
Maira mengaduk-aduk isi gelas. Jus jambu yang segar sama sekali tak menarik minat. Tak seteguk pun dia meminumnya.
Sekali lagi Maira melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah hampir seperempat jam dia menunggu di kantin rumah sakit, tapi lelaki itu belum juga muncul.
[Maaf, mungkin aku agak lama. Sedang ada rapat. Tidak apa-apa kan, kalau menunggu?] pesan WhatsApp dari kapten Rian beberapa saat lalu.
Maira memang sengaja menghubungi kapten Rian lewat pesan WA. Perasaan yang luluh lantak setelah keluar dari ruang perawatan Janu, membuat perempuan itu merasa perlu melakukan sesuatu. Dia harus tahu, siapa Bertha itu.
"Sudah lama menunggu?"
Suara bariton memecah kejenuhan Maira. Perempuan itu menoleh ke samping. Sosok tinggi tegap dengan senyum lesung pipi, terperangkap oleh matanya. Segera dia berdiri menyambut kapten Rian.
"Belum ada setengah jam, Pak."
Kapten Rian menampakkan muka menyesal. Segera dihampiri meja Maira dan duduk di kursi seberang tempat duduk Maira. Mereka dipisahkan oleh sebuah meja bundar.
"Ah, maaf, aku tadi sedang rapat pas kamu WA aku."
"Tidak, apa-apa, Pak. Saya yang minta maaf sudah mengganggu kegiatan bapak."
Percakapan mereka terhenti saat kapten Rian melambaikan tangan pada pelayan kantin. Perwira muda itu memesan minuman sebagai teman ngobrolnya dengan Maira.
"Oke, jadi ada apa kamu ingin ketemu aku?" tanya Kapten Rian. Terlihat sekali dia berusaha akrab, mengenyahkan sekat, dengan kalimat-kalimat tak formalnya.
"Sebelumnya aku mohon maaf. Aku bertanya ini dalam konteks hubungan kita sebagai teman." Tiba-tiba Maira pun memilih menggunakan kalimat-kalimat tak formal. "Tentang suamiku, apakah kamu tahu bagaimana kronologi sebenarnya saat dia ditemukan?"
Kapten Rian mengangkat alisnya. "Apa yang membuatmu tiba-tiba menanyakan itu?"
Perempuan berjilbab dengan mata sembab itu tercenung. Kilat bening kembali muncul di netranya. Digigitnya bibir bawah dengan rasa gundah.
"Ada sesuatu yang salah?" tanya Kapten Rian, sambil menggeser tangannya di meja. Pelayan kantin sudah datang, menyajikan cofee latte pesanannya. Sesaat mereka tak bercakap hingga pelayan beranjak.
"Suamiku tadi menyebut tentang Bertha," ucap Maira kemudian. Suaranya terdengar bergetar.
"Bertha?"
Maira mengangguk. Lalu diceritakan tentang apa yang diucapkan Janu dan bagaimana sikap agak kasar lelaki itu padanya.
"Dia tidak pernah seperti itu dulu." Sekuat tenaga Maira menahan isak tangisnya. "Dan Bertha ..., siapa dia? Kenapa sepertinya suamiku dekat dengannya?"
Kapten Rian menghela napas. Lelaki itu kepada menyesap coffee latte nya pelan.
"Sejujurnya aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, Serka Janu ditemukan oleh seorang misionaris. Beberapa waktu lalu misionaris itu juga diwawancarai di TV bersama komandan kesatuan. Tentu kamu juga tahu kan, siapa dia?"
"Bapa pendeta Andreas," jawab Maira. "Kami sempat berbincang dengannya. Tapi sayang, aku lupa menanyakan nomor dan alamatnya."
Maira menyandarkan tubuh ke belakang. Sementara tatapannya terpaku pada gelas minumnya. Ujung jari mengetuk-ngetuk tepi meja.
__ADS_1
"Kapten Rian, bisakah kamu menolongku?" Tiba-tiba Maira menegakkan tubuh. Wajahnya menatap lurus pada kapten Rian.
Sejenak lelaki itu tergeragap. Lalu diseruputnya kembali minumannya. "Apa yang bisa aku bantu?"
"Pendeta Andreas, biasakah kamu mencarikan informasi mengenai tempat tinggal pendeta itu. Aku mau bertemu lagi dengannya."
Kapten Rian mengerutkan dahinya. Untuk sesaat dia berpikir. "Mm, baiklah, akan kucoba."
Senyum terkembang di wajah sendu Maira. Binar matanya menyimpan harapan. Satu anggukan kecil diberikan pada Kapten Rian. "Terima kasih sebelumnya. Aku akan selalu mengingat pertolonganmu ini."
Kapten Rian menelan ludah. Wajahnya sedikit menegang. Lalu kembali diseruput coffee latte di depannya.
***
Dua hari setelah pertemuan Maira dan kapten Rian, lelaki itu mengirim pesan WhatsApp.
[Nanti kamu ke rumah sakit nggak?]
[Aku ada info mengenai pendeta Andreas.]
Maira segera membalas pesan itu. [Oke. Aku nanti ke rumah sakit siang.]
