
Tak perlu uraian panjang untuk menampol kesadaran. Rasa ikhlas kunci dari semua permasalahan.
Maira termenung melihat pesan WhatsApp di gawai. Terlintas di pikiran wajah polos kedua anaknya. Oza yang selalu menanyakan Janu dan Hanin yang merengek saat hati Maira gundah.
Rasa egoisku membuat mereka menderita. Maira mendesah pelan.
Dilihatnya Oza yang masih menggoreskan krayon pada kertas gambarnya. Sementara Hanin sudah terlelap di atas ranjang.
"Za," panggil Maira.
Oza bergeming. Dia tetap serius dengan lukisannya.
"Oza, gimana kalau ayah kita bawa pulang?"
Sontak anak itu mengangkat wajah. Dia berpaling ke arah Maira. "Beneran, Bunda. Kapan?" tanyanya, antusias.
"Tapi ..., Gimana kalau ayah masih tetap nggak ingat kita?" hati-hati Maira bertanya.
Oza bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Maira. "Ya, nggak apa-apa, Bunda. Nanti Oza yang akan membantu ayah mengingat!" Anak itu sekarang duduk di sebelah Maira.
"Beneran nggak apa-apa?"
Oza mengangguk yakin.
"Kamu nggak bakalan sedih?"
"Enggak, Bundaaa ...!" Oza memeluk lengan ibunya. "Ayah nggak ingat kita kan, karena sakit. Kalau sakitnya sembuh, pasti akan ingat lagi."
Ah, kepolosanmu membuatku malu, Za. Tak pantas rasanya emosiku mengkhianati harapanmu.
"Jadi, kapan ayah akan kita bawa pulang, bunda?"
Mata bulat Oza menatap Maira penuh harap. Dia mengelus rambut ikal anaknya.
"Secepatnya. Nanti aku tanyakan dulu dengan dokternya ayah."
"Yeeey ...!!!"
Seruan Oza membuat Hanin terusik. Baby perpipi chubby itu merengek. Segera Maira mengangkatnya dalam gendongan.
"Ups!" Oza menutup mulutnya. "Maaf, bunda."
Maira tersenyum sambil mengayun-ayun Hanin dalam gendongan. "Nggak papa," ucapnya pelan.
Oza mendekati mereka. Dilongokkan wajah pada Hanin yang dalam gendongan. "Adek, ayah mau pulang tau, dek!'
__ADS_1
Hanin menggeliat. Mata bayi itu mengerjap, menatap kakaknya.
"Tapi adek jangan sedih kalau nanti ayah nggak kenal adek. Ke kak Oza aja ayah juga gak kenal, kok. Nanti kita bantu ayah mengingat, ya!"
Celoteh Oza membuat hati dan mata Maira menghangat.
***
Hari berikutnya Maira pergi ke rumah sakit. Bu Kusno melepaskan dengan hati lega. Harapan baru kembali tumbuh di dada perempuan itu.
Tiba di ruang tempat Janu dirawat, Maira tak menemukan suaminya.
"Suster, suami saya di mana, ya. Kok, nggak ada di kamarnya?" tanya Maira pada perawat jaga.
"Pak Janu ya, Bu? Beliau tadi keluar jalan-jalan dengan Kapten Rian. Mungkin ada di taman, Bu."
Kapten Rian?
Jantung Maira berdegup lebih kencang. Dia bergegas keluar gedung setelah mengucapkan terima kasih pada perawat. Langkahnya menuju taman rumah sakit di samping gedung perawatan Janu. Dari kejauhan dilihatnya dua lelaki sedang duduk di sebuah bangku panjang. Satunya berseragam, satu lagi memakai piyama pasien rumah sakit.
"Assalamualaikum," sapa Maira setelah dekat.
"Waalaikumsalam," jawab kapten Rian. Lelaki berseragam itu menoleh.
Janu ikut menoleh menatap Maira. Pandangannya beradu dengan perempuan itu. Ada yang bergetar di dadanya.
Maira mengangguk kelu, menyambut uluran tangan kapten Rian. "Terima kasih, Pak," ucapnya lirih.
Untuk sesaat mereka terdiam. Janu tampak sedikit gelisah. Dia mengusap-usap kepala.
"Ah, yaa ..., karena Bu Janu sudah di sini, saya pamit dulu." Kapten Rian memecah kebisuan. "Atau ... saya bantu bawa mas Janu ke kamar dulu?"
"Tidak usah, Pak!" buru-buru Maira menjawab. "Nanti biar sama saya saja."
