
"Assalamualaikum, Mas!" sapa Maira, tak bisa menyembunyikan kegembiraan.
"Waalaikumsalam, sayang. Apa kabarmu, cantikku?"
"Alhamdulillah, baik. Mas sendiri gimana, sehat? Gemuk apa kurus? Makannya gimana? Sekarang posisinya lagi di mana? Sudah turun jaga kan, ini, ya?"
"Hmm ..., kebiasaan!" rutuk Janu. "Tanyanya satu-satu apa, Dik!"
Maira tertawa kecil.
"Aku baik-baik saja, Dik. Ini lagi di Sentani, di lanud Silas Papare. Baru saja kami sampai dari lokasi tugas."
"Alhamdulillah. Aman-aman saja, kan, Mas?"
"Amaaan ...." Tawa Janu lepas. "Kamu sendiri aman juga, kan?"
"Apa, sih?" Bibir Maira mencebik.
Meski tak melihat, tapi Janu bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah menggemaskan Maira.
"Oza di mana, Dik?"
"Sudah berangkat sekolah. Nanti siang atau sore telepon lagi aja biar bisa ngobrol sama Oza. Dia kangen banget sama kamu, Mas."
"Em ..., VC aja yuk, Dik. Aku kangen mau lihat wajahmu."
"Emang bagus sinyalnya, Mas?"
"Kita coba aja. Sejauh ini sih, kayaknya bagus."
Tak berapa lama mereka sudah beralih ke panggilan video call. Jantung Maira berdebar ketika melihat wajah Janu terpampang di layar. Meski lelaki itu kulitnya terlihat bertambah hitam, namun senyumnya masih sangat mempesona.
Tampak Janu meletakkan begitu saja handphone di depannya. Sementara kedua tangan bersilang menumpu dagu. Sepertinya dia sedang tiduran tengkurap. Matanya lekat menatap Maira untuk beberapa waktu lamanya.
Maira jengah dipandang sedemikian rupa. Perempuan itu jadi salah tingkah, pipinya merona.
"Apa sih, Mas, kok, cuma diam saja?"
"Lagi menikmati wajah bidadariku yang cantik."
"Gombal!"
Janu tertawa. "Makin cantik saja kamu, Sayang. Bikin aku tambah kangen."
"Mas Janu juga ... makin item, makin jelek, wekh!" goda Maira.
"Biarin, yang penting ngangenin!"
Maira mencibir.
Tiba-tiba bibir Janu mendekati layar.
Cup!
"Aah ... Ha-ha-ha ...!" Maira tertawa geli. "Mas Janu konyol, ih!"
"Biarin!" Janu nyengir, memamerkan jajaran gigi putih dan rapi. "Gimana calon bayi kita, sehat?"
Maura mengusap perutnya. Kamera dia alihkan ke arah perut. "Alhamdulillah dia baik-baik saja, Mas. Kemarin pas kontrol, kata dokter perkembangannya bagus. Cuma memang katanya aku gak boleh kerja yang berat-berat."
Tangan Janu sesaat terlihat mengelus layar handphonenya. "Pokoknya harus nurut apa kata dokter, ya!" tegasnya. "Oza, gimana, sehat juga, kan?"
"Sehat, Mas. Cuma akhir-akhir ini sering ngambek. Mungkin dia bosan karena gak ada kamu. Kemarin Bayu sama Karina kesini juga. Sayangnya mereka gak bisa ngajak jalan Oza. Karina sedang gak enak badan."
__ADS_1
"Sekali-kali kalau kamu longgar dan sedang bagus kondisinya, ajaklah dia jalan ke Playground. Ajak juga teh Lina untuk menemani."
"Iya, Mas. O iya, aku sekarang ada kesibukan baru."
Janu mengerutkan kening. "Apa itu?"
"Aku diminta Bu Sapto yang pengurus PIA itu untuk mengajar ibu-ibu PIA menjahit dan membuat pola." Maira tampak bersemangat. "Seminggu dua kali ngajarnya."
"Ya, nggak apa-apa, asal kamu tetap jaga kondisi, Sayang. Jangan capek-capek, jaga baik-baik kandunganmu."
"Iya, Mas."
Untuk sesaat mata mereka saling bertatapan. Tak ada kata yang terucap. Namun berjuta rasa tersampaikan lewat tatap mata yang meski sesaat namun sarat makna.
"Dik."
"Hem?"
"Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu," bisik Janu.
Rona merah kembali menjalar di pipi Maira.
***
Pada akhirnya Karina mengajukan surat permohonan pengunduran diri juga. Meski berat, namun tetap dilakukannya. Perkataan Maira tentang ridho suami selalu terngiang-ngiang di telinganya. Dia tak mau menjadi istri yang durhaka terhadap suaminya.
"Nggak sayang ama posisi dan gaji Lo sekarang, Rin?" tanya Linda saat Karina usai menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Habis mau gimana lagi, Lin. Mas Bayu nggak lagi ngijinin aku untuk kerja. Lagian aku juga butuh istirahat cukup untuk proses penyembuhanku."
Linda menarik nafas dalam. "Lo udah bilang ke suami Lo tentang penyakit elo?"
Karina menggeleng lemah. "Nggak tega gue, Lin."
"Tapi bagaimanapun juga, Lo mesti kasih tahu dia!"
Akan tetapi ternyata hingga berminggu-minggu kemudian, Karina tak juga jujur pada suaminya. Rasanya tak tega menyampaikan kabar tak mengenakkan itu pada Bayu, yang selalu membuat harinya ceria. Dia tak mau hari-hari Bayu menjadi murung karena mengetahui penyakitnya.
