
Hanin yang sempat panas badannya, pagi ini sudah membaik. Anak itu mulai ceria lagi. Dia sudah mau tertawa ketika ayahnya pamitan hendak berangkat dinas.
"Ayaaa!" Dia menggapai-gapaikan tangan, ingin meraih ayahnya.
"Aah, anak ayah sudah sembuh, ya?" Janu mencium kepala Hanin yang sedang digendong Maira.
Hanin terkekeh saat kemudian Janu menggelitik perutnya.
"Ayah, buruan!" seru Oza dari atas motor. "Oza piket kelas nih, nanti telat!"
Janu melambaikan tangan sebagai isyarat agar Oza menunggu sejenak.
"Lian dimana, Dik?" tanya Janu.
"Oh, e ... Dia masih bobok di kamar."
"Masak, sih? Tadi habis mandi kulihat dia sudah bangun."
Janu melangkah, kembali masuk rumah. Sementara Maira mengikuti dari belakang.
"Waa, Lian main sendirian, ya?" seru Janu melihat Lian di boks bayinya. "Anak pinter, nggak nangis. Sini, ayah gendong dulu!"
Maira menggigit bibir melihat Janu mengangkat Lian dalam gendongan. Lalu perempuan itu menghindar dengan keluar kamar.
"Dik, Dik!" panggil Janu dari kamar.
Maira bergegas kembali ke kamar. "Apa, Mas?"
"Lihat, sepertinya Lian agak anget badannya!"
Maira mendekat dan meletakkan tangan di dahi Lian. "Iya, sedikit panas."
"Apa mungkin ketularan Hanin?" tanya Janu.
Maira menautkan kedua alis. "Ya, nggak tentu, dong. Bisa jadi dia cuma masuk angin. Bayi kan, emang gitu!"
Berkernyit dahi Janu mendengar nada bicara Maira yang tidak seperti biasa. Hampir saja dia menanyakan, namun buru-buru diurungkan.
"Ya, sudah, tolong nanti susui saja, ya! Mudah-mudahan nggak kenapa-kenapa."
Maira hanya mengangguk. Dibiarkan Janu memgembalikan Lian ke dalam boksnya.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang." Janu kemudian mencium kening Maira dan juga pipi Hanin yang masih dalam gendongan istrinya.
Menjelang siang badan Lian semakin panas. Dia merengek terus, memaksa Maira untuk memberi perhatian lebih.
"Ibu, dedek Hanin diberi ***** langsung saja meureun, ulah asi yang sudah disimpan di freezer!" usul teh Lina.
"Wah, jangan, Teh! Nanti kalau Hanin ketularan panas gimana?"
"Tapi dedek Hanin kan, sudah sembuh dari panasnya. Meureun tidak akan tertular lagi."
"Nggak, jangan!"
Teh Lina menghela napas. Sejak kemarin Maira memang enggan menyusui Lian secara langsung. Dia lebih sering memberi stok asi yang sudah disimpan di freezer. Teh Lina tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan majikannya itu.
"Teteh gendong Lian dulu, ya, aku mau nyuapi Hanin!"
Entah perasaan teh Lina saja atau memang demikian adanya. Sepertinya Maira memang lebih memperhatikan Hanin dari pada Lian.
Semakin sore kondisi Lian semakin memburuk. Panasnya belum juga turun dan bahkan disertai muntah. Teh Lina terlihat khawatir mengetahui hal itu.
"Kita bawa ke rumah sakit saja atuh, ibu!"
"Tunggu mas Janu dulu saja, Teh!"
"Tapi dedek Lian sudah begini, Ibu. Teteh takut kenapa-kenapa!" Teh Lian mengusap kepala Lian yang berada dalam gendongannya.
Maira ikut memegang dahi Lian. "Tapi, gimana Hanin dan Oza kalau ditinggal ke rumah sakit, Teh? Mereka nggak ada teman di rumah. Dan Hanin juga baru sembuh dari sakit."
