
Keputusan mulia hanya akan menjadi sampah berserak saat kita gagal konsisten menjalaninya.
Sementara Lian dirawat di rumah sakit, Karina dan Bayu berkunjung ke Bandung. Niatnya ingin menengok Lian, sekaligus membantu menjaga anak-anak di rumah. Sampai di Bandung mereka langsung menuju rumah sakit.
"Gimana kondisinya, Mbak?" Wajah tirus Karina menyiratkan kekhawatiran.
"Sudah mulai membaik, Rin," Janu yang menjawab.
"Alhamdulillah." Dia menghampiriku boks Lian. Tangan Karina terulur mengelus kepala Lian. Bayi itu tertidur nyenyak setelah beberapa waktu lalu sudah bisa menyusu dengan normal.
"Mbak Maira kok, pucat?" Karina mengalihkan pandangan pada kakaknya. "Mbak capek, ya?"
Maira hanya menggeleng. Pandangan matanya masih belum beralih dari tembok di salah satu sisi kamar.
"Mbak sebaiknya istirahat dulu, mumpung Liannya juga tidur. Nggak usah pedulikan keberadaan kami. Kalau lapar atau haus, aku bisa ngambil sendiri, kok!" Karina mengerling nakal ke arah nakas yang penuh buah-buahan dan kue. "Lagian, yang sakit bayi kok, persediaan makanannya segitu banyak. Emang Lian bisa ngunyah apel?"
Maira tak semangat menanggapi gurauan adiknya.
"Hush, itu punya ibunya, lah!" hardik Bayu. "Ya, kan, Mbak? Biar ASI-nya tambah lancar."
Janu tertawa tertahan melihat mereka. Pasangan itu memang lebih mirip adik kakak saja keakrabannya. Sedangkan Maira tetap bergeming.
Tiba-tiba perempuan itu berdiri. "Aku mau ke mushola dulu."
Tatap mata heran Karina dan Bayu mengiring kepergian Maira. Sejak tadi sikap Maira memang tidak seperti biasa. Menyambut kedatangan mereka tidak terlalu antusias. Senyum minim terlihat. Wajah tampak murung tak bersemangat.
"Kenapa sih, mbak Maira, Mas?" tanya Karina pada Janu.
Lelaki itu membuang napas. Lalu dia berdiri dari sofa dan berjalan ke dekat jendela. Pandang matanya jauh keluar.
"Sakit atau gimana? Apa karena capek?"
"Rin, menurutmu, apa keputusan kami mengambil Lian ini tidak tepat?"
Karina mengernyitkan kening. Dia berpandang-pandangan dengan suaminya. "Maksud Mas Janu?"
"Maira terlihat aneh akhir-akhir ini," keluh Janu. "Dia seperti membeda-bedakan antara anak-anak kami dan Lian. Bahkan sebelum Lian sakit, Dia enggan menyusui bayi ini. Padahal kemarin-kemarin nggak begitu."
"Masak sih, Mas? Kulihat, dulu mbak Maira yang paling bersemangat ingin merawat Lian."
Janu menghela napas, berat. "Entahlah."
"Mungkin ada faktor pemicunya, Bang?" timpal Bayu.
Janu melipat satu tangan di bawah dada, sementara tangan yang lain mengusap-usap dagu. Kening lelaki itu berkerut. "Apa, ya?" desisnya.
__ADS_1
"Ya, sudah, Mas, jangan terlalu dipikirkan. Nanti aku coba ngomong sama mbak Maira. Yang penting sekarang kondisi Lian pulih dulu."
"Eh, kamu mau lama di Bandung, Rin?" tanya Janu.
Karina mengangguk.
"Iya, Bang. Untuk sementara Karina kutinggal di Bandung, biar bantu-bantu nemenin anak-anak," sahut Bayu.
"Tapi kondisi kesehatannya gimana?"
"Tenang aja, Mas, kemarin habis kontrol terakhir Alhamdulillah semakin membaik. Jika kondisinya bisa dipertahankan, mungkin mulai bulan depan kami bisa program hamil."
"Alhamdulillah."
Karina dan Bayu tak lama berada di rumah sakit. Setelah Maira kembali dari mushola, mereka pamitan untuk pergi ke rumah dinas Janu.
"Ada teh Lina di sana, Rin. Mungkin nanti sore mbak Nina juga datang nemenin," kata Maira.
"Kalau ada mbak Nina, teh Lina aku suruh pulang aja ya, Mbak?"
"Terserah kamu. Yang penting anak-anak aman dan nyaman."
Karina mengacungkan jempol sebelum berlalu.
Malam harinya di rumah dinas Janu, tampak Karina, Bayu, Nina dan Untung--suami Nina--duduk di ruang tamu. Mereka sedang membicarakan hal yang tampaknya cukup serius.
Nina menggeleng. Dahinya berkerut. "Em, tapi, memang ada sesuatu yang mungkin membuat mbak Maira merasa tak nyaman berkaitan dengan Lian."
"Apa itu, Mbak?" Karina tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
Bayu ikut menatap Nina dengan sorot mata ingin tahu.
