
Hari beranjak siang ketika Maira keluar dari gedung olahraga. Diambilnya telepon genggam dari dalam tas. Sejurus kemudian dia sudah menghubungi Nina.
"Mbak, di mana?"
"Masih di kantor PIA, cek perlengkapan round table. Gimana, ada apa?"
"Aku ke situ, ya."
"Oke, aku tunggu."
Maira bergegas menuju kantor PIA. Siang ini kantor sepi. Para pengurus rupanya sedang melihat latihan tari di gedung olahraga. Hanya ada Nina yang mengecek perlengkapan untuk jamuan di round table nanti.
"Masih sibuk?" tanya Maira melongokkan kepala dari celah pintu.
"Nggak, ini sudah beres, kok. Sini!"
Maira mendekati Nina yang sedang menata gelas kaki.
"Aku bantuin, ya!"
"Udah beres, kok. Duduk sini aja!" Nina menarik kursi di sebelahnya, menyilahkan Maira duduk. "Gimana, sudah selesai masalahnya?"
Maira menghela nafas. "Aku harus bikin kostum satu lagi," ujarnya tak bersemangat.
"Apa? Gila!" pekik Nina. "Mana sempat. Ini kan, sudah mepet waktunya?"
Maira termangu. Ujung jarinya menekan-nekan tepian meja di depannya.
"Lagian kenapa dadakan gitu sih, ngasih tahunya?" Nina gusar.
"Sebenarnya penambahan penari sudah lama, cuma mereka lupa nggak kasih tahu aku."
"Ya, harusnya jangan semena-mena itu lah nyuruh bikin kostum susulan!"
"Masalahnya, Bu Sapto sudah memerintahkan untuk memberitahu aku. Tapi yang diperintah mungkin lupa atau gimana ...."
"Berarti ya, tanggung jawab yang mendapat perintah, itu!"
Maira sebenarnya ingin bercerita tentang sikap Dewi yang menyalahkan dia dalam permasalahan ini. Tapi dia takut itu akan membuat Nina semakin meradang. Temannya itu memang sangat antipati dengan Dewi.
"Heh, orang yang diperintah itu Dewi, ya?" tanya Nina. "Pasti dia. Dia kan, koordinator penari. Iya, kan?"
"Sudahlah, nggak usah cari-cari siapa yang salah siapa yang benar. Yang penting sekarang gimana caranya aku bisa segera dapat bahan yang sama dengan yang kubuat kemarin."
"Nah, kan, bener ... Dewi!" kegusaran Nina semakin bertambah. "Minta dilabrak beneran itu orang!"
"Sudahlah, Mbak. Aku kesini bukan mau mengadu. Maksudku kalau Mbak Nina ada waktu, mau aku ajak hunting kain ke Cigondewah."
Nina menghembuskan nafas keras. "Huh, benar-benar ya, tuh, si Dewi. Merepotkan saja!" Lalu dia berpaling ke Maira. "Ya udah, kapan kita kesana?"
"Kalau bisa sih, sekarang. Tapi aku telepon teh Lina dulu supaya nanti jemput Oza ke sekolah."
"Bisa. Hayuk!"
Maira dan Nina beranjak dari duduk. Lalu mereka berjalan ke arah pintu keluar. Baru saja Maira menarik gagang pintu dan membukanya. Seraut wajah di balik pintu itu membuatnya hampir terlonjak karena kaget.
"Agh!" pekiknya tertahan.
__ADS_1
Pemilik wajah berlesung pipit itu mengangguk sambil tersenyum. "Maaf, mengagetkan."
"Eh, Kapten Rian. Izin, ada apa ya, pak?" Nina menyapa.
"Tadi saya ditelepon Bu Sapto, mengenai kostum tari. Katanya kurang satu, ya?"
"Iya, Pak, ini kami baru mau cari kainnya," jawab Nina.
"Oh, kalau begitu, mungkin ada yang bisa saya bantu. Soalnya Bu Sapto tadi minta tolong ke saya untuk monitor."
Nina dan Maira saling berpandangan. Saat ini mereka memang butuh kendaraan untuk menuju salah satu pusat penjualan kain di Bandung itu. Kesana sendiri naik motor di siang sepanas ini rasanya malas sekali. Tapi untuk bilang kalau mereka minta diantar, rasanya tak sampai hati. Bagaimanapun juga yang berdiri di depan mereka sekarang adalah perwira yang pangkatnya lebih tinggi dari suami mereka.
"Em, sebenarnya ... sebenarnya sekarang ini kami mau ke Cigondewah, Pak. Tapi ...," kata Nina ragu.
"O iya, diantar siapa?"
"Em, berdua saja, Pak, naik motor." Ada nada sedikit merajuk dalam kalimat Nina.
"Waduh, kalau begitu saya carikan kendaraan untuk ngantar ibu-ibu, ya!"
Nina mengangguk penuh semangat. "Siap, Pak!"
Kapten Rian kemudian berlalu dari hadapan mereka. Nina dan Maira menunggu di kursi taman depan kantor PIA. Tak berapa lama sebuah mobil dinas mendekat dan berhenti di depan mereka. Kaca mobil terbuka, tampak wajah kapten Rian tersenyum cerah. "Ayo!" serunya.
