
"Bertha meninggal, Mas."
Kursi Janu berderak. Lelaki itu sekarang benar-benar terloncat dari duduknya hingga kursi terpelanting ke belakang.
"A-apa?" Matanya nanap menatap Maira
Istrinya itu menelan ludah, menahan rasa pedih yang menyergap hati. "Bertha meninggal setelah melahirkan bayinya," ucapnya pelan sambil menunduk.
Untuk sesaat keduanya terdiam. Janu masih berdiri mematung di depan Maira, tanpa tahu harus berbuat atau pun berkata apa.
Maira menyusut air mata yang menggenang. Sekuat tenaga dia tersenyum seraya berucap, "Bayinya perempuan, Mas."
Lelaki itu tetap bergeming. Raut wajahnya terlihat tegang. Lalu pelan-pelan dia mengambil kursi yang sempat jatuh karena terdorong tubuhnya. Dia kemudian kembali duduk di depan Maira. Wajah lelaki itu menunduk, tak berani beradu pandang dengan istrinya.
"Kamu mau ke Jogja?" tanya Maira.
Janu menggelengkan kepala. "Entahlah, jawabnya lirih.
Maira menghela napas. Dia lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Assalamualaikum, Karina."
"Waalaikumsalam, Mbak."
"Kamu dimana sekarang?"
"Masih di rumah duka, Mbak. Gimana?"
"Kapan penguburannya?'
"Nanti sore. O iya, Mbak sudah beritahu mas Janu belum?"
Sesaat Maira diam. Lalu, "Sudah."
"Gimana, apa dia mau ke Jogja?"
"Belum tahu," jawab Maira pendek.
Di seberang terdengar suara helaan napas Karina. "Mbak, sebelum meninggal, Bertha sangat ingin bertemu mas Janu. Tetapi pendeta Andreas melarangnya. Mungkin karena itu pula kondisi kehamilan Bertha kurang baik. Tekanan darahnya tinggi. Terjadi pendarahan pasca melahirkan."
Maira mendengarkan seraya meremas-remas tali tas yang ada di pangkuan.
"Pendeta Andreas sendiri menyesal tidak memenuhi permintaan terakhir Bertha. Jadi aku pikir, tidak ada salahnya kalau mas Janu ke Jogja sebentar, meski nanti hanya akan melihat kuburnya."
Maira menggigit bibirnya.
"Maaf, Mbak, aku ngomong gini karena aku nggak ingin kita seperti bertindak dzolim. Bukannya aku nggak ngerti perasaan Mbak, tapi bagaimanapun juga, mas Janu bisa kembali bersama kalian itu atas jasa Bertha juga."
"Iya, Rin," jawab Maira lirih.
"Kupikir mas Janu juga sudah tidak ada perasaan apa-apa pada Bertha. Dia terlihat tertekan setiap mengingat Bertha, itu karena rasa bersalahnya. Ada baiknya mbak sedikit legowo, membiarkan mas Janu sejenak memikirkan kembali masa lalunya itu. Toh, dia akan tetap menjadi milik kalian."
__ADS_1
Maira tak sanggup menjawab. Hanya air mata yang kemudian mengalir di pipi.
"Mbak Maira, Mbak marah ke aku?"
"Nggak, Rin, nggak apa-apa. Aku justru berterima kasih padamu. Kututup dulu, ya, aku mau ngomong sama mas Janu."
Maira kembali menatap Janu setelah menutup teleponnya. Lelaki itu masih menunduk dalam. Kedua tangannya yang berada di atas meja, saling meremas.
"Bagaimana, Mas, apa kamu akan ke Jogja?"
Janu mengangkat wajah pelan. Ditatapnya Maira yang sudah berlinang air mata. "Aku tidak berhak memutuskan, Dik. Semua kuserahkan padamu. Segala kesalahan di masa lalu membuatku tak layak memutuskan apa pun berkaitan dengan Bertha."
"Tapi, apakah kamu punya keinginan untuk melihat bayinya juga?"
