LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
CINTAKU JAUH DI PAPUA


__ADS_3

Seharian Maira tak bersemangat. Dia hanya rebahan di kamar sambil memainkan telepon genggam. Oza pun demikian. Anak itu hanya mondar mandir dari kamarnya ke kamar Maira. Tak ada keinginan untuk bermain keluar bersama teman-temannya. Sementara teh Lina sudah dari tadi pulang. Pekerjaan rumah sudah beres semua dia kerjakan.


"Bunda, ayah sudah telepon belum?" Oza melongok di pintu kamar.


"Belum, Sayang. Mungkin ayah belum sampai di Jakarta."


Kepala Oza kembali menghilang dari celah pintu yang terbuka.


Dreeet ... Dreeet ... !


Handphone Maira bergetar. Video call dari Janu. Perempuan itu segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Mas."


"Waalaikumsalam, Sayang." Senyum Janu merekah. Lelaki itu berdiri di tengah landasan. Di belakang riuh anggota pasukan lainnya.


"Sudah sampai Halim, Mas?"


"Sudah. Ini kami lagi loading barang." Janu mengalihkan kamera ke deretan pesawat Hercules yang terparkir di landasan. Semuanya ada tiga pesawat. Tampak orang-orang berseragam loreng keluar masuk mengangkut barang-barang.


Maira menelan ludah. Pahit, sepahit hatinya.


"Oza mana, Dik?"


"Di kamarnya. Sebentar aku panggilkan."


Belum sempat Maira beranjak dari tempat tidur, kepala Oza sudah menyembul lagi di balik pintu. "Ayah sudah telepon, Bun?


Maira mengangsurkan handphonenya "Ini, sudah."


"Yeey ...!" Oza melompat kegirangan. Dia segera mengambil handphone di tangan Maira. Lalu sejurus kemudian dia sudah berbincang seru dengan ayahnya. Anak itu sangat antusias ketika Janu menunjukkan pesawat Hercules yang nanti akan dinaiki. Dia bertanya banyak hal hingga Maira tak berkesempatan mengobrol dengan Janu.


"Oza, ayah mau ngomong sama bunda dulu, ya."


"Memangnya ayah berangkat kapan?"


"Sebentar lagi. Makanya ayah mau ganti ngomong sama bunda, keburu masuk pesawat nanti."


Dengan raut wajah tak ikhlas, Oza memberikan handphone pada Maira.


"Maaf ya, Sayang," ujar Maira sambil tersenyum, mencoba meredakan kecewa Oza.


Anak itu mengangguk, lalu beranjak keluar kamar.


"Sayang, sebentar lagi aku naik pesawat." Janu bicara dengan sedikit gelisah. Beberapa kali dia menengok ke belakang, melihat ke teman-temannya yang mulai berbaris di samping pesawat.


"Iya, Mas."


Kamera Janu bergerak-gerak. Lelaki itu sedang sibuk membetulkan letak ransel di punggungnya.


"Sayang, ingat ya, jangan lupa jadwal kontrol kandungan. Jaga kesehatan. Jangan kerja terlalu berat!" Nafas Janu terengah-engah. Rupanya lelaki itu VC sambil berjalan menuju barisan di samping pesawat.


"Iya, Mas. Kamu juga hati-hati, ya!" pesan Maira, entah terdengar atau tidak. Janu sedang sibuk meletakkan ransel setelah masuk barisan. "Kutunggu kepulangan, Mas," lanjut Maira lirih.


"Sayang, aku putuskan dulu, ya. Ini kami mau persiapan masuk pesawat. Sudah, ya, I love you, mmuach!" Janu terburu-buru.


Maira mengangguk pada layar handphone yang tak lagi menampakkan wajah suaminya. Mata perempuan itu kembali berkaca-kaca.

__ADS_1


***


"Gimana, Mai, mas Janu sudah sampai Papua belum?" tanya Bu Kusno, ibunya, malam ini.


Entah sudah keberapa kali Bu Kusno telepon hari ini. Demikian juga Bu Hartini. Mereka berdua sibuk memantau kabar Janu lewat Maira.


"Sudah, Bu. Tapi belum sampai ke lokasi tugas. Baru sampai di Sorong."


"Alhamdulillah. Dia bisa telepon kamu?"


"Hanya wa saja. Katanya mas Janu lagi sibuk, gak sempat telepon."


"Yo, wis, ndak apa-apa. Sik penting selamet sampai sana. Trus, kapan rencananya ke lokasi penugasan?"


"Nggak tahu, Bu. Mungkin besok pagi. Pesawat yang bawa mas Janu kan, masih lanjut lagi ke Sentani. Di sana mereka baru akan turun dan melanjutkan ke lokasi penugasan.


