LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
ISTRI SOLEHAH


__ADS_3

...Salah satu jalan bagi istri mendapatkan ridho Tuhan, adalah membuat suami ridho pula pada dirinya....


Sudah hampir sebulan Maira dan Oza ditinggal Janu. Selama ini mereka menjalani kehidupan seperti biasa. Hanya sekarang Maira bertambah kesibukan, mengajar ketrampilan menjahit dan membuat pola pada ibu-ibu anggota PIA di kantor suaminya.


"Ibu belum bisa kesitu, Mai," kabar Bu Kusno melalui telepon. "Bapakmu belum dapat cuti."


"Iya, nggak apa-apa, Bu. Maira dan Oza baik-baik saja, kok."


"Alhamdulillah. Jangan lupa selalu jaga kesehatan lho, ya!"


"Iya, Bu."


"Sudah dikabari Bu Hartini, belum?"


"Tadi siang eyang Hartini sudah telepon, kok, Bu."


"Jadi sudah tahu kan, kalau mertuamu itu juga belum bisa datang?"


"Sudah, Bu. Nggak apa-apa, kok. Mbak Wulan lebih membutuhkan eyang Hartini sekarang."


Siang tadi Bu Hartini menelepon Maira juga. Mengabarkan bahwa beliau tidak jadi ke Bandung karena harus ke Solo. Mbak Wulan, kakak Janu, tipusnya kambuh dan harus dirawat di rumah sakit. Jadi Bu Hartini kesana untuk menjaga Farel, anak mbak Wulan, di rumah.


Sebenarnya Maira agak kecewa karena ibu dan ibu mertuanya belum bisa datang. Apalagi Oza mulai tampak bosan tanpa adanya Janu di rumah. Namun Maira tak mau menampakkannya. Dia tak mau dianggap cengeng dan lemah. Bagaimana pun juga menjadi istri tentara sudah menjadi pilihan. Apa pun konsekuensinya harus dihadapi. Jangankan hanya ditinggal tugas, ditinggal meninggal oleh suami pertama saja dia kuat menghadapinya.


Kekecewaan Maira terobati saat Karina telepon bahwa akhir minggu ini dia dan Bayu akan ke Bandung. Sudah lama mereka tak bertemu. Terakhir bertemu saat Janu mengajak Maira ke Dago dulu. Sudah sebulan lebih.


"Yeey, Tante Karin sama om Bayu mau datang!" seru Oza girang. Baru saja dia menerima telepon dari Bayu. Om nya itu mengabarkan bahwa mereka sedang bersiap berangkat.


Malam Sabtu, hampir tengah malam mereka sampai. Oza sendiri sudah tidur. Maira melarang mereka membangunkan. Selain karena takut Oza nanti susah tidur kembali, Maira juga agak khawatir melihat Karina yang tampak pucat. Dia menyuruh adiknya itu untuk segera istirahat.


"Kalian segera tidur saja. Sepertinya Karin sudah tampak kelelahan."


"Dia ngotot pengen segera ke sini. Kuajak besok pagi saja nggak mau!" Bayu bersungut-sungut, sambil memijit-mijit bahu istrinya.


Maira menggeleng-gelengkan kepala. "Riin ... Rin, mbok ya, jangan mengabaikan badan. Kamu kan, masih capek setelah seharian kerja. Kenapa juga maksa langsung kesini!"


"Keburu kangen sama Oza, Mbak," jawab Karina lirih.


"Akhirnya nggak bisa langsung ketemu juga, kan. Lain kali jangan maksa gitu, deh. Kasih hak istirahat untuk tubuhmu!"


Karina hanya tersenyum sambil mengangguk.


Paginya tak seperti biasa, Karina tidur lagi setelah sholat subuh. Kata Bayu, badan Karina agak panas semalam. Tidurnya juga gelisah.

__ADS_1


"Dibawa ke dokter saja apa, Om?" usul Maira.


"Entahlah. Coba nanti kalau dia bangun." Bayu menyesap teh nya. Pandangan lelaki itu tertuju ke halaman, melihat Oza yang asyik dengan mobil remote.


"Akhir-akhir ini Karina memang sering sakit," ucap Bayu lirih.


Maira terperanjat. "Sakit apa? Pantesan kok, badannya terlihat kurus."


Bayu menggeleng. "Ya, gitu, sering panas dan badannya lemas. Kuajak periksa ke dokter, selalu nggak mau."


"Apa mungkin sedang ngidam?"


"Belum, dia belum hamil."


Maira menghela nafas. "Atau mungkin karena kecapekan kerja, Om?"


"Itulah. Sudah berkali-kali kusuruh dia resign, tapi ya begitu itu. Tahu sendiri kan, Karina gimana?"


Sebagai kakaknya Maira tahu, Karina memang agak keras kepala. Kalau sudah punya pendirian, jarang bisa dibelokkan.


"Coba deh, tolong bantu kasih tahu dia. Takutnya dia memang kecapekan kerja," pinta Bayu. "Kalau cuma masalah materi, insyaallah gajiku saja cukup asal mau hidup sederhana. Tapi selama ini kami memang hidup sederhana saja, kok, nggak yang neko-neko. Selama ini juga, cukup pakai gajiku. Gaji dia sepenuhnya hak dia. Lebih sering dia tabung saja."