Teh Lina menghela napas. "Punten ibu, mereka dititipkan saja sebentar ke tetangga!"
"Jangan!"
__ADS_1
Bagaimana bisa Maira menitipkan dua anaknya ke tetangga? Apa kata mereka nanti? Demi anak suami dari perempuan lain, dia mengesampingkan anaknya sendiri.
Teh Lina terperangah melihat kekerasan hati Maira. Tidak biasanya majikan perempuannya seperti itu. Terlihat sangat tidak peduli dengan kondisi Lian.
"Punten Ibu, kalau begitu biar teteh yang bawa ke rumah sakit, ya. Nanti dipesankan ojek online saja!"
Setelah berpikir beberapa saat dan demi melihat Lian yang kembali muntah, akhirnya Maira mengizinkan. Dia memesankan taksi online untuk teh Lina.
"Naik taksi saja ya, teh, kalau ojek takut kena angin Liannya."
"Iya, ibu."
"Nanti kalau bapak sudah pulang, segera saya susul."
Teh Lian hanya mengangguk sambil masuk taksi bersama Lian di gendongan.
"Hp teteh harus on terus, ya! Hubungi saya kalau ada apa-apa!"
"Iya, Ibu," jawab teh Lina sebelum taksi melaju.
Maira kembali ke dalam rumah dengan hati gundah. Sebenarnya dia kasihan dengan kondisi Lian, tetapi ketika mengingat omongan nyinyir orang-orang, perempuan itu jengah jika harus mengesampingkan anak sendiri demi Lian.
Semoga Lian nggak kenapa-kenapa, bisiknya dalam hati.
"Apa, ke rumah sakit hanya sama teh Lina?" Janu terkejut luar biasa saat pulang dan mendengar kabar tentang Lian dari istrinya. "Bagaimana bisa, Dik? Gimana kalau kenapa-kenapa?"
Lelaki itu menjadi panik. Setelah melepas baju seragam dan hanya menyisakan kaos loreng serta celananya saja, Janu segera menyambar kunci mobil.
"Aku ikut, Mas!" seru Maira, sambil mengikuti langkah Kami menuju mobil.
"Jangan, kamu di rumah jaga anak-anak!"
"Anak-anak dibawa saja!" Maira masih
Janu menggeleng. "Nggak baik bawa anak-anak ke rumah sakit!"
"Tapi aku juga mau lihat kondisi Lian!"
Janu menatap istrinya dari dalam mobil. Tatap mata itu begitu dingin. "Kenapa tadi bukan kamu saja yang bawa Lian ke rumah sakit?"
Baiklah, mungkin dia memang salah telah mengesampingkan Lian. Tetapi, bukankah kepentingan anak-anaknya juga perlu dipikirkan?
Sampai malam tiba mereka belum kembali dari rumah sakit. Maira resah menunggu. Dia kemudian mencoba menghubungi Janu.
"Assalamualaikum," sapa Janu dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam. Mas, gimana kondisi Lian?"
Sejenak tak ada jawaban.
"Mas?"
"Dik, Lian sementara harus dirawat di rumah sakit."
"Apa? Kenapa?"
"Dia mengalami dehidrasi."
Maira terduduk di sofa. Suara Janu tak lagi begitu jelas dia dengar. Perempuan itu tangannya gemetar. Ada rasa yang entah, menyelinap dalam hatinya.
"Ya Allah," desisnya.
"Dik, Dik!" panggilan Janu di telepon kembali terdengar.
"Mas, gimana kondisi Lian sekarang?"
"Masih dalam perawatan. Ini sudah masuk ruangan. Sementara teh Lina masih nunggu di sini." Janu menjeda. "Kalau bisa, kamu segera nyusul kesini. Lian butuh asi."
"Iya, Mas," pelan Maira menjawab.
"Kumohon kamu mau menyusui Lian langsung, jangan asi dari freezer!"
Maira tercekat. Ada rasa bersalah menyelinap di hatinya.
__ADS_1
Nina datang setelah Maira menelepon. Dia menitipkan anak-anak pada sahabatnya itu.
