LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
UJUNG NESTAPA BIDADARI HITAM


__ADS_3

Jika mengurai kesalahan tak cukup dengan permintaannya maaf saja, perlukah satu pertanggungjawaban? Bahkan meski itu menyakitkan?


Maira hanya menatap kosong pada gawai di atas meja. Beberapa kali tangannya tampak menjangkau benda itu, namun segera ditariknya kembali. Beberapa kali pula perempuan itu menghela napas.


Untuk kesekian kalinya tangan Maira bergerak. Tepat pada saat yang bersamaan gawai itu berdering nyaring. Maira nyaris terlonjak oleh rasa terkejutnya.


Karina.


Segera diangkatnya gawai itu. "Halo, Assalamualaikum. Ya, Rin?"


"Waalaikumsalam, Mbak. Gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri, kondisi kesehatanmu gimana?"


"Alhamdulillah stabil, Mbak."


"Hasil tes terakhir gimana?"


Karina tak segera menjawab. Terdengar desah napas di ujung sana. "Masih belum menunjukkan kondisi yang bagus untuk memulai program hamil, Mbak," jawabnya lemah.


"Ya, sudah, sabar dulu. Jangan dipaksakan. Nanti gak baik untuk kesehatanmu dan janinnya!"


"Iya, Mbak." Karina sesaat menjeda. "O iya, minggu depan mungkin aku pulang ke Jogja, Mbak."


"Ada acara apa, kok, tiba-tiba?"


Untuk sesaat tak ada jawaban dari seberang sana.


"Rin?"


"Em, anu, aku ... aku mau ketemu pendeta Andreas, Mbak."


Deg!


Jantung Maira berdentam. Sama seperti ketika kemarin Janu menyebut nama Bertha. Perempuan itu terdiam sesaat. Sudah sangat lama dia tak mendengar nama-nama itu diucap.


"Mbak, mbak Maira?"


"I-iya," jawab Maira lirih dan terbata.


"Mbak, sebelumnya aku minta maaf. Tapi ... tapi sepertinya saat ini Bertha sudah memasuki masa bersalin."


Kamu menghitungnya, Rin?


Mata Maira berkaca-kaca.


"Aku ... Aku mau menengoknya, Mbak." Hati-hati Karina berkata.


Tak ada tanggapan dari Maira. Beruntung mereka tak sedang bicara langsung, sehingga Karina tak perlu melihat kristal bening yang nyaris jatuh dari mata Maira.


"Mbak, aku minta maaf kalau apa yang akan kulakukan ini telah menyinggungmu." Sesaat Karina diam, menunggu reaksi Maira. Namun kakaknya itu sama sekali tak bersuara.


Karina melanjutkan. "Kalau Mbak Maira setuju ... aku hendak mengadopsi anak Bertha."


Maira terperangah. Dia nyaris tak sanggup berkata-kata. Tangannya yang memegang gawai terlihat gemetar. Kristal bening itu sekarang jatuh di pipi.


"Mbak, maaf, Aku hanya berusaha menyelamatkan anak itu. Aku hanya ingin membawa anak itu ke dalam didikan lingkungan kita."

__ADS_1


Maira tak menanggapi. Air matanya semakin deras mengalir.


"Anak itu tak berdosa, Mbak. Dan lagi, suka tidak suka, mau tidak mau, dia adalah ... adalah darah daging mas Janu."


Mendengar itu hati Maira serasa diiris. Dia menggigit bibir, menahan perih.


"Rasanya tak sampai hati membiarkan anak itu tumbuh di luar sana, tanpa campur tangan kita. Di mana letak tanggung jawab kita?" lanjut Karina dengan suara bergetar.


Untuk sesaat keduanya terdiam. Hingga kemudian Maira berkata, "Maaf, Rin, aku harus jemput Oza dulu."


Tanpa menunggu jawaban Karina, Maira menutup teleponnya. Dan bukannya menjemput Oza, perempuan itu justru menelungkupkan wajah di atas meja. Dia tumpahkan segala kepedihan di sana.


