
Bayu dan Karina hampir tak bisa berkata apa-apa melihat kondisi Janu. Tatap mata lelaki itu kosong. Wajahnya menyiratkan rasa bingung bercampur takut.
"Kok, bisa seperti ini?" desis Karina. Perempuan itu menggenggam erat tangan ibunya.
Bu Kusno tak menjawab. Dia berbalik meremas jari Karina yang menggenggamnya. Perempuan itu menggigit bibir, menahan isak.
"Bang Janu." Bayu mendekat ke bed tempat Janu duduk. "Apa kabar, Bang?" Lalu dia meletakkan pantat di samping Janu.
Lelaki itu hanya menoleh pada Bayu dengan tatapan bingung. Mulutnya mulai terbuka. "K-kamu s-siapa?" tanyanya, serak.
"Aku Bayu, Bang. Suami dari adik mbak Maira, istrimu."
Bayu mengerutkan kening. "Maira," desisnya lirih. "Perempuan yang dulu sering kesini itu?"
Bayu menatap Bu Kusno.
"I-iya, nak Janu," jawab bu Kusno tergeragap. "Maira, istrimu. Ibu dari Oza dan Hanin."
Janu mengusap kepalanya, resah. Dihembuskan napas dengan kasar. "Sampai sekarang aku tidak mengerti dengan apa yang kalian katakan. Aku tidak ingat sama sekali ...." Lelaki itu menunduk, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Bayu menepuk-nepuk pundak Janu. "Insyallah kamu akan segera ingat, Bang. Tetap semangat!"
Lelaki itu mengangkat wajah. Ditatapnya Bayu dengan sorot mata nanar. "Aku ... Aku mau bertemu Bertha. Tahukah kamu dimana dia?" tanyanya dengan suara bergetar.
Mereka bertiga saling tatap. Karina membelalakkan mata. Mulutnya ikut terbuka, ternganga. Tak mengira sedemikian parah amnesia Janu. Dan Bertha ....
Ya Allah, pasti mbak Maira sangat sakit mendengar mas Janu menanyakan Bertha.
"Agh, Bang, begini, kami juga tidak mengerti mengenai Bertha. Yang kami tahu, Abang adalah bagian keluarga kami. Kembalinya Abang sangat dinantikan oleh istri dan anak-anak Abang, juga seluruh keluarga besar kita. Bismillah saja, Bang, cepat atau lambat abang pasti akan mengingat kami dan kenangan-kenangan Abang dulu!" Bayu panjang lebar berusaha mengalihkan perhatian Janu.
Lelaki itu bergeming. Dia tetap duduk di atas bed dengan pandangan kosong ke depan. Tak siapa pun tahu, apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.
"Sepertinya bang Janu memang lebih baik kita bawa pulang saja, Bu," kata Bayu saat mereka sudah keluar dari ruangan Janu. "Aku rasa ingatannya akan lebih mudah kembali jika berada di tengah-tengah keluarga."
"Itulah, nak Bayu, Maira masih enggan kalau harus kumpul dengan nak Janu. Mungkin dia masih sakit hati karena adanya Bertha di antara mereka."
"Ya, jelas sakit lah, Bu. Kita sendiri tahu gimana cintanya mas Janu dan mbak Maira dulu. Tiba-tiba sekarang mbak Maira harus mendengar nama perempuan lain dari mulut mas Janu ... Ngenes, buuuu ...!" Karina memegang dadanya sendiri. Mata perempuan itu berkaca-kaca.
"Tapi kalau memang benar apa yang diceritakan pendeta pada ibu, kasihan juga ya, Bertha itu." Mata Bayu menerawang. " Bang Janu juga kasihan. Mereka berdua sama-sama terjebak dalam situasi yang tidak mereka pahami."
Semua terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya langkah kaki yang terdengar, menapaki lantai selasar rumah sakit.
Ketika tiba di depan lobi rumah sakit, mereka berpapasan dengan kapten Rian.
"Assalamualaikum, Bu!" sapa Kapten Rian.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Wah, pak kapten Rian!" Bu Kusno menyambut uluran tangan lelaki itu.
"Habis jenguk Serka Janu?"
Bu Kusno mengangguk. "Iya, Pak. Ini ngantar adik-adiknya yang belum sempat nengok dulu."
Bayu mengambil sikap hormat sebelum mengulurkan tangan, menyalami kapten Rian.
"Izin, Dan!"
"Iniii ..., siapanya pak Janu?"
"Saya adik iparnya mbak Maira dan ini Karina, istri saya, adik mbak Maira."
Karina mengangguk, mengulurkan tangan pada kapten Rian.
"Ahh, iya. Yang dinas di Jakarta, ya?"
"Siap, Dan!"
Kapten Rian beralih pada bu Kusno. "Gimana perkembangan pak Janu, Bu?"
