LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
LELAKI LAIN


__ADS_3

Di ruang perawatan Hanin, Bu Kusno sudah selesai berbenah. Dia tampak duduk di sebelah box Hanin ketika Maira masuk.


"Sudah beres, Mai?"


"Tinggal nunggu obat, Bu."


"Ya, sudah, sekalian saja sekarang kamu ke apotek ngambil obatnya!"


Agak ragu Maira menjawab. "Em, sudah diambilkan kapten Rian," ucapnya pelan.


Bu Kusno mengerutkan kening. "Kok?"


"Iya, tadi kebetulan ketemu dia di depan kasir. Dia menawarkan bantuan untuk ambil obatnya."


Helaan napas berat Bu Kusno membuat Maira sedikit jengah.


"Kok, bisa terus kebetulan begitu, ya?"


Maira tak merespon ucapan ibunya. Dia berjalan menghampiri Hanin yang tertidur pulas.


"Tadi rewel nggak, Bu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Ndak rewel. Dari kamu pergi tadi dia belum bangun-bangun, kok. Mungkin badannya sudah terasa enak, jadi nyenyak tidurnya."


Maira tersenyum. Disentuhnya pipi chubby Hanin.


"Assalamualaikum!" Seseorang masuk ke dalam ruangan. Kapten Rian.


"Waalaikumsalam, Pak." Bu Kusno berdiri menyambut lelaki itu.


Setelah bersalaman dengan Bu Kusno, Kapten Rian mengulurkan plastik berisi obat pada Maira. "Ini obatnya, Bu Janu."


"Maaf, ada yang harus bayar nggak ya, Pak ini?" tanya Maira sambil menerima obat itu.


"Nggak ada. Semuanya gratis pakai BPJS."


"Terima kasih, Pak." Maira menundukkan kepala.


Kapten Rian kemudian beralih pada baby Hanin. "Gimana Hanin, sudah bagus kan, kondisinya?"


"Alhamdulillah sudah, Pak."


"Alhamdulillah. Terus urusan administrasi semua sudah beres?"


"Sudah, Pak. Tinggal pulang saja ini."


Kapten Rian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Siapa yang menjemput?"


Maira dan Bu Kusno saling berpandangan. Enggan rasanya mau menjawab bahwa mereka akan naik taksi online. Karena kemungkinan besar, Kapten Rian akan menawarkan diri untuk mengantar.


"Lhoh, kok, malah bingung ditanyain?" Kapten Rian menyunggingkan senyum melihat Maira dan Bu Kusno saling berpandangan dengan tatap mata kebingungan. "Ya, sudah, saya antar saja!"


"Eh, tidak usah, Pak. Nanti ada kok, yang jemput!" Buru-buru Maira menolak.

__ADS_1


"Sopir taksi, ya?" Senyum berlesung pipi kembali terulas di bibir kapten Rian.


Uugh ..., dia ini paranormal atau gimana? Kok, tahu aja kalau aku mau order taksi online!


"Yuk, ah, mumpung saya juga sudah free ini. Mana barang-barangnya biar saya bawa ke mobil?"


"T-tapi ...!"


Sekeras apa pun Maira menolak, Kapten Rian tetap kukuh ingin mengantar. Bu Kusno juga tak bisa berbuat banyak. Menolak kebaikan itu memang teramat susah. Apalagi jika merasa takut akan membuat kecewa.


Akhirnya mereka pulang dari rumah sakit diantar kapten Rian. Maira memilih duduk di jok belakang, sedangkan Bu Kusno dipersilahkan duduk di sebelah Kapten Rian. Ini karena gurauan perwira itu.


"Ya, masak saya di depan sendiri. Sudah kayak sopir taksi online saja!" ucapnya sambil tertawa, ketika Bu Kusno dan Maira mau duduk di jok belakang.


Tak banyak hal yang dibicarakan sepanjang jalan. Kapten Rian lebih sering mengobrol dengan Bu Kusno dari pada dengan Maira. Lelaki itu selalu ada bahan pembicaraan yang membuat Bu Kusno menjadi tak canggung lagi.


