
Papua adalah tanah merdeka. Seperti juga pulau-pulau lainnya di Indonesia. Mereka yang di sana adalah saudara kita. Saling menghargai, menyayangi dan menghormati dalam rengkuhan bumi pertiwi. 'Kitorang basodara'.
Pangkalan udara tempat regu Janu berjaga cukup sepi. Hanya sesekali pesawat terbang perintis dan pesawat militer mendarat dan lepas landas dari tempat itu. Namun begitu, aset penting tersebut harus benar-benar dijaga, karena merupakan prasarana penghubung antar daerah.
"Don, sudah makan kamu?" Janu menepuk pundak Doni.
"Eh, siap sudah, Bang!" Serda Doni yang sedang memperhatikan arah hembusan asap rokok dari mulutnya, terkejut.
"Sejak di Papua, kamu semakin istiqomah jadi 'ahli hisab', ya?"
Doni tertawa. Dicucukkan rokoknya yang masih separuh di tanah. "Iseng aja, Bang. Sekedar membunuh waktu."
Janu meletakkan pantat di sebelah Doni. Mereka berdua sekarang duduk di tanah menghadap landasan. Lampu-lampu yang menyala di hanggar maupun di mess tak mampu mengalahkan pekatnya malam.
"Nggak baik terlalu banyak rokok. Sayang paru-parumu."
"Siap, Bang." Doni tersipu. Untuk sesaat mereka berdua diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Don," ucap Janu memecah kebisuan. "Gimana pacar kamu yang di Bandung? Masih aman, kan?"
"Hahaha ..., aman, Bang. Insyaallah dia setia, kok."
"Bagus. Sepulang dari Papua, segera lamar saja dia. Jangan ditunda-tunda lagi, keburu disamber orang nanti!"
"Siap, Bang. Rencananya memang gitu." Doni tersipu.
"Haa ..., bagus, bagus!" Janu menepuk-nepuk bahu Doni. "Cantik dia, Don?"
"Jelaslah, Bang!" Lelaki itu mengambil handphonenya. Lalu dia perlihatkan foto seorang gadis berambut sebahu yang sedang tersenyum manis. "Ini, Bang. Cantik, kan?"
"Weiiis, mantap! Pinter juga kamu cari cewek."
"Adiknya siapa dulu. Adik bang Januu ...!"
Mereka berdua tergelak.
"Kerja apa kuliah dia, Don?"
"Kerja, Bang. Jadi guru di PAUD."
"Hmm, bagus. Berarti dia nanti sudah pinter untuk mendidik anak-anak kalian."
Doni mengangguk sambil tersenyum. Pandangannya menerawang ke depan, membayangkan seorang gadis manis berlesung pipi si Bandung sana.
Apakah saat ini kamu juga merindukanku, Dik? Tunggu aku, akan segera kulamar kamu. Tiga bulan lagi, hanya tiga bulan lagi ....
__ADS_1
"Heh, kangen ya kangen, tapi jangan keterusan melamunnya!"
Doni tergeragap. "Eh, i-iya, Bang." Dia mengusap wajah dengan telapak tangan. Bayangan kekasihnya barusan begitu indah. Membuat lupa bahwa di sebelah ada seniornya.
"Bang, kalau Abang kangen istri dan gak bisa telepon, biasanya ngapain, Bang?" Tiba-tiba Doni bertanya konyol.
Janu menoleh pada Doni. Kedua alisnya terangkat. "Heh?"
"Ya, kalau aku kan, cukup merokok kayak gini, Bang. Kalau Abang sendiri gimana?"
"Yaa ... ya, macam-macam, lah. Kan, banyak kegiatan yang bisa membuat kita lupa pada rasa kangen kita."
"Termasuk kegiatan di kamar mandi bukan, Bang?" seringai konyol tampak di bibir Doni.
"Hush!" hardik Janu.
Doni tertawa terbahak-bahak melihat abang seniornya jadi salah tingkah.
"Jangan kurang ajar, ya! Tak suruh push up 100 kali baru tahu rasa kamu!"
"Siap, salah, Bang!" ucap Doni masih di sela-sela tawanya. Dia tahu seniornya itu hanya bercanda. Mereka memang dekat seperti layaknya sahabat, meski pangkat dan lettingnya beda beberapa strip.
Mereka kembali terdiam. Doni memainkan batang rokok yang tak dia nyalakan di jari-jari tangan. "Bang, sebenarnya menurut Abang, konflik di Papua ini gimana, sih? Kok, dari jaman dulu sampai sekarang nggak kelar-kelar. TNI selalu rutin ditugaskan kesini. Dan entah sudah berapa ribu prajurit gugur di sini."
Janu menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. "Kamu mau jawabanku sebagai tentara atau sebagai manusia?"
