
Beberapa waktu lalu sebelum Janu menelepon Maira, tampak sekitar 15 an personel tentara turun dari helikopter di lanud Silas Papare. Mereka berlari menjauhi heli, merunduk-runduk dengan ransel gembung di punggung. Mereka adalah regu yang sedang turun jaga dari bandara kecil daerah pedalaman. Tampak diantaranya Serka Janu Satria.
Setelah apel, mereka bergegas menuju mess tempat istirahat sementara. Janu sedang mengeluarkan barang-barangnya dari ransel ketika Serka Andre menghampiri.
"Gimana situasinya, bro?" tanyanya sambil duduk di sebelah Janu.
"Alhamdulillah aman. Kamu nggak naik jaga?"
"Reguku baru besok meluncur."
"Oh, masih di lokasi yang sama?"
Andre mengangguk. Dia memperhatikan Janu yang menata baju, perlengkapan pribadi, senjata, amunisi, dan lain-lain di sebelah tempat duduknya. Lalu lelaki itu menggoyang-goyangkan ranselnya dalam posisi mulut ransel terbuka menghadap bawah.
"Kamu sudah telepon istrimu?" tanya Andre.
"Belum lah. Aku baru saja datang, kok."
Andre menghela nafas.
Tiba-tiba Janu merasa ada yang aneh. Dia hentikan aktivitasnya membersihkan ransel. Benda itu sekarang diletakkan di depannya. Lalu dia menoleh pada Andre. "Ada apa?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Ah, nggak apa-apa. Nanti kamu telepon saja sendiri," jawab Andre sambil berdiri dan beranjak pergi.
"Heh, tunggu!"
Andre menghentikan langkah. Dia berbalik saat Janu mendekatinya.
"Ada apa dengan istriku. Kamu ada dengar kabar apa, hah?" tanya Janu tak sabar.
"Ah, em ... gimana, ya." Andre tampak ragu.
Janu memegang bahu Andre. "Ada apa, hah?!" teriaknya membuat beberapa pasang mata menatap mereka.
Lalu Andre menarik Janu, mengajaknya ke bagian samping mess.
"Ini, maaf lho, ya, sebelumnya," bisik Andre.
Jantung Janu berdebar melihat ekspresi wajah Andre yang mendadak serius.
"Entah benar atau enggak, sekarang ini di kantor beredar kabar kalau istrimu dekat dengan seorang perwira," lanjut Andre.
Ah, kapten Rian! Janu mengepalkan tangannya.
"Kabarnya, perwira itu malah sampai nganterin istrimu segala malam-malam. Hanya mereka berdua. Gara-gara itu kantor jadi geger. Ya, nggak etis lah, ya, ada seorang istri yang ditinggal tugas suami kok, malah berdua-duaan dengan lelaki lain. Perwira lagi. Satu kantor pula!"
Kata-kata Andre seperti silet menyayat-nyayat hati Janu. Rahang lelaki itu saling beradu. Nafasnya memburu. Kedua tangannya semakin kencang mengepal.
"Eh, tapi ya, ini cuma sekedar yang aku dengar saja lho, ya. Untuk kebenaran beritanya, sebaiknya kamu tanyakan sendiri ke istrimu. Mana tahu berita ini salah, atau justru benar."
__ADS_1
Saat itu ingin rasanya Janu melayangkan kepalan tangannya ke sesuatu. Sayang yang di depannya hanya Andre. Tidak mungkin dia melepaskan kejengkelan lewat pukulan jab kanannya ke wajah Andre yang berjerawat. Bisa geger nanti pasukan.
Janu segera berlari menuju bagian belakang mess. Dia duduk di bawah pohon dan mengambil handphone dari saku bajunya. Nafasnya memburu. Sesaat kemudian dengan gemetar dia mencoba mencari kontak Maira.
***
"Dari siapa kamu mendengar semua omong kosong itu, Mas?" tanya Maira.
"Omong kosong apa. Bukankah benar kamu bersama kapten Rian?"
"Iya, benar. Tapi itu tidak seperti yang kamu pikirkan!" pekik Maira.
Janu mendengus kesal. Dibuangnya muka dari layar handphone.
Lalu tanpa diminta Maira menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Termasuk ulah Dewi yang membuatnya terlambat dijemput. Juga pemanggilan Bu Sapto terhadap mereka berdua untuk menyelesaikan masalah. Semua diceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Kalau mas Janu nggak percaya, boleh tanya sendiri ke Bu Sapto."
