
"Gimana, Mal?"
Karina menghampiri Kemala. Psikolog muda itu hanya tersenyum.
"Kasih teh dulu, apa. Katanya mau bikinin teh, ditunggu-tunggu kok, gak datang-datang!" gurau Kemala, sambil tertawa.
"Walaaah ..., iya ya. Kok, malah ndak dibikinin teh to, Rin?" sesal Bu Kusno.
"Bercanda, Buu ...!" Kemala tertawa. Dia menggamit lengan Karina dan mengajak ke ruang tamu.
Pak Kusno dan Bu Kusno mengikuti dari belakang. Wajah mereka penuh rasa ingin tahu.
"Mbak Maira nggak apa-apa. Tenang aja," ucap Kemala saat mereka sudah duduk.
"Alhamdulillah," desis Bu Kusno.
"Memang ada tanda-tanda depresi. Dan kalau itu dibiarkan bisa menjadi parah juga," lanjut Kemala lagi.
"Trus, gimana kira-kira dia sekarang, Mala?" tanya Karina.
"Perlu dukungan dari orang-orang dekatnya."
"Dukungan gimana, nak Mala. Sekarang ini Maira benar-benar susah diajak ngomong. Adanya cuma diam. Diajak begini begitu ndak respon," keluh Bu Kusno. "Sama anaknya saja dia juga kayaknya ndak peduli. Sampai kasihan aku sama Oza."
Kemala tersenyum. "Harus sabar, Bu. Tanda-tanda depresi memang biasanya penderita menarik diri dari lingkungannya. Kita yang harus berusaha terus dekat dengan penderita. Mengajaknya bersosialisasi dan berkegiatan. Jangan pernah biarkan dia sendiri."
Bu Kusno dan suaminya mengangguk-angguk. Selama ini mereka memang sudah mencoba merayu agar Maira mau ngobrol seperti biasa. Mengajak Maira melakukan berbagai aktivitas. Namun semua tak membuahkan hasil. Akhirnya mereka menyerah. Dibiarkan Maira dengan diamnya. Mereka lebih berkonsentrasi untuk mengasuh Oza yang semakin lama semakin kehilangan sosok bundanya.
"Sepertinya keberadaan Karina di sini akan sangat membantu," ucap Kemala sambil menatap sahabatnya. "Komunikasi antara kalian berdua akan lebih nyambung dibandingkan dengan bapak ibu."
Karina tertegun. "Tapi aku nggak bisa lama di sini, Mal. Aku masih harus rutin berobat."
Kemala mengulum bibir sambil mengerutkan kening. "Aku rasa tak akan butuh waktu lama. Ada banyak peluang untuk membawa mbak Maira kembali pada kehidupannya semula. Ada Oza dan kehamilannya yang bisa kita gunakan sebagai pemicu semangatnya."
"Oh, begitu, ya?"
Kemala menatap Karina dalam-dalam. "Kamu pasti bisa menyentuh hatinya yang terdalam. Provokasi dia pelan-pelan supaya kembali semangat. Aku yang akan bantu membuat dia bisa melepaskan kesedihan yang ditahan!"
__ADS_1
Karina mengangguk. Dia yakin sahabatnya itu pasti berhasil membuat kakaknya kembali seperti semula.
***
Seperti saran Kemala, Karina akhirnya tinggal sementara di Jogja. Bayu pulang lebih dulu ke Jakarta. Rencananya dua minggu lagi Karina baru akan dijemput Bayu.
Kemala sendiri sudah datang tiga kali menjumpai Maira. Sejauh ini perkembangan Maira pun sudah mulai tampak. Dia tak lagi mengurung diri di kamar sepanjang hari. Sesekali menuruti kata-kata ibunya maupun Karina, keluar dan bergabung dengan anggota keluarga. Perhatian pada Oza pun juga sudah mulai tampak.
Pagi itu Karina mengajak Maira jalan-jalan.
"Supaya persalinannya nanti mudah, Mbak," kata Karina.
Maira menurut saja. Dia mengekor Karina dan Oza yang berjalan keluar rumah.
"Mulai sekarang Bunda harus rajin jalan-jalan!" Oza berpaling pada Maira. Anak itu lalu menggamit lengan Maira dan menuntunnya. "Nanti Oza yang temani Bunda jalan."
Maira hanya tersenyum sambil mengangguk. Diseimbangkan langkahnya dengan langkah kecil Oza. Sementara Karina berjalan pelan di depan mereka.
"Kita ke sawah, yuk!" ajak Karina.
"Yeey!" Oza bersorak. "Kita ke gubuk di sawahnya Mbah Surip ya, Tante. Di dekat sana ada saluran air. Oza pengen mainan kapal-kapalan!"