Janu menghembuskan napas panjang. Lelaki itu kemudian menegakkan badan. "Bayi itu, dia adalah darah dagingku. Sudah seharusnya aku bertanggungjawab. Tetapi kembali, semua tergantung padamu. Sebab, ini semua berkaitan erat denganmu juga. Aku tidak bisa memutuskan secara sepihak, karena kita adalah satu. Keputusanku harus sesuai keputusanmu juga. Tindakanku harus sejalan dengan apa yang kamu mau."
Maira tergugu. Janu segera meraih tangan Maira yang berada di atas meja. Diremasnya tangan itu seakan ingin sama-sama menguatkan.
"Kita ke Jogja, Mas!" ucap Maira kemudian. Terdengar tegas tanpa rasa tertekan.
***
Mereka sampai di Jogja keesokan harinya. Setelah menitipkan anak-anak pada bu Kusno, Maira, Janu serta Bayu dan Karina, berangkat menuju rumah pendeta. Bertha sendiri sudah dikuburkan kemarin. Mereka bermaksud bicara dengan pendeta terlebih dahulu sebelum menengok tempat peristirahatan terakhir Bertha.
Pendeta menyambut mereka dengan gembira. Apalagi dilihatnya Janu dalam keadaan sehat, tidak seperti sewaktu dulu dijumpainya di rumah sakit.
"Maaf, Pendeta, saya baru sempat bertemu pendeta sekarang," sesal Janu.
Maira tersenyum seraya mengangguk. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, pak. Justru kami yang minta maaf karena baru sekarang bisa kesini, tidak sempat melepas kepergian Bertha untuk terakhir kali."
Semua terkesima mendengar bagaimana ringannya Maira berucap. Bahkan wajah itu tak menampakkan rasa tertekan seperti biasanya ketika bicara menyangkut masalah Bertha.
"Oh, iya, Pak pendeta, kalau diperkenankan kami ingin menengok makam Bertha." Bayu memecah suasana.
"Oh, tentu saja. Mari!"
Pendeta Andreas kemudian mengajak mereka ke belakang gereja. Di sana ada pemakaman khusus umat kristiani. Mereka menuju ke salah satu kuburan yang masih basah, tertutup tanah merah.
Maira menggenggam tangan Janu dan mengajaknya duduk di sebelah kuburan itu. Sebuah buket bunga yang dia bawa, diletakkan di atas pusara. Lalu dia memegang salib yang berada di ujung pusara.
"Maafkan kami, Bertha. Maafkan mas Janu," lirih dia berkata.
Janu tertegun melihat istrinya. Dan dia menurut saja ketika tangannya dibawa Maira dan diletakkan di atas pusara Bertha.
"Ucapkan sesuatu untuknya, Mas!" ujar Maira dengan senyum di wajah.
"T-tapi ...."
Maira menggeleng. "Ucapkan apa pun yang ingin kamu sampaikan pada Bertha selama ini. Lepaskan semuanya. Biarkan Bertha menjadi tenang di sana, begitu pun kamu!"
Mata Janu berkaca-kaca mendengar perkataan Maira. Lalu lelaki itu beralih pada pusara Bertha. "Bidadari hitam, maafkan aku. Maafkan semua kesalahan yang telah kuperbuat padamu. Maafkan aku yang tidak kembali menjumpaimu. Sungguh, rasa bersalahku padamu selama ini telah membuat hidupku terasa sempit. Aku merasa menjadi orang yang sangat jahat dan tidak tahu berterima kasih. Setelah apa yang kamu lakukan untuk menolongku, nyatanya aku malah lari darimu." Janu mulai terisak-isak.
__ADS_1
Maira memegang bahu suaminya erat. Air matanya ikut berlinang. Lalu dia mengelus pusara Bertha. "Bertha, maafkan aku," ucapnya lirih. "Selama ini aku terlalu egois hanya memikirkan perasaanku saja. Tak peduli bagaimana menderitanya kamu, tak peduli bagaimana tersiksanya suamiku oleh rasa bersalah. Padahal ... tanpa kamu mungkin kami tidak akan bisa bertemu mas Janu lagi." Dia tak bisa menahan isaknya lagi.
Janu memeluk Maira. Istrinya itu tersengal-sengal di dadanya. Beberapa saat kemudian setelah Maira kembali tenang, mereka beralih pada pusara Bertha.
