LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
TERPESONA AKU TERPESONA


__ADS_3

Maira masih asyik ngobrol dengan Bu Sapto. Sementara di deretan kursi depan, ibu ketua, wakil ketua dan pengurus-pengurus lain juga belum meninggalkan tempat meski acara sudah usai.


"Yuk, menghadap ibu ketua dulu!" ajak Bu Sapto.


Mereka berdiri. Namun saat beranjak melangkah ke depan, mereka dikejutkan aba-aba bersiap di luar aula. Suaranya cukup keras hingga membuat semua yang masih di aula menengok keluar.


Kapten Rian terlihat berjalan bergegas mendekati ibu ketua dan pengurus lain. Tampak dia berbicara sebentar dengan ibu ketua. Istri komandan itu terlihat sedikit kebingungan. Beliau lalu berdiri diikuti pengurus lain. Kemudian mereka berjalan keluar diiringi kapten Rian.


Bu Sapto dan Maira saling pandang. Mereka pun mengikuti rombongan itu keluar ruangan.


Di luar tampak om-om tentara sudah berbaris rapi di depan pintu. Kapten Rian kembali mengatakan sesuatu pada ibu ketua. Lalu dia memberi isyarat pada salah satu anggota yang berbaris di depan mereka.


"TERPESONA, MAJUUU JALAN!"


Aba-aba dari salah satu anggota nyaring terdengar. Disambut pekikan kompak dari semua yang berbaris.


"HOEEEI ...!!!!"


Lalu mereka mulai beraksi menyanyikan yel-yel. Lagu TERPESONA yang sedang viral menghentak siang yang semakin panas, diikuti koreo ala-ala tentara.


Terpesona aku terpesona


Memandang wajah, wajahmu yang manis


Terpesona aku terpesona


Menatap wajah, wajahmu yang manis


Bagaikan mutiara matamu, bola bola matamu


Bagaikan kain sutra pipimu, lesung lesung pipimu


Cantiknya kamu, cantik cantiknya kamu


Eloknya kamu, elok eloknya kamu


Semua yang ada padamu (hei hei!)


Membuat aku jadi gelisah (hei hei!)


Terpesona aku terpesona


Memandang wajah, wajahmu yang manis


.....


Koreo om-om tentara itu terlihat unik. Punggung terbungkuk, kaki di tekuk, terbuka, kompak menghentak tanah. Tangan terayun ke depan dan belakang mengikuti hentakan kaki. Di barisan paling depan lebih gila lagi. Mereka jumpalitan, melompat, merangkak, nungging-nungging tak jelas. Membuat gerakan-gerakan aneh namun selaras dengan tempo yel-yelnya.

__ADS_1


Ibu-ibu yang menyaksikan itu ikut bertepuk tangan. Tawa mereka berderai melihat kompaknya kekonyolan koreo om-om tentara berseragam loreng itu. Maira sendiri juga tak bisa menahan tawa. Dia terpingkal-pingkal melihat salah seorang tentara itu merayap dengan gaya Spiderman di tanah. Air matanya sampai keluar di sudut-sudut mata.


"Pssst ..., jangan kenceng-kenceng ketawanya. Kasihan yang di dalam perut!"


Bisikan di belakang telinga Maira membuatnya terhenyak. Spontan dia menutup mulut dan menoleh ke belakang. Tampak kapten Rian berdiri sambil bersedekap dengan gaya cool-nya. Matanya lurus menatap ke depan. Senyum khas berlesung pipi tampak terulas. Lelaki itu tak sedikitpun melihat pada Maira, meski sesaat lalu dia lah yang berbisik pada perempuan itu.


Tiba-tiba kapten Rian sekilas menatap Maira. Pandangan mereka beradu. Jari tangan kapten Rian terangkat menyentuh ujung alis. Lelaki itu membuat gerakan sedikit menunduk. Memberi sapaan halus untuk Maira yang masih terpana.


Maira mengangguk kikuk, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Selanjutnya pelan-pelan dia bergeser, menjauh dari tempat berdirinya kapten Rian.


Terpesona aku terpesona


Memandang wajah, wajahmu yang manis ....


Ide kapten Rian untuk memberikan kejutan yel-yel pada ibu-ibu PIA siang itu cukup sukses. Yel-yel mereka paling tidak membuat wajah ibu-ibu yang kelelahan setelah sebelumnya mempersiapkan acara, menjadi kembali ceria. Serasa mereka jadi perempuan yang telah membuat terpesona para tentara langit.


