
"Aaawwwk ...!!!"
Sosok tubuh yang tergeletak di depan Bidadari Hitam ternyata Batu. Wajah lelaki itu pucat, bibirnya membiru.
"Aagh ... Aagh ...!"
Bidadari Hitam menggoyang-goyangkan tubuh Batu, tapi lelaki itu tak bereaksi. Disentuhnya nadi leher Batu, lalu ditempelkan kepala pada dada lelaki itu. Bidadari Hitam masih merasakan detak jantung yang lemah berdenyut.
Pandangan Bidadari Hitam memindai seluruh tubuh Batu. Dan matanya tertumbuk pada tungkai kaki kanan Batu yang agak tertekuk. Mata Bidadari Hitam membola. Gadis itu kemudian mengeluarkannya pisau dari nokennya. Lalu dia bangkit dan berlari ke arah rimbunnya hutan. Sejurus kemudian dia kembali pada Batu dengan membawa semua bahan yang dia perlukan.
Bidadari hitam memegang kaki Batu dengan kedua tangan. Wajahnya menegang. Lalu dalam satu gerakan, diluruskan kaki Batu yang bengkok.
Kraaakh!
"Aargh!" rintih Batu dalam kondisi setengah sadar.
Bidadari Hitam menahan kaki itu dengan kayu di kedua sisinya dan diikat kuat-kuat. Kemudian diangkat tubuh Batu dan diletakkan di atas pelepah pohon kelapa. Tubuh itu diikat sedemikian rupa pada jajaran pelepah. Lalu sekuat tenaga, Bidadari Hitam menarik pelepah itu menuju ke atas jurang.
Gadis suku pedalaman Papua itu merangkak dengan berpegangan akar pohon. Sementara tali yang terhubung dengan pelepah dikaitkan di bahunya. Tak dipedulikan telapak tangan yang berdarah karena begitu kuat mencengkeram akar-akar pohon demi menahan beban yang dibawanya.
Sekian waktu berlalu, akhirnya Bidadari Hitam berhasil membawa Batu kembali ke dalam goa. Dihempaskan tubuhnya ke tanah. Napas memburu tak beraturan. Gadis itu merasa lelah luar biasa.
***
Maira terkantuk-kantuk di kursi tunggu ruang farmasi. Dia harus mengambil obat untuk Hanin. Sementara bayinya itu sudah berada di ruang perawatan, ditunggui Bu Kusno.
"Hanin Hananina!"
Panggilan petugas mengagetkan Maira. Perempuan itu segera bangkit dan mengambil obatnya. Lalu dengan langkah terburu dia keluar dari ruang farmasi.
Pa**dara Maira terasa kencang dan berdenyut. Pertanda air susu di dalamnya mulai penuh. Dan lagi, tadi dia juga belum sempat memberikan ASI untuk Hanin.
Maira berjalan setengah berlari. Digenggamnya erat plastik obat di tangan. Kepalanya agak pusing pagi ini. Mungkin akibat semalam kurang tidur karena menjaga Hanin.
Brak!
Maira terhuyung setelah tubuhnya menabrak seseorang.
"Maaf, maaf, mbak!" seru orang itu sambil menangkap tubuh Maira yang hampir terjatuh.
"Maira?"
"Kapten Rian ... Ah, maaf ...!"
"Kamu nggak apa-apa?"
Kapten Rian masih memeluk bahu Maira yang dalam posisi hampir terjatuh. Segera Maira menegakkan badan dan melepaskan diri dari pelukan kapten Rian.
"Oh, maaf," ucap Kapten Rian, menjadi sangat canggung.
Pipi Maira memerah. Perempuan itu jadi salah tingkah. Lalu dengan kikuk dia mengangguk pada kapten Rian.
"Maaf, saya buru-buru, Pak. Permisi!" Maira melangkahkan kaki.
"Tunggu!" Kapten Rian menyusul langkah Maira yang terburu. "Ada apa kamu, eh, Bu Janu di sini? Siapa yang sakit?"
__ADS_1
"Anak saya, Pak," jawab Maira sambil terus berjalan.
"Oza?"
"Bukan, Hanin."
"Sakit apa?"
"Semalam panas, muntah dan diare."
"Sekarang bagaimana kondisinya?"
"Alhamdulillah semakin membaik, Pak."
Langkah mereka sampai di depan ruang perawatan anak.
"Saya boleh menengok sebentar, ya," pinta Kapten Rian.
Maira mengangguk. Lalu dia bergegas masuk diiiringi Kapten Rian.
"Lhoh, Kapten Rian?" Bu Kusno terkejut melihat orang yang masuk ke ruangan setelah Maira.
"Assalamualaikum, Bu. Apa kabar." Kapten Rian menyalami Bu Kusno.
"Alhamdulillah baik, Pak." Bu Kusno menyambut uluran tangan Kapten Rian dengan tatap mata yang masih kebingungan.
"Tadi kebetulan ketemu Bu Janu di luar. Katanya Hanin sakit, jadi sekalian saya menengok ke sini." Kapten Rian kemudian mendekat ke bed tempat Hanin ditidurkan. Bayi itu tampak tertidur pulas. Kapten Rian berpaling pada Maira. "Apa masih panas?" bisiknya.
