LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
LUKA YANG KEMBALI MENGANGA


__ADS_3

Rumah dinas Maira segera penuh oleh tetangga-tetangga yang hendak mengetahuinya kabar Janu. Mereka ikut membantu membopong Maira yang pingsan, masuk ke dalam rumah. Teh Lina, ART Maira panik luar biasa melihat kondisi majikannya.


"Duh, Gusti nu aguuung ...!" jeritnya berkali-kali, sambil mengurut-urut kaki Maira. Air mata tak lagi bisa ditahan. "Ibuu ... sadar atuh, ibuuu ...!" lolongnya melihat Maira tetap diam tak bergerak.


Bu Sapto mengoleskan minyak kayu putih di ujung hidung Maira. Nina melepaskan kerudung perempuan itu dan mengelus-elus rambutnya. Mata Nina ikut berkaca-kaca, namun sekuat tenaga ditahannya.


"Agh ..." Tiba-tiba Maira menggerakkan kepala. Bau minyak kayu putih yang menyengat merangsang kesadarannya.


"Bu Janu, bangun, Bu!" Bu Sapto menepuk-nepuk pipi Maira pelan.


Mata Maira mengerjap, lalu perlahan dibukanya.


"Ibuu ..., Gusti, ibuu ...!" jerit teh Lina lagi.


Seketika Maira mengalihkan pandangan ke ujung kakinya. Di sana tampak teh Lina berurai air mata, kedua sudut bibir tertarik ke bawah.


"T-teh ...," panggilnya serak.


Teh Lina menghambur ke samping Nina. Dia segera meraih tangan Maira dan menggenggamnya. "Muhun, ibu, teteh aya di dieuk!"


Bu Sapto meraih gelas teh panas di nakas. "Minum dulu, Bu Janu."


Nina membantu Maira bangun. Ditahannya punggung Maira agar perempuan itu duduk tegak. Sesaat kemudian Maira menyesap sedikit tehnya. Lalu dia duduk bersandar di bahu Nina.


"Bapak, Teh ...," ucapnya lirih pada teh Lina. Maira kembali terisak.


"Muhun, ibu, teteh sudah dengar. Sabar ya, ibu. Mudah-mudahan bapak bisa segera ditemukan." Teh Lina mengelus-elus lengan Maira.


"Bundaa ..., Bundaaa ...!"


Panggilan Oza dari luar kamar mengejutkan Maira. Perempuan itu bergegas bangkit dari ranjang. Dengan masih di papah Nina, dia berdiri.


"Bunda, ada apa?" Oza lari mendekati Maira. Mata polosnya menatap Maira dan orang-orang di sekitar bundanya, bergantian.


Hampir Maira menjerit jika saja Nina tak berbisik padanya.

__ADS_1


"Tahan dirimu, Mbak. Kasihan Oza kalau melihatmu begini."


Susah payah Maira menguatkan hati. Direngkuhnya Oza dalam pelukan. "Nggak apa-apa, Sayang. Tadi Bunda sakit, jadi diantar sama Tante Untung dan Bu Sapto pulang," ucapnya parau.


Teh Lina segera menghampiri mereka. "Oza, hayuk maem dulu sama teteh!" ajaknya, sambil menggamit tangan Oza. "Bunda biar istirahat dulu, ya."


Maira kembali terduduk di ranjang saat Oza berlalu bersama teh Lina. "Bagaimana saya harus menjelaskan padanya, Bu?" keluhnya lirih.


Bu Sapto ikut duduk di sebelah Maira. "Nanti biar saya bantu menjelaskan pada Oza, Bu Janu."


Maira mengangguk kelu. Dia berharap kepolosan Oza membuat anak itu bisa menerima kabar kurang menyenangkan ini. Jiwa naif seorang anak, kadang menyimpan rasa optimis berlebihan. Itu akan membuatnya bisa meyakinkan diri bahwa ayahnya baik-baik saja dan segera ditemukan.


Pada kenyataannya, sehalus apa pun cara Bu Sapto menyampaikan, tangis histeris Oza akhirnya yang terdengar. Anak itu menyimpan trauma mendalam tentang kehilangan seorang ayah. Kematian Galang dulu menggoreskan luka di memorinya. Dan luka itu kini kembali menganga, sama seperti apa yang dirasakan bundanya.


Kehilangan itu, bahkan belum genap tiga tahun mereka rasakan. Masih segar dalam ingatan bagaimana pedihnya hati Maira saat mendengar jeritan Oza menyaksikan jenazah Galang dimasukkan liang lahat. Bagaimana kosongnya jiwa Maira saat menerima lipatan bendera merah putih seusai pemakaman Galang. Haruskah sekarang mereka kembali merasakannya?


