
"Ya, sudah, kalau begitu saya pamit dulu ya, ibu-ibu." Kapten Rian agak membungkukan badan dengan sopan. Lalu dia berbalik, berjalan keluar setelah Nina dan Maira menjawab pamitnya.
"Siapa itu, Mbak Nina?" tanya Maira, ketika kapten Rian sudah tak terlihat.
"Kapten Rian, Mbak. Perwira baru di sini. Beliau mendapat tugas sebagai pembina harian PIA."
"Ah, pantesan aku belum pernah lihat."
"Lagi trending topik di kalangan ibu-ibu lho, dia, Mbak." Nina mendekatkan wajah kepada Maira.
"Kenapa emangnya?"
"Ganteng," bisik Nina sambil tersenyum penuh arti.
"Ish, ketahuan istrinya bisa kasus nanti!"
"Duda," bisik Nina lagi.
"Hah, masak? Masih muda gitu?"
Nina mengangguk. "Kabarnya istri kapten Rian meninggal pas melahirkan anak kembarnya. Sampai sekarang anaknya berumur lima tahun, beliau belum juga menikah."
"Oh, begitu, ya, kasihan."
Nina mengangguk lagi. "Ibu-ibu bilang, wajahnya mirip kapten Ri."
"Kapten Ri?" Maira mengernyitkan kening. "Siapa lagi itu kapten Ri?"
"Iiih ..., Mbak Mai nggak suka nonton drakor, ya?"
"Em, belum pernah nonton drakor aku."
Nina tampak gusar. "Kapten Ri itu salah satu tokoh di drakor Crash Landing on You. Diperankan sama Hyun Bin, aktor Korea yang cakep banget, punya lesung pipit mirip kapten Rian tadi. Dia di situ jadi tentara Korea Utara yang jatuh cinta sama cewek Korea Selatan." Berapi-api Nina menjelaskan. Terlihat sekali dia sangat menyukai drakor itu.
Kernyitan di dahi Maira tambah dalam. Tangannya terangkat menggaruk-garuk kepala yang tertutup jilbab.
"Ih, laaah ..., coba nonton deh, Mbak. Seru banget pokoknya, mah. Bisa mendadak baper sama kapten Ri!" Nina semakin gemas melihat ekspresi Maira yang terlihat bingung.
Maira hanya mengangkat bahu. Dia tak begitu tertarik dengan apa yang baru saja dipromosikan Nina.
Dari pada nonton drakor, mending njahit dapat beberapa potong baju!
Apa yang dikatakan Nina memang benar. Kasak kusuk di kalangan ibu-ibu, yang selalu terdengar adalah topik mengenai kapten Rian. Namanya selalu dihubung-hubungkan dengan tokoh kapten Ri di drakor. Mereka bilang, kapten Rian memang sangat mirip dengan kapten Ri.
Beberapa hari kemudian, saat kegiatan olahraga ibu-ibu, telinga Maira kembali diserbu dengan gunjingan mengenai kapten Rian lagi.
"Beneran mirip banget, deh!" seru tertahan Bu Handy, istri salah satu letting Janu juga. "Cakepnya kayak artis Korea beneran. Hmm ... Ckckck ...."
"Herannya, cakep gitu kok, ya, nggak nikah-nikah, ya?" Bu Ridwan menimpali.
"Patah hati kali, karena gue udah bersuami." Dengan seenaknya Dewi beropini. Cemoohan dan cubitan gemas langsung mendarat di pinggul dan pundaknya.
Mendengar itu semua, Maira cuma tersenyum. Candaan khas ibu-ibu kadang menggelikan juga. Bukan hal serius yang harus ditanggapi. Sekedar iseng membunuh kebosanan. Tak apa, asal masih dalam batas kewajaran.
__ADS_1
"Eh, ada yang mau ikut kesana nggak?" tanya Dewi sambil mengangkat dagu, menunjuk ke arah lapangan.
"Mau ngapain?"
"Minta diajarin voli sama kapten Ri," jawab Dewi sambil melenggang.
"Huuu ..., tak laporin om Andre lho, nanti!"
Dewi hanya mengibaskan tangan tak peduli. Dia tetap melenggang ke arah lapangan. Beberapa ibu lainnya mengikuti dari belakang.
"Dasar, gatel!" bisik Nina di telinga Maira.
Maira tertawa kecil. "Jangan gitu, ah, Mbak. Gak apa-apa lho, malah bisa buat hiburan."
"Sebel!" Nina semakin cemberut. Dia memang kurang cocok dengan Dewi. Istri lettingnya yang kalau ngomong suka seenaknya itu memang kadang menjengkelkan.
Maira sendiri tak ambil pusing dengan tingkah Dewi. Meski dia juga kurang begitu suka dengan Dewi, tapi Maira tak pernah menampakkan secara jelas rasa tak sukanya. Bagi Maira, asalkan tak merugikan, tak mengapa bergaul dengan orang seperti Dewi. Yang penting jaga jarak saja, agar tak kena imbas saat Dewi mulai mengeluarkan jurus ngomong nyelekitnya.
Maira mengalihkan pandangan ke arah lapangan. Di sana tampak Kapten Rian dan om-om tentara lain sedang sparing voli dengan ibu-ibu. Kapten Rian yang berperawakan tinggi dan atletis, memang tampak mempesona dengan stelan olahraga kaos dan celana pendek itu. Gerakan tubuhnya saat servis, smash, dan blocking, tampak menarik dan memanjakan mata.
