LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
GALAU


__ADS_3

"Ohhh!" Maira membekap mulutnya sendiri. Seketika tangisnya pecah. Kepalanya digelengkan kuat, bahunya tersengal hebat.


Kapten Rian segera menahan tubuh Maira. Tangannya memegang bahu perempuan itu, menahannya agar tak jatuh. "Istighfar, Maira, istighfar!" bisiknya di telinga perempuan itu.


Maira limbung. Tubuhnya jatuh ke pelukan kapten Rian.


"Maira!"


"Bu Janu!"


Kapten Rian dan pendeta Andreas hampir berbarengan menyeru perempuan yang tergolek lemas di pelukan Kapten Rian itu.


"Bapak pendeta, apa ada klinik kesehatan terdekat di sini?" tanya kapten Rian panik.


"Ada, ada, Pak." Pendeta menunjuk ke arah jalan. "Bapak lurus ke sana saja, nanti di dekat belokan ada klinik kesehatan di sebelah kiri jalan."


"Terima kasih, bapak pendeta." Kapten Rian mengangkat tubuh Maira dalam bopongannya. "Terima kasih juga untuk semua informasinya. Kami pamit dulu," ucapnya lagi, sambil beranjak keluar menuju mobil.


"T-tapi gimana ... Ah ... gimana dengan Bu Janu?" tergagap pendeta bertanya. Dia khawatir dengan kondisi Maira yang pingsan. Pendeta itu berlari menyusul kapten Rian yang membopong Maira.


"Biar saya bawa ke klinik saja, Pendeta," jawab Kapten Rian.


Pendeta Andreas membukakan pintu mobil dan merebahkan sandaran joknya. Kapten Rian segera meletakkan tubuh Maira di jok mobil.


"Kami pamit dulu, bapak pendeta."


Pendeta Andreas hanya bisa mengangguk. Diiringinya kepergian mobil Kapten Rian dengan tatap mata khawatir.


***


Maira membuka mata. Dinding putih sejenak menyilaukan. Dia kembali menutup dan mengerjapkan netranya.


"Aah ...," rintihnya lirih. Dia merasa kepalanya berdenyut.


"Alhamdulillah. Sadar juga kamu akhirnya." Kapten Rian mendekat ke bed Maira.


"Dimana aku?"


"Kamu di klinik dekat rumah pendeta. Tadi kamu pingsan dan kubawa kesini."


Maira bergegas bangkit. Tapi pusing di kepalanya membuat tubuh perempuan itu kembali limbung. Kapten Rian segera menahan punggungnya.


"Hati-hati. Tiduran saja kalau masih pusing!"


Maira tak mengindahkan perkataan Kapten Rian. Dia menggeser duduknya ke arah dinding dan menyandarkan tubuh di sana. Sejenak matanya kembali terpejam.


"Minumlah dulu!"


Ketika Maira membuka mata, segelas teh hangat sudah berada di depan mukanya. Kapten Rian mendekatkan gelas itu ke bibir Maira.


Glek glek.


Beberapa teguk teh hangat melewati tenggorokan Maira. Pusing di kepalanya berangsur reda.

__ADS_1


"Kupanggilkan perawat dulu, ya." Kemudian kapten Rian keluar dari ruangan.


Tak membutuhkan waktu lama Maira berada di klinik itu. Dia pingsan karena shock saja. Selebihnya, kondisi fisik tidak terlalu mengkhawatirkan. Dia sudah diperbolehkan pulang.


"Jangan antar aku pulang dulu!" ucap Maira saat mereka sudah di mobil.


Kapten Rian melambatkan laju mobilnya. "Kenapa?"


"Aku masih belum mau pulang."


"Tapi ...."


"Bawa aku kemana saja, supaya beban ini agak berkurang!"


Kapten Rian tercenung. Lalu dibelokkan mobilnya keluar dari jalan utama menuju kota Jogja.


Selama perjalanan Maira hanya diam. Kapten Rian sesekali mencuri pandang padanya. Dan lelaki itu menjadi trenyuh saat melihat kadang kala tanpa sadar air mata Maira meleleh di pipi.


Beberapa waktu kemudian mereka sampai di daerah tepi pantai. Suara ombak jelas terdengar di sepanjang jalan. Angin mulai kencang menerpa dari jendela mobil yang sengaja dibuka.


"Kita ke pantai?" tanya Kapten Rian.


Maira mengangguk, tanpa melihat pada lelaki di sebelahnya.


Begitu turun dari mobil, Maira segera berjalan ke arah laut. Kapten Rian buru-buru memarkir mobilnya. Lalu dia bergegas menyusul Maira.


Lelaki itu berjalan di belakang Maira. Dia sengaja tak menjajari langkah perempuan itu. Kapten Rian tahu, saat ini Maira hanya perlu sendiri untuk kembali menyamankan hati.


Maira tampak berjalan menyusuri bibir pantai. Kaki telanjangnya melangkah di antara ombak yang menjilat pasir. Sesekali dia berhenti, menatap laut, lalu mengusap matanya dengan ujung lengan baju, kemudian berjalan lagi.


Untuk beberapa saat kapten Rian berdiri di belakang Maira. Lelaki itu membiarkan Maira memuaskan hati dengan tangisnya. Setelah dilihat guncangan di bahu Maira mereda, kapten Rian menghampirinya.


