LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
MENUJU KE TITIK NADIR


__ADS_3

Melalui hari-hari menjadi aktivitas yang mengerikan bagi Maira. Harapan yang terbangun di awal hari, tentang adanya kabar mengenai Janu, selalu retak, pecah berkeping-keping di penghujung hari. Menggoreskan luka demi luka yang semakin lama semakin menyakitkan.


Genap dua minggu sudah, tetap belum ada kabar yang melegakan. Nyaris habis harapan Maira. Serasa kering air matanya. Keberadaan Bu Kusno dan Karina menjadi satu-satunya penguat Maira menjalani hidup.


Hari ini Karina harus kembali ke Jakarta. Sebentar lagi tiba jadwal kontrolnya ke rumah sakit.


"Nggak apa-apa kan, aku balik Jakarta, Mbak?"


"Nggak apa-apa, Rin," jawab Maira pelan. Perempuan itu duduk bersandar di ujung tempat tidurnya.


"Tapi kalau kondisi mbak Maira masih seperti ini, aku berat mau ninggalin mbak."


Maira menggeleng. "Aku nggak apa-apa, Rin." Dia berusaha meyakinkan adiknya. "Bagaimanapun juga proses pengobatanmu itu penting. Jangan sampai kamu telat kontrol!"


"Tapi Mbak juga harus janji, harus terus semangat dan jaga kesehatan!"


Maira mengangguk.


"Ingat, tanggung jawab mbak bukan cuma pada diri mbak sendiri, tapi juga pada Oza dan calon adiknya ini." Karina menyentuh perut kakaknya.


Maira menelan ludah. Lehernya terasa menyempit tiba-tiba. Dielus perutnya yang sudah tampak membesar.


Mereka berdua kemudian berpelukan. Menumpahkan kegundahan yang entah akan sampai kapan ujungnya. Bayu menyaksikan dari ambang pintu. Hatinya ikut teriris menyaksikan derita kakak iparnya. Kembali harus kehilangan orang yang dicintai bukan perkara mudah.


Sepeninggal Karina yang dijemput Bayu, pulang ke Jakarta, rumah terasa sepi. Biasanya Tante Oza itu pandai memberi percikan canda dalam situasi duka yang mencekam. Oza menjadi sering rewel, Maira semakin sering tenggelam dalam diam yang berbalut kesedihan. Bu Kusno tak kurang-kurang sedihnya.


"Mai, sebentar lagi Oza kan, libur. Gimana kalau kita pulang saja ke Jogja?" usul Bu Kusno sore itu. "Setidaknya di sana ada bapakmu dan saudara-saudara dekat yang bisa menemani."


"Terserah ibu, gimana baiknya." Maira tak bersemangat menanggapi.


"Em, ibu pikir, mungkin ada baiknya juga kalau sementara ini kamu pindah Jogja dulu," ucap Bu Kusno, hati-hati.


Maira terhenyak. "Tapi mas Janu belum ditemukan, Bu. Aku masih menunggu kabarnya!"


"Iya. Maksud ibu, sementara ini kamu nunggunya di Jogja saja. Dan lagi, kamu kan, sudah mendekati lahiran."


"Kenapa harus di Jogja? Toh, sebentar lagi akan ada kabar. Ini sudah hampir tiga minggu, pasti sebentar lagi ketemu!"

__ADS_1


"Kalau mengenai lahiran, ibu nggak usah khawatir. Ada teh Lina yang bisa bantu-bantu aku di sini."


Bu Kusno termangu. Entah apa yang membuat Maira sedemikian keras kepala ingin bertahan di Bandung. Apakah dia memang masih mempunyai harapan besar Janu akan segera ditemukan?


Jika berpikir realistis, tidak ditemukan sekian lama di daerah konflik kemungkinan terbesarnya adalah gugur. Meski tak boleh juga mendahului takdir, tapi tetap harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu. Namun sepertinya Maira belum siap menerima.


"Ya, sudah, kita ke Jogja selama liburan Oza saja." Bu Kusno mengalah.


Dua hari kemudian mereka bersiap pulang ke Jogja. Sebelum berangkat, komandan dan jajarannya berkunjung ke rumah dinas Maira, didampingi para istri mereka. Hal ini dikarenakan mereka mendengar kabar bahwa Maira akan pulang ke Jogja. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Maira kemudian menanyakan sendiri mengenai kabar suaminya pada komandan.


"Izin, bapak, mengenai kabar suami saya bagaimana, ya?"


Komandan menghela nafas. "Mohon maaf, Bu, hingga saat ini belum ada titik terang. Mohon bersabar, ya."


Maira menunduk kelu. "Sampai berapa lama proses pencariannya, Pak?" tanyanya lirih.


"Dalam undang-undang, proses pencarian anggota yang hilang dalam tugas itu maksimal satu tahun, Bu. Setelah satu tahun, baru bisa dinyatakan status selanjutnya dari yang bersangkutan."