***


Karina dan Bayu segera meluncur ke Bandung begitu mendengar kabar. Mereka sampai saat malam sudah larut. Karina segera menubruk kakaknya yang terbaring di ranjang. Tak kuat rasanya melihat kakaknya dalam keadaan demikian. Matanya tampak kosong menatap langit-langit kamar.


Tiba-tiba Maira terisak. Dipeluk adiknya erat-erat. "Apa Mbak bisa kuat menghadapinya kembali, Karin?" tanyanya dengan suara serak.


"Mbak jangan mendahului takdir. Tetap semangat dan kencengin doanya untuk keselamatan mas Janu!"


Karina memaklumi apa yang dirasakan Maira sekarang. Traumanya terhadap rasa kehilangan membuat kakaknya itu nyaris putus asa dan berada di titik terendah. Beruntung dia didampingi orang-orang yang selalu baik padanya. Nina dan teh Lina rela menginap, menemani Maira sebelum dia datang.


Pintu kamar terbuka, Oza masuk bersama Bayu. Anak itu sudah rapi dengan sarung dan peci.


"Bunda."


Maira bangkit. "Oza, kenapa belum tidur, Sayang?"


"Dia bangun waktu aku masuk kamarnya," tukas Bayu. Lelaki itu ikut masuk kamar mengiringi Oza.


"Kita sholat yuk, Bunda. Kita doain ayah segera ketemu!" ucap Oza polos. Anak itu menarik tangan Maira, mengajaknya berdiri.

__ADS_1


Karina memalingkan muka, menyembunyikan tangisnya. Bayu menengadahkan wajah, menahan air mata yang hendak jatuh di pipinya. Sedangkan teh Lina dan Nina yang berdiri di ambang pintu, diam-diam kembali keluar. Mereka menumpahkan tangis di ruang tengah.


Maira mengusap air mata. Diciumnya puncak kepala Oza. Entah apa yang tadi dikatakan Bayu pada keponakannya itu, sehingga kesedihan yang menyergap Oza seharian tadi mendadak lenyap tak tersisa.


Oza, ternyata kamu lebih kuat dari pada bunda.


Esok harinya keluarga dari Jogja datang. Mereka pak Kusno, Bu Kusno, Bu Hartini, mbak Wulan beserta suami dan anaknya. Hujan air mata saat keluarga besar itu berkumpul. Terlebih Bu Hartini. Perempuan itu beberapa kali pingsan mengingat anaknya. Sama seperti Maira, dia juga mengalami trauma kehilangan semenjak Galang gugur dalam kecelakaan pesawat itu.


Meski tak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa, tapi berkumpul seperti ini sedikit banyak bisa mengurangi beban.


***


Tiga hari menjelang, belum ada kabar tentang keberadaan Janu. Sementara keluarga Jogja sudah harus pulang. Pak Kusno, Wulan dan Sapto suaminya, harus kembali bekerja. Sedangkan Bu Kusno tetap tinggal untuk menemani Maira. Bu Hartini sendiri karena kondisi kesehatan, dipaksa pulang oleh Wulan. Rencananya akan dibawa ke Solo ke tempat tinggal Wulan agar anak perempuannya itu bisa merawat dan mengawasi.


Karina sendiri juga ngotot untuk tetap menemani. Sedangkan Bayu sudah sejak dua hari lalu kembali ke Jakarta untuk berdinas.


"Sebaiknya kamu ikut suamimu pulang, Rin!" kata Maira waktu itu.


"Nggak, Mbak, sementara aku di sini dulu!"


"Tapi gimana dengan proses pengobatan kankermu?"


"Aku kan, obat jalan saja, Mbak. Ini baru habis kontrol, stok obatku masih banyak."


Maira tak bisa melarang lagi si keras kepala Karina. Seperti dirinya yang sangat menyayangi Karina, adiknya itu juga sangat menyayanginya. Dua bersaudara ini tak bisa melihat salah satu diantaranya menderita.


Pencarian terhadap Serka Janu Satria terus dilakukan. Pasukan gabungan menyisir pegunungan dan hutan-hutan di sekitar distrik setempat. Namun hingga hari ketujuh belum juga ditemukan jejaknya.


Setiap detik, setiap menit, sepanjang waktu, adalah tentang menunggu. Doa-doa tak lelah dipanjatkan. Berharap kabar baik segera datang. Berharap mimpi buruk ini hanyalah sekedar mimpi. Semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula. Bersatu dan bahagia selamanya.


Namun pada kenyataanya, hingga dua minggu semenjak penyerangan itu, belum ditemukan titik terang tentang keberadaan Janu.


(bersambung)


// Terima kasih sudah mampir....semoga selalu sehat dan bahagia //

__ADS_1


__ADS_2