
Tiga hari lagi pemberangkatan pasukan. Janu semakin sibuk menyiapkan segala perlengkapan. Maira tak kalah sibuk. Dibantu teh Lina, asisten rumah tangganya, dia menyiapkan berbagai macam lauk kering yang akan dibekalkan pada Janu.
Sementara itu Bu Kusno - ibu Maira - juga Bu Hartini - mertuanya - berkali-kali menelepon, memastikan apakah Maira perlu ditemani atau tidak. Sebenarnya Janu menginginkan ibunya atau ibu mertuanya datang menemani Maira, tapi istrinya menolak.
"Aku nggak apa-apa, Mas. Tenang saja. Kalau pun nantinya ibu atau pun eyang Hartini mau main kesini ya, gak apa-apa. Tapi sekedar main saja, melepas kangen dengan kami. Kalau sampai harus menemani, jangan lah. Kasihan mereka."
Pada akhirnya Janu menyarankan agar ibu dan mertuanya datang ke Bandung kalau senggang saja. Saat ini Bu Hartini sedang disibukkan dengan urusan panen di sawah-sawahnya. Dia harus mengawasi para pekerja. Sedangkan Bu Kusno tentu saja mengurusi pak Kusno yang belum mendapat cuti kerja.
Dua hari lagi ... satu hari lagi ... dan waktu berjalan seperti ulat gembul mengunyah daun. Tanpa disadari tiba-tiba telah habis geripis. Kesempatan bersama di tahun ini tinggal semalam. Besok pagi Janu sudah harus berangkat ke lanud Halim, menuju tanah Papua.
Di ruang tengah mereka berkumpul. Janu duduk di antara Maira dan Oza. Istrinya menyandarkan kepala di bahu Janu. Sedangkan anaknya merebahkan badan di perut Janu.
"Selama ayah pergi, kalian harus jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan!" pesan Janu. Dielusnya rambut Oza, sementara bibirnya mencium kepala Maira.
"Oza, jaga baik-baik bunda dan dedek, ya!" lanjutnya dengan suara sedikit serak. "Nurut sama bunda, yang rajin ngajinya!"
"Iya, Ayah," jawab Oza. Isaknya mulai muncul.
"Bunda Maira juga, jangan lupa rutin kontrol, minum vitamin. Jangan kerja yang berat-berat!"
Maira hanya mengangguk kelu.
"Di sana nanti ayah bisa telepon kita nggak?" Oza mendongakkan wajahnya menatap Janu.
"Mudah-mudahan saja bisa. Tapi ayah nggak janji. Soalnya di sana kan, kami akan sering berada di daerah terpencil."
Oza menarik nafas dalam, menelan kecewa.
"Tapi akan ayah usahakan untuk selalu mengirim kabar pada kalian. Ayah janji!" Janu memeluk Oza dan Maira erat. Lelaki gagah itu sekuat tenaga menahan air matanya agar tak jatuh.
Ketika Oza sudah tidur, Janu dan Maira pun masuk kamar. Malam ini Janu berniat meninggalkan kenangan tanda cinta sebelum berangkat. Dengan lembut disentuhnya Maira. Tangannya menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya tanpa tertinggal seinci pun. Bibirnya mencium mata, hidung, pipi dan bibir Maira. Dibisikkan kata cinta dan janji untuk kelak akan kembali.
Malam ini, Janu memasuki Maira dengan penuh perasaan. Lembut, hangat dan membuatnya menjadi kenangan yang tak terlupakan.
***
Pagi datang, semua sudah rapi. Janu sudah memakai seragam loreng lengkap dengan baret jingganya. Maira anggun memakai seragam PIA warna biru muda. Oza pun tak kalah rapi dengan rambut ikal berkilat oleh krim rambut punya ayahnya.
"Sayang, kalau nanti pulangnya kamu nyetir sendiri, bisa?" tanya Janu.
"Bisa, Mas. Kan, biasanya juga bawa, kalau jemput sekolah Oza pas hujan."
__ADS_1
Setelah menjadi istri Janu, Maira memang belajar menyetir. Jika suatu saat butuh dan aku sedang tugas, kamu nggak akan repot-repot minta bantuan orang lain kalau bisa nyetir sendiri, begitu kata Janu.
Masih sangat pagi ketika mereka sampai di kantor. Namun begitu suasana sudah cukup ramai. Sebagian besar para istri, anak-anak dan keluarga dari satu kompi pasukan itu, ikut melepas keberangkatan orang yang dicintai ke tempat tugas.
Janu membawa Maira dan Oza ke dalam tenda yang didirikan di lapangan upacara. Dia menyuruh Maira untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Sementara dia sendiri kemudian bercanda dengan Oza. Pada detik-detik terakhir, Janu tak mau melihat anaknya merasa sedih karena akan berpisah dengannya.
"Ayah, setahun itu berapa lama?" tanya Oza.
"Setahun itu dua belas bulan, sayang."