Nina dan Maira terperangah. Mereka tak mengira jika yang menyopir kapten Rian sendiri. Ragu mereka mendekati mobil.
"Ijin, Pak, kenapa bapak yang nyetir?" tanya Nina keheranan.
"Om-om mudi nya ternyata sedang on duty semua."
"Wah, kalau begitu kami jalan sendiri saja, Pak." Nina merasa tak enak.
Maira menggamit lengan Nina. Dalam hati dia benar-benar merasa tak enak. Sangat tidak etis ketika seorang perwira menyopiri istri prajurit.
"Cepat, keburu makin siang ini!"
Nina dan Maira saling pandang. Lalu Nina memberi isyarat anggukan kepala pada Maira. Sejurus kemudian dia membuka pintu mobil dan mereka masuk ke dalamnya.
"Mohon ijin, Pak, mohon maaf sekali kalau kami merepotkan," ucap Nina penuh sesal.
"Nggak apa-apa, Bu, santai saja. Anggap saya sekarang bukan perwira, biar kalian merasa lebih nyaman." Senyum berlesung pipit itu kembali tampak, saat Kapten Rian menoleh sejenak pada mereka di jok belakang.
Mobil mereka melaju keluar dari kawasan Lanud. Menembus jalanan Bandung yang padat oleh kendaraan. Kapten Rian menyalakan tape mobilnya. Lagu Sheila on 7 mengalun pelan.
"Mbak Maira bawa contoh kostumnya nggak?" tanya Nina.
Set!
Tiba-tiba kapten Rian menginjak rem mobilnya.
"Ada apa, Pak?" Nina kaget. Demikian juga dengan Maira.
"Ah, nggak apa-apa. Ada kucing lewat."
Nina dan Maira saling pandang dengan tatap mata kebingungan. Mana ada tiba-tiba kucing lewat di jalan seramai ini?
Mereka kemudian kembali berbincang tentang kain yang akan mereka cari. Kapten Rian sesekali mencuri pandang dari kaca spion tengah mobil. Dia menatap Maira yang duduk di sebelah Nina. Matanya mencoba mengenali perempuan itu. Berkali-kali keningnya berkerut, mengulas memori di kepala.
__ADS_1
Setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga. Sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh. Hanya saja kepadatan lalu lintas dan kemacetan di beberapa tempat membuat perjalanan mereka menjadi agak lama.
Belanja kain tak semudah yang dibayangkan. Terutama karena harus mencari yang sama persis dengan kostum yang sebelumnya dibuat. Maira dan Nina harus keluar masuk toko untuk mencari. Kapten Rian memilih menunggu di mobil.
Satu jam kemudian mereka sudah kembali ke mobil.
"Sudah dapat kainnya?" tanya Kapten Rian.
"Sudah, Pak."
"Syukurlah. Kalau begitu, kita makan siang dulu, yuk!"
Nina dan Maira kembali terperanjat. Mereka tak mengira kapten Rian akan bersikap sedemikian akrab.
"Maaf, Pak, terima kasih. Tapi sebaiknya tidak usah!" kali ini Maira yang menjawab.
Kapten Rian menatap Maira lekat, membuat perempuan itu jengah. Maira menunduk. Tangannya resah mempermainkan tali tasnya.
"Ijin, Pak, mungkin sebaiknya langsung pulang saja. Takut kesorean. Kasihan bapak juga, sudah menghabiskan waktu lama untuk mengantar kami." Nina ikut menimpali.
"Em, oke kalau begitu. Tapi jangan salahkan saya kalau kalian nanti kelaparan, ya!" gurau kapten Rian sambil kembali masuk ke mobil.
Beberapa saat kemudian mobil mereka meluncur menuju arah Lanud.
"Bu Janu ini asli mana?" Tiba-tiba kapten Rian bertanya.
"Saya, pak? Saya asli Jogja."
Kapten Rian kembali menatap Maira dari spion tengah. Dahinya kembali berkerut.
"Dulu SMP nya di mana, ya?"
Saat Maira menyebutkan nama SMP Negeri tempat dia belajar, Kapten Rian menekan rem mobilnya mendadak. Dan sekarang mobil itu benar-benar berhenti. Beruntung tak ada mobil di belakangnya.
"Pak!" Hampir berbarengan Nina dan Maira menjerit.
Pelan-pelan kapten Rian menepikan mobilnya. Lalu mereka berhenti di pinggir jalan. Kapten Rian menoleh ke belakang.
"Angkatan 2001 kah?" tanyanya.
Maira mengangguk. Wajahnya masih menampakkan sisa kekagetan oleh ulah kapten Rian.
"Ah, apakah ini Maira teman sekelasku dulu?"
Maira membulatkan mata. Mulutnya ternganga. Pandangannya lekat menatap kapten Rian.
"Riantama, aku Riantama alias Tama."
Maira tersentak. Spontan dia menutup mulutnya. Nina tak kalah kagetnya. Dia menatap Maira dan kapten Rian bergantian.
"Tama," desis Maira pelan.
(bersambung)
//Makasih sudah mampir yaa...
mohon maaf jika komennya belum dibalas...🙏
__ADS_1
Please, jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote.
Terima kasih ... terima kasih ... terima kasih ... 🙏🙏🙏🙏 //