***


"Bagaimana menurut Bu Harni jika saya mengabari Bu Maira?" tanya pendeta Andreas dengan nada nyaris tak bersemangat.


"Kenapa harus Bu Maira? Kenapa tidak langsung pak Janu saja, Bapa?"


Pendeta Andreas menggeleng lemah. "Biar Bu Maira yang memutuskan apakah Pak Janu diperkenankan bertemu Bertha atau tidak, Bu."


"Tapi kalau tidak diperkenankan, bagaimana?"


Pendeta Andreas hanya menghembuskan napas panjang. Lelaki itu menunduk sambil mengusap rambutnya dengan telapak tangan.


"Bapa, kasihanilah Bertha. Anak itu sudah cukup lama menderita. Biarkan dia bertemu sejenak dengan Janu!" Bu Harni memohon sambil menangkupkan tangan di depan dada. "Apalagi kondisi Bertha sudah seperti ini."


Gelengan kepala pendeta Andreas membuat Bu Harni mendesah putus asa. Ini bukan pertama kali dia meminta pendeta untuk mempertemukan Bertha dengan Janu. Tapi pendeta selalu menolaknya.


"Kita lihat gimana nanti saja, Bu. Yang jelas, kalau memang harus mengabarkan tentang kondisi Bertha, saya akan tetap menghubungi Bu Maira dulu."


Pendeta Andreas menoleh, menatap pada Bu Harni. Lelaki itu tersenyum, berusaha menetralkan kekecewaan perempuan tua yang puluhan tahun lamanya mengabdi pada keluarga pendeta itu.


Bu Harni mengangguk lemah. Lalu dia membentuk tanda salib dengan tangannya. Demikian pula pendeta Andreas.


Beberapa jam berlalu, pintu ruang operasi dibuka dari dalam. Seorang dokter keluar menghampiri pendeta dan Bu Harni.


"Bagaimana, dokter?" tanya Pendeta, tak kuasa menahan kesabaran. Lelaki itu berdiri menyambut dokter Ikhsan, diikuti Bu Harni.


"Bapak dan ibu keluarganya?" tanya dokter.


Mereka berdua serentak mengangguk.


"Selamat, bayinya perempuan, lahir sehat," ucap dokter, dengan wajah sedikit tegang dan senyum dipaksakan.


"Puji Tuhaaan!" Pekik pendeta. Sedangkan Bu Harni menutup mulut dengan mata berkaca-kaca. Hampir saja perempuan itu berteriak karena rasa gembira.


"Tapi maaf," lanjut dokter Ikhsan.


Sontak tawa dan raut bahagia lenyap dari wajah pendeta dan Bu Harni. Mereka saling berpandangan dengan sorot mata penuh tanya. Lalu beralih menatap dokter Ikhsan.


"Ada apa, dok?" tanya pendeta, khawatir.


"Mohon maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi perdarahan pasien terlalu parah. Saudari Bertha gagal kami selamatkan."


"A-apa?" Kaki pendeta mundur selangkah. Kini badannya terjajar di dinding. Matanya nanar menatap ke depan. Lalu pelan-pelan selaput bening menutupi pandangan.


Bu Harni sendiri menangis sejadi-jadinya. Perempuan itu meraung menyebut nama Bertha. Ditutupnya wajah dengan kedua telapak tangan.

__ADS_1


Pendeta Andreas menangis tanpa suara. Hatinya remuk redam mengingat segala penderitaan Bertha yang berujung kematian. Gadis sebatang kara yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu bahkan belum sempat bertemu dengan Janu. Meskipun pendeta tahu bahwa Bertha menyimpan keinginan bertemu kekasihnya itu, tapi pendeta tak sedikit pun mengijinkan. Demi kebaikan bersama.


"Maafkan aku, Bertha," bisik pendeta Andreas.


