LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
HIERARKI ITU ADA!


__ADS_3

Hari ini bibir Maira tak henti mengulas senyum. Bahagia merasuki ruang hatinya. Entah karena kemarin bertemu kembali dengan teman masa lalunya, atau karena hari ini jadwal Janu turun jaga. Keduanya sama-sama menyenangkan.


Setelah mengantar Oza, Maira menggelar kain yang kemarin dia beli. Sambil menunggu telepon dari Janu, dia akan mengerjakan kostum tari yang diminta Bu Sapto. Jari-jarinya lincah memainkan gunting di tangan. Memotong kain sesuai pola yang sudah dia buat.


Tak berapa lama pekerjaannya beres. Tepat saat dia selesai merapikan potongan kain, ada panggilan video masuk, dari Janu. Maira bersemangat membuka gawainya.


"Assalamualaikum, Mas, apa kabar?" Dia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.


Tapi mendadak senyum lebar Maira lenyap saat melihat wajah di layar handphone bukan wajah suaminya.


"Om Doni?" Penuh keheranan Maira bertanya. "Mas Janu kemana, Om?"


"E ... anu ... em ...," terbata-bata Serda Doni mencoba menjawab.


"Ada apa, Om. Kenapa?" Maira mendadak diserang panik. "Mas Janu kenapa, Oom ...?!"


Salah satu sudut bibir adik letting Janu itu tertarik ke atas. Dia menyeringai gundah.


"Om?! pekik Maira lagi. Hatinya semakin was-was. Memori tentang kehilangan Galang kembali melintas. Saat dia mendengar kabar kecelakaan pesawat itu, saat ibu komandan mengelus bahunya dan berpesan agar bersabar, dan saat lipatan bendera merah putih dia terima selepas jasad Galang dikuburkan, semua liar berloncatan di dalam kepala.


Maira semakin panik. "Oom ..., katakan, dimana mas Janu, Oom ...!!!" jeritnya.


"Apa, sayang?" Tiba-tiba satu wajah lagi muncul di layar, menutupi wajah Doni.


"MAS ...!" pekik Maira, melihat siapa yang tampak di layar. Air mata yang sedari tadi tergenang, kini tertumpah.


"Lhoh, lhoh, kok, malah nangis? Ini aku, Sayang, mas Janumu."


"Mas Janu jahat!!!"


"Jahat gimana?" tawa nakal Janu berderai.


Klik!


Maira memutuskan sambungan telepon. Perempuan itu berlari ke kamar dan menumpahkan tangisnya di atas bantal.


Berkali-kali nada dering terdengar, tapi Maira tak juga mengangkat. Hingga beberapa waktu kemudian setelah tangisnya reda, dia kembali meraih gawai. Wajah Janu kembali muncul saat Maira mengusap layar.


"Dik, kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Janu khawatir. Raut wajahnya diliputi rasa sesal karena telah menggoda Maira secara berlebihan.


"Mas, jangan pernah seperti itu lagi!"


Janu tercenung. "Maafkan aku, Dik. Aku cuma sedang ingin menggodamu saja."


"Tapi jangan seperti itu juga, Mas. Kamu bisa bikin aku mati berdiri kalau bercandanya seperti itu. Mas tahu kan, aku takut kehilanganmu. Apalagi sekarang Mas jauh, di daerah konflik pula."


"Iya, Dik. Maaf ya, Sayang. Aku tadi cuma sedang bosan saja. Iseng pengen godain kamu. Aku gak akan ngulangin lagi bercanda yang seperti itu. Janji."

__ADS_1


Janu benar-benar menyesal. Sesaat lalu dia lupa bahwa Maira pernah ditinggalkan orang yang dicintainya saat bertugas. Tentu saja dia trauma. Konyol sekali dia membuat lelucon yang membuat Maira berpikir ada apa-apa dengannya.


Maira mengusap mata. "Mas Janu sehat, kan?" tanyanya di sela isak yang masih tersisa.


"Alhamdulillah, sehat, sayang. Kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah sehat dan baik-baik saja."


Dalam hati Janu bersyukur, Maira tak membicarakan lagi tingkah konyolnya tadi.


"Bagaimana calon adiknya Oza, juga Oza. Sehat semua, kan?"


Maira mengangguk sambil tersenyum. "Sebentar lagi Oza tes kenaikan kelas."


"Ah, sudah mau kelas dua dia, ya." Binar di mata Janu menampakkan rasa rindu. Dia rindu memeluk Maira, rindu bercanda dengan Oza, rindu bercengkerama dengan keluarga. Namun rindu itu harus dia tahan, demi tugas negara.


Pagi itu mereka habiskan untuk bercengkerama lewat telepon. lebih dari satu jam mereka berbincang, tentang apa saja. Pada saat-saat seperti itu, Maira merasa Janu benar-benar ada di dekatnya.


Menjelang siang Janu memutuskan sambungan telepon karena dia harus apel siang. Pesan-pesan Maira untuk suaminya menutup perbincangan mereka. Tak lupa cium jauh yang sebatas layar gawai saja.