Satu helaan napas keluar dari mulut Bu Kusno. "Masih belum ingat apa-apa, Pak," ucapnya dengan nada lelah.
Bu Kusno menegakkan wajah. "Nah, itu dia, Pak!" serunya. "Eh, maaf, bapak buru-buru tidak? Kalau ndak buru-buru, saya mau ngomong sebentar sama bapak."
"Oh, nggak kok, Bu. Boleh, boleh. Silahkan mau dimana?"
Bu Kusno menoleh ke kiri dan kanan. Pandangannya jatuh ke arah taman, pada bangku di sebelah tanaman Bougenville. Telunjuknya terangkat, mengarah kesitu. "Di sana saja, Pak!"
Kapten Rian mengiyakan. Mereka berdua kemudian berjalan menuju taman, tanpa diikuti Bayu dan Karina.
"Pak, mohon maaf sebelumnya." Bu Kusno membuka percakapan. "Mengenai Maira, semenjak kepulangannya diantar pak Kapten Rian beberapa hari lalu, dia sama sekali ndak mau ke rumah sakit. Ndak mau jenguk Janu, sampai sekarang."
Kapten Rian terperanjat. "Masak, Bu?"
Perempuan paruh baya itu mengangguk. "Kasihan Janu. Meski dia belum ingat tentang istrinya, tapi setidaknya kedatangan Maira bisa membantu memulihkan ingatannya."
Kapten Rian tercenung. Lelaki itu beberapa hari ini memang tak melihat sosok Maira di rumah sakit. Dia pikir mungkin karena kebetulan dia pas tidak ketemu saja. Kesibukannya akhir-akhir ini di kantor memang cukup menyita waktu.
"Pak kapten tahu tentang Bertha, kan?"
Sekali lagi kapten Rian terhenyak. Dari mana Bu Kusno tahu?
"B-bertha?" Kapten Rian tergeragap. "Ibu kok, tahu ...."
__ADS_1
"Pas saya dan ibunya Janu ke rumah sakit, kami bertemu dengan pendeta Andreas. Beliau sengaja datang kesini untuk bertemu keluarga Janu. Beruntung kami juga pas kesini."
"P-pendeta?" Wajah kapten Rian pias. "Apakah dia bertemu Serka Janu, Bu?"
Bu Kusno menggeleng. "Dia memang ndak bermaksud bertemu Janu."
Entah kenapa kapten Rian kemudian bernapas lega.
"Jadi Maira itu sekarang bingung, Pak. Dia masih belum bisa menerima apa yang dilakukan Janu dengan Bertha. Tapi dia juga ndak bisa menyalahkan mereka. Janu sama sekali ndak ingat siapa dirinya." Bu Janu menghela napas. "Di satu sisi dia masih mengharapkan Janu kembali, tapi di sisi lain tak tega melihat gadis itu hamil oleh suaminya. Dia bingung harus gimana."
Kapten Rian mengangguk-angguk. "Saya mengerti, Bu. Memang berat apa yang sekarang dihadapi Bu Janu."
"Maksud saya, to, pak ..., Kalau memang ndak bisa nerima Janu lagi, ya, segera putuskan. Sebaliknya kalau masih mengharapkan Janu, ya, harus berjuang terus demi kembalinya ingatan Janu. Segera bawa pulang Janu agar kami bisa merawat dan mendampingi di rumah!" Nada suara bu Kusno terdengar sedikit kesal. "Jangan menggantung seperti ini. Ndak diputus juga ndak diperhatikan! Kasihan Janu."
"Sabar, Bu. Mungkin Bu Janu perlu sedikit waktu lagi," pupus kapten Rian.
Sore itu, setelah pertemuan dengan kapten Rana dan Bu Kusno, kapten Rian mengirim pesan WhatsApp pada Maira.
"Jika ini bukan untukmu, setidaknya pikirkan kepentingan anak-anakmu. Perjuangkan apa yang menjadi hak kalian, hingga benar-benar tak ada lagi yang bisa diperjuangkan!"
***
Sementara itu, terjadi pembicaraan serius antara Bayu dan Karina.
"Jika memang benar Bertha mau jadi biarawati, siapa kira-kira yang akan merawat anaknya ya, mas?"
Bayu mengangkat bahu. "Mungkin akan diadopsi oleh salah satu jemaat pendeta Andreas, atau mungkin juga di panti asuhan."
"Ahh!" mendadak Karina resah. "Besok kita ke tempatnya pendeta itu, Mas. Aku mau ketemu Bertha!"
(bersambung)
// Bagaimana reaksi Maira membaca pesan kapten Rian?
Apa yang akan dilakukan Karina saat bertemu Bertha?
ikuti terus kisah ini.
Hanya perlu sabar menanti.
Doakan author selalu sehat dan punya rejeki waktu yang luang.
Tinggalkan like, komen dan vote sebagai pemacu semangat author unt up
Terima kasih...🙏🙏🙏 //
__ADS_1