Mereka berjalan ke arah sawah di tepi desa. Menyusuri jalanan tanah yang menuju persawahan. Tak licin karena beberapa hari tidak turun hujan. Sejauh mata memandang, tanaman padi yang baru berusia beberapa minggu tampak menghijau subur. Dibingkai indah oleh bentangan-bentangan pematang sawah. Udara pagi yang basah merasuk di saluran pernapasan. Memberi kesegaran pada jiwa-jiwa yang hampa.
Langkah kaki mereka menuju ke gubuk yang berdiri di tepi salah satu sawah. Oza berlari mendahului. Anak itu bergegas menuju saluran irigasi di samping gubuk. Sementara Karina dan Maira langsung menuju gubuk dan duduk di sana.
"Segar ya, Mbak?" Karina menghirup udara dalam-dalam.
"Iya."
"Tante, Bunda, lihat, aku punya kapal!" seru Oza. Anak itu mengangkat tangannya yang memegang kapal mainan dari daun dilipat.
"Wow, keren!" Karina mengangkat jempolnya. "Taruh di air, Za!"
Oza membungkukkan badan, memasukkan kapalnya ke saluran irigasi. Anak itu kemudian meloncat-loncat kegirangan saat kapalnya sukses berlayar di aliran air irigasi yang tak terlalu deras. Dia berlari-lari kecil mengikuti laju kapalnya.
"Hati-hati, Oza!" seru Maira.
__ADS_1
Karina terperanjat. Dalam hati dia bersyukur kakaknya mulai menunjukkan perhatian lebih pada Oza.
"Mbak, melihat Oza, aku jadi ingat pas kita kecil dulu," ucapnya sambil menatap Maira. "Dulu bapak sering mengajak kita ke sawah meski nggak punya sawah. Beliau hanya senang melihat kita bermain-main di sini. Dulu mbak Maira akan mengajakku menangkap serangga yang berwarna emas itu."
"Mas-masan," potong Maira.
"Iya, mas-masan namanya. Kita akan berlomba siapa yang mendapat paling banyak berarti dia yang kaya." Mata Karina menerawang, mengulas peristiwa-peristiwa yang pernah mereka alami di masa lampau. "Bapak hanya akan tertawa kalau aku merajuk karena kalah kaya dengan mbak Maira. Dan Mbak kemudian pasti akan membagi serangga Mbak ke aku sehingga masing-masing kita mempunyai serangga dengan jumlah yang sama banyak."
Mata Maira ikut menerawang ke depan. Senyum tipis terulas di bibirnya.
"Saat itu aku merasa sangat beruntung karena mempunyai kakak seperti mbak. Dan aku berjanji tidak akan pernah berpisah dengan Mbak." Karina memegang tangan Maira. "Itulah kenapa ketika aku sakit dan melihat Mbak, aku merasa harus sembuh. Mbak lah alasan kenapa aku harus terus hidup, selain tentu saja bapak, ibu dan mas Bayu." Ditatapnya mata Maira lekat.
"Karin," bisik Maira parau.
"Jadi, aku harap mbak juga melihat kami, aku, Oza, bapak, ibu, mas Bayu, juga anak di kandunganmu, sebagai alasan bagi mbak untuk terus bertahan hidup!"
Maira tergugu.
"Mbak, bertahanlah! Setidaknya untuk kami." Karina memeluk kakaknya. Dua perempuan itu tenggelam dalam tangis.
***
Keluarga Pak Kusno sangat bersyukur atas perkembangan kondisi psikis Maira yang makin membaik. Terutama Karina. Perempuan itu bisa kembali ke Jakarta dengan hati lega. Tak ada lagi rasa was-was karena Maira hampir sepenuhnya sudah kembali ke kondisi semula.
Mengenai hilangnya Janu, tetap belum ada kabar menggembirakan. Maira tak pernah lagi mengungkitnya. Dia menyibukkan diri dengan mengurus kepindahan sekolah Oza dan mempersiapkan persalinan. Perempuan itu sekarang menurut dengan apa yang dikatakan ibunya. Dia berencana melahirkan di Jogja saja.
"Semoga persalinannya nanti lancar, sehat ibu dan bayinya ya, Mbak," doa Karina saat berpamitan.
"Aamiin. Semoga kamu pun segera sembuh, ya, Rin." Maira mendoakan Karina juga.
Dua hari setelah kembalinya Karina ke Jakarta, Maira merasa perutnya mulas. Dia bangkit dari ranjang dan berjalan keluar kamar sambil meringis kesakitan. Kedua tangannya memegang perut yang membuncit.
"Ibuu ...!"
(bersambung)
// Alhamdulillah, mata author sudah makin membaik. Terima kasih doanya...🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih juga sudah mampir ke novel ini. Jangan lupa like, komen n votenya, yaa ...🙏🙏🙏 //