"Ee ... tapi ... sebelumnya maaf ...." Nina menggantung kalimatnya. Perempuan itu terlihat sedikit resah. Wajahnya menunduk dengan tangan meremas-remas ujung blouse. Lalu dia mengalihkan pandangan pada suaminya, seakan minta persetujuan.
Serka Untung terlihat mengangguk pelan.
Nina melanjutkan bicaranya. "Jadi, mengenai Lian, sebenarnya ... sebenarnya orang-orang di sini sudah tahu kalau itu ... kalau itu anak om Janu dan perempuan asli Papua."
"Hah?" Mulut Karina ternganga, matanya membulat.
Demikian juga Bayu. Lelaki itu membelalakkan mata nyaris tak percaya. "Tapi, bukankah ada perintah untuk merahasiakan peristiwa itu, Bang?" tanya Bayu pada Untung.
"Ya, begitulah manusia. Kadang ada yang terlalu kurang kerjaan sehingga membicarakannya hal tak perlu, bahkan yang harusnya rahasia," jawab Untung seraya menggedikkan bahu.
"Maksud Abang, ada anggota yang membocorkan ini?"
__ADS_1
"Mungkin, ini mungkin, lho, Om, ada anggota yang kebetulan waktu itu ikut bertugas kesana dan tahu kejadiannya. Lalu dia bercerita dengan orang lain di sini, akhirnya menyebar." Nina ikut menimpali.
"Berarti ibu-ibu di sini juga udah tahu, Mbak?" tanya Karina.
Nina mengangguk. "Begitulah, dan sepertinya hal tersebut yang bikin Mbak Maira nggak nyaman. Tahu sendiri kan, gimana kalau ibu-ibu ghibah. Kadang yang gak ada akhlak justru gak ghibah lagi, tapi langsung menyerang mbak Maira dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tak perlu. kelihatannya sok perhatian, sok prihatin, padahal justru itu membuat hati mbak Maira semakin sedih."
Karina mendengkus kesal. Dia bisa merasakan pedih yang harus ditanggung kakaknya. "Gitu amat sih, mereka!"
"Ya, biasa kan, Dik, hidup di komplek. Ada yang baik, ada pula yang julid. Mungkin hati mbak Maira saat ini belum sepenuhnya kuat. Diterpa kejulidan seperti itu lama-lama ambrol juga!" Nina mulai ikut terbawa emosi.
Bayu beralih pada Untung. "Bang, apa nggak ada solusi, misalnya lewat komandan?"
"Maksudmu?"
"Mungkin dengan bantuan komandan, cerita-cerita mengenai keluarga bang Janu ini bisa diredam."
Untung mengerutkan dahi. "Maksudnya minta bantuan komandan untuk warning anak buahnya, gitu?"
"Kurang lebih seperti itu, Bang."
"Tapi apa Janu nanti nggak akan tersinggung? Secara masalahnya akan diangkat ke permukaan oleh komandan."
"Lhah, dari pada didiamkan, pura-pura nggak ada apa-apa, tapi ternyata mereka banyak ngomongin di belakang?"
"Iya, sih," timpal Nina. "Lagian hampir semua anggota di sini sudah tahu, lho."
"Tapi, terus terang aku nggak berani sebelum ngomong dulu ke Janu. Nggak enak, lah! Coba bayangkan jika tiba-tiba komandan membahas masalah Janu di depan anggota tanpa Janu tahu sebelumnya, apa nggak akan shock dia? Apalagi ada riwayat dia stress berat gara-gara masalah itu!"
Bayu menghela napas, Karina mengangguk-angguk, sementara Nina menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
"Iya juga, ya?" ujar Nina. "Terus, gimana, dong?"
"Aku tak ngomong dulu ke Janu, kira-kira gimana pendapat dia."
Keempat orang itu kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Serba dilema. Mengabaikan masalah ini begitu saja, seperti menyimpan bom waktu. Rasa tak nyaman Maira sewaktu-waktu bisa meledak menjadi kebencian. Maka yang akan menjadi korban adalah Lian. Pasti juga akan berbuntut pada stabilitas keluarganya. Tetapi, untuk ikut campur rasanya juga terlalu lancang. Butuh langkah taktis yang sesuai etika dan bisa menjaga perasaan masing-masing pihak.
"Eh, Yah, gimana kalau ayah mengajak om Janu dan mbak Maira menghadap ke komandan dulu!" tiba-tiba Nina mengajukan usul.
Semuanya berpaling pada Nina. Untung menautkan kedua alisnya. Lelaki itu menangkap usulan istrinya. Hanya saja dia masih benar-benar khawatir dengan perasaan Janu.
"Nanti biar komandan yang memberi pengertian langsung pada mereka!"
"Hahaha, itu namanya politik lepas tangan, Sayang!" Untung terbahak.
Nina cemberut. "Habisnya, dari pada kamu yang kasih pengertian!" Perempuan itu mendengkus. "Bisa-bisa om Janu dan mbak Maira tersinggung dan salah paham!"
__ADS_1
"Kayaknya mbak Nina bener, deh!" timpal Karina. "Mending seperti usulan Mbak Nina aja!"
Malam itu akhirnya disepakati bahwa Untung secepatnya akan mengajak Janu menghadap komandan.