"Kalau sebagai tentara, menurutku apa yang terjadi di Papua seharusnya tak boleh terjadi. Papua adalah wilayah Indonesia. Kita harus mempertahankan hingga titik darah penghabisan!"
Doni semakin tertarik dengan apa yang diungkap Janu. "Kalau jawaban Abang sebagai manusia?"
"Sebagai manusia, aku menganggap semua masyarakat di Papua setara denganku. Aku menghormati dan menghargai mereka sepenuhnya. Terlepas apakah mereka akan memusuhiku atau tidak. Dan jika keselamatan negara atau pun keselamatanku dan korps ku terancam, maka aku akan kembali menempatkan diri sebagai tentara. Kulawan mereka dengan segenap kekuatan yang ada!"
"Weis, mantap sekali abangku satu ini!" Doni menggeleng-gelengkan kepala.
Janu tersenyum simpul. Tak ditanggapi pujian Doni. Dia menatap jauh ke depan. Rimbun pepohonan di seberang landasan pesawat menciptakan misteri tersendiri. Tanah Papua nan elok yang kadang bisa menjadi ajang tertumpahnya amarah dan dendam, berujung kematian.
Janu menghela nafas. "Udah malam, Don, nggak tidur kamu?"
"Nanti, Bang, tanggung, sebentar lagi jaga."
"Kamu dapat giliran jaga jam berapa?'
Doni melihat jam di pergelangan tangan. "Jam 12, Bang."
"O, ya, sudah. Aku tidur dulu, ya. Hati-hati dan tetap waspada!"
__ADS_1
"Siap, Bang. Selamat istirahat dan mimpi indah."
Janu bangkit dari duduk dan mengacungkan jempol pada Doni sebelum meninggalkannya.
Malam semakin larut. Beberapa anggota tampak berjaga di sekeliling bandara. Beberapa lagi duduk di depan hanggar, ngobrol dan main gitar. Bagi yang tidak mendapat bagian jaga, terlelap di atas pelbed masing-masing untuk mengobati lelah dan melupakan kebosanan.
Dini hari menjelang. Tiba-tiba terdengar riuh di kejauhan. Para tentara itu berdiri siaga sambil memegang erat senjata masing-masing. Pratu Heru, bagian komunikasi tergopoh-gopoh keluar dari hanggar. Senjata laras panjang yang tersangkut di bahunya tampak bergerak ke kiri dan kanan seirama langkah kakinya.
"I-ijin, m-melaporkan, situasi gawat. Diperkirakan Kelompok separatis sedang menuju ke arah sini!" Terengah-engah dia melapor.
Para tentara itu saling berpandangan.
"Situasi siaga! Cepat ambil posisi masing-masing. Bangunkan yang sedang tidur. Matikan semua lampu!!!"
Mereka serentak melaksanakan perintah. Berlari ke arah pos masing-masing, membentuk perimeter. Seorang yang lain berlari ke arah mess, untuk membangunkan rekan-rekannya yang masih tertidur.
"Bangun, bangun!" serunya. "Siaga menghadapi serangan Kelompok separatis!!!"
Beberapa di antaranya langsung terlonjak bangun. Beberapa yang lain terduduk sesaat mengumpulkan kesadaran. Namun tak berapa lama mereka sudah sigap mengambil senjatanya dan langsung lari keluar.
Janu termasuk yang pertama lari keluar. Dia hanya menggunakan kaos dan celana loreng, tanpa sempat memakai baju dan sepatu. Segera dia mengambil tempat di sebelah hanggar. Matanya tajam menembus kegelapan. Riuh suara di kejauhan semakin mendekat.
"Pekik peperangan," desis Janu.
Tak berapa lama tampak di kejauhan bayangan orang-orang muncul dari balik pepohonan di seberang landasan. Mereka berlarian mendekat.
Belasan, ah, tidak. Puluhan, ah, bukan. Ratusan ... ya, ratusan. Mereka menyerbu bersamaan secara membabi-buta ke arah hanggar. Suara-suara pekikan mereka terdengar menyeramkan.
Tak ada bunyi letusan senjata dari pihak TNI. Mereka menunggu. Meski nyawa taruhannya, namun HAM tetap harus diperhatikan. Mereka tak ingin dikatakan menyerang duluan dan melanggar hukum hak asasi manusia.
DOR!
Tiba-tiba terdengar letusan senjata dari arah kelompok separatis. Berlanjut suara desingan anak panah yang berhamburannya mengarah ke hanggar. Segera para tentara menarik pelatuk senjata masing-masing.
DOR!
DOR!
DOR!
(bersambung)
// Ups, longgarkan nafas sejenak!
di cut sampai sini dulu, ya. Author nya ngantuk berat...🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih sudah berkenan mampir. Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like, komen, n vote. //