malah menarik tangan Maira, mengajaknya ke barisan depan. Di sana beberapa istri perwira dan pengurus lain masih berkumpul. Tampak di antaranya Bu Rana dan Bu Sapto.


"Hai, apa kabar!" seru Bu Rana begitu melihat Maira. Beliau memang sangat hafal dengan Maira, terutama dengan kisah cintanya bersama Janu. Bahkan beliau juga hadir di acara pernikahan Maira di Jogja.


Bu Rana menarik Maira dan cipika cipiki tanpa rasa canggung.


Setelah Maira menyalami semua yang ada di situ, Bu Sapto mengambil alih. "Bu Janu, ini dari seksi Pendidikan, Kebudayaan dan Olahraga ada perlu sama ibu."


"Ijin, ada apa ya, Bu?"


"Kami dengar ibu bisa jahit, ya?"


"Alhamdulillah sedikit-sedikit bisa, Bu."


"Bukan sedikit lagi kalau dia, Mbak," sergah Bu Rana. "Dulu dia pernah kerja di butik terkenal di Jogja. Malahan banyak juga lho, ibu-ibu senior di Jogja yang udah jadi langganan Bu Janu."


Maira menyipitkan mata. Ah, dari mana Bu Rana tahu?


"Wuih, hebat, dong!" puji Bu Sapto. "Nah, kebetulan kami kan, mau bikin program ketrampilan untuk anggota. Ada bantuan beberapa unit mesin jahit dari pusat. Tadinya kami mau panggil guru untuk mengajar ibu-ibu. Tapi kalau Bu Janu bisa, kenapa nggak pakai aset punya sendiri saja?"


"T-tapi saya belum pernah ngajar, ibu."


"Pernah kursus jahit, kan?"

__ADS_1


Maira mengangguk.


"Bikin pola bisa juga dong?"


Maira mengangguk lagi. "Tapi untuk transfer ilmu menjahit, saya kan, belum pernah, Ibu."


"Tapi pernah jadi guru. Iya, kan?"


Ah, ternyata sebegitu detail mereka cek dan ricek anggotanya.


"Ijin, tapi cuma guru paud, ibu."


"Wis, pokoke pasti bisa lah!" tegas Bu Sapto yang asli Solo. Dia tak membiarkan Maira beralasan lagi. "Itung-itung sekalian untuk kegiatan mengisi waktu saat ditinggal tugas, Bu Janu. Biar nggak ngelangut."


Benar juga apa yang disampaikan Bu Sapto. Saat sendiri di rumah, kadang Maira sering merasa tak tahan dengan rasa rindu yang meradang. Tak jarang air mata tumpah saat berusaha menahannya. Mau telepon tak bisa. Akhirnya menulis pesan WA panjang dia lakukan. Berharap saat Janu turun jaga dan geser ke Sentani, pesan itu akan dibaca.


"Jadi gimana, bersedia, kan?" tanya Bu Sapto.


Agak ragu Maira mengangguk.


"Nah, gitu, dong!" Bu Sapto beralih pada Nina. "Bu Untung, atur waktu pelatihannya dengan Bu Janu, ya. Kita buat dua kali seminggu."


"Siap, Ibu."


"Ijin, ibu, apa tidak terlalu sering kalau dua kali seminggu?" Tiba-tiba Dewi ikut nimbrung. "Takutnya nanti mengganggu kegiatan latihan voli."


Bu Sapto menghela nafas, pandangannya kini tertuju pada Dewi. "Bu Andreee ..., kan, yang ikut pelatihan jahit belum tentu ikut voli. Malah nggak ada mungkin. Iya, kan Bu Untung?"


"Siap, betul, Ibu. Jadi sepertinya memang tidak akan saling mengganggu."


"Nah, tuh, kan! Clear ya, Bu Andre?"


Dewi mengangguk lemah. "Siap, Ibu," jawabnya tak bersemangat. Sejurus kemungkinan ekor matanya melihat Nina dan Maira dengan pandangan tak suka.


Huh, dasar!


(Bersambung)


Note : Yang belum kenal siapa Dewi, istri Serka Andre, baca LELAKI PENGGANTI Season 1, yaa ...!


// terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan rate 5....🙏🙏🙏❤️❤️❤️ //

__ADS_1


__ADS_2