Sesampainya di rumah, setelah menurunkan barang-barang Maira dan membantu membawa masuk, Kapten Rian pamit. Maira yang baru saja selesai menidurkan Hanin di kamar segera keluar, mengantar kapten Rian sampai ke mobil.


"Terima kasih banyak untuk bantuannya hari ini, Pak," ucapnya sambil menunduk sopan.


"Sama-sama, jangan terlalu dipikirkan." Kapten Rian membuka pintu mobil. Tapi kemudian lelaki itu urung naik dan membalikkan badan menghadap Maira. "Oya, kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi aku. Anggap aku sebagai teman lamamu. Aku akan sangat senang jika bisa ikut meringankan bebanmu."


Deg!


Apa-apaan sih, dia? Dan kenapa kata sapaan itu mendadak berubah saat kami sedang berdua? Main 'aku' dan 'kamu' aja!


Tak urung Maira hanya bisa mengangguk saja. Dia tak berani mengangkat wajah ketika sekali lagi kapten Rian berpamitan.


Malam itu Bu Kusno menemui Maira di kamarnya. Anak sulungnya itu sedang duduk di tepi ranjang sambil membaca sebuah buku.


"Sudah, Bu. Kenapa?"


Bu Kusno duduk ikut duduk di sebelah Maira. "Mai, ibu boleh tanya?"


Maira mengernyitkan kening menatap ibunya. "Apa, Bu?"


Setelah menghela napas, Bu Kusno melanjutkan. "Tentang kapten Rian ..., benarkah dia hanya teman SMP mu?"


"Maksud ibu apa?" Kerutan di dahi Maira semakin dalam.


"Ee ..., ibu lihat dia sangat perhatian padamu."


Maira mengalihkan pandangan ke depan. Perempuan itu tercenung sesaat.


"Apa mungkin dia punya rasa sama kamu, Mai?" tanya Bu Kusno hati-hati.


Maira tersentak. Ditatap ibunya dengan sorot mata tajam. "Ibu jangan aneh-aneh!"


Spontan Bu Kusno menutup mulutnya. "M-maaf, Mai. Bukan maksud ibu ...."


"Aku ngantuk, Bu!" potong Maira cepat. Perempuan itu mencoba mengalihkan pembicaraan ibunya.


"Oh, iya, iya. Kalau begitu ibu tak keluar dulu. Tidurlah kalau memang sudah ngantuk!" Merasa tak enak hati Bu Kusno buru-buru bangkit dan beranjak keluar. Sampai di ambang pintu dia membalikkan badan. "Eh, tapi, Mai, kalau kelak kamu jadian sama kapten Rian, ibu sangat setuju, lho!"

__ADS_1


Maira mendengus kesal.


Buru-buru Bu Kusno keluar kamar dan menutup pintunya. Perempuan itu khawatir level tersinggung Maira berubah jadi kemarahan.


Di luar kamar pak Kusno menunggu sambil bersedekap. Wajahnya terlihat tak ramah. Matanya tajam menatap istrinya.


"Harusnya ibu ndak bicara seperti itu pada Maira!" ucapnya dingin.


Bu Kusno menelan ludah. Tidak mengira suaminya menguping pembicaraannya dengan Maira. "Ya, kan, cuma bercanda, Pak," ucapnya sambil berjalan ke arah dapur, berusaha menghindar dari suaminya.


"Bercandamu ndak lucu!" ucap pak Kusno gusar. Dia mengikuti langkah istrinya ke dapur. "Kepastian mengenai Janu belum kita dapatkan. Membicarakan mengenai lelaki lain dengan Maira hanya akan membuat lukanya kembali terbuka!"


Bu Kusno berhenti di ambang pintu dapur. Dia berbalik menghadap suaminya. Wajah perempuan itu menyiratkan rasa putus asa. "Menurut bapak, apa Janu masih bisa ditemukan dengan selamat?" tanyanya lirih.


Pak Kusno menghembuskan napas berat. "Kita tidak bisa mendahului kehendak takdir. Jika Allah menghendaki, seberapa lama pun Janu menghilang, bisa saja dia ditemukan dengan selamat. Ndak bijak rasanya berusaha membuat anakmu memikirkan lelaki lain!"