Ih! Maira merutuki diri sendiri. Segera dialihkan pandangan dari lapangan voli.
Tapi, sepertinya aku tak asing dengan kapten Rian. Kapan kami pernah ketemu, ya?
Menjelang siang acara olahraga usai. Ibu-ibu berkumpulll di pinggir lapangan menikmati minum dan makanan ringan.
"Ijin, bapak, silahkan minum dulu!" seru Dewi memanggil Kapten Rian yang berada di seberang lapangan.
"Om-om yang lain kok, nggak dipanggil sekalian?" protes Bu Ridwan.
Tampak Kapten Rian dan beberapa anggota tentara lain mendekat. Dengan sigap Dewi segera mengambilkan beberapa gelas minuman.
"Ini, silahkan, Pak." Dewi mengangsurkan nampan berisi gelas sirup kepada kapten Rian.
"Terima kasih, Bu." Kapten Rian mengangguk, sambil mengambil salah satu gelas di nampan. Senyum manisnya terulas di bibir. Lesung pipit tertoreh manis di pipi.
Diam-diam Maira yang duduk tak jauh dari situ melihat pada kapten Rian. Perempuan itu mengerutkan dahi. Rasa tak asing pada wajah kapten Rian membuatnya makin penasaran.
***
[Mbak Maira, bisa ke gedung olahraga nggak sekarang?]
Sebuah pesan WA dari Nina masuk ketika Maira sedang berkemas. Dia baru saja selesai mengajar jahit.
[Ada apa ya, Mbak?] ketik Maira
[Mengenai kostum tari. Sepertinya ada yang missed, deh.]
Deg!
Kostum tari untuk ditampilkan pada acara ulangtahun PIA nanti memang tanggung jawab Maira. Dia diberi tugas untuk membuatnya. Pagi tadi kostum itu sudah dia serahkan dan sekarang sedang dicoba oleh para penarinya.
[Iya, aku segera kesitu.]
__ADS_1
Tak berapa lama Maira sudah menuju gedung olahraga di dalam kawasan kantor Kesatuan itu juga. Di sana ibu-ibu yang bertugas menari sudah berkumpul. Beberapa diantaranya sudah memakai kostum yang dibuat Maira. Beberapa ibu pengurus pun juga hadir.
Maira bergegas menghampiri mereka. Nina tampak berlari menyongsongnya.
"Ada apa, mbak Nina?" Tatap mata Maira penuh kekhawatiran.
"Kostumnya kurang satu, Mbak. Sebaiknya mbak Maira menghadap Bu Sapto dulu, deh. Ini aku mau ngurusin perlengkapan round table dulu."
Maira bergegas menghampiri Bu Sapto, sedang Nina keluar dari gedung olahraga.
Bu Sapto menyambut Maira dengan gelisah. "Bu Janu, bagaimana ini?"
"Ijin, ibu, ada apa, ya?"
"Kok, kostumnya kurang satu. Ketinggalan di rumah atau gimana?"
"Ijin, ibu, semuanya delapan, kan?"
"Lhoh, delapan gimana, sembilan, dong!"
"Tapi, ibu, saya cuma disuruh bikin delapan."
"Iya, awalnya memang delapan. Tapi kan, kemudian ada tambahan satu lagi. Masak Bu Janu nggak dikasih tahu?"
"Ijin, ibu, sudah saya kasih tahu." Dewi yang juga koordinator penari ikut nimbrung. "Iya kan, Bu Janu?" Perempuan itu beralih pada Maira. Tatapannya tajam seolah memaksa Maira untuk mengiyakan pertanyaannya.
Mulut Maira setengah terbuka, hendak menyangkal. Tapi Dewi segera menggamit lengan salah satu ibu-ibu yang ada di situ.
"Iya kan, Bu Handy?"
Bu Handy gelagapan. Tapi sesaat kemudian dia mengangguk ketika melihat mata Dewi yang melotot padanya.
"Duh, gimana ini?" keluh Bu Sapto.
"Tapi, Bu, saya benar-benar tidak tahu kalau ada penambahan ...."
"Ck, alaah ..., paling Bu Janu lupa. Biasalah, perempuan hamil itu emang suka pelupa!" potong Dewi cepat. Dia mencibir sambil melengos ke samping.
Bu Sapto menggeleng-gelengkan kepala menatap Maira. "Trus, kalau udah gini mau gimana? Acaranya tinggal beberapa hari lagi, lho!"
Maira menarik nafas dalam. Bahan untuk membuat kostum itu sudah habis. Mau tak mau dia harus berburu bahan yang sejenis dengan yang dia pakai sebelumnya. Dan itu tak mudah. Belum tentu masih ada persediaannya yang sama persis di toko. Tapi bagaimana pun juga harus dia kerjakan, meski dia yakin ini bukan salahnya.
"Ijin, ibu, insyaallah bisa saya kerjakan!" janji Maira tegas.
Meski itu sebenarnya keteledoran Dewi yang tidak memberitahukan penambahan kostum, namun Maira tak mau memperpanjang masalah. Diam dan bekerja, lebih baik dari pada sekedar sibuk mencari siapa yang salah. Yang terpenting sekarang adalah kelak acara bisa berjalan dengan lancar.
"Bu Janu yakin bisa menyelesaikan?"
Maira mengangguk ragu. Sementara Dewi tersenyum simpul, merayakan kemenangannya.
(bersambung)
// Terima kasih sudah mampir di novel ini.
__ADS_1
Beri semangat pada author dengan like, komen dan vote.
Semoga kita semua selalu sehat dan bahagia. //