[Bersiaplah, mungkin nanti kita akan pergi ke rumah pendeta itu.]
Menjelang jam sebelas siang, Maira pamit dan menitipkan Hanin pada ibunya. ASI untuk Hanin hari ini lebih dari cukup tersimpan di kulkas. Maira tak akan khawatir meninggalkan bayinya agak lama.
"Aku sungguh sangat ingin bertemu Bertha. Dia yang menolongku. Dia bidadari hitamku. Aku bisa bertahan seperti ini karena Bertha."
Untuk kesekian kali Maira robek hatinya. Digigit bibir bawah dan sekuat tenaga dia tahan air mata.
"Mas, namamu Janu, bukan Batu. Kamu tentara yang beberapa bulan lalu ditugaskan ke Papua dan hilang di sana. Aku, Maira, istrimu." Maira kembali menjelaskan. Entah ini sudah keberapa kali dia mengulang informasi itu pada Janu.
"Mengenai Bertha, aku tidak tahu siapa dia. Yang kutahu, kamu ini suamiku, bapak dari anak-anak kita, Oza dan Hanin."
Janu menutup wajahnya. "Tidak!" serunya sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud!" Suara Janu bergetar. "Bertha, aku hanya ingin Bertha!"
Maira mencengkeram tepi bed Janu. Setitik bening air mata jatuh di pipinya. "Mas, aku tak akan mundur selangkah pun untuk mengembalikan kamu pada kami!" desisnya dengan suara bergetar.
Seseorang membuka pintu kamar. Kapten Rian tampak masuk sambil membawa parcel buah. Senyumnya mengembang gamang.
"Selamat siang!" sapanya. Dia mendekat ke bed Janu dan menaruh parcel buah di nakas.
Maira berdiri. "Selamat siang, Pak," jawabnya sambil mengangguk.
Kapten Rian beralih pada Janu. Tangannya yang terulur, sejenak menggantung di udara. Janu tak segera menyambut, hanya menatap kapten Rian dengan pandangan kosong.
"Selamat siang, pak Janu," sapa. Kapten Rian dengan senyum.
__ADS_1
Janu ragu menyambut tangan itu. "Saya Batu," desisnya lirih.
Kapten Rian berpaling pada Maira. Matanya membulat, menampakkan keterkejutan.
Anggukan kepala tak berdaya Maira menjadi jawaban. Kapten Rian kemudian menjadi maklum akan keadaan Janu. Meski sebenarnya dia sudah tahu kalau Janu mengalami amnesia, melihat secara langsung sikap lelaki itu di depan istrinya membuat kapten Rian terkejut juga.
Mereka berdua tak lama di ruangan Janu. Dengan isyarat mimik wajah, Kapten Rian mengajak Maira keluar. Lalu setelah berpamitan pada Janu, yang masih berekspresi kosong, mereka meninggalkan ruang itu.
"Bagaimana, Pak?" tanya Maira begitu sampai di luar kamar.
"Aku sudah mendapat alamatnya. Kalau kamu mau kita bisa kesana sekarang juga. Mumpung aku sedang free."
"Kalau mengenai Bertha, ada info nggak?"
Kapten Rian menggeleng. "Kita bisa tanyakan langsung nanti pada pendeta itu."
"Kalau begitu, kita segera ke sana saja!" Maira jelas terlihat tak sabar.
Lalu mereka berdua bergegas menuju ke tempat parkir. Beberapa saat kemudian mereka melaju meninggalkan rumah sakit, menuju ke selatan.
Tak sampai satu jam mereka sampai di sebuah kampung yang bersih dan asri. Beberapa kali kapten Rian turun dan menanyakan alamat. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah berhalaman luas. Rumah itu terletak di sebelah gereja kecil dengan pohon cemara di depannya.
Kapten Rian dan Maira turun dari mobil. Seorang perempuan berusia lanjut dengan baju kebaya tampak menghampiri mereka. Rambutnya yang beruban sebagian, rapi tergelung di belakang.
"Maaf, bapak, ibu, mau cari siapa, nggih?" tanyanya sopan, sambil menundukkan punggung.
"Selamat siang, ibu. Mohon maaf, apa benar ini rumah pendeta Andreas?"
Perempuan itu menggangguk. "Benar, Pak."
"Alhamdulillah,"desis Maira lirih.
"Bisa kami bertemu dengan beliau, Bu?" pinta kapten Rian sopan.
"Tentu saja, Pak."
Perempuan berkebaya itu kemudian melangkah ke dalam rumah, setelah sebelumnya mempersilahkan kapten Rian dan Maira untuk mengikutinya.
Maira berdebar dadanya. Ada rasa khawatir bergumul dengan rasa penasaran. Efeknya, langkah Maira menjadi sedikit limbung hingga kapten Rian merasa perlu memegangnya sejenak. Lalu lelaki itu mendukung langkah Maira.
Ya Allah, apa yang akan kudengar nanti? Kuatkah aku?
(bersambung)
// Maaf baru sempat up. Terima kasih sudah mampir. Tunjukkan dukunganmu pada novel ini dengan memberi like, komen dan vote.
Terima kasih //
__ADS_1