"Itu lama?"
"Enggaaak ..., hanya sampai Oza kelas dua nanti."
"Lama!" sungut Oza.
Janu tertawa, lalu memeluk Oza yang berada di pangkuannya.
"Ini nanti untuk menembak orang ya, Yah?" Oza mengelus-elus popor SS 2 yang tersandang di bahu Janu.
"Menembak musuh, Za."
"Musuhnya orang juga, kan?"
"Kasihan."
Janu tersenyum, dielusnya rambut Oza. "Kalau di medan perang, tentara itu pilihannya cuma dua, menembak atau ditembak."
"Memangnya ayah mau berperang?"
Duh!
"Di sana mungkin ayah akan ketemu dengan para penjahat yang mengganggu negara kita. Mereka bawa senjata. Nah, senjata ayah ini untuk membela diri."
Mata Oza yang bulat menatap Janu. "Tapi ayah nggak akan mati, kan?"
Janu tertegun. Pertanyaan polos Oza menohok hatinya. Anak itu pernah kehilangan sosok ayah. Jangan sampai kejadian pilu itu terulang lagi padanya.
"Insyaallah ayah nggak akan mati di sana, Za."
"Ayah janji? Ayah janji akan pulang ke Oza dan bunda?" tanya Oza sambil mengacungkan jari kelingking.
__ADS_1
"Ayah janji!" Janu menautkan kelingkingnya ke kelingking Oza. Lalu mereka saling berpelukan.
Maira diam-diam menyusut air mata, mendengar obrolan Janu dan Oza.
Apel pelepasan personel dilaksanakan beberapa saat kemudian. Keluarga menyaksikan dari kursi-kursi di bawah tenda. Tak sampai setengah jam, apel usai. Para tentara itu kembali mendekat pada keluarganya untuk mengucap salam perpisahan.
Maira berdiri, menuntun Oza keluar dari tenda. Disambutnya Janu yang menghampiri mereka.
"Dik ...." Suara Janu tercekat di tenggorokan. Alih-alih melanjutkan, dia malah mengangkat Oza dalam gendongan. Kemudian tangan yang satu merengkuh tubuh Maira. Diciuminya Oza dan Maira berganti-ganti.
Air mata Maira tumpah di seragam loreng Janu. Perempuan itu menenggelamkan wajah di dada Janu. Sedangkan Oza melingkarkan tangan di leher ayahnya. Kepalanya rebah di bahu Janu. Anak itu tersengal-sengal oleh isak tangis yang mulai keluar.
"Sttt ..., Calon prajurit Garuda nggak boleh nangis!" bisik Janu di telinga Oza.
"Mas, di sana hati-hati, ya. Kirim kabar setiap ada kesempatan!"
"Siap, Sayang." Janu kembali mencium puncak kepala Maira.
Pengumuman agar pasukan segera bersiap terdengar. Debar di dada Maira semakin kencang terasa. Dipeluknya tubuh Janu erat, seakan takut kehilangan. Demikian juga Janu, semakin erat merengkuh bahu Maira dan memeluk Oza dalam gendongan. Setiap detik sangat berarti, setiap detik adalah ungkapan kasih sebagai bekal perjalanan nanti.
"Sudah ya, sayang, aku berangkat," lirih Janu berucap. Dilepaskan tangannya dari bahu Maira, kemudian diturunkan Oza dari gendongan.
Mata Maira menatap nanar pada Janu. Bibirnya bergetar seperti hendak mengucap sesuatu, namun tak mampu. Sementara Oza masih sibuk dengan isak tangisnya.
Janu mencium kening Maira, lalu menunduk, mencium perut istrinya itu. Kemudian Janu berjongkok di depan Oza. Matanya tajam menatap anaknya. Senyum terulas di bibirnya.
"Heh, calon prajurit Garuda, hapus air matamu!" Tegas Janu berkata. "Tugasmu sekarang adalah menjaga bunda dan calon adikmu. Mengerti?!"
Oza mengelap ingus dan air matanya. Bahunya masih tersengal-sengal. "M-menger-ti, A-ayah," jawab Oza di sela isaknya.
"Jawab yang tegas!"
Oza menarik nafas dalam. "Mengerti, Ayah!" jawabnya dengan suara lebih keras dan tegas.
"Bagus!" Janu memeluk Oza dan mencium kedua pipi anaknya. Sebelum air matanya luruh, lelaki itu segera bangkit dan menyalami Maira. "Aku berangkat, Dik," ucapnya lirih.
"H-hati- hati, Mas ...." Hanya itu yang bisa diucapkan Maira. Lalu ibu dan anak itu menatap punggung Janu yang berlalu dari hadapan mereka.
Air mata Maira kembali tumpah. Oza kembali terisak.
Pulanglah kembali seperti janjimu, Mas!
__ADS_1
(bersambung)
// terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan rate 5....🙏🙏🙏❤️❤️❤️ //