"Tapi, Pak, ini sudah enam bulan. Janu itu hilangnya di daerah berkonflik. Kalau pun tak ada konflik, hutan di Papua itu berbahaya ...."


"Bu!" hardik Pak Kusno. "Ndak sepantasnya ibu ngomong seperti itu. Lebih baik ibu doakan yang terbaik untuk mantu kita!"


Bu Kusno memalingkan wajah. Perempuan itu berusaha menyembunyikan air mata. Namun sekeras apa pun dia berusaha, isaknya terdengar juga. Buru-buru Bu Kusno berlalu, diiringi tatapan kecewa suaminya.


Sementara di kamar, Maira menelungkupkan wajah di atas bantal. Bahunya tersengal, isaknya lirih terdengar.


***


Di sebuah perkampungan suku pedalaman Papua, seorang misionaris terheran-heran saat gadis suku asli Papua menarik-narik tangannya. Gadis itu bisu. Sesekali tangannya mengusap perut, lalu menunjuk-nunjuk ke arah hutan.


Pendeta Andreas mengerutkan kening. "Ada apa, apa maksudmu, Bertha?" tanyanya pada gadis itu.


Lalu gadis yang bernama Bertha itu memberikan gerakan-gerakan isyarat. Tangannya berayun kesana kemari, lalu berjalan, lalu kembali pada pendeta Andreas.


"Apa, apa yang kamu sembunyikan di dalam hutan, Bertha?"


"Aagh ... Agh ... Ugh ... Agh ...!" racau Bertha sambil kembali menarik tangan pendeta Andreas..


Pendeta berusia paruh baya itu akhirnya mengikuti langkah gadis itu. Dalam hati dia sangat penasaran apa yang akan ditunjukkan Bertha padanya. Gadis bisu yang hidup sebatang kara itu sudah seperti anak baginya. Saat pertama kali pendeta Andreas tiba di perkampungan itu, dia menjumpai bayi Bertha sebagai anak yang hanya dirawat oleh pace-nya. Mace Bertha meninggal saat melahirkan anak itu. Pendeta Andreaslah yang kemudian turut membantu pace Bertha merawat anaknya.


Beberapa tahun lalu ketika pendeta Andreas pulang ke Jawa, Bertha kehilangan pace-nya. Pace Bertha meninggal karena suatu penyakit. Jadilah kemudian saat pendeta Andreas kembali ke Papua, dijumpainya Bertha dalam keadaan sebatang kara.


Langkah mereka berdua bergegas menuju ke arah hutan. Pendeta Andreas agak kewalahan mengikuti langkah Bertha yang lincah dan terlihat sudah sangat menguasai medan. Beberapa kali pendeta itu berhenti untuk sekedar mengambil napas.


Setelah hampir dua jam mereka berjalan, Bertha berhenti di depan belukar. Tangannya kemudian menyibak belukar itu, yang ternyata ada sebuah mulut goa di sebaliknya.


"A-ada apa d-di goa i-ini, Bertha?" tanya pendeta Andreas dengan napas tersengal-sengal.


Bertha tak menjawab. Ditariknya tangan pendeta itu masuk ke dalam goa. Setelah melalui lajur goa yang berliku, sampailah mereka di bagian dalam. Dan betapa terkejutnya pendeta Andreas ketika mendapati ada sesosok tubuh terbaring di atas lempeng batu di sebelah api unggun.


"S-siapa d-dia, Bertha?!"


(bersambung)


// Mohon maaf baru bisa up. Terima kasih untuk kesetiaannya membaca cerita ini. Jangan lupa like, komen dan vote nya.

__ADS_1


Curhat dikit ya. Kemarin saya sempat speechless melihat berita di tv tentang penyerangan kelompok separatis ke sebuah bandara perintis di Papua. Ya Allah, kenapa kejadiannya jadi kayak yang di novel ini?


Alhamdulillah tidak ada korban dari pihak TNI/Polri. Meski sedihnya, dari pihak separatis jatuh satu korban. Kembali satu nyawa melayang yang entah untuk apa. Semoga perdamaian bisa segera terwujud di sana //


__ADS_2