Maira menggigit bibir. Dia tahu, 'status selanjutnya' yang dimaksud komandan adalah kata lain dari 'gugur dalam tugas'.


"Yang sabar ya, Bu. Kita doakan saja semoga segera ada titik terang."


Jogja selalu jadi tempat ternyaman untuk kembali. Namun tidak bagi Maira saat ini. Dimanapun berada, hanya duka dan nestapa meliputi hatinya. Namun setidaknya di Jogja Oza menjadi lebih ceria. Eyang Kusno pandai mengalihkan perhatian anak itu dari memikirkan ayahnya.


"Bunda, aku mau ke sawah sama eyang, ya!" pamit Oza pagi itu.


Maira hanya mengangguk. Sepagian ini perempuan itu hanya menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di teras rumah saja. Hal yang dulu tak pernah dia lakukan. Maira yang tak pernah bisa tinggal diam, kini seakan hilang gairah hidupnya.


Bu Kusno menghela nafas menyaksikan anaknya seperti itu. Dihampiri Maira setelah Oza dan eyangnya pergi.


"Kalau kamu mau jahit, mesin jahit lamamu yang di garasi sudah aku bersihkan, Mai. Kemarin juga sudah di cek sama kang Sutar. Mesinnya masih bagus dan layak pakai."


Maira hanya menatap ibunya sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangan ke depan. Matanya tampak kosong menatap jalanan depan rumah.


"Kain-kain yang dulu belum sempat dijahit juga masih ibu simpan rapi. Kamu bisa bikin-bikin baju buatmu, buat ibu juga. Atau ... kalau mau, ibu bisa carikan bahan-bahan yang nyaman untuk baju bayi. Nanti bisa kamu jahit sendiri."


Maira tetap bergeming. Ketika Bu Kusno ikut duduk di sebelahnya, Maira justru berdiri.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar," ucapnya, dingin dan singkat. Lalu dia beranjak masuk ke dalam rumah.


Ah, Mai, kenapa kamu sekarang jadi begini? Semakin hari semakin terlihat tak semangat lagi.


Bu Kusno gundah dengan sikap anaknya. Terlebih karena kehamilan Maira semakin mendekati hari perkiraan lahiran. Dengan kondisi seperti sekarang, rasanya sangat mengkhawatirkan saat kelak dia harus melewati persalinan. Semua itu dia utarakan pada pak Kusno. Namun lelaki itu pun tak bisa berbuat banyak. Setiap diajak bicara, Maira lebih banyak diam, mengangguk atau menggeleng saja.


"Kalau begini, rasanya aku ndak tega kalau Maira harus balik Bandung, Pak," kata Bu Kusno malam itu.


"Menurutku juga begitu, Bu. Memang lebih baik Maira itu pindah kesini saja dulu. Setidaknya selalu ada kita yang menemani dan mengawasinya."


"Tapi gimana caranya ngomongi dia. Wong dia masih ngotot mau nungguin Janu di Bandung. Sepertinya dia masih belum bisa menerima kenyataan. Bisa-bisa dia nanti malah salah paham."


"Coba kamu minta tolong Karina untuk kasih tahu dia, Bu."


Kekhawatiran Bu Kusno dan pak Kusno pada Maira, membuat Karina merasa perlu pulang. Dengan diantar Bayu, perempuan itu ke Jogja setelah di telepon Bu Kusno mengenai keadaan Maira.


"Karin, kamu sehat-sehat saja?" tanya Bu Kusno sambil memeluk anaknya. "Maaf ibu terpaksa ngrepoti kamu, ya," bisiknya di telinga Karina.


"Nggak apa-apa, Bu. Aku sehat, kok. Kemarin sudah konsul dokter, katanya aman kalau aku mau bepergian."


Mata Bu Kusno berkaca-kaca menatap Karina yang tampak semakin kurus. Sebenarnya dia tak tega menyuruh Karina pulang. Tapi kondisi Maira semakin hari semakin mengkhawatirkan.


"Mbak Maira di mana, Bu?" Karina melongok ke dalam rumah. Dari tadi hanya ada ibu dan Oza yang menyambut mereka. Pak Kusno tentu saja sudah berangkat kerja.


"Bunda ada di kamar, Tante!" seru Oza. Anak itu sedang sibuk membantu Bayu menurunkan barang-barang dari bagasi.


"Ya, begitu itu, Rin, mbakmu itu sekarang seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Ibu jadi khawatir."


Karina menghela nafas. Lalu dia melangkah masuk ke rumah. Tiba di depan kamar Maira, diketuknya pintu dengan perlahan.


"Mbak, ini aku Karina!"


Tak ada jawaban dari dalam. Pelan-pelan Karina menarik handel pintu. Dan setelah terbuka, perempuan itu terkejut melihat kondisi kakaknya.


(bersambung)


// maaf agak lama up. Author lagi meriang. Mulutnya pahit, tapi tak sepahit mulut pare si Dewi.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir. Semoga readers semua selalu sehat dan bahagia //


__ADS_2