
Mungkin tawa pernah hilang, senyum pernah pudar. Tetapi harapan yang digenggam akan mengembalikan semua, meski pelan-pelan.
Janu pada akhirnya dinyatakan sembuh dari depresi. Dia sudah bisa pulang kembali ke keluarga. Semua menyambut dengan suka cita.
"Lalu, kapan rencana Abang akan melapor ke kantor di Bandung?" tanya Bayu yang kebetulan sedang pulang ke Jogja.
"Mungkin beberapa hari lagi, Yu. Aku sudah telepon komandan, beliau bilang 'atur-atur aja'."
"Sekalian sama mbak Maira dan anak-anak nggak, Mas?" Karina ikut nimbrung.
"Maunya sih, gitu. Tapi Maira harus mengurus pindah sekolah Oza dulu."
"Halah, timbang ngurus gitu doang!" Bibir Karina mencebik. "Kan, bisa minta tolong ibu atau bapak. Mbak Maira biar ke Bandung bareng mas Janu!"
"Kasihan ibu, Rin!" Maira yang baru datang dari arah dapur, ikut menimpali. "Harus kesana kemari ngurusini!"
"Nggak apa-apa, Mai!" sahut bu Kusno yang berjalan di belakang Maira. "Ibumu ini belum jompo-jompo amat. Kalau cuma disuruh ngurus ini itu masih bisa!"
Karina tergelak. Yang lain tersenyum simpul mendengar kata-kata Bu Kusno.
"Nanti biar bapak bantu-bantu juga. Sekarang bapak sering punya waktu luang. Bisa izin sebentar untuk ngantar ibumu," tambah pak Kusno.
"Nah, kan!" seru Karina. "Lagian, kalian udah pisah lama. Jangan lewatkan waktu sedikit pun tanpa berduaan, dong!"
"Hush!" Maira menoleh ke arah kamar Oza. Khawatir anak itu mendengar keisengan tantenya.
"Kalau ke Bandungnya minggu depan, aku siap nganter, bang. Nanti aku balik Jogja lagi jemput kalian," kata Bayu.
"Ah, gak usah, Om. Nanti biar Lik Sutar yang antar. Sekalian bawa mobil kami kesana!" tolak Maira.
"Dan lagi, sepertinya nggak sampai minggu depan kami berangkat Bandung, Yu. Keburu nggak enak sama komandan kalau nggak segera masuk kerja," tukas Janu.
Dan tiga hari kemudian mereka pun berangkat. Keluarga dalam formasi lengkap, diantar Sutar sebagai sopirnya.
Memasuki rumah dinas bersama orang-orang tercinta, Maira merasa kembali menemukan dunianya yang hilang. Dunia penuh warna biru yang membahagiakan. Sempurna rasanya menjadi seorang istri yang bisa melayani suami dan anak-anaknya. Kembali melakukan rutinitas harian. Menyiapkan makanan, menyiapkan baju seragam suami dan Oza, mengurus dan merawat Hanin dan sesekali mengikuti kegiatan para istri di kantor suami.
"Dik, kamu jangan terlalu sibuk mengurusi kami!" kata Janu malam itu. "Cobalah lakukan hal-hal yang kamu suka!"
__ADS_1
Maira tersenyum. Dia miringkan badan menghadap suaminya. "Mengurus kalian itu segalanya buatku, Mas."
Janu menyentuh pipi Maira, menyibakkan anak rambut yang jatuh di wajah istrinya. "Tentu saja kamu perlu refreshing. Jangan hanya melulu di rumah. Mungkin kembali berkarir di bidang desain baju akan lebih baik untukmu."
Maira menggeleng. "Aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk menunggumu, Mas. Masak iya, begitu sekarang kita bisa bersatu lagi, kok, malah aku mau ninggalin kalian untuk kerja di luar rumah?"
Maira menggenggam tangan Janu yang masih menyentuh pipinya. "Biarkan aku melunasi kepedihan yang sekian lama kurasakan saat menunggumu kembali, Mas Janu. Biarkan aku mengabdi sepenuhnya untuk keluarga tercintaku ini. Sebab yang kubutuhkan bukan eksistensi diri di luar sana, tapi kehangatan cinta keluarga."
Janu beringsut. Direngkuhnya Maira dalam pelukan. Diciumnya rambut, kening, mata, dan pipi Maira. "Terima kasih, Dik," desisnya.
Semua kembali berjalan normal. Sebuah keluarga kembali membangun pilar-pilar kebahagiaanya. meski di lubuk hati terdalam masih ada ganjalan. Bagai aliran sungai yang tenang, namun di dalamnya arus terpecah karena batu penghalang.
Saat ini Hanin berusia satu tahun. Maira sudah menyiapkan kue ulang tahun untuknya. Sebuah perayaan kecil yang mengundang teman-teman satu blok di rumah dinas, diadakan.
