LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
TETES DARAH UNTUK MAIRA


__ADS_3

"Ibuu ...!"


Maira terduduk di sofa. Bulir-bulir keringat membasahi dahinya. Terlihat sekali wajah perempuan itu menahan sakit yang teramat sangat.


"Buu ...!" panggilnya sekali lagi.


Bu Kusno tampak tergopoh-gopoh dari arah dapur.


"Astaghfirullah!" seru Bu Kusno melihat Maira yang pucat pasi bersandar di sofa. "Kamu kenapa, Mai?" Dia bergegas menghampiri Maira. Dan betapa terkejutnya perempuan itu saat matanya melihat ke arah bawah. Darah segar mengalir di sela-sela kaki Maira.


"Ya Allah, apa ini?!" pekik Bu Kusno.


Tak menunggu lama, Bu Kusno segera bertindak. Ditelepon Sutar, adiknya yang kebetulan rumahnya dekat. Dibantu Sutar dan istrinya, Bu Kusno segera membawa Maira ke rumah sakit. Oza dititipkan ke mbak Tami, tetangga belakang rumah. Sementara Pak Kusno masih di kantor. Bu Kusno sudah menelepon dan rencananya suaminya itu akan segera menyusul ke rumah sakit.


"Ke rumah sakit tentara saja ya, mbakyu?" tanya Sutar yang sedang menyetir.


"Sak karepmu, Tar. Yang penting segera tertolong ini!" Bu Kusno panik luar biasa. Sementara Maira semakin lemas karena pendarahannya.


Di rumah sakit, Maira segera dibawa ke ruang bersalin. Seorang perawat menemui Bu Kusno di luar ruangan.


"Keluarga pasien nyonya Maira siapa, ya?"


"S-saya, Bu!" Bu Kusno menghampiri perawat itu.


"Mohon dipersiapkan untuk transfusi darah ya, Bu, karena pasien mengalami pendarahan."


"D-darah?"


"Iya. Dan karena kebetulan stok golongan darah AB di rumah sakit ini kosong, silahkan ibu mencari pendonor untuk pasien, ya!"


Bu Kusno ternganga.


"Atau bisa juga ke PMI, nanti kami buatkan surat. Tapi itu butuh waktu agak lama karena kita harus ke kantor PMI. Akan lebih baik jika sekarang sudah ada pendonor yang siap di sini."


"I-iya, Bu." Bu Kusno mengangguk kelu.


Sepeninggal perawat itu, Bu Kusno segera berpaling pada Sutar dan istrinya. "Gimana ini, Tar? Aku ndak ngerti masalah nyari darah itu."


"Wah, golongan darahku O, Yu. Darahnya Rini B." Sutar mengernyitkan kening. "Hubungi bapak dan mas Bayu saja, Yu. Siapa tahu mereka punya teman yang bisa donor. Aku juga tak nyari di grup-grup wa ku."


"Oh, iya, ya!" Bu Kusno segera mengeluarkan hp dari tasnya. Karena gugup, tanpa sadar tangannya yang memegang hp menyenggol tubuh seseorang yang lewat di dekatnya.


Prak!


Tak pelak handphone Bu Kusno pun terhempas di selasar rumah sakit.


"Oh, maaf ... maaf, Bu!" Lelaki berseragam itu segera mengambil handphone yang tergeletak di lantai. Diberikan benda itu pada bu Kusno.


Bu Kusno tak sempat menjawab. Konsentrasinya tertuju ke layar handphone. Tapi layar itu gelap semata. Mungkin benturan keras dengan lantai membuat handphone itu rusak.


"Lhaah, kok, ndak nyala?!" pekiknya.


"Nggak nyala, Bu?"


Lelaki berseragam tadi urung berlalu. Dimintanya handphone dari tangan Bu Kusno. Lalu dia duduk di kursi yang terletak di tepi selasar. Bu Kusno mengikuti. Sutar dan istrinya pun ikut mendekat.


"Wah, kok, nggak nyala juga, ya?" ucap lelaki itu setelah beberapa waktu mengutak atik handphone Bu Kusno.


"Duuh, kok ya, pas saat dibutuhkan malah kayak gini to, yooo ...!" Air mata Bu Kusno mulai runtuh.


"M-maaf, Bu. Ini salah saya sudah nabrak ibu. Nanti saya betulkan handphonenya, ya!"


"Masalahnya bukan hp nya saja, Pak. Anak saya sedang sekarat ini, Pak. Dia mau melahirkan, butuh transfusi darah, huhuhu ...!" Bu Kusno tak bisa menguasai perasaannya. Dia menangis di pelukan Rini, istri Sutar.


"Golongan darahnya apa, Bu?" tanya lelaki itu cepat.


"AB, Pak."


"Saya AB, saya bisa jadi pendonor!" katanya yakin.