Janu tak bereaksi. Namun diam-diam lelaki itu merasa lega. Dia masih percaya pada kejujuran istrinya.
"Aku mungkin memang salah karena tak mengindahkan etika. Tapi saat itu kondisinya aku sangat lelah dan sudah terlalu malam juga untuk menunggu om Haris menjemput."
"Maafkan aku atas keteledoranku ini, Mas," lanjut Maira, lirih. Dia tak ingin memperpanjang masalah lagi dengan Janu. Dia berharap permintaan maaf itu bisa memupus kecurigaan dan kemarahan suaminya.
Janu menghela nafas. "Aku hanya takut sesuatu terjadi padamu, Dik," ucapnya dengan nada rendah. "Aku takut ada hal-hal yang membuat perasaanmu berubah."
"Tidak akan, Mas!" sahut Maira cepat. "Kamu tahu gimana aku. Seharusnya kamu nggak lagi meragukan kesetiaanku!"
"Maafkan aku ya, Dik."
Maira mengangguk. Senyum kembali mengembang di bibirnya.
"Kamu sudah mandi belum, Mas? Kok, masih terlihat kusut gitu?"
Janu menggeleng. Lelaki itu sekarang sudah bisa tersenyum. "Aku baru saja sampai, langsung telepon kamu."
"Nah, kan ..., istirahat dan mandilah dulu, supaya adem hati dan pikiranmu."
Janu mengangguk. Setelah memberi cium jauh untuk istrinya, lelaki itu mengakhiri video callnya.
Saat Janu kembali ke dalam mess, Andre sudah menunggu di bed tempat tidur Janu. Teman satu lettingnya itu berdiri menyambut.
"Gimana, sudah telepon istrimu belum?" tanyanya.
Janu mengerutkan kening. Dia heran kenapa Andre begitu semangat mencampuri urusan pribadinya.
"Sudah," jawabnya pendek.
"Lalu?"
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Janu justru mengambil baju, handuk dan perlengkapan mandinya dari atas bed.
"Benar nggak kabar itu?" tanya Andre lagi dengan aroma kepo yang kental.
Janu menatap Andre lekat. Dihembuskan nafas dengan kesal. "Kalau benar kenapa, kalau enggak kenapa?" tanyanya dengan nada tinggi.
Andre terhenyak. "B-bukan begitu maksudku. Kalau sampai beneran kan, bisa mencoreng korps kita."
"Apanya yang mencoreng, HAH?!"
"Kamu, kalau belum tahu duduk permasalahannya, jangan suka ngomong nggak jelas!"
"Heh, kamu bukannya terima kasih sama karena kukasih info, malah ...!"
"Info apa, info menyesatkan!"
Keduanya sudah siap dalam kondisi saling beradu, bahkan fisik sekali pun.
"Bang, sudah," bisik Serda Doni pada Janu. Sesaat setelah melihat situasi panas di antara mereka, Serda Doni menghampiri Janu.
Janu menghembuskan nafas kesal. Lalu dengan gerakan kasar dia meninggalkan Andre.
***
Di Bandung Maira menjadi resah. Rasa bersalahnya kembali datang mengusik hati. Dia menyesali atas apa yang dilakukan tempo hari. Meski bukan hal yang fatal, tetap saja dia merasa kurang bisa menjaga kehormatan.
Tring!
gawainya berbunyi. Selintas dia lihat ada pesan wa masuk dari kapten Rian.
Hah, kapten Rian? Mau apa lagi dia?
Agak ragu Maira membuka pesan itu.
Maaf kalau apa yang kulakukan kemarin sudah membuatmu repot.
Maira menghela nafas. Diletakkan kembali handphonenya di atas meja. Dia merutuk dalam hati, kenapa setelah beberapa hari kapten Rian malah menghubunginya kembali? Harusnya biar saja tak usah dibicarakan lagi. Masing-masing dengan kehidupannya sendiri-sendiri. Jangan lagi melakukan hal-hal yang memicu rumor tak sedap kembali.
Kembali diraihnya handphone. Lalu dia mulai mengetik jawaban.
Ijin, tidak apa-apa, Pak.
Mohon maaf, mungkin untuk selanjutnya bapak tidak usah hubungi saya lagi. Khawatir timbul gosip tak jelas lagi.
Tak menunggu sampai centang pesan berubah jadi biru, Maira segera memblokir nomor kapten Rian.
(bersambung)
// Salute untuk para perempuan yang selalu bisa menjaga kehormatan dalam situasi apa pun.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like komen n vote, ya...😍😍🙏🙏 //