Maira hendak meletakkan gawainya ketika kembali ada panggilan masuk. Dilihatnya kontak yang tertera, 'Kapten Rian'. Kemarin siang mereka memang saling bertukar nomor telepon setelah tahu kalau mereka teman lama. Tiba-tiba jantung Maira berdebar.


"Assalamualaikum, ijin, pak, ada apa, ya?"


"Waalaikumsalam. Waduh, jadi bingung nih, mau ngomong gimana."


Jawaban kapten Rian membuat Maira mengerutkan dahi.


"Em, ngobrol apa ya, Pak?" Maira masih keukeuh dengan sikap formalnya.


"Ya, banyak. Tentang keluarga kamu, tentang apa saja yang kamu lakukan selama ini ...."


"Oh. Suami saya Serka Janu Satria, Pak. Salah satu anak buah bapak."


"Duh, padahal jangan formal-formal seperti itu. Kita kan, nggak sedang ngobrol di kantor. Pandanglah aku sebagai teman lamamu saja. Panggil namaku saja, nggak usah pakai 'pak'!"


"Oh, begitu, ya? Tapi nanti nggak sopan?"


"Nggak apa-apa, toh, aku yang minta."


"Oke. Jadi, gimana ceritamu setelah lulus SMP dulu? Aku sama sekali tak pernah mendengar kabarmu."


"Aku melanjutkan ke Jakarta. Setelahnya kuliah di Bandung."


"Aku pikir masuk akademi militer?"


"Nggak. Aku masuk militer lewat penyaringan perwira karir setelah lulus kuliah."

__ADS_1


Maira mulai merasa nyaman. Pelan-pelan rasa canggungnya menghilang.


"Kamu sendiri gimana? Kenapa bisa jadi istri tentara?"


"Ya, takdir mungkin," jawab Maira sambil tertawa.


"Ini kedua kalinya aku menikah. Suami pertamaku tentara juga. Tapi dia gugur saat pesawatnya kecelakaan."


"Innalilahi wainailaihi rojiun. Turut berduka."


"Tapi rupanya takdirku memang jadi istri tentara. Menikah lagi dapatnya juga tentara."


"Dan ternyata, teman lamanya pun juga tentara," imbuh kapten Rian. "Eh, nggak ada hubungannya, ya?" Tawanya berderai.


Siang itu mereka ngobrol cukup lama. Sikap wibawa kapten Rian saat di kantor, sama sekali tak tersisa. Mereka ngobrol seru seperti dua sahabat lama yang kembali bertemu.


***


"Mas, mas kenal nggak sama kapten Rian?" tanya Maira malam itu ketika Janu menelepon kembali.


"Kapten Rian, siapa dia?"


"Perwira baru di kantor." Entah kenapa tiba-tiba Maira begitu antusias hendak menceritakan tentang kapten Rian pada suaminya. "Tahu nggak, ternyata dia teman SMP ku, lho!"


Janu mengernyitkan kening.


"Kemarin siang kan, dia ngantar aku dan Nina beli kain untuk membuat kostum tari. Nah, pas itu dia ingat kalau aku temannya dulu. Padahal aku sendiri nggak ingat sama sekali." Maira bercerita dengan semangat. Dia tak menyadari wajah Janu menyiratkan rasa tak suka.


"Nggak nyangka aku bisa ketemu lagi sama dia." Maira menggeleng-gelengkan kepala.


"Kenapa dia sampai ngantar kamu segala?" tanya Janu dengan nada sinis.


Maira agak terkejut. "Mas, kamu nggak sedang cemburu, kan?"


Janu tak menjawab.


"Kemarin siang itu aku dan Nina memang sedang butuh banget diantar belanja kain. Waktunya sudah mepet untuk bikin kostum. Nah, kapten Rian yang pembina harian PIA itu menawarkan untuk mencarikan kendaraan. Sayangnya om-om mudi nya sedang ada tugas semua. Jadilah kapten Rian sendiri yang mengantar kami." Panjang lebar Maira menjelaskan. Dia tak mau Janu berpikiran lain.


"Mas?"


Janu menarik nafas dalam. "Ya, nggak apa-apa, sih. Asal kamu ingat, di TNI itu ada yang namanya hierarki. Nggak cuma berlaku untuk anggotanya saja, tapi secara etika juga berlaku untuk para istrinya. Aku harap kamu bisa menempatkan diri kamu mengingat pangkat dan posisiku. Jangan sampai kamu dinilai buruk oleh para senior dan perwira."


Maira tercenung. Dia jadi merasa bersalah. Harusnya kemarin tak dia iyakan bantuan dari kapten Rian kemarin. Harusnya dia tak sok akrab bicara dengan kapten Rian meski hanya lewat telepon.


"Terlepas apakah dia teman sekolahmu atau bukan, kamu tetap harus jaga sikap!"


"Iya, Mas," jawab Maira tak bersemangat.

__ADS_1


(bersambung)


// Semoga suka. Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, komen, n vote....❤️❤️❤️❤️ //


__ADS_2