***


Seminggu yang lalu sebelum Bertha mengalami perdarahan. Bu Harni dan gadis itu tampak turun dari taksi online di depan rumah pendeta Andreas. Bertha berjalan dengan dipapah Bu Harni. Langkahnya agak terseok karena perut yang semakin membesar.


Di halaman rumah, mereka bertemu dengan pendeta yang baru saja pulang dari gereja di samping rumah. Bu Harni mengangguk, sedang Bertha justru membuang muka.


"Gimana hasil pemeriksaannya, Bu?" tanya pendeta setelah membalas anggukan Bu Harni. Dia berusaha mengabaikan sikap acuh Bertha.


"Puji Tuhan janinnya baik, Bapa. Hanya saja tekanan darah Bertha agak tinggi. Dokter berpesan agar hati-hati dan menjaga asupan makanan."


"Oh, begitu?" Pendeta kemudian berpaling pada Bertha. "Kamu istirahat dulu, ya. Jangan lupa untuk menghindari makanan yang dilarang dokter!" ucapnya sambil menggerakkan tangan sebagai bahasa isyarat.


Bertha tak menanggapi sama sekali. Gadis itu justru mengibaskan tangan Bu Harni dan bergegas berlalu dari tempat itu.


"Hah!" Pendeta berkesah. "Apalagi kali ini, Bu Harni?"


Beberapa waktu terakhir Bertha memang sering bersikap seperti itu. Diam, marah dan acuh pada sekelilingnya.


"Ya, seperti yang saya bilang kemarin, Bapa, dia minta bertemu dengan pak Janu," jawab Bu Harni.


"Sudah kubilang, itu tak mungkin. Tak bisa!" Nada suara Pendeta naik beberapa oktaf. Lelaki itu kemudian melangkah menuju rumah.


Bu Harni mengikuti dari belakang. "Setidaknya ijinkan barang sebentar saja, Bapa. Saya lihat dia benar-benar ingin bertemu dengan bapak dari bayi yang dikandungnya. Kasihan, bapa. Berkali-kali dia memohon pada saya, menangis dan meratap. Saya tak tega, bapak!"


Mendadak pendeta menghentikan langkah, lalu berbalik menghadap Bu Harni. "Jawaban saya tetap 'tidak', Bu. Janu dan Bertha itu adalah sebuah kesalahan. Satu-satunya jalan untuk menghapus kesalahan itu adalah dengan saling melupakan!" tegas dia berkata.


"Tapi anak Bertha itu makhluk berwujud, Pendeta. Bagaimana mungkin kita bisa melupakan sedangkan sebentar lagi buah dari kesalahan itu akan hadir di antara kita?"


"Bu!" hardik pendeta Andreas. "Saya sedang tidak dalam posisi tawar menawar!" Lalu lelaki itu berbalik dan kembali melangkah masuk ke dalam rumah.


Bu Harni mematung dengan hati yang pilu.


***


Di rumah duka, jasad Bertha disemayamkan. Gadis berkulit legam itu tampak seperti tertidur pulas. Riasan di wajahnya membuat seakan nyawa belum terlepas dari raga.


Bu Harni menghampiri pendeta Andreas yang duduk di kursi lipat samping jasad Bertha. "Bapa, bagaimana?"


Pendeta Andreas tersentak. Diangkatnya wajah yang sedari tadi tertunduk lesu. "Apa, Bu?" tanyanya lirih.


"Apa Bapa sudah memberi kabar pada bu Maira?"


"Ah, itu ... belum," jawab pendeta dengan suara tertahan. Lalu dengan enggan dia merogoh saku celananya. Sebuah gawai dia keluarkan. Jarinya bergerak di layar, hingga ditemukan satu nama kontak.


Karina.


(bersambung)


//maaf telat up. rumah othor kebanjiran...😭


terpaksa beberapa hari berjibaku membereskan.


Jangan lupa like, komen n vote, ya...

__ADS_1


terima kasih //


__ADS_2