
Mata pendeta Andreas nyalang menatap sosok lelaki yang tidur di lempeng batu. Sementara Bertha mendekat dan menggoyang-goyangkan tubuh lelaki itu.
"Ugh ... ugh ... ugh!" racau Bertha.
Batu menggeliat, pelan-pelan matanya terbuka. "Ah, kau, Bidadari Hitam," desisnya. "Baru datang kau?" Dia kemudian bangkit dari tidur dengan bertumpu pada tangan. Batu belum sepenuhnya menyadari ada orang lain selain mereka di goa itu.
"K-kamu S-siapa?" Pendeta Andreas terbata-bata bertanya padanya.
Spontan Batu terlonjak kaget. "WAAA ...!" Pandangannya kini beralih pada seorang lelaki paruh baya yang menatapnya dengan sorot mata kebingungan.
Lelaki itu ikut terkejut. Dia melompat selangkah ke belakang. Sementara Batu beringsut mundur hingga punggungnya menyentuh dinding goa. Wajah Batu berubah menegang. Matanya menyiratkan rasa ketakutan.
"Ugh ... Argh ... Ugh ...!" Bertha atau Bidadari Hitam menggerak-gerakkan tangannya. Dia menjelaskan pada Pendeta Andreas dalam bahasa isyarat.
Tampak pendeta Andreas mengangguk-angguk. Setelah Bertha selesai menjelaskan, lelaki paruh baya itu mendekati Batu.
Batu semakin ketakutan. Badannya semakin merapat dengan dinding goa. Kedua tangan menyilang di depan dada dengan telapak tangan mencengkeram bahunya sendiri. Lelaki itu memalingkan muka ke samping.
"Jangan takut. Aku pendeta Andreas, sahabat Bertha juga." Pendeta Andreas tidak menggunakan bahasa Papua karena melihat sosok lelaki itu bukan penduduk asli sana. Dan lagi beberapa saat lalu lelaki itu menyapa Bertha dengan bahasa Indonesia dan tanpa dialek Papua.
Batu kembali beringsut menjauh saat pendeta Andreas ikut duduk di lempeng batu.
"Namamu siapa. Kamu berasal dari mana?"
Batu menunduk. Telapak tangannya kini menutup wajah ketakutan. Tubuhnya semakin meringkuk.
"Aarg ...ah ... uh!" tiba-tiba Bertha berseru. Gadis itu kemudian berlari menuju bagian lain goa itu.
Pendeta Andreas mengernyitkan kening melihat tingkah Bertha. Gadis itu barusan memberi isyarat tangan agar dia sabar menunggu. Sambil menantikan Bertha, pendeta itu mengamati lelaki dekil berambut gimbal dan gondrong yang duduk mengkerut didepannya. Tubuh lelaki itu agak kurus. Tapi terlihat dari susunan tulangnya, dia termasuk lelaki berbadan tegap. Balutan kain di tungkai kakinya mengisyaratkan bahwa lelaki itu terluka.
"Kakimu kenapa?"
Batu tak menjawab. Dia masih gemetar dan menunduk ketakutan.
Pendeta Andreas mengulurkan tangan hendak menyentuh kaki Batu. Tapi lelaki itu segera menepiskan dan kembali beringsut semakin menjauh.
"Aagh ... Ugh!" Bertha datang sambil membawa sebuah bungkusan kain lusuh. Bungkusan itu diberikan pada pendeta Andreas.
__ADS_1
Pendeta itu tersentak kaget saat melihat lipatan kain di dalam bungkusan. Dia mengambil dan membuka lipatannya. Selembar celana dan kaos loreng terbentang di hadapannya.
"De pu baju ini kah?" Pendeta Andreas bertanya pada Bertha sambil menggerakkan tangan, membuat bahasa isyarat.
Bertha mengangguk.
"Ahh!" Pendeta Andreas menepuk dahinya sendiri. Kembali matanya memindai Batu yang masih duduk meringkuk menyembunyikan wajah. "Ko pu teman, tentara, Bertha," desisnya dengan suara bergetar.
***
Goa tempat persembunyian Batu mendadak ramai. Puluhan orang berseragam tentara tampak di sekitar goa. Pendeta Andreas sendiri tampak berbincang dengan salah satu diantaranya.
"Terima kasih atas informasinya, bapa pendeta," ucap lelaki berseragam itu.
"Puji Tuhan, saya sangat bersyukur bahwa ternyata orang yang disembunyikan dan dirawat oleh anak angkat saya ini adalah anggota TNI yang hilang beberapa bulan lalu." Senyum terkembang di bibir pendeta Andreas.
"Sebenarnya kita belum tahu pasti identitas yang bersangkutan karena amnesia yang dialaminya. Tapi saya pribadi yakin, orang ini adalah Serka Janu Satria, anggota Paskhas TNI AU yang hilang itu," kata Komandan pasukan.