"Mau naik apa kesana, Mbak?"
"Sebentar, aku lagi pesan taksi online," jawab Maira. Dia masih sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali mencoba order taksi, namun belum menemukan pengemudi yang siap menerima orderannya.
"Duh, gimana, sih, ini!" rutuknya.
Sementara itu panggilan dari Janu masuk.
"Assalamualaikum, Mas, gimana?"
"Sudah berangkat belum, Dik?" Janu terdengar gugup. Bahkan salam Maira pun tak dijawabnya.
"Belum, Mas."
"Aduh, kenapa belum?"
"Ini order taksi dari tadi belum dapat-dapat."
"Ojek saja, Dik! Buruan, kasihan Lian. Dia butuh asi-mu, Dik!"
Maira tercenung. Suara petir di luar kembali bergemuruh. Hujan mengguyur semakin deras.
"Iya, Mas," jawab Maira, pelan. Bersamaan dengan itu, terlihat notifikasi pada aplikasi ponselnya. Orderan taksi online sudah dikonfirmasi.
"Alhamdulillah," bisik Maira.
Tak lama kemudian perempuan itu sudah berada di dalam taksi. Sementara hujan masih mengguyur deras di luar sana.
"Yang cepat ya, Pak!" Sekali lagi Maira mengingatkan sopir taksi.
Tetapi sesering apa pun Maira menyuruh sopir itu agar mempercepat laju mobilnya, tetap saja jalannya merayap. Di jam-jam sekian, ditambah situasi hujan, lalu lintas sangat padat. Bahkan beberapa kali taksi terpaksa berhenti karena padatnya kendaraan.
Maira semakin resah. Keringat mulai membasahi telapak tangan yang saling meremas. Hingga tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi.
"Dik, gimana, sudah berangkat belum?"
"S-sudah, Mas, ini di dalam taksi."
"Alhamdulillah."
"Tapi sepertinya tidak bisa cepat, Mas, jalanan padat banget."
"Ya Allah!" pekik Janu di sana. "Lian sangat butuh kamu, Dik. Harusnya untuk mengatasi dehidrasi, dia menyusu padamu!"
Maira semakin gemetaran.
"L-lian kondisinya gimana sekarang, Mas?"
"Lemah, Dik. Ya, sudah, aku mau balik lagi ke kamar. Oiya, kalau memang padat, mendingan naik ojek saja!"
"T-tapi---"
Krep.
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, Janu sudah menutup telepon.
"---hujan, Mas," lanjut Maira, tanpa sempat didengar Janu. Perempuan itu menggigit bibir. Matanya nanar menatap hujan yang semakin deras dari balik kaca mobil.
Beberapa saat kemudian, "Berhenti, Pak!"
"Aya naon, Neng?"
"Saya turun di sini saja."
"Tapi belum sampai tujuan, Neng!"
"Nggak apa-apa, Pak, saya pindah ojek motor saja. Soalnya butuh cepet sampai tujuan."
Setelah membayar ongkos taksi, Maira bergegas keluar. Teriakan sopir taksi yang mengingatkan agar dia hati-hati karena situasi hujan, tak digubris. Dia berlari diantara kendaraan, sambil mengangkat tas diatas kepala untuk melindungi dari hujan. Tak dipedulikan bajunya yang basah, dia terus berlari ke arah pertokoan dekat pasar. Biasanya di sana ada banyak tukang ojek mangkal.
Tak berapa lama Maira sudah mendapatkan tukang ojek yang bersedia mengantar ke rumah sakit. Meski memakai jas hujan, tetap saja percikan air hujan membasahi sebagian celananya. Sementara baju dan sepatu sudah dari tadi basah kuyup. Maira menggigil kedinginan. Namun dia tak begitu mempedulikan kondisi badannya. Yang ada di pikiran perempuan itu hanyalah bayangan wajah Lian.
__ADS_1
"Ya Allah, Liaaan ... maafkan Bunda, sayang!"