"Sudah turun, tapi diarenya masih," jawab Maira dengan berbisik pula.
Maira menggeleng. "Sudah tidak lagi."
Kapten Rian mengangguk-angguk. Di tatapnya Hanin dengan mata sendu. Lalu diangkat kedua tangan, dan dirapalkan doa kesembuhan untuk bayi itu.
"Saya pamit dulu, ya, mau kembali ke ruangan saya dulu," ucap Kapten Rian dengan suara masih direndahkan. Sesaat lalu dia sudah menyelesaikan doanya.
Maira mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Setelah bersalaman dengan Bu Kusno, Kapten Rian keluar ruangan diiringi Maira. Di depan pintu lelaki itu kembali berbalik menghadap Maira. "Yang sabar dan kuat, ya. Semoga Hanin segera sembuh."
"Amin. Terima kasih banyak, Pak." Maira agak membungkukkan badan. Lalu disambutnya uluran tangan Kapten Rian.a
***
Kondisi baby Hanin semakin membaik. Dokter yang menangani meyakinkan Maira bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Baby Hanin terinfeksi rotavirus yang menyebabkan dia demam dan diare. Dengan penanganan tepat di rumah sakit, kondisi Hanin mulai pulih.
Kapten Rian beberapa kali berkunjung ke ruangan Hanin. Bahkan pada malam hari setelah tak lagi bertugas, dia datang. Lelaki itu selalu membawa makanan untuk Maira dan ibunya.
"Maaf, Pak, sebaiknya bapak tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Maira saat mengantar Kapten Rian keluar.
Lelaki itu menatap Maira. "Apa saya terlihat repot?"
Maira menunduk.
"Atau kamu yang merasa tak nyaman dengan kedatangan saya?"
__ADS_1
"Oh, tidak ... maksud saya ... Ee ...!" Maira tergagap.
Kapten Rian tersenyum. "Ya, sudah, saya pamit dulu. Semoga besok Hanin sudah boleh dibawa pulang."
Maira mengangguk. Perempuan itu belum berani mengangkat wajah. "Terima kasih, Pak," desisnya lirih.
Esok harinya Hanin memang sudah diperbolehkan pulang. Maura menghubungi Sutar agar menjemput mereka. Tapi dengan sangat menyesal Sutar mengabarkan bahwa dia tak bisa. Saat ini dia sedang ada keperluan di luar kota.
"Coba hubungi bapakmu saja, Mai?"
"Tapi bapak kan, masih kerja, Bu."
"Ya, siapa tahu bisa izin sebentar untuk jemput kita."
Tapi ternyata pak Kusno juga tak bisa langsung menjemput. Ada rapat penting di kantornya. Mungkin setelah istirahat siang dia baru bisa ke rumah sakit.
"Naik taksi online saja ya, Bu," ucap Maira sambil menutup handphonenya.
"Ya, sudah. Ibu tak berkemas dulu, kamu ngurus administrasinya, ya!"
Maira mengangguk, lalu berjalan keluar kamar.
"Halo, Bu Janu!" seseorang menyapa saat Maira sedang antri di kasir.
"Eh, Pak!" Maira menoleh dan mengangguk pada Kapten Rian yang menyapanya.
Kenapa dunia ini sempit. Ketemu dia lagi, dia lagi!
Sejurus kemudian, lelaki berseragam itu duduk di kursi belakang Maira. "Hanin sudah boleh pulang, ya?" tanyanya sambil menyondongkan tubuh ke depan.
"Iya, Pak. Alhamdulillah."
"Ah, syukurlah."
Wajah mereka begitu dekat. Bahkan Maira bisa mencium aroma segar napas kapten Rian. Perempuan itu menjadi jengah. Dia menggeser duduknya agak ke samping.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Kapten Rian seakan tak peduli dengan kecanggungan Maira.
"Oh, tidak usah, Pak. Terima kasih. Ini setelah dari kasir tinggal ngambil obat saja, kok."
Kapten Rian mengernyitkan kening. Lalu dia berdiri dan berjalan ke depan Maira. "Coba sini resepnya, biar saya ambilkan ke apotek!" Kapten Rian mengulurkan tangan meminta resep obat Hanin.
Duh, salah! Kenapa harus ngomong kalau mau ambil obat! rutuk Maira dalam hati.
"Tidak usah, Pak. Nanti mengganggu kerja bapak!"
Tapi Kapten Rian masih berdiri di sana dengan tangan tetap terulur pada Maira. Tatap matanya dingin dan mengintimidasi.
"Hari ini saya off. Ini saya sudah mau pulang. Apa salahnya kalau saya bantu kamu?" ucapnya dengan nada sedikit tak ramah.
Mungkin karena takut kapten Rian tersinggung, mungkin juga karena sesungguhnya Maira memang membutuhkan bantuan, perempuan itu kemudian mengulurkan secarik kertas resep pada Kapten Rian.
"Nanti tunggu saja saya di ruangan Hanin!" ucap kapten Rian sambil menerima kertas resep. Lelaki berseragam itu kemudian meninggalkan Maira yang menghembuskan napas panjang.
Kenapa harus selalu ada dia saat aku membutuhkan bantuan?
__ADS_1