Maira mengangguk-angguk. Dia mengerti apa yang dikatakan Bayu. Gaji tentara dengan pangkat seperti Bayu, sudah lebih dari cukup jika hanya untuk hidup berdua. Tapi kalau gaya hidupnya high class mungkin akan keteteran juga. Selama ini dia tahu, keluarga adiknya itu keluarga sederhana, apa adanya. Jadi tak akan ada pengaruhnya dari segi ekonomi kalau pun Karina resign dari pekerjaan.


Bayu tersenyum, mengangguk pada Maira sebagai ungkapan terima kasih.


Jam delapan, Karina belum keluar dari kamar. Maira menengok adiknya itu di kamar Oza. Dilihatnya Karina masih tertidur pulas.


"Rin," sapa Maira. Tangannya menyentuh dahi Karina. Agak panas dia rasakan.


Karina membuka mata dan mengerjapkan sejenak. Silau sinar matahari yang masuk melalui jendela membuatnya agak susah menajamkan pandangan.


"Mbak." Suaranya serak.


"Kamu sakit, ya?"


"Enggak, kok!" Karina ikut memegang dahi dan pipinya dengan punggung tangan. "Agak anget aja. Mungkin karena capek. Nanti aku minum obat penurun panas."


Maira menghela nafas. "Kamu sarapan dulu, ya. Aku tadi bikin bubur."


Karina bangkit. Agak terhuyung dia berjalan. Segera Maira memegangnya.


"Ah, Mbak, aku nggak apa-apa!" tepis Karina halus. Dilepaskan tangan Maira yang memegang lengannya.

__ADS_1


Sepiring bubur nasi hangat membuat badan Karina terasa sedikit segar. Wajahnya tak terlalu pucat lagi. Ditutupnya sarapan pagi ini dengan segelas teh tawar hangat.


"Aku dengar om Bayu menyuruhmu resign, ya?"


Gerakan jari Karina yang memutar-mutar gelas di atas meja terhenti. Perempuan itu tercenung sesaat.


"Kenapa tak kamu turuti? Toh, gaji om Bayu sudah cukup untuk kalian."


Karina menghela nafas. "Kalau aku resign, apa yang akan kukerjakan di rumah, Mbak. Pasti ngelangut rasanya."


"Banyak," tukas Maira cepat. "Jangan dianggap ibu-ibu rumah tangga itu tiap hari hanya bengong saja. Bahkan kadang pekerjaan mereka di rumah lebih padat dari pada mereka yang bekerja di luar."


Karina menelan ludah. Diketuk-ketuk jarinya ke meja dengan gelisah.


"Perempuan berkeluarga kerja di luar rumah itu bagus, nggak masalah. Selain bisa untuk mengamalkan ilmu yang mungkin pernah dia dapat, juga bisa membantu perekonomian keluarga. Tapi semua itu harus dengan syarat, yaitu ridho suaminya."


Plak!


Serasa tertampar hati Karina. Merahnya menjalar sampai ke pipi. Antara malu dan sedih.


"Kalau suamimu sudah nggak ridho kamu kerja, ada baiknya kamu pertimbangkan untuk resign. Ingat ridho Allah itu ada di ridho suamimu juga."


Karina menunduk kelu. "Iya, Mbak," sahutnya lirih.


Maira mengelus pundak Karina. "Maaf kalau Mbak terlalu campur tangan. Mbak hanya ingin adik mbak ini jadi istri yang solehah."


Mata Karina berkaca-kaca. Dipeluk kakaknya yang sangat perhatian itu. "Terima kasih sudah mengingatkan, Mbak," bisiknya lirih. Untuk sesaat mereka saling berpelukan.


"Aku mau minum obat dulu, Mbak." Karina melepaskan pelukannya. Diraih gelas panjang berisi air putih. Lalu dia beranjak ke kamar.


"Obatnya di mana, biar kuambilkan!"


Langkah Karina terhenti. Wajahnya sedikit menegang. Sesaat kemudian dia menoleh pada Maira dengan ekspresi wajah yang sudah berubah lebih santai. "Biar kuambil saja, Mbak. Sekalian mau rebahan sebentar di kamar."


Maira mengangguk. "Ya sudah, istirahat dulu. Mandinya nanti siang saja."


Tak menunggu lama, Karina segera bergegas ke kamar. Diambilnya obat dari dalam tasnya. Tulisan 'Glivec 400 mg' tertera di kotak obat yang dia pegang. Buru-buru diambilnya satu tablet. Lalu dengan tangan sedikit bergetar, segera dimasukkan obat ke dalam mulut, dan diguyur dengan beberapa teguk air putih. Kemudian dengan buru-buru pula kembali dimasukkan kotak obat itu ke dalam tas.


Karina menoleh ke arah pintu kamar. Dia kemudian menghembuskan nafas lega saat kembali memastikan tak ada orang lain selain dia di kamar.


(bersambung)


// terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan rate 5....🙏🙏🙏❤️❤️❤️ //

__ADS_1


__ADS_2