***


Maira masih terpingkal-pingkal menceritakan kembali apa yang disaksikannya tadi siang.


"Lucu banget, Mas. Aku jadi bayangin gimana kalau mas Janu yang ikut nyanyiin yel-yel itu. Hahaha ...!"


Di layar handphone Janu tampak tersenyum simpul. Dia ikut bahagia melihat istrinya tertawa lepas.


"Mas pernah nyanyi-nyanyi kayak gitu nggak, sih?" tanya Maira masih dengan sisa tawa.


"Ya pernah, lah."


"Kira-kira menurutmu aku akan seperti itu nggak?"


Maira menutup mulut kegelian.


"Eh, malah ketawa. Tak cium lho, nanti!"


"Hahahaha ...!" tawa Maira tambah berderai.


"Aku senang melihatmu bisa ketawa lepas gini, Dik," ucap Janu setelah tawa Maira berhenti. "Tenang rasanya melihatmu bahagia tanpa beban. Pastinya itu akan membuat calon bayi kita pun tumbuh sehat di dalam sana."


"Iya, Mas. Semoga mas juga bisa melewati tugas dengan rasa bahagia."


Janu mengangguk. Dibelainya wajah Maira di layar handphone.


"Tadi siang ketemu kapten Rian, nggak?"


"Ya, ketemu lah, Mas. Kan, beliau pembina harian PIA."


"Ngobrol?"

__ADS_1


Maira mengerutkan kening. "Enggak, Mas. Cuma lihat saja, kok. Nggak ada kami ngobrol."


Janu tersenyum. "Bagus, Dik. Jaga sikapmu ya, Sayang."


Perempuan itu mengangguk kelu. Tentu saja sapaan halus dan bisikan kapten Rian padanya tadi siang tak diceritakan. Dia tak mau membuat Janu resah di tempat tugas. Toh, antara dia dan kapten Rian juga tak ada apa-apa.


"O iya, Mas, aku diperintah mengikuti lomba desain baju oleh Bu Sapto. Gimana, boleh nggak?"


"Kira-kira kamu sanggup nggak?"


"Insyaallah sanggup, Mas. Nggak terlalu berat, kok. Lombanya juga masih bulan depan. Masih cukup banyak waktu untuk mempersiapkan."


"Ya sudah, gak apa-apa. Yang penting jaga kandunganmu, jangan terlalu capek."


"Iya, Mas."


Ijin dari Janu sudah dia kantongi. Maira jadi semakin bersemangat menyiapkan lomba. Dia mulai membuat beberapa desain baju yang sesuai tema lomba. Setiap hari setelah mengantar Oza, Maira sibuk menekuri mesin jahit nya. Dia mencoba eksekusi pola-pola yang telah dia buat sebelumnya.


***


Sementara di Bandung Maira sibuk mempersiapkan lomba desain baju, di Jakarta Karina dan Bayu berjuang bersama melawan penyakit kanker yang diderita Karina. Mereka belum memberi tahu Maira dan orangtua Karina tentang penyakit itu.


"Mas, sepertinya meskipun aku dinyatakan sudah membaik, aku tetap harus mengkonsumsi obat kanker. Sepanjang hidup mungkin."


Bayu menggenggam tangan Karina. "Ya, nggak apa-apa, Sayang. Jalani saja dengan semangat."


"Tapi itu artinya mungkin aku nggak akan bisa hamil mengingat obat itu nggak boleh dikonsumsi saat hamil."


Bayu tercekat. Diciumnya tangan Karina yang berada dalam genggaman. "Nggak usah mikirin itu dulu, Dik. Yang penting sekarang kamu dan aku fokus ke proses pengobatanmu."


Karina merebahkan kepala di dada Bayu. Sekuat tenaga ditahannya air mata agar tak jatuh.


"Seandainya kita nanti nggak punya anak, gimana?"


"Sstt ...!" Bayu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Karina. "Sudah kubilang, kita nggak usah bahas itu!"


Karina tergugu. Disembunyikan air mata di dada Bayu.


"Maafkan aku, Mas," desisnya lirih.


Bayu kembali memeluk Karina sangat erat. Mencoba meringankan beban yang ditanggung Karina.


(bersambung)


// Ada yang tahu yel-yel TNI Polri yang lagi viral itu?


TERPESONA, sungguh aku ngakak pas lihat. Karena itu pula aku jadi usil menuliskan di sini.

__ADS_1


Semoga berkenan.


Terima kasih sudah mampir ...🙏🙏🙏 //


__ADS_2