
"Kapten Rian?!"
Mata Maira terbelalak melihat sosok lelaki di depannya. Lelaki itu tersenyum manis lengkap dengan lesung pipi.
"Halo, Bu Janu, selamat atas kelahiran putrinya, ya."
"B-bagaimana bisa d-di sini?" tergagap Maira bertanya.
"Lepas dari Mako aku pindah ke rumah sakit pusat TNI AU ini." Kapten Rian duduk di kursi sebelah bed Maira. Bungkusan berisi kue diletakkan di atas nakas.
"Anu, maaf, apa mas, eh, bapak sudah kenal dengan anak saya?" Bu Kusno mendekat dengan rasa penasaran.
"Ah, iya, Bu. Saya dulu dinas di Bandung di tempat suami Bu Maira bertugas. Dan kebetulan juga saya dan Bu Maira ini dulu teman SMP."
"Woalaah ..., teman SMP? Dunia memang sempit, ya?" Bu Kusno takjub.
"T-tapi bagaimana bisa kapten Rian mendonorkan darah untuk saya?" Maira masih kebingungan.
"Oh, itu. Kemarin kebetulan aku ketemu dengan ibumu saat kebingungan cari pendonor. Alhamdulillah ternyata darahku cocok untukmu. Jadi ya, begitulah ...."
Maira tercenung. Kejadian yang serba kebetulan itu membuatnya tak bisa bicara banyak.
"Gimana bayinya? Sehat, kan?" tanya Kapten Rian.
"Alhamdulillah, sehat," jawab Maira lirih. Entah kenapa tiba-tiba dia disergap rasa canggung. Ingatannya melayang pada pesan Janu agar membatasi diri bergaul dengan perwira duda itu. Ada sesuatu menohok sudut hatinya. Perih terasa.
"Maaf, Pak, kami malah belum tahu nama bapak. Istri saya tadi teledor tidak menanyakan nama dan nomor telepon bapak. Maklum saking senangnya cucunya sudah lahir." Pak Kusno ikut nimbrung.
"Ooh, tidak apa-apa, Pak." Kapten Rian berdiri dan berhadap-hadapan dengan pak Kusno. Diulurkan tangan untuk menyalami lelaki itu. "Kenalkan, saya Riantama, Pak, Bu." Bergantian dia salami pak Kusno dan istrinya.
"Saya Kusno, Pak, bapaknya Maira. Dan ini istri saya."
Untuk beberapa waktu lamanya mereka bertiga ngobrol. Maira sengaja tidak ambil bagian. Dia lebih sering memejamkan mata di atas bednya. Meski sesekali Kapten Rian mencoba mencuri pandang padanya, Maira tetap bergeming.
"Sepertinya sudah semakin malam. Saya pamit dulu, Pak, Bu." Kapten Rian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oh, iya, iya, Pak. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya untuk anak kami," sahut pak Kusno.
Kapten Rian beralih menuju bed Maira. Dilihatnya perempuan itu memejamkan mata. Dia tahu, Maira tidak tidur. Kelopak matanya tampak bergerak-gerak. Beberapa kali pula lehernya turun naik menelan ludah.
"Bu Janu, saya pamit pulang, ya."
Mata Maira terbuka. "I-iya, Pak. Terima kasih atas pertolongannya."
Kapten Rian tersenyum. "Maaf baru bisa mengucapkan sekarang. Semoga suaminya cepat kembali dalam keadaan sehat. Semoga Bu Janu dan putra serta putrinya juga selalu sehat."
Maira hanya mengangguk kelu.
Kapten Rian agak menundukkan punggungnya. Wajahnya mendekat ke Maira. "Harus kuat dan tetap semangat, ya!" bisiknya.
Setelah kepergian Kapten Rian, Maira menjadi susah memejamkan mata. Padahal bapak ibunya sudah terlelap di sofa. Kenangan Maira akan Janu kembali kuat terasa. Rindunya membuncah tiba-tiba.
Mas Janu, pulanglah. Lihat anakmu sudah lahir. Lihat betapa cantiknya dia. Pulang, Mas ... pulang!
Maira terisak di tengah sepinya malam.
***
__ADS_1
Sebulan yang lalu, pasca penyerangan kelompok separatis di lapangan udara perintis, sesosok tubuh berbalut kaos dan celana loreng tampak tertelungkup di tepi aliran sungai pedalaman Papua. Genangan darah merembes dari pahanya. Tubuh itu diam tak bergerak, hingga seseorang datang padanya.
Dia, gadis berkulit legam dengan rok rumbai dan atasan dari kulit pohon. Rambut keritingnya mekar sepanjang bahu. Sebuah tas noken terkait di kepala.
Gadis itu berlutut di sebelah sosok yang diam tak bergerak. Tangannya menggoyang-goyang sosok itu tanpa suara. Lalu dibalikkan tubuh itu. Kepalanya ditempelkan di dada sosok yang terbaring di depannya. Tampak wajah si gadis menegang. Pandangannya tertumbuk pada luka di paha sosok lelaki itu.
Dia berdiri dan berlari masuk ke dalam hutan. Tak berapa lama kemudian kembali dengan mulut tampak sibuk mengunyah sesuatu. Dia kemudian berlutut di sebelah sosok yang masih terbaring di tepi sungai. Disobeknya celana lelaki itu pada bagian paha. Lalu dikeluarkan sesuatu dari mulutnya dan ditempelkan di luka si lelaki. Kemudian dibebatnya luka itu dengan kulit pohon yang dia ambil dari dalam noken.
Untuk sesaat gadis itu memandangi wajah sosok yang masih terbaring di depannya. Kemudian ditepuk-tepuk pipi lelaki itu, namun tetap bergeming. Ditepuk-tepuknya kembali dengan lebih keras, lelaki itu pun merintih pelan.