Bu Kusno menegakkan badan seketika. Demikian juga Sutar dan Rini. Mereka menatap lelaki berseragam biru langit di depannya.

__ADS_1


"B-beneran, Pak?"


Lelaki itu mengangguk. "Sebentar, biar saya urus semuanya. Kebetulan saya juga kerja di rumah sakit ini." Lelaki itu berdiri, bersiap melangkah ke dalam ruangan. "Oiya, siapa nama pasiennya?"


"Maira, Pak, Maira namanya!"


Lelaki itu seketika tertegun. "Maira?" desisnya lirih.


***


Mata Maira mengerjap dan terbuka perlahan. Dia baru saja bangun setelah beberapa jam lalu melalui proses persalinan yang cukup berat. Kehilangan banyak darah dan nyaris kehabisan tenaga. Salah satu sudut bibir perempuan itu tertarik ke atas. Dia mengeluh pelan.


"Mai, sudah bangun kamu?" Bu Kusno beranjak mendekati bed Maira.


"Ibu." Suara Maira serak.


Bu Kusno tersenyum mengelus kepala Maira dan mencium keningnya. "Selamat ya, Sayang. Anakmu sudah lahir, perempuan."


Ada binar bahagia yang sekilas terlihat di mata Maira. "Apa dia sehat, Bu?"


"Alhamdulillah sehat. Cantik banget dia. Kulitnya bersih, rambutnya hitam tebal." Bu Kusno semangat menjelaskan mengenai bayi Maira.


"Mirip seperti eyang kakungnya." Pak Kusno ikut mendekat ke bed Maira. Wajah lelaki paruh baya itu tampak sumringah setelah beberapa jam lalu diliputi kecemasan.


"Heleh, sekarang bisa ketawa. Tadi sudah pucat kayak mayat!" ejek Bu Kusno melihat suaminya tertawa lebar.


"Kamu juga sama gitu, kok!"


"Tapi setidaknya aku kan, masih bisa berpikir jernih, nyari darah buat Maira. Lha, bapak ..., datang-datang cuma mewek!" Bu Kusno mencibir.


Maira tersenyum simpul melihat perdebatan kecil kedua orang tuanya.


"Siapa yang mengadzani anakku, Bu?"


Deg!


Kedua orang tua itu tertegun. Membicarakan hal tersebut mau tak mau akan menyinggung kenangan tentang Janu.


"Bapak yang adzani, Nduk. Dia anteng saat mendengar adzan bapak yang merdu di telinganya." Pak Kusno mencoba bercanda.


Maira tersenyum getir. Ada selaput bening di bola matanya.


Harusnya kamu yang adzani anak kita, mas Janu.


"Eh, tapi kalau ndak ada pak tentara itu, ndak tahu ibu harus gimana!" Bu Kusno mengalihkan pembicaraan. "Mau telepon bapakmu supaya ikut bantu cari pendonor, hp ibu malah mati. Sutar dan istrinya juga sama bingungnya. Padahal kamu butuh darah itu cepat. Hmmm ..., Alhamdulillah, Gusti Allah memang Maha Baik. Mengirim seseorang di detik-detik akhir."


"Siapa, Bu?" Maira mengernyitkan kening. "Temannya om Bayu, ya?"


"Bukaan ... Wong mau menghubungi Bayu saja ndak bisa. Hp ibu kan rusak gara-gara jatuh kesenggol orang itu. Tapi akhirnya malah dia yang jadi penolong kamu. Ibu jadi ndak nyesel hp nya rusak." Bu Kusno tersenyum sendiri mengingat keberuntungan dalam kesialan tadi siang.


Maira beringsut, menyamankan posisi tidurnya. "Siapa dia, Bu? Aku harus berterima kasih padanya."


"Ck, itulah, saking gembiranya ibu lupa nanyain namanya juga nomor hp nya!'


"Setelah donor dia kemana?"


Bu Kusno hanya mengangkat bahu.


Maira menghela napas. "Oiya, kapan aku boleh lihat anakku?"


"Ah, iya!" Bu Kusno beralih pada suaminya. "Pak, tolong bilang ke perawatnya kalau Maira sudah bangun dan mau lihat bayinya!"


"Mbok, ibu saja!"


"Aku di sini nemani Maira. Bapak genti lah, yang mondar mandir!"


Dengan agak bersungut pak Kusno keluar dari ruang perawatan Maira.


"Oza gimana, Bu? Sama siapa dia di rumah?" tanya Maira saat teringat pada anaknya.


"Oza baik-baik saja. Dia ditemani Sutar dan istrinya. Tadi siang dia di rumah Tami. Pokoke aman, wis. Besok biar diantar Sutar kesini lihat adiknya."

__ADS_1


"Om Bayu dan Karina sudah dikabari?"


"Sudah. Tapi sepertinya ndak bisa cepet-cepet ke Jogja. Kasihan Karina baru saja dari Jogja. Nanti kecapekan dia."