Kapten Rian mengangguk, meninggalkan senyum lesung pipi sebelum beranjak pergi. Lelaki berseragam itu tampak menghela napas. Tangannya memegang dada sambil berjalan meninggalkan Maira dan Janu. Digigitnya bibir bawah. Hatinya terasa perih oleh luka yang tak tampak.
Sementara itu, Maira menatap Janu yang masih berdiri. "Masih mau di sini atau kembali ke kamar, Mas?"
Janu menunduk. "Di sini dulu."
Lalu laki-laki itu kembali duduk di bangku panjang. Maira mengikuti duduk di sebelahnya. Mereka kembali tenggelam dalam diam. Maira tak tahu harus bicara apa. Sedangkan Janu, dia kembali mengingat obrolannya dengan kapten Rian sesaat lalu.
***
"Mas Janu, benarkah tidak ada sedikit pun dalam ingatan anda tentang Maira?"
__ADS_1
Janu tak menjawab pertanyaan lelaki berseragam di sebelahnya. Pandangan masih kosong menatap ke depan.
"Seseorang bercerita pada saya bagaimana kisah kalian sebelum menikah." Kapten Rian, lelaki berseragam itu, pandangannya menerawang. "Cinta mas Janu pada Maira adalah sebuah cinta yang tulus dan kuat. Anda bisa bertahan sekian lama tanpa berpaling pada yang lain, meski harapan untuk mendapatkan Maira hampir tak ada."
Janu berpaling pada kapten Rian. Raut wajah lelaki itu menyiratkan kebingungan. Dia sama sekali tak mengerti apa yang sedang dikatakan kapten Rian.
"Ironis, di saat Maira sudah bisa anda miliki, ternyata ingatan anda padanya justru musnah. Pengorbanan sekian tahun lamanya seakan tidak ada artinya." Kapten Rian menyunggingkan senyum menyeringai.
Janu hanya menggelengkan kepala. Lelaki itu benar-benar merasa bingung dengan semua perkataan Kapten Rian. Sebenarnya cerita tentang dia dan Maira sudah pernah dengan detail dia dengar dari perempuan yang bernama Maira itu. Tapi sama saja, dia benar-benar tidak ingat kalau dia pernah melalui peristiwa itu. Yang dia ingat hanya pertemuannya dengan Bertha dan budi baik gadis berkulit legam itu.
Ah, Bertha ....
Tiba-tiba kapten Rian berpaling padanya dan menatap lekat. "Mas Janu, tahukah anda?" Sesaat kapten Rian menghela napas. "... Menyesal saya tahu mengenai kisah kalian. Karena ... itu membuat saya mengurungkan niat dan memupus rasa suka pada Maira!"
Zlep!
Kata-kata kapten Rian terasa tajam. Bahkan dalam ketidakmengertiannya pun tetap ada rasa sakit di dada Janu. Entah untuk apa. Tangan lelaki itu mengepal kuat. Tiba-tiba seringai kapten Rian terasa memuakkan.
"Maksudnya apa, saya tidak mengerti?" tanyanya dengan suara bergetar. Terlihat rahangnya mengeras.
Kapten Rian tersenyum kecut. "Ya, saya mempunyai rasa suka pada istri Anda, Maira. Saat mengetahuinya anda telah melupakan anak dan istri anda, saya merasa dapat peluang besar."
Janu mendengus pelan.
"Tapi ketika mendengar kisah anda di masa lalu dengan Maira, secara sadar saya putuskan bahwa saya tak layak untuk mendekati Maira." Kapten Rian menepuk pundak Janu. "Kembalilah padanya!"
Perasaan Janu campur aduk. Dia tak mengerti apa yang dikatakan Kapten Rian. Tapi, kenapa ada rasa tak suka di hatinya mendengar semua itu?
"Assalamualaikum!"
Percakapan mereka terputus oleh sapaan halus seorang perempuan dari arah belakang. Kapten Rian menoleh sambil menjawab salam. Janu mengikuti.
Maira.
***
Sementara itu, berbekal alamat yang diberikan Bu Kusno, Karina dan Bayu pergi ke rumah pendeta Andreas. Lelaki bersahaja itu menyambut mereka dengan gembira.
"Bisakah kami bertemu dengan Bertha, Pendeta?" pinta Karina hati-hati.
Pendeta Andreas tercenung, tak segera menjawab.
(bersambung)
// Mohon maaf jika up nya agak lama. Terima kasih sudah mampir dan baca. Silahkan beri support npada author dengan bersedekah like, vote dan komen.
__ADS_1
Terima kasih....semoga pembaca setiaku selalu sehat dan bahagia.....❤️🙏❤️ //