"Aargh ....'
Gadis itu tersenyum. Lalu dia mengangkat punggung lelaki itu dan mendudukkannya.
"Aaargh!" Lelaki itu kembali merintih kesakitan.
Namun si gadis tak peduli. Diangkatnya tubuh lelaki itu dan dipapah. Pelan-pelan dia menyeretnya masuk ke dalam hutan.
***
Siang itu saat jam besuk pasien, Oza datang bersama Sutar dan Rini. Anak itu gembira melihat bundanya tampak lebih segar. Diciumnya kedua pipi Maira.
"Bunda, adik di mana?" tanyanya tak sabar.
"Di ruang bayi, Za. Nanti eyang antar ke sana ya," sahut Bu Kusno.
"Sekarang saja, eyang!" serunya. Anak itu menggamit lengan Bu Kusno.
"Aku juga mau lihat, Mbakyu," ujar Rini. Dia dan Sutar memang belum sempat melihat bayi Maira kemarin.
"Ya, sudah, ibu antar Paklik, Bulik dan Oza ke ruang bayi saja!" tukas Maira.
Maira tersenyum kecil. "Aku sendirian nggak papa, Bulik. Sudah sehat gini, kok."
Maira memang sudah tampak lebih baik dari pada kemarin. Perempuan itu sudah bisa duduk sendiri di atas bednya. Wajahnya pun terlihat lebih sumringah.
"Beneran ndak apa-apa, Mai?" Bu Kusno meyakinkan.
Maira mengangguk. "Nggak apa-apa, Bu. Sudah sana. Nanti keburu nggak boleh dilihat lagi lho, sama susternya."
Akhirnya mereka berempat meninggalkan Maira. Ini entah sudah yang keberapa kali bu Kusno melihat cucunya sejak pak Kusno berangkat kerja tadi pagi. Dia tak pernah bosan melihat wajah mungil menggemaskan itu meski hanya dari balik kaca. Dan ketika bayi itu dibawa pada Maira untuk disusui, Bu Kusno bisa ikut menyentuh kulitnya yang halus.
Maira merebahkan tubuh di bed. Pandangannya menerawang ke atas. Matanya mengerjap, berkaca-kaca.
"Assalamualaikum!"
Seseorang masuk ke dalam ruangan. Maira berusaha bangkit menyambut yang datang.
"Waalaikumsalam."
Seorang lelaki berseragam biru langit masuk sambil membawa parcel buah. Maira tertegun melihatnya.
"Halo, sudah lebih baikan hari ini?"
Maira hanya mengangguk. Dilihatnya lelaki itu meletakkan buah di atas nakasnya.
"Terima kasih, Pak. Mohon maaf jadi merepotkan," ucap Maira lirih.
__ADS_1
"Ah, enggak. Kebetulan tadi habis istirahat makan siang di luar lewat di tempat pedagang buah. Jadi ingat, kamu harus banyak-banyak makan buah supaya cepat pulih."
Maira menunduk. Kenapa harus memperhatikan aku seperti itu?
"Kira-kira kapan boleh pulang?"
"Belum tahu, Pak. Mudah-mudahan besok sudah bisa pulang."
Kapten Rian mengangguk. "Mudah-mudahan. Kulihat kamu juga sudah semakin segar. Bayimu juga tampak sehat."
Maira menegakkan wajah. "Bapak sudah lihat?"
Kapten Rian tersenyum simpul. "Tadi pagi kebetulan aku lewat di ruang bayi. Sempat melihat sebentar. Cantik ya, dia."
Sejenak Maira teringat sosok mungil itu. Senyum terulas di bibirnya.
"Seperti bundanya," lanjut kapten Rian pelan.
Spalsh ....
Maira merasa pipinya memanas. Mungkin ada rona merah di sana. Perempuan itu jadi merasa canggung dan salah tingkah. Dia memalingkan wajah dari kapten Rian.
"Oh, ee ... e ... mau aku kupaskan buahnya?" Kapten Rian mendadak ikut salah tingkah. Dia menyesali mulutnya yang tak bisa mengendalikan kata-kata. Harusnya pujian itu tak dikeluarkan begitu saja.
"T-tidak usah, Pak. T-terima kasih!"
Untuk sesaat mereka sama-sama diam. Maira memainkan ujung selimutnya sementara Kapten Rian menunduk, meremas-remas jarinya.
"Pak ...."
"Kamu ...."
Hampir bersamaan mereka berkata. Membuat keduanya kembali salah tingkah.
"Eh, bapak dulu!"
"Nggak, kamu saja. Mau ngomong apa tadi?"
Maira menggelengkan lemah. "Nggak jadi," desisnya lirih.
Mereka kembali sama-sama canggung. Hingga kemudian kapten Rian mengangkat tangan dan melihat jam yang melingkar di sana.
"Ah, kurasa akpu harus kembali ke ruangan. Sebentar lagi jam istirahat siang selesai," ucapnya. "Semoga semakin sehat dan pulih kembali, ya!" Dia beralih pada Maira. "Tetap tabah, kuat dan semangat!"
Maira mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Sepeninggal Kapten Rian, Maira menghembuskan nafas panjang.
Kenapa setiap ada orang itu aku menjadi tegang? Apakah ini karena mas Janu pernah mengingatnya aku tentang kedekatan kami?
Maira tertegun.
Mas Janu ..., ah, pulanglah, Mas. Aku rindu ....
(bersambung)
// Terima kasih sudah mampir. Mohon maaf bila tak bisa membalas komentar satu-satu.
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan vote...🙏🙏 //