"Iya, ndak apa-apa, Bu. Yang penting sudah dikabari saja. Kalau eyang Hartini dan mbak Wulan?"


"Sudah, Nduk. Bu Hartini sekarang masih di rumahnya mbak Wulan di Solo. Mungkin besok kalau libur mereka baru bisa datang. Mbak Wulan sama mas Sapto kan, kerja."


Maira mengangguk. Perempuan itu kembali memejamkan mata.


Bu Kusno menatap Maira dengan perasaan lega. Sepertinya Maira memang tak lagi terjebak oleh kesedihan karena Janu belum ditemukan. Dia tak lagi melihat rasa tertekan pada diri Maira meski harusnya di saat-saat seperti ini ada Janu mendampingi.


Ya Allah, semoga semua ini segera berlalu. Semoga anak dan cucuku sehat, semoga mantuku juga bisa segera ditemukan.


Pintu ruangan dibuka dari luar. Seorang perawat tampak masuk sambil membawa bayi dalam gendongan. Pak Kusno mengikuti dari belakang.


"Halo, Bu Maira. Gimana, sudah sehat?" sapanya ramah.


Maira berusaha bangkit dari tidurnya. Namun badannya masih terasa lemah.


"Sambil tiduran saja, Bu. Bednya tolong dinaikkan saja ya, Pak!" Perawat itu beralih pada pak Kusno.


Setelah Maira berada pada posisi tegak di atas bednya, perawat itu mengulurkan bayi dalam gendongannya dan meletakkan di dada Maira. Sebenarnya beberapa saat setelah lahir, bayi itu sudah diletakkan di dada Maira untuk inisiasi menyusui dini. Namun saat itu Maira berada dalam kondisi setengah sadar karena kelelahan setelah melalui beratnya proses persalinan. Dia tak begitu mengingat bagaimana lembut kulit bayinya menyentuh dada dan bibir mungilnya menghisap pu*ing, menyesap air susu pertama yang kaya akan kolostrum.


Maira menatap takjub pada sosok mungil yang ada di pelukannya. Wajah bersih, pipi montok, hidung mancung, bibir mungil berwarna merah jambu. Tak terasa air matanya mengalir keluar.


"Sayang," bisiknya lirih.


"Dicoba disusui ya, Bu!"


Perawat mendekati Maira dan membantu perempuan itu mengeluarkan pa**daranya. Lalu dia mengangkat lembut kepala bayi, mendekatkan pada pu*ing ibunya. Sesaat kemudian bayi mungil itu mengulum pu*ing ibunya dan menyesapnya. Maira berlinang air mata bahagia. Untuk beberapa waktu lamanya dia menikmati keajaiban Tuhan yang dilimpahkan padanya.


"Sepertinya sudah cukup. Dedek saya bawa balik ke ruang bayi dulu ya, Bu."


Perawat kembali mengambil bayi itu dari pangkuan Maira. Setelah berpamitan, dia keluar dari ruang perawatan.


"Cantik, kan, Mai?" Bu Kusno kembali mendekati Maira.


Perempuan itu mengangguk dengan senyum terkembang di wajahnya. Sosok mungil yang baru saja berada di pelukan benar-benar mampu mengalihkan dunianya.


"Mirip aku kan, Mai?" tanya Pak Kusno sambil mengubah setelan bed agar kembali ke posisi rata sehingga Maira bisa rebahan.


"Cih!" Bu Kusno mencibir pada suaminya.


"Assalamualaikum!" Pintu ruang perawatan kembali dibuka dari luar.


"Waalaikumsalam," jawab Pak Kusno sambil berpaling ke arah pintu.


Seorang lelaki berkaos polo warna hitam dan jeans abu tampak masuk sambil membawa bungkusan plastik di tangan.


"Selamat malam, Pak, Bu, maaf mengganggu."


"Selamat malam." Bu Kusno mengerutkan kening memperhatikan lelaki itu. "Ah, iya!" serunya. "Ini kan, mas eh, pak yang mendonorkan darahnya, to?!"


Lelaki itu tersenyum sambil mengangguk.


Maira yang rebahan di ranjang berusaha bangkit untuk melihat orang yang baru saja datang. Dia harus mengucapkan terima kasih pada orang itu.


"Ah, sambil rebahan saja, Bu!" Lelaki itu buru-buru menghampiri Maira, mencegahnya agar tidak bangkit.


Pandangan mereka beradu dan Maira menjadi terkejut luar biasa.


"Kapten Rian?!"


(bersambung)


// Alhamdulillah bisa hadir lagi.


Padahal sudah setor tulisan dari kemarin tapi gak lolos2 review juga. Mungkin ada beberapa kata yg dianggap berbau porno. Jadilah kata-kata itu aku edit sendiri supaya cepet up.


Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, komen n vote nya...🙏🙏 //

__ADS_1


__ADS_2