LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
PUASA DI TRISEMESTER PERTAMA


__ADS_3

Di dalam kamar mandi Maira terkejut ketika membuka celana dalamnya. Noda kemerahan tampak jelas di sana.


"Apa ini?" Tangan Maira bergetar, jantungnya berdebar. Dia segera kembali ke kamar.


"Dik, lihat, ada dokter kandungan buka hari Minggu," ucap Janu sambil mengulurkan telepon genggam pada Maira. Istrinya itu baru saja masuk kamar.


"Kok, kamu terlihat pucat gitu, Sayang?" Janu terperanjat. Dia segera bangkit menghampiri Maira. Dipapahnya Maira menuju ke ranjang. "Kita ke dokter sekarang, ya!"


Maira mengangguk pelan. Tak ada penolakan lagi dari mulutnya. Apa yang dilihat di kamar mandi tadi cukup membuatnya khawatir.


Tempat praktek dokter yang mereka tuju ada di pusat kota. Sepanjang perjalanan Maira lebih banyak diam. Dia tak menceritakan mengenai flek yang dialaminya pada Janu. Dia tak mau membuat khawatir suaminya itu.


"Kandungan ibu baik-baik saja. Hanya perlu lebih hati-hati lagi," kata dokter spesialis kandungan yang mereka temui.


Ada kelegaan di wajah Janu dan Maira.


"Apa sebelumnya ibu melakukan aktivitas berat?"


Keduanya saling pandang. Lalu, "Kemarin saya jalan lumayan jauh, Dok," Maira menyahut.


"Begitu, ya?" Dokter mengangguk-anggukkan kepala, lalu mulai menulis resep.


Janu mengernyitkan kening. Perasaan kemarin Maira berjalan tak terlalu jauh. Sisanya dia lalui dalam gendongan Janu.


"Apa hubungan intim juga bisa berbahaya untuk kehamilan, Dok?"


Maira terperanjat mendengar pertanyaan lugas Janu. Perempuan itu menunduk malu.


Berbeda dengan dokter perempuan yang usianya mungkin di atas kepala lima. Dia menanggapi serius pertanyaan Janu. "Jika dilakukan dengan hati-hati tidak apa-apa, Pak. Cuma sebaiknya untuk saat ini libur dulu, sampai kondisi ibunya stabil. Karena di trimester pertama kehamilan, perkembangan janin masih dalam masa rawan."


"Oh, begitu ya, Dok?"


Dokter mengangguk sambil tersenyum. "O iya, apakah ibu punya riwayat kehamilan yang bermasalah?"


"Tidak ada, Dok. Kehamilan anak pertama baik-baik saja."


"Oke. Yang penting untuk sekarang istirahat dulu saja sampai kondisi stabil."


"Dok," tukas Janu. "Kira-kira hubungan intim yang aman untuk masa kehamilan awal itu gimana, ya?"


Maira kembali tertunduk malu. Duh, Mas Janu, ada-ada saja pertanyaannya!


"Cari posisi yang nyaman untuk ibunya, Pak. Lakukan dengan lembut. Dan yang harus diingat, sebaiknya jangan dikeluarkan di dalam ya, Pak."


"Lhoh, kenapa, Dok?"


"Karena ****** mengandung hormon prostaglandin yang bisa mendorong munculnya kontraksi dalam rahim. Kalau ini terjadi secara intens, maka bisa membahayakan janin."


Bibir Janu membulat. Ingatannya melayang pada apa yang telah dilakukan pada Maira. Aktivitas ngawur yang tanpa dasar pengetahuan. Lelaki itu menyesal, karena merasa telah menyakiti istri dan calon bayinya.


Pemeriksaan kondisi kehamilan Maira sore itu memberikan pengetahuan baru bagi Janu. Setidaknya sekarang dia mengerti, harus lebih disiplin memanajemen rasa kecanduannya pada tubuh Maira.


"Maafkan aku, Sayang," ucap Janu, ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Kenapa, Mas?"

__ADS_1


"Gara-gara aku, kandunganmu jadi begini."


Maira menggenggam tangan Janu yang berada diatas tuas persneling. "Jangan begitu, Mas. Mungkin kondisiku saja yang kurang fit. Yang jelas kedepannya kita harus lebih hati-hati lagi."


Janu mengangguk sambil tersenyum. Diciumnya kening Maira.


"Semoga kondisiku cepat mebaik, Mas, supaya puasamu nggak terlalu lama."


"Halah, jangan mikirin itu, Dik. Yang penting kamu dan calon anak kita baik-baik saja!" sergah Janu.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka bergerak meninggalkan tempat praktek dokter spesialis kandungan.


***


"Mbak Maira kenapa? Bagaimana kandungannya? Baik-baik saja, kan? Apa yang dirasa, Mbak?"


Bertubi-tubi pertanyaan menghambur dari mulut Karina. Dia, Bayu dan Oza sudah pulang dari tadi. Saat diberi kabar kalau Maira mau periksa, Karina langsung panik dan mengajak suami serta keponakannya untuk segera pulang.


"Gak apa-apa, cuma ngeflek aja, kok." Maira mencoba meredakan kepanikan adiknya.


"Mbakmu hanya harus istirahat dulu, Rin," timpal Janu yang memapah Maira.


"Waah, kecapekan itu berarti. Over dosis, mungkin, Mas Janu."


"Hush!" sergah Maira.


Karina tertawa. Bayu yang berdiri di sebelah Karina menjewer telinga istrinya.


"Bunda, dedek bayinya kenapa?" Oza berlari menyongsong mereka dari dalam.