"Semoga kamu tenang di sana, Bidadari Hitam. Terima kasih atas jasamu padaku," ucap Janu.
"Terima kasih, Bertha. Maafkan kami," imbuh Maira.
Setelah dirasa cukup, mereka meninggalkan pusara Bertha yang masih basah. Baik Janu maupun Maira merasa sedikit lega. Ganjalan yang selama ini ada di hati mulai berkurang. Meski keterlambatan menemui Bertha mereka sesalkan juga.
"Jadi, apa kita nggak sebaiknya nengok bayi Bertha juga?" Tiba-tiba Karina mengajukan usul, setelah mereka kembali ke rumah pendeta Andreas.
Tak ada yang menjawab, namun semua menatap pada Maira. Seakan-akan keputusan untuk menengok bayi Bertha ada di tangan perempuan itu sepenuhnya.
"K-kenapa tidak?" Maira seolah tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Dia menjawab dengan sedikit gugup.
Janu menggamit lengan istrinya. "Kamu yakin, Sayang? Kalau kamu memang belum siap, ya tidak apa-apa."
"Aku nggak apa-apa, Mas." Maira mencoba meyakinkan.
Mereka berempat dengan diantar pendeta Andreas kemudian menuju rumah sakit. Bayi Bertha masih dirawat di ruang NICU. Semakin mendekati ruangan itu, jantung Maira semakin berdebar. Dia akan melihat bayi yang merupakan darah daging suaminya, yang tidak terlahir dari rahimnya. Membayangkan saja membuat hati gamang.
Di depan ruang NICU, jendela kaca lebar masih dibuka tirainya. Seorang perawat menunjukkan salah satu inkubator dari dalam. Sesosok bayi dengan kulit hitam dan rambut keriting tampak tidur di dalamnya.
Janu terpana melihatnya. Tangan laki-laki itu terangkat menyentuh kaca. Seolah-olah dia ingin mengulurkan tangan ke dalam ruangan untuk menyentuh bayi itu. Maira tertegun melihatnya. Meski sebelumnya dia merasa sudah siap, namun tetap saja melihat Janu menatap bayi Bertha seperti itu, kecut juga hatinya. Dia menggigit bibir seraya menahan tangis.
"Kata dokter, mungkin besok sudah bisa dibawa pulang," ucap pendeta Andreas yang baru saja kembali dari ruang dokter.
"Lalu, akan dibawa kemana, pak Pendeta?" Karina bertanya dengan polosnya.
Bayu menggamit lengan istrinya. Tatap mata lelaki itu mengisyaratkannya agar Karina sedikit tenang.
"Siapa yang akan merawatnya?" Karina tak mempedulikan isyarat Bayu.
"Oh, mengenai itu, mungkin sementara ini Bu Harni dan saya yang akan merawatnya."
Karina mencuri pandang pada Maira dan Janu. Mereka berdua masih belum melepaskan pandangan dari bayi Bertha. Dia mencoba menyelidik raut wajah kakaknya dan yang ditemukan hanya kesedihan. Sementara Janu berkaca-kaca matanya.
Setelah beberapa waktu mereka melihat bayi Bertha, Bayu mengajak pulang. Sudah terlalu lama mereka meninggalkan anak-anak di rumah.
Di mobil, setelah mengantar pendeta Andreas, Karina membuka suara. "Mas Janu, mbak Maira, sebelumnya aku minta maaf. Mengenai bayi Bertha ...." Berat rasanya bagi Karina untuk melanjutkan.
"Aku tahu, kamu ingin mengadopsinya kan, Rin?" Tanpa diduga justru Maira bertanya lebih dulu.
"E ... Em, aku ...."
"Dia anak mas Janu, Rin. Tentu saja harusnya menjadi tanggung jawab mas Janu!"
Semua terkejut mendengar perkataan Maira. Bahkan Bayu sempat mengerem mobil mendadak. Janu yang duduk di sebelah Maira menatap istrinya dengan raut wajah kebingungan.
"Maksudmu, Dik?"
__ADS_1
"Kita rawat dia, Mas!"