"Mudah-mudahan sehat, selamet ...!"


"Aamiin."


"Kamu sama Oza gimana, Mai. Sehat?"


"Alhamdulillah, sehat, Bu."


"Apa besok ibu tak berangkat kesitu saja, ya?"


"Jangan. Bapak kan, belum dapat cuti. Kalau mau kesini sebaiknya ibu sama bapak berangkat berdua. Bapak jangan ditinggal sendiri di rumah!"


"Heleh, padahal bapakmu itu juga bisa kalau cuma ngurus diri sendiri saja!'


Pagi harinya, ada pesan masuk dari Janu. Mengabarkan bahwa pasukan sudah bergeser ke Sentani lepas subuh waktu Indonesia timur. Maira mencoba membalas pesan itu, namun Janu sudah Offline.


Mungkin sedang dalam penerbangan, batin Maira.


Menjelang siang ada telepon masuk, dari Janu. Maira buru-buru mengangkatnya.


"Halo, Mas!" serunya.


"Assalamualaikum, Sayang."


"Waalaikumsalam." Maira tak bisa menyembunyikan kelegaannya. Menunggu kabar dari Janu beberapa jam terakhir serasa berabad-abad lamanya. Maira sangat rindu suara bariton itu. "Mas, gimana kabarnya? Sehat, kan? Posisi sekarang di mana? Sudah sampai tempat penugasan belum? Ini kok, ada sinyal di situ. Emang ada, ya? Bagus sinyalnya?"


Berhamburan pertanyaan meluncur dari mulut Maira. Janu hanya tertawa, kebingungan mau jawab yang mana.


"Kok malah ketawa, sih?"


"Sayang, yang mana dulu nih, yang harus dijawab?"


"Ih, Mas!" sungut Maira. "Gak bisa VC, ya?"


"Tuh, kan, yang tadi aja belum dijawab sudah nanya yang lain lagi."


"Iya, iyaa ..., Mas ini ada di mana?"


"Masih di Sentani, Dik. Menunggu pengiriman ke lokasi penugasan."


"Jauh, Mas, dari Sentani?"

__ADS_1


"Lumayan, Dik. Di lapangan udara perintis daerah pedalaman. Kami nanti satu regu akan bertugas pengamanan di sana."


"Terus yang lain kemana?"


"Sama, Dik. Di sini kan, banyak banget lapangan udara perintisnya. Nanti setiap regu akan melakukan pengamanan di masing-masing lapangan udara."


"Di tempat mas bertugas nanti ada sinyal nggak ya?".


"Katanya sih, susah, Dik. Tapi nggak usah khawatir, nanti sebulan sekali kami ada pergantian jaga. Kami punya waktu seminggu istirahat di Sentani. Nah, saat itu kita bisa puas telpon-telponan."


"Sebulan sekali?!" pekik Maira. "Lama bangeeet ...!"


"Lama mana dengan waktu menunggumu agar mau jadi istriku, hah?"


"Ih!"


Janu tertawa. "O iya, mana Oza?"


"Masih sekolah, Mas."


"Eh, iya ya, di situ masih pagi."


"Mas sudah makan siang belum?


"Belum. Masih nunggu ransum, nih."


"Makan yang banyak, ya, Mas. Jaga kesehatan."


"Siap, Sayang!" jawab Janu sambil tertawa. "Kandunganmu gimana. Gak ada masalah, kan?"


"Enggak, Mas. Baik-baik saja dia di dalam."


"Takutnya kemarin malam aku nengoknya terlalu kenceng," gurau Janu.


Dada Maira berdebar. Gurauan Janu mengingatkan pada kehangatan cinta yang ditinggalkan suaminya itu, di malam sebelum berangkat tugas. Maira menggigit bibir bawah.


"Jangan ngereesss ...!"


Ups!


Janu seperti tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan istrinya.


"Apaan sih, Mas!" sungut Maira.


Untung hanya ngobrol lewat telepon, sehingga Janu tak melihat pipi Maira yang merah. Tetapi sepertinya lelaki itu bisa menebak, tawanya berderai mendengar gerutuan istrinya.


"Eh, aku apel siang dulu, ya, Dik," kata Janu saat sudah reda tawanya. "Nanti kalau ada kesempatan aku telepon lagi. Jaga diri baik-baik, ya, Sayang. Salam untuk Oza. I love You, mmuach ... mmuach ... mmuach ...!"


Belum sempat Maira menjawab, Janu sudah menutup telepon. Maira menghela nafas.


Sebulan tanpa kabar dari Janu, akan bagaimana nanti rasanya?


Mendadak Maira ciut nyali.


(bersambung)


// terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan rate 5....🙏🙏🙏❤️❤️❤️ //

__ADS_1


__ADS_2