LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
MELUPAKAN UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH


__ADS_3

"Bisakah kami bertemu dengan Bertha, Pendeta?" pinta Karina hati-hati.


Pendeta Andreas tercenung, tak segera menjawab. Lelaki itu memasukkan kedua tangan dalam saku celana. Sekian detik tetap tak ada suara keluar dari mulutnya.


"Pendeta?"


Suara Karina mengembalikan kesadarannya. Pendeta Andreas terhenyak. "Ah, iya, silahkan duduk dulu!" Tangannya menyilahkan Karina dan Bayu untuk duduk di kursi tamunya.


"Pendeta, mohon maaf, kami ke sini bermaksud untuk menemui Bertha." Sekarang Bayu yang berucap.


Pendeta Andreas mendesah, resah. "Begini ...." Dia menjeda sesaat. "Sebenarnya kami bermaksud memutus segala bentuk komunikasi dengan Bapak Janu mau pun keluarganya. Dari pertemuan saya dengan orang tua pak Janu dan Bu Maira, saya tahu bahwa keluarga mereka terlalu berharga untuk diusik masalah."


Hembusan napas berat keluar dari mulut pendeta Andreas. Lelaki paruh baya itu mengusap wajahnya. Sementara Karina dan Bayu masih khidmat memperhatikan.


"Kita semua tak pernah berharap ini terjadi pada pak Janu dan Bertha. Namun Tuhan sudah berkehendak, kita tidak bisa menolak," lanjutnya. "Mengingat apa yang dilakukan Pak Janu dan Bertha adalah sebuah kesalahan yang tanpa disadari, menurut hemat saya ada baiknya kita berusaha untuk menghapus kesalahan itu. Saling melupakan saya rasa adalah solusinya. Biarkan Bertha dengan kehidupannya sekarang dan pak Janu juga harus kembali ke keluarganya."


Karina memperbaiki letak duduknya. "Tapi pendeta, di rahim Bertha sekarang ada calon anaknya mas Janu. Kami sekeluarga tidak bisa menutup mata dari hal tersebut."


Pendeta Andreas tersenyum. "Biarlah anak itu nantinya kami urus."


"Mengenai Bertha sendiri bagaimana, Pendeta?" kali ini Bayu yang bertanya.


"Saat ini Bertha kami ajari kemampuan baca tulis selain juga ketrampilan-ketrampilan lain. Harapan saya pribadi, kelak Bertha bisa mengabdikan hidupnya untuk gereja."


"Menjadi biarawati?" tanya Bayu lagi.


Pendeta menggeleng. "Belum tahu. Itu semua tergantung bagaimana Bertha nanti. Kalau pun dia tidak bersedia ya, tidak apa-apa. Sekarang ini kan, dia memang sedang dalam tahap belajar dan bersosialisasi. Mengingat sebelumnya dia hidup di masyarakat suku terasing dan minim pengetahuan."


Bayu mengangguk-angguk.


"Tapi mengenai kondisi Bertha sekarang bagaimana, Pendeta?" Karina tak bisa menyembunyikan rasa penasaran. "Kami sungguh sangat ingin bertemu dengannya."


"Sebaiknya tidak usah, mbak Karina."


"Kenapa, Pendeta?" Karina gusar. "Apa salahnya saya menjenguk orang yang ditimpa masalah oleh sebab kakak ipar saya? Apa tidak boleh saya menunjukkan rasa simpati padanya?"


"Bukan begitu, mbak Karin. Tapi seperti saya bilang tadi, biarkan sekarang semua berjalan sendiri-sendiri. Kita lupakan insiden pak Janu dan Bertha. Masing-masing biarkan dengan kehidupannya masing-masing."


"Tidak bisa begitu, pak Pendeta. Bayi yang dikandung Bertha tanggung jawab mas Janu. Tanggung jawab kami juga sebagai keluarga!"


"Kedatangan kalian kesini ini saya rasa sudah cukup untuk menunjukkan rasa tanggung jawab dari pihak bapak Janu ...."


"Saya ingin merawat bayi Bertha!" potong Karina, tegas.


Bayu tersentak, demikian juga pendeta Andreas. Mereka tak mengira Karina akan berkata seperti itu.


"Dik?!"

__ADS_1


Mata Bayu menatap perempuan bertubuh kurus di sampingnya. Dia benar-benar terkejut mendengar pernyataan Karina.


***


"Aagh ... Ah ... Uh ... Em!" racau Bertha saat tadi mereka bertemu. Gadis itu menebar senyum untuk Karina dan Bayu. Matanya yang bening menyiratkan kepolosan dan keluguan. Entah, apakah gadis itu cukup mengerti dengan kondisi yang sedang dialaminya atau tidak.


Karina termangu melihat perut Bertha yang mulai membesar. Di dalam situ ada satu jiwa yang mengusik rasa tanggungjawabnya. Keinginannya sangat kuat untuk mengambil bayi itu kelak.


Karina mengangkat tangan dan mulai menggunakan bahasa isyarat.


[Apa kabar, Bertha?]


Pendeta Andreas dan Bayu terkejut melihat Karina bisa menggunakan bahasa isyarat.


"Kamu bisa to, Dik?" tanya Bayu.


Karina mengangguk. "Dulu aku sempat belajar, Mas. Aku pernah menjadi relawan di sebuah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus."


