
...Aku adalah sebongkah batu karang. Meski ombak menghantam tanpa jeda, aku akan tetap bertahan tanpa jera....
...(Maira)...
Selama dua hari di rumah Bu Kusno, kondisi ingatan Janu belum ada kemajuan yang berarti. Namun lelaki itu sudah tak kaku lagi menghadapi semua anggota keluarga. Dia sudah bisa bercanda dengan Oza dan Hanin. Bahkan mulai tak sungkan mengobrol dengan mertuanya meski dengan kalimat-kalimat terbatas. Namun anehnya, dengan Maira justru Janu terlihat sedikit jengah. Dia belum mau tidur sekamar dengan istrinya itu.
Pagi ini Maira menyuguhkan teh dan singkong rebus pada ayahnya dan Janu. Mereka duduk di teras depan. Pak Kusno tampak bersiap berangkat kerja, sementara Janu seperti biasa duduk-duduk saja di sana. Teras depan adalah tempat favorit lelaki itu semenjak pulang ke rumah pak Kusno.
"Sebaiknya nanti kamu ajak nak Janu nginep di rumah mertuamu, Mai!" usul Pak Kusno.
Maira menatap Janu. Lelaki itu masih seperti beberapa saat yang lalu, menatap kosong ke depan.
"Mumpung Oza besok juga libur," lanjut Pak Kusno.
"Iya, Pak. Insyaallah nanti aku ajak kesana. Sