LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
BENCI AKU, JANGAN BAYI ITU!


__ADS_3

Maira memeras ujung celana kulotnya yang basah. Lalu diketuk-ketuk sepatunya, mencoba meniriskan sisa air hujan di sana. Dia tidak mau air tetesannya membasahi lantai rumah sakit. Setelah dirasa cukup, setengah berlari dia masuk ke lobi.


Langkah kaki Maira mengarah ke ruang perawatan anak. Berkali-kali hampir saja terpeleset karena sepatunya yang basah membuat jejak kaki di lantai menjadi licin. Tepat di ruang perawatan dilihatnya Janu terduduk di lantai dengan kepala menunduk dalam.


"Mas!"


Lelaki itu mengangkat wajah. Demi melihat Maira, dia segera bangkit. "Alhamdulillah!" serunya.


Janu menghampirinya Maira. Tangannya terulur memegang bahu istrinya yang basah. "Kamu kehujanan, Dik?"


Maira mengangguk. "Aku ganti naik ojek biar cepat sampai, Mas."


"Masya Allah." Janu menghela napas. Lelaki itu lalu menarik tangan Maira, masuk ke ruangan.


"Suster, apa ada persediaan baju pasien? Ini ibunya Lian sudah datang tetapi basah kehujanan."


"Oh, siap, ada, Pak. Sebaiknya memang segera ganti agar nggak masuk angin. Jika kondisi badan ibunya nggak fit, nggak baik juga kalau menyusui bayinya."


Perawat itu kemudian mengajak Maira masuk ke dalam salah satu kamar di ruangan itu. Setelah berganti dengan piyama pasien, dia keluar kamar. Tapi baru saja membuka pintu, dilihatnya Janu berdiri di depan kamar sambil membawa botol minyak kayu putih di tangan.


"Pakai ini dulu, Dik, biar hangat!" Lalu lelaki itu menuntun Maira kembali masuk.


"Buka dulu piyamanya!"


Maira menurut. Dia membuka beberapa kancing bagian atas, dan menurunkan piyama hingga ke pinggang.


Setelah meneteskan minyak di telapak tangan, Janu meratakannya di punggung Maira dengan gerakan cepat. Tidak seperti biasanya saat dia memijit Maira dengan penuh kelembutan, kali ini dia melakukan seperti dikejar sesuatu.


"Anak-anak sama siapa?" tanya Janu.


"Aku minta tolong Nina buat nemenin mereka, Mas."


Janu menghela napas. Diselesaikan mengusap punggung Maira dengan minyak kayu putih.


"Cepat pakai kembali piyamanya dan segera susui Lian!"


Maira menuruti perintah Janu. Perempuan itu bergegas mengancingkan piyama dan setengah berlari mengikuti langkah Janu keluar.

__ADS_1


Di kamar perawatannya, bayi Lian merengek lemah di dalam boks. Sementara teh Lina mencoba membujuknya dengan mengelus-elus kepala bayi itu. Bergetar hati Maira melihatnya. Apalagi saat matanya tertumbuk pada raut wajah si bayi yang tampak pucat. Rasa bersalah itu kian menyesakkan dada. Buru-buru diangkatnya Lian dari dalam boks dan mulai menyusuinya.


"Maafkan bunda, Sayang," desisnya.


Anak itu memang terlahir dari rahim wanita yang pernah berhubungan badan dengan suaminya. Tetapi dia tidak pernah bisa memilih akan ada di dunia ini dengan cara seperti apa. Tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi ibu bapaknya. Lalu salah apa dia sehingga harus terkesampingkan.


Rasa kasihan menyeruak di antara rasa muak. Keduanya bertarung di dalam hati yang sudah lama terluka. Membuatnya kembali sakit dan berdarah. Air mata perempuan itu menetes jatuh di pipi Lian.


Beberapa waktu kemudian Lian sudah kembali tertidur. Maira meletakkan kembali bayi itu di dalam boks.


"Teh Lina, teteh pulang saja dulu. Minta tolong malam ini nginap di rumah, nemenin anak-anak!" perintah Janu.


"Mas, malam ini aku pulang saja. Kasihan anak-anak di rumah," sahut Maira.


"Dik," Janu mendengkus. Diusapnya kepala dengan kasar. "Kamu harusnya berada di sini dulu sampai kondisi Lian membaik!"


"Tapi anak-anak di rumah gimana, Mas?" Maira mulai sedikit meradang.


"Anak-anak nggak apa-apa. Ada Nina dan teh Lina yang akan menemani mereka. Lagian Hanin sekarang juga sudah bisa diberi susu formula. Atau kalau nggak, masih banyak persediaan asi di kulkas."


Maira tertegun.


"Anak-anak juga butuh aku, Mas!'


"Skala prioritas, Sayang. Ini menyangkut kondisi kesehatan Lian!"