"Ya, udah, Bunda bobok aja. Biar Oza yang nyapu sama nyuci. Ayah nanti yang masak."


Semua tertawa mendengar Oza bagi-bagi tugas. Anak itu memang sering bersikap dewasa melebihi usianya.


"Apa aku izin dari kerjaan dulu, ya. Sementara di sini, selama mbak Maira belum baikan," usul Karina.


"Jangan!" cegah Maira cepat. "Nggak apa-apa, kok. Paling nanti untuk makan kami bisa pesan go food. Nyuci ke laundry aja. Beberes rumah, Oza juga sudah bisa nyapu dikit-dikit."


"Iya, Rin. Tenang aja, nanti bisa tak handle." Janu ikut meyakinkan.


Sebenarnya memang tak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan. Janu termasuk suami yang tak sungkan melakukan pekerjaan rumah tangga. Tak ada yang akan terlantar meski ratu rumah tangga cuti dari tugas. Raja siap menghandle semua.


Hanya saja, tugas Janu yang memang kadang banyak menyita waktu. Tapi Janu yakin bisa menghandle semua dengan baik.


Akhirnya Karina dan Bayu pulang ke Jakarta, meski agak berat. Karina mewanti-wanti agar kakaknya tidak begini, tidak begitu. Dia tahu, Maira tak bisa diam orangnya. Dipesannya pula Oza agar mengawasi bundanya baik-baik.


Hari berikutnya, saat Janu hendak berangkat dinas, dia menghampiri Maira yang masih di kamar. Semangkuk bubur ayam yang masih panas dia letakkan di atas nakas.


"Sayang, ini sarapan dulu. Mau disuapi apa makan sendiri?"


"Nanti aku makan sendiri saja, Mas." Maira mencegah Janu menyendokkan buburnya. "Oza sekolahnya gimana?"


"Berangkatnya bareng aku. Nanti pulangnya kamu pesankan ojek online, ya. Sekalian pesan makanan juga untuk makan siang kalian."


"Iya, Mas."

__ADS_1


"O iya, baju-baju daleman sudah aku cuci tadi. Tinggal baju luaran. Nanti aku telponkan laundry, biar diambil kesini."


"Mas ...." Maira terperanjat mendengar Janu mencuci jerohannya. Rasa tak nyaman menyelimuti hatinya.


"Perabotan juga sudah beres. Rumah juga sudah kusapu. Pokoknya kamu istirahat saja, jangan ngapa-ngapain!"


"Harusnya Mas nggak perlu segitunya. Mas kan, mau kerja, nanti kecapekan."


"Kalau cuma ngerjain kerjaan rumah tangga segitu aja, kecil, Sayang."


Janu mencium kening Maira. "Ingat, kamu harus benar-benar nurut kata dokter. Istirahat saja supaya cepat pulih!" tekannya kemudian.


Maira mengangguk. Meski sebenarnya tak betah disuruh diam seperti ini, tapi dia berjanji akan melakukan sepenuh hati. Demi calon anak yang dikandungnya, demi Janu dan Oza.


***


Hampir seminggu Maira disiplin mengikuti anjuran dokter. Dia berusaha keras menekan keinginannya beraktivitas. Saat Janu sibuk di dapur sepulang dinas, Maira mencoba menebalkan perasaan. Sekuat tenaga menahan keinginan untuk membantu suaminya. Demikian juga saat melihat Oza dengan tekun menyapu lantai, atau mengambilkan keperluan-keperluan bundanya.


Beberapa hari terakhir flek-flek tak lagi keluar. Pinggul Maira pun sudah tak terasa sakit. Perutnya juga sudah nyaman. Saat periksa berikutnya, dokter berkata bahwa kondisi kehamilannya sudah membaik.


"Sudah boleh buka puasanya, Pak," canda Bu dokter. "Asal harus selalu ingat pesan saya, hati-hati!"


Diam-diam Janu merasa lega. Sejujurnya dia kelimpungan menahan sekian lama. Apalagi menjelang perpisahan dengan Maira.


"Berarti besok aku sudah boleh beraktivitas kembali ya, Mas," kata Maira malam itu, setelah pulang dari dokter.


"Enggak lah!"


"Lhoh, kok, gitu?"


"Kamu boleh beraktivitas, tapi nggak boleh seperti dulu lagi. Mulai besok akan ada yang datang bantu-bantu kamu."


"Siapa, Mas?"


"Aku sudah minta tolong Bu Pur untuk mencarikan asisten rumah tangga."


"Kok, Mas nggak bilang dulu ke aku?" Maira memang tak begitu suka memakai jasa ART. Dia sering merasa sungkan kalau harus menyuruh-nyuruh orang mengerjakan sesuatu.


"Kali ini kamu harus nurut. Orangnya juga hanya kerja dari pagi sampai siang saja kok. Sekedar bantu-bantu beberes rumah, nyuci, setrika sama masak."


Maira memberenggut kesal.


"Tenang saja, insyaallah orangnya baik. Sudah pengalaman jadi ART, jadi kamu nggak perlu repot-repot nyuruh ini itu, dia sudah ngerti." Janu seperti tahu apa yang dipikirkan Maira.


"O iya, hari Senin nanti ada undangan pertemuan ibu-ibu di kantor. Kamu bisa datang kan, Sayang?"


"Bukannya pertemuan bulanan baru diadakan akhir bulan lalu, Mas? Sepertinya belum ada sebulan?"


"Ini pertemuan khusus untuk para istri personel yang akan ditinggal tugas ke Papua nanti. Sepertinya wajib datang, Dik."


Deg!


Jantung Maira berdebar ketika kembali diingatkan akan tugas yang menanti suaminya.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2