[Apa kabar, Bertha?] ulang Karina.


Bertha mengangkat tangan ragu. Bahasa isyarat yang dia kuasai cukup sederhana. Hanya sebatas yang diajarkan pendeta Andreas sewaktu pendeta itu menjalankan tugas di Papua.


[Kabar baik]


[Syukurlah] Karina menjeda. [Sudah makan?]


[Kamu sehat, bukan?]


Sekali lagi Bertha mengangguk.


Mata Karina beralih ke arah perut Bertha. [Bagaimana kandunganmu?]


Wajah Bertha menegang. Tangannya bergerak mengelus perut. Mata bening itu mendadak suram. Dia diam tak menjawab.


"Ah, saya rasa cukup, mbak Karin. Bertha harus bersiap untuk mengikuti kebaktian nanti!" Pendeta Andreas memecah diam. Ada nada tak suka di suaranya.


Sebenarnya Karina ingin membantah perkataan pendeta Andreas. Tetapi Bayu segera menggamit lengannya. Akhirnya perempuan itu hanya mengelus pundak Bertha dan memberi bahasa isyarat.


[Semoga kamu dan bayimu selalu sehat]


Mereka pun meninggalkan Bertha, berjalan menuju ke mobil yang terparkir di halaman rumah pendeta.


"Pendeta, saya berniat mengadopsi bayi Bertha!" tegas Karina, saat mereka pamitan.


Pendeta menghela napas. "Persalinan Bertha masih lama. Anda masih sangat bisa berubah pikiran. Masih terlalu dini untuk mengambil keputusan!"


Sementara Bayu hanya diam, menatap istrinya.

__ADS_1


"Pendeta, saat saya melihat Bertha, saya semakin yakin bahwa saya harus merawat anak yang di kandungannya!"


Pendeta menggelengkan kepala. "Bahkan mbak Karin pun belum mendiskusikan hal ini dengan suami, bukan?"


Karin tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia menurut saat Bayu mengajaknya naik mobil. Lalu suaminya itu berpamitan pada Pendeta Andreas dengan menyelipkan kata 'maaf'.


"Harusnya kamu ngomong dulu ke aku, Dik!" sesal Bayu.


Lelaki yang duduk di belakang setir itu menatap tajam ke arah depan. Sementara Karina termangu di sebelahnya.


"Maaf, Mas," ucapnya lirih.


Mereka kembali terdiam. Bayu benar-benar terkejut dengan pernyataan Karina. Dia tak mengira istrinya berniat mengadopsi bayi Bertha. Meski pendeta Andreas juga belum memberi jawaban atas permintaan itu, namun Bayu dibuat resah juga.


"Aku hanya merasa kasihan pada bayi itu. Dia adalah tanggung jawab mas Janu. Apakah kita semua akan melepaskannya begitu saja?"


"Bukan begitu, Dik. Masalahnya, kita juga harus memikirkan perasaan mbak Maira!"


Karina tertegun. Sekilas memang dia telah melupakan kepentingan kakaknya. Melihat kondisi Bertha secara langsung, membuatnya trenyuh dan semakin kuat keinginan untuk mengadopsi anak di kandungan Bertha.


"Kalau Mbak Maira mengijinkan, apa mas Bayu setuju kita mengadopsi anak itu?"


Tak ada jawaban keluar dari mulut Bayu.


***


Dua hari kemudian, Janu dibawa pulang dari rumah sakit. Tiga minggu tepatnya lelaki itu menjalani perawatan. Kondisi fisiknya sudah cukup stabil, hanya ingatan yang masih belum kembali. Dokter memang menganjurkan agar Janu dirawat di rumah, diantara keluarganya. Itu akan membantu proses pengembalian ingatannya.


Saat memasuki halaman rumah pak Kusno, tampak Bu Kusno, Bu Hartini, Karina dan Oza menyambut. Lelaki itu turun dari mobil yang disopiri pak Kusno, diikuti Maira. Janu berjalan gamang. Maira merengkuh lengannya, dan membimbing masuk ke teras rumah.


"Alhamdulillah, anakku, akhirnya kamu pulang juga!" seru Bu Hartini. Perempuan itu memeluk anak lelakinya dengan linangan air mata.


Janu diam tak bergerak. Bahkan tangannya tak terangkat untuk sekedar membalas pelukan ibunya.


Maira menghela napas. "Ini ibu kandungmu, Mas. Bu Hartini."


Janu tak bereaksi. Hingga Bu Hartini melepas pelukannya dan tersedu di pelukan Bu Kusno.


"Ayah!" Oza datang dan menggamit lengan Janu. Anak itu menengadahkan wajah, menatap ayahnya dengan mata polos. "Aku Oza, anak ayah. Kalau ayah nggak ingat, nggak apa-apa. Nanti Oza bantu mengingat."


Janu tertegun menatap anak itu. Tangannya bergerak pelan, mengelus rambut Oza. Tiba-tiba ada rasa sedih menyergap hatinya. Mata lelaki itu berkaca-kaca.


"Ayah ingat aku?" pekik Oza.


(bersambung)


// Ingat nggak, yaaa....????

__ADS_1


Cut dulu ya, pembaca. Jari author lelah ngetiknya. Makasih udah mampir. Jangan lupa like, komen dan vote nya...🙏🙏🙏 //


__ADS_2