"Saya pun berkeyakinan seperti itu." Pendeta Andreas menimpali. "Lalu rencana selanjutnya bagaimana, Komandan?"
Tiba-tiba pendeta Andreas teringat sesuatu. "Aa ... begini, Komandan, kalau diperkenankan, kami akan ikut ke Sentani."
"Oh, tentu saja. Sebab mungkin keterangan bapa pendeta dan gadis itu akan diperlukan nantinya." Komandan pasukan melihat ke arah Batu yang terbaring di tandu. Bertha terus berada di sampingnya sementara petugas kesempatan mengecek kondisi Batu.
"Dan lagi, yang bersangkutan sepertinya masih sulit berpisah dari gadis itu."
Pendeta Andreas membenarkan ucapan komandan. Apalagi ketika dilihatnya lelaki yang ketakutan itu tampak lebih tenang saat Bertha disampingnya dan menggenggam tangannya. Tiba-tiba terselip rasa khawatir di hati pendeta Andreas.
Batu akhirnya dievakuasi dari dalam hutan menuju pos militer terdekat dengan pengawalan ketat. Pendeta Andreas dan Bertha pun turut serta. Batu sendiri benar-benar tidak mau jauh dari Bertha. Lelaki itu masih terlihat bingung dan ketakutan. Pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan identitas Serka Janu Satria, tak satu pun bisa dia jawab. Akan tetapi ketika Batu sudah dibersihkan badannya, dipotong rambut dan diberi pakaian loreng, hampir seratus persen dia mirip dengan foto Janu Satria.
"Sepertinya tanpa tes apa pun kita sudah yakin kalau dia Serka Janu Satria!" seru komandan pasukan ketika melihat penampilan baru Batu.
"Tapi bagaimana pun juga, tes itu harus dilakukan kan, Komandan. Mengingat yang bersangkutan amnesia." Pendeta Andreas menanggapi.
"Tentu saja, bapa pendeta. Itu akan dilakukan setelah tiba di Sentani besok."
"Oiya, ada satu permohonan saya." Pendeta Andreas menghela nafas.
__ADS_1
"Apa itu, bapa?"
'Saya mohon Bertha nantinya juga di tes kehamilan."
"Apa?!" Komandan terlonjak kaget. "Apakah ... apakah ...?"
Pendeta Andreas mengangguk. "Ini hanya kecurigaan saya saja. Sebab saya lihat kondisi fisik Bertha memang mengalami perubahan. Kita perlu meyakinkan dengan tes kehamilan."
Komandan terjajar di tiang pos penjagaan. Tangannya menepuk-nepuk kepala, bingung dan resah.
***
Keesokan harinya Batu dievakuasi ke Sentani. Tentu saja Pendeta Andreas dan Bertha mengikuti. Bertha sangat ketakutan ketika dibawa naik helikopter. Dia duduk meringkuk di atas kursi penumpang. Wajahnya pucat, tubuh gemetaran.
Batu sendiri justru terlihat seperti tak asing dengan kendaraan itu. Dia tampak tenang dan memeluk bahu Bertha. Lelaki itu berusaha meringankan ketakutan Bertha.
Tiba di Sentani, Batu segera dibawa ke rumah sakit. Dia menjalani serangkaian tes, termasuk pengobatan terhadap kakinya yang pernah patah.
Sementara itu, seperti permohonan pendeta Andreas, Bertha dibawa ke poliklinik kebidanan. Di sana gadis itu juga menjalani pemeriksaan. Pendeta Andreas sendiri menunggu di luar dengan rasa cemas.
"Bapa Pendeta!"
Panggilan dokter memecah lamunan pendeta Andreas. Lelaki paruh baya itu tergopoh-gopoh menghampiri dokter spesialis kandungan. "Bagaimana, dokter?"
Dokter perempuan itu menghela napas. "Saudari Bertha memang sedang mengandung. Diperkirakan janinnya berusia enam belas Minggu."
Pendeta Andreas terhenyak. Dia segera berpegangan pada besi pembatas selasar rumah sakit. Matanya berkunang-kunang. Berita itu benar-benar menohok hatinya.
Bertha, anakku, derita apa lagi yang akan kamu lalui?
(bersambung)
// Terima kasih yang masih setia dg cerita ini. Bantu author agar semangat up dengan memberi like, komen dan vote, yaa ...
Sepertinya novel ini tidak akan author kontrakan ke pihak noveltoon. Ini karena author trauma dengan penghasilan novel pertama...😌
Jadi novel ini murni author tulis dan selesaikan demi pembaca setia saja, bukan demi penghasilan. Mohon saling bantu, yaa ...🙏🙏🙏 //
__ADS_1