
Jarum jam hanyalah penanda. Timbul tenggelamnya matahari bukti nyata waktu berjalan. Manusia dan makhluk hidup lainnya bergerak, berbuat, memutuskan, merasakan, sesuai dengan ketentuan Nya.
Karina masih berjuang melawan kanker. Mungkin karena support dari kakak dan orang tuanya, dia sekarang menjadi lebih bersemangat menjalani terapi pengobatan. Sebagai suami pun Bayu juga selalu setia mendampingi. Semua membuat penyakit Karina makin membaik.
Kandungan Maira sudah memasuki bulan kedelapan. Dia sudah tak mengajar jahit lagi. Sekarang Maira lebih fokus pada kehamilannya dan merawat Oza.
Rencananya Maira akan melahirkan di Bandung Meski Bu Kusno dan Bu Hartini memintanya pulang dan lahiran di Jogja, dia tetap bergeming. Maira memikirkan sekolah Oza. Apa jadinya dengan sekolah anak itu jika harus ijin lama mengikutinya pulang ke Jogja. Akhirnya ibu dan ibu mertuanya yang mengalah. Mereka yang akan ke Bandung bergantian untuk membantu Maira selama masa persalinan.
"Kamu yakin lahiran sendiri di Bandung, sayang?" Janu terperanjat saat mendengar rencana Maira. Malam itu adalah malam terakhir masa libur Janu selama seminggu. Mereka menghabiskan waktu untuk ngobrol melalui video call.
"Kan, nanti ibu dan eyang Hartini mau gantian ke sini."
"Tapi kan, ke situnya belum tentu pas kamu lahiran. Bisa saja pas lahirannya mereka malah belum stand by di situ!" Janu gusar.
"Nggak apa-apa, Mas. Tenang aja. Lahiran tuh, nggak seseram yang kamu pikirkan." Maira tersenyum simpul melihat wajah Janu yang menegang di layar gawai. "Nih, yaa ... Kambing aja, kalau lahiran gak perlu dibantu-bantu, di sembarang tempat pula. Lancar, langsung mbrojol begitu aja. Habis itu langsung bisa lari-lari juga. Masak sih, kalah sama kambing?"
Janu menggeleng-gelengkan kepala mendengar kekonyolan istrinya. "Tapi kamu kan, bukan kambing, Dik!" sergahnya.
Maira tertawa.
"Mas, semoga nanti pas lahiran kamu pas turun jaga. Supaya nanti kamu bisa adzani anak kita lewat hp."
Janu mengangguk. "Sehat kan, dia? Aktif geraknya?"
"Alhamdulillah, Mas. Nih, dia juga lagi nendang-nendang."
Mata Janu berbinar. "Benarkah? Aku mau lihat!"
"Hah? Gimana caranya?"
"Buka bajumu, cepat! Mumpung dia lagi nendang-nendang!" Janu tak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.
Maira menggeleng-gelengkan kepala mendengar permintaan konyol suaminya. Namun tetap saja dia berdiri dan menyibakkan dasternya, menampakkan perut yang membola dan segitiga bermuda di bawahnya. Rikuh Maira mengarahkan kamera handphone ke perutnya.
"Agak jauh, sayang. Biar kelihatan seluruh perutnya!"
Maira berdecak. Sekarang ditaruhnya handphone di atas nakas. Lalu dia berdiri di depannya, tepat mengarah layar. Wajah Maira merah padam ketika melihat sosok tubuhnya sendiri yang setengah telanjang dengan perut membuncit. Tonjolan-tonjolan muncul berpindah-pindah akibat gerakan bayi di dalam perutnya.
Janu tertawa berderai. "Aku melihatnya, aku melihatnya!" seru lelaki itu saat tonjolan-tonjolan di perut Maira tampak jelas di layar. "Hebat, calon atlet taekwondo dia!"
"Aamiin," sahut Maira. "Sudah, ya?"
"Sebentar!" Janu masih tampak menikmati penampakan di layar gawainya.
Untuk beberapa waktu lamanya Maira berdiri sambil memegang ujung daster yang terangkat di depan dada. Dia mulai lelah dan resah. Tapi Janu masih tampak tersenyum-senyum melihat perutnya.
__ADS_1
Perutnya?
Hei, tunggu!
Kenapa matanya sekarang terarah lebih ke bawah?
"Mas!!" pekik Maira. Dia buru-buru menurunkan kembali dasternya.
"Yah, ditutup!"
"Kamu lihat apa sih, Mas?" Maira gusar.
"Lihat calon bayi kita plus bonus segitiga bermuda." Janu terkekeh.