***
Maira menjalani hari dengan tanpa beban yang berarti. Meski rasa rindu semakin menggumpal, semua dijalani biasa saja. Sudah sewajarnya lah istri tentara ditinggal tugas dalam waktu yang lama.
Komunikasi dengan Janu berjalan lancar. Sebulan sekali, dia bisa melepas rindu pada suaminya lewat telepon dan video call. Selama seminggu Janu turun jaga di Sentani, mereka menghabiskan waktu untuk saling telepon.
Kehamilannya pun tak bermasalah. Di bulan ketiga, perutnya mulai terlihat membesar. Dia mulai mengenakan baju-baju hamil saat keluar rumah. Wajahnya terlihat lebih cerah dan cantik dari sebelumnya.
"Anakmu nanti pasti perempuan, Mai," tebak eyang Hartini saat berkunjung ke Bandung.
"Masak sih, Bu?"
"Wajah kamu itu terlihat lebih cantik dan berseri, pasti perempuan!"
Maira tertawa mendengar tebakan mertuanya yang tak mempunyai dasar ilmiah.
"Kok, malah ketawa. Aminkan saja, po!"
"Injih, Bu, aamiin."
Di kantor suaminya pun Maira banyak dipuji. Mereka bilang wajah Maira semakin bersinar. Peserta latihan jahit yang dia ajar banyak yang bertanya, Maira memakai produk perawatan wajah apa. Maira hanya menjawab dengan tawa.
"Bu Janu, pakai apa atuh meuni bisa bersih kitu wajahnya?" tanya Bu Asep yang asli Sunda.
"Nggak pakai apa-apa, Bu. Biasa aja, pembersih, penyegar, sabun wajah, pelembab, bedak, sudah!"
__ADS_1
"Krimnya yang mahal, ya?"
"Enggak, produk yang biasa dijual di toko-toko, kok."
"Ck ck ck ..., udah cantik dari sononya sih, ya," komentar ibu-ibu yang lain.
Maira cuma tersenyum. Dia membenahi contoh pola yang baru saja dia ajarkan.
"Langsung pulang apa jemput Oza dulu, Mbak?" tanya Nina yang juga ikut belajar jahit.
Maira menatap jam tangannya. "Sebenarnya mau sekalian jemput Oza. Tapi jam segini dia belum pulang."
"Em, gimana kalau bantu-bantu aku di kantor PIA dulu, sambil nunggu waktu."
"Boleh."
Mereka berdua berjalan meninggalkan ruang pelatihan, menuju kantor PIA yang berada di ujung. Bangunan dengan luas sekitar 8×10 meter itu, dalamnya terdiri dari ruang utama yang cukup luas dan dua ruang kecil lainnya tempat ketua dan wakil ketua. Ada dapur di bagian belakang bangunan tersebut.
"Bantuin aku memilih napkin ini ya, Mbak." Nina mengeluarkan tumpukan serbet berwarna putih dari dalam lemari. "Minggu depan mau dipakai untuk acara ulang tahun PIA. Cuma ini sudah banyak yang nggak layak pakai lagi."
Tumpukan serbet itu diletakkan di atas meja panjang. Mereka berdua duduk di depannya, memilih satu persatu serbet yang masih bagus.
"Om Janu gimana, sehat, kan?"
"Alhamdulillah, sehat, Mbak. Kalau om Untung gimana?"
"Alhamdulillah." Senyum terulas di bibir Nina. "Sekarang om Janu lagi naik jaga apa turun jaga?"
"Naik, Mbak. Minggu kemarin baru saja dia turun."
"Wah, puas telpon-telponan dong, ya?"
Maira hanya tersenyum, membayangkan bagaimana seminggu penuh dia dan Janu saling melepas rindu meski hanya lewat telepon.
Seseorang membuka pintu kantor dari luar. Sebuah kepala menyembul dari celah pintu yang terbuka.
"Oh, selamat pagi, ibu-ibu!" sapa lelaki berseragam itu sedikit kaget.
"Pagi, Pak."
Lelaki itu masuk. Seorang yang terlihat asing di mata Maira. Berbadan tinggi, dagu belah, mata sedikit sipit namun tatapannya tajam. Tanda pangkat kapten tampak di kerah bajunya.
"Maaf ibu-ibu, mengganggu. Mau tanya apa saya bisa pinjam run down untuk acara ulang tahun PIA minggu depan?" Lelaki itu berjalan mendekati mereka.
"Oh, kebetulan bukan saya yang membuatnya, Pak. Mungkin nanti bisa saya sampaikan ke sekretaris untuk segera menyampaikan ke bapak," jawab Nina sambil berdiri.
"Oh begitu ya, Bu. Baik, terima kasih sebelumnya, Buu ...."
"Eh, Saya Bu Untung, Pak, dan ini bu Janu."
Lelaki berpangkat kapten itu mengangguk pada Nina dan Maira. Sesaat pandangannya beradu dengan Maira. Seulas senyum dia berikan. Ada lesung pipit tercetak di pipinya.
Slash!
Tiba-tiba Maira merasa tak asing dengan lesung pipit itu. Matanya beralih ke bed nama di dada kanan lelaki itu. 'Rian'.
Rian, kapten Rian? Siapa dia?
(bersambung)
Hayo loo ... siapa cowok satu nih?
Ikuti terus kisahnya, ya...
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like, komen n vote.
Terima kasih sebelumnya ...🙏🙏🙏