"Kita pulang sekarang?" tanyanya, sambil berjongkok di sebelah Maira.


Perempuan itu menyusut sisa air mata dengan ujung lengan. Lalu dia berpaling pada kapten Rian. Ditatapnya lelaki itu dengan mata sembab.


"Maaf ... aku sudah merepotkanmu."


Buru-buru kapten Rian menggeleng. "Oh, tidak, tidak. Aku justru khawatir padamu. Baru saja kamu pingsan, sekarang sudah angin-anginan dan main air di pantai!"


Maira tersenyum kecut. Kemudian dia bangkit, menepuk-nepuk pasir yang menempel di celananya. "Ayo!" ajaknya sambil melangkah.


Kapten Rian yang baru saja ikut berdiri, terhenyak. Lalu dia bergegas mengikuti langkah Maira.


"Kamu sudah baikan?" tanyanya, saat sudah menyejajarkan langkah dengan perempuan itu.


Maira menghentikan langkah, lalu berpaling pada kapten Rian. "Tak semudah itu menyembuhkan rasa sakit," desisnya. "Mungkin akan butuh waktu lama."


"Iya, aku mengerti."


Maira melempar pandangan ke laut lepas. "Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"


Kapten Rian menghela napas.

__ADS_1


Jika kau bertanya padaku, tentu saja aku akan bingung menjawabnya. Di satu sisi aku tak ingin melihatmu terluka, kehilangan suami yang dicintai. Tapi di sisi lain, egoku mengatakan bahwa ini kesempatanku memilikimu.


"Kapten Rian?"


Lelaki itu tergeragap. "Oh, ah, aku ... aku rasa bukan kapasitasku untuk memberi saran padamu. Semua keputusan ada di tanganmu. Pikir dengan jernih terlebih dahulu mengenai langkah apa yang akan kamu ambil."


Maira mengambil napas dalam, lalu membuangnya, diiringi pekikan suara keras.


"AAAAGH ...!!!!"


Lakukan apa pun itu, untuk melegakan hatimu! bisik hati kapten Rian.


Menjelang sore mereka meninggalkan pantai, kembali ke arah kota Jogja.


***


Maira tak memberitahu orang tuanya tentang Bertha. Namun di hari berikutnya, ketika Maira tak berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Janu, ibunya curiga.


"Kenapa, Mai? Apa kamu sedang ndak enak badan?"


"Enggak, Bu. Hanya sedikit lelah saja," jawab Maira, sambil menidurkan baby Hanin di ranjang.


"Mai, sebenarnya ada apa?" selidik Bu Kusno. "Kemarin kamu pergi seharian, pulangnya diantar kapten Rian. Sekarang, kamu malah ndak mau njenguk Janu. Ada apa Mai?"


Maira tercenung. Sesaat dirinya ragu. Namun dia tak mau orang tuanya ikut terbebani pikiran dengan peristiwa tak terduga lain yang menimpa Janu dan Maira. Sudah cukup beban pikiran mereka selama ini.


"Ya, sudah kalau kamu ndak mau ke rumah sakit. Biar ibu saja yang ke sana!"


Maira terhenyak. "Tapi, Bu ...."


Bu Kusno tak peduli. Perempuan itu melangkah keluar dari kamar Maira.


Percuma Maira mencegah. Ibunya berkeinginan kuat menjenguk Janu hari ini. "Ndak apa-apa. Ibu ke sana juga bukan karena kamu ndak mau ke sana. Tapi karena ibu sudah lama ndak njenguk Janu. Ibu juga sudah masak kesukaannya dulu, bubur lemu," kata Bu Kusno sambil mengemas bubur nasi yang rasanya gurih itu dalam wadah.


"Mudah-mudahan dengan makan bubur ini jadi kembali ingatannya," imbuhnya, sambil masih sibuk mengemas. Lauk pauk berupa sayur terik tahu telur dimasukkan ke wadah lainnya. Demikian juga dengan bakmi gorengnya.


"Kalau begitu, Maira saja yang berangkat, Bu."


Bu Kusno berhenti, menatap Maira. "Ndak usah. Ibu lihat kamu memang capek. Biar ibu genti yang kesana. Lagian, tadi Bu Hartini juga WA, ngajak janjian ke sana bareng."


"Eyang Hartini juga mau ke sana?" Maira membulatkan mata.


Bu Kusno mengangguk. "Tadi ketika tahu kamu ndak ke rumah sakit, ibu wa Bu Hartini. Lalu beliau malah pengen jenguk juga bareng ibu."


"Tapi, apa beliau sudah sehat, Bu?"


"Sudah. Ndak usah khawatir. Nanti kami diantar Sutar dan istrinya, kok."


Menjelang siang, Bu Kusno berangkat diantar Sutar dan istrinya. Mereka nanti akan menjemput Bu Hartini terlebih dahulu. Maira melepaskan dengan rasa khawatir dan gundah.


Bagaimana jika nanti mas Janu menyebut nama Bertha di depan mereka?


(bersambung)

__ADS_1


// Terima kasih sudah mampir. Sedekah like, komen dan vote nya ditunggu yaa...//


__ADS_2