Jarum jam sudah menunjukkan angka empat sore. Anak-anak mulai gelisah. Tawaran menyanyi ke depan dari Nina, host acara sore itu, sudah tak dihiraukan lagi. Mereka tak sabar menanti acara puncak, potong kue ulang tahun Hanin.
"Gimana nih, mbak Mai?" bisik Nina pada Maira. "Doorprize buat anak-anak juga sudah habis dibagi-bagi. Langsung ke acara puncak saja, gimana?"
"Sebentar lagi ya, mbak Nina. Nunggu mas Janu pulang dulu." Leher Maira memanjang, melongok ke arah jalan. Perempuan itu pun tak kalah resah.
"Bunda, kapan potong kuenya?" Oza ikut gelisah. Dia mendekat pada Maira yang memangku Hanin.
Tidak berapa lama tampak motor di ujung jalan. Sosok berseragam tampak mengendarainya.
"Ayah ... Ayah ... Ayah!" Oza menghambur keluar. Disambutnya Janu yang sedang menyetandarkan motornya. "Cepetan, Yah, teman-teman sudah nggak sabar, tuh, pengen potong kuenya dek Hanin!"
"Iya, iya, sebentar, ya!"
Oza tak peduli. Anak itu segera menarik tangan Janu menuju kerumunan anak-anak yang mengelilingi Hanin dan Maira.
"Alhamdulillah, akhirnya ...," gumam Maira.
"Maaf, Sayang, tadi aku dipanggil komandan sebentar. Ada perlu," bisik Janu sambil mencium kening Maira. Lalu lelaki itu duduk di sebelah istrinya setelah menyapa Nina dengan senyum dan anggukan kepala.
"Assalamualaikum, anak ayah yang paling cantik!" Janu mencium pipi Hanin yang sedang dipangku Maira.
"Aayaa!" Hanin yang mulai bisa bicara menggapai wajah ayahnya. Anak itu tertawa girang. Lalu dia berpindah ke pangkuan Janu.
__ADS_1
Sore itu rumah dinas Janu kembali meriah oleh gelak tawa anak-anak. Mereka menyanyikan lagu 'Selamat ulang tahun' untuk Hanin. Anak perempuan lucu itu tergelak riang ketika anak-anak bergantian menyalaminya. Janu tak bisa menahan gemas saat melihat putrinya tertawa-tawa. Berkali-kali dieratkan pelukan dan diciumi pipi Hanin yang duduk di pangkuannya. Maira menyaksikan dengan rasa bahagia yang membuncah.
Kebahagiaan Maira masih membekas hingga malam tiba. Setelah anak-anak tidur, dia menghampiri Janu yang duduk di sofa ruang tengah. Lelaki itu sedang menonton tayangan berita di televisi.
"Mas," sapa Maira sambil menghenyakkan pantat di sebelah Janu.
Janu menoleh. "Hem?" Lelaki itu kemudian merentangkan lengan, memeluk bahu Maira. "Apa, sayang?"
Maira menjatuhkan kepala di dada Janu. "Mas belum ngantuk?"
"Em, apa ini semacam kode?"
"Iiih!" Maira mencubit gemas perut suaminya.
"Ouuw!" Janu pura-pura meringis kesakitan. Dia pegang tangan istrinya, sementara tangan yang satu merengkuh tubuh itu dalam pelukan. "Aku belum ngantuk, tapi aku mau masuk kamar," bisik Janu di telinga Maira. "... Bersamamu."
Tak peduli pada istrinya yang meronta, Janu segera mengangkat tubuh Maira. Lalu dia beranjak masuk kamar sambil membopong istrinya. Dengan satu kaki, dia dorong pintu hingga tertutup rapat.
Dinginnya malam di Bandung tak begitu terasa. Cinta telah menghangatkan ruangan selebar 3×4 meter itu, seperti malam-malam sebelumnya.
***
Adzan subuh belum terdengar. Hari pun masih gelap. Namun kesibukan pagi mulai terasa. Beberapa tetangga yang sudah bangun mulai menyalakan pompa air, membuka pintu rumah, mengeluarkan kendaraan dari garasi.
Maira sendiri masih menggeliat malas. Matanya sedikit terbuka, melihat jam di dinding kamar, lalu kembali terpejam. Seulas senyum tipis mengembang di bibirnya. Perempuan itu hampir saja melingkarkan tangan memeluk Janu, ketika tiba-tiba lelaki itu tersentak bangun dari tidurnya.
"Bertha!" pekik Janu, cukup keras.
Mata Maira spontan terbuka. Wajah perempuan itu menegang. Dia lalu ikut bangkit dari tidur, duduk di sebelah Janu.
"Ada apa, mas?" tanyanya dengan suara bergetar.
(bersambung)
// Mohon maaf karena sangat terlambat up. Ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan.
Semoga suka dengan kisah ini. Terima kasih sudah mampir, dan jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote.
__ADS_1
Terima kasih //