"Hanin dan Oza itu anak kandungku, Mas!" Suara Maira meninggi.


Janu dan teh Lina terperanjat mendengar ucapan Maira. Untuk sesaat Janu tak bisa berkata-kata.


Sementara Maira membuang muka, menghindari bertatap mata dengan suaminya. Tangannya terkepal, sementara cairang bening mulai menggantung di mata.


"Dik, kamu sadar nggak ngomong seperti itu?" hardik Janu.


Lelaki itu mendekati Maira. Tangannya terulur hendak menyentuh wajah istrinya. Tetapi Maira menepiskannya. Lalu dia berlari keluar kamar.


Malam itu Maira memang tidak jadi pulang. Dia menemani Lian bersama Janu. Namun sepanjang malam perempuan itu lebih memilih mengunci mulut, tak mau bicara dengan suaminya.

__ADS_1


"Dik, kamu ini kenapa?" tanya Janu, mencoba membujuk Maira untuk kesekian kalinya.


Maira tetap membisu.


"Ayolah, Dik, sekarang bukan waktunya untuk ngambek seperti ini!"


Perempuan itu membuang muka, lebih memilih menatap tembok daripada suaminya.


"Dik, coba kamu lihat Lian. Apa kamu nggak kasihan melihatnya seperti itu?"


Maira mendengkus. "Apa Mas juga nggak kasihan melihat penderitaanku dan anak-anak selama ini?" tanyanya sinis.


"Astaghfirullah, Dik!"


Mereka kemudian sama-sama terdiam. Perasaan yang berbeda berkecamuk di dada masing-masing. Sebagai perempuan Maira sangat sulit mengesampingkan perasaan. Rasa marah, kecewa, enggan pergi dari hatinya. Sementara Janu lebih logis dalam berpikir. Bagaimanapun juga, anak itu sekarang tanggung jawab mereka. Meski diakui rasa bersalah dan penyesalan itu tak pernah bisa hilang.


Janu kemudian beranjak ke kamar mandi mengambil air wudhu. Lelaki itu menenangkan diri di atas hamparan sajadah. Sebuah doa terselip, memohon agar dia dan istrinya diberi keikhlasan dan kesabaran lebih. Air matanya mengalir saat bersujud memohon ampun atas semua kesalahan yang pernah dia perbuat.


"Dik, kamu belum tidur?" tanya Janu sambil menggulung sajadah. Dia menatap istrinya yang rebah di sofa bed.


Maira tak menjawab. Hanya gerakannya memiringkan badan ke arah dinding mengisyaratkan bahwa perempuan itu memang belum tidur.


Janu kemudian ikut duduk di atas sofa bed. "Jika ini hanya menyiksa perasaanmu saja, seharusnya dulu kita tidak membawa bayi itu. Sekarang sudah bukan waktunya untuk merengek, hadapi semua konsekwensi dari apa yang telah kita putuskan dulu!"


Perempuan itu bangkit. Dia menatap Janu tajam, dengan mata sembabnya. "Harusnya dulu tidak kamu lakukan itu, Mas!" ucapnya dingin. "Harusnya kami sekarang bahagia bersamamu tanpa dihantui bayang-bayang masa lalumu ini!"


"Dik, kamu ini bicara apa?" Kesabaran Janu menipis. "Ingat, siapa yang bersikeras ingin ikut menanggung apa yang telah kulakukan? Aku nggak pernah memaksamu, Dik. Dari awal aku sudah bilang, apa pun keputusanmu akan selalu kudukung. Sekarang setelah bayi ini ada di tangan kita, kamu seenaknya sendiri mengedepankan perasaanmu tanpa memikirkan bayi itu!"


Perempuan di depannya menunduk. Bahu tersengal-sengal menahan tangisan. Maira menjawab berangnya Janu dengan air mata.


"Aku memang salah dan mungkin tak termaafkan. Tetapi nggak begini caranya, Dik! Biar aku saja yang menanggung. Benci aku sepuas hatimu, tapi jangan bayi itu!"


Lian terusik dengan suara berisik mereka. Bayi itu bangun dan merengek. Maira tak bergerak. Dia masih menunduk menutup wajah. Akhirnya Janu yang bangkit menuju boks bayi, mencoba menenangkan Lian.


"Tolong susui dia, Dik!" hibanya setelah beberapa saat berlalu Lian belum mau diam. "Kalau pun harus kubayar air susumu dengan kebencianmu padaku, tidak apa-apa. Bencilah aku sepuas hatimu, tapi susui dia!"


Maira mengusap air mata. Perempuan itu kemudian bangkit dari duduk. Enggan dia melangkah mendekati Janu dan Lian. Tanpa berkata-kata, dia susui Lian. Matanya menerawang ke depan, alih-alih menatap bayi itu.

__ADS_1


Ya Allah, aku tidak mengira semua ini akan terasa begitu berat ....


__ADS_2