"Iiih ..., Mas Janu nyebeliiiiin ...!!!" makinya.
Tawa Janu semakin berderai melihat kegusaran istrinya. "Sayang, ko jangan marah-marah kaahh, nanti ko cepat tua!" Janu berkata dengan dialek Papua.
Maira mencibir. "Hmm ..., yaa ..., mulai belajar ngomong bahasa situ, ya! Biar bisa ngerayu cewek situ?"
Kembali tawa Janu berderai. Lelaki itu selalu suka kalau Maira menunjukkan rasa cemburunya.
"Sayang," ucap Janu saat tawanya reda. "Aku sudah nemu nama untuk anak kita," lanjutnya serius.
"O iya, apa Mas?"
"Em, enak didengar. Apa itu artinya?"
"Anak perempuan yang mencintai dan dicintai Tuhan."
"Ouw ... Bagus banget artinya!" seru Maira. Tangannya tertelangkup di depan wajah. "Kalau cowok?"
"Lhoh, katanya hasil USG cewek?"
"Ya, kalau Allah berkehendak lain, kan bisa saja to, Mas? Teknologi manusia itu nggak akan bisa mengalahkan kehendak Tuhan."
"Em, kalau cowok ... kalau cowok sepenuhnya kuserahkan ke kamu namanya."
"Lhoh, kok, gitu?"
"Habisnya aku nggak punya waktu lagi buat mikirin nama anak cowok."
Maira mengerutkan kening. "Emang mau kemana?"
Janu diam. Ditatapnya Maira dengan mata sendu dan penuh cinta. Senyum terulas di bibirnya.
__ADS_1
Jantung Maira berdebar. Setiap kali Janu menatap dengan mata sendu itu, selalu ada denyar indah dalam dada. Membuat pipinya seketika merona.
"Apa sih, Mas, lihat-lihat?" tanyanya menutupi debaran di dada.
"Besok aku berangkat lagi ke tempat tugas. Kamu hati-hati, Jaga kesehatan. Jaga dan rawat Oza juga adiknya. Didik mereka dengan baik agar menjadi anak soleh solehah."
Maira mengangguk kelu. "Iya, Mas."
"O iya, Oza sudah tidur?"
"Sepertinya belum. Tadi kulihat dia sedang merakit lego barunya. Sebentar aku ke kamarnya, ya."
Oza memang belum tidur. Dan saat Maira memberitahu bahwa ayahnya telepon, Oza sangat semangat mengambil handphone dari tangan Maira. Lalu anak itu menyapa ayahnya dengan ceria.
"Ayah, aku punya Lego baru, doong ...!" seru Oza sambil mengangkat legonya yang hampir jadi.
"O ya? Sini ayah lihat!"
Oza mengangkat lego helikopter di depan layar handphone. Lalu dia dan ayahnya mulai mengobrol tentang mainan itu.
Di ambang pintu Maira berdiri menyandar sambil bersedekap. Senyumnya terkembang melihat keseruan obrolan Oza dan ayahnya. Bisa dipastikan itu akan jadi obrolan yang panjang.
Tiga bulan lagi, Za, kita akan ketemu ayah.
***
Pagi harinya, regu Janu dan beberapa regu lain bersiap untuk diberangkatkan. Mereka sedang apel sebelum naik ke helikopter. Kapten Rana tampak mengambil apel pemberangkatan itu.
"Pesan saya, hati-hati dan tingkatkan kewaspadaan. Di distrik yang dekat dengan pangkalan udara kaluan situasi sedang panas. Bisa saja imbasnya sampai ke tempat kalian."
"Tetap koordinasi dengan pos pos pengamanan militer di dekat sana. Aktifkan radio 24 jam!"
"SIAP!!!"
Serentak mereka menjawab wejangan kapten Rana. Lalu beberapa saat kemudian, kapten Rana membubarkan apel dan memerintahkan mereka agar segera menaiki helikopter tempur itu.
Kali ini mereka yang berjaga sebanyak dua regu. Perlu dua helikopter untuk mengangkut mereka. Dan helikopter tempur milik TNI AU itu dengan gagah mulai meliuk di antara pegunungan. Menyusuri lembah, menembus hutan-hutan yang masih perawan.
Sepanjang perjalanan para prajurit itu tetap siaga. Senjata siap terbidik di tangan. Pandangan mereka mengarah keluar. Berjaga-jaga jika ada serangan mendadak dari arah bawah.
(bersambung)
// kira-kira apa yang akan dialami Janu dan rekan rekannya?
Ikuti terus yaa...!
__ADS_1
Jan lupa like, komen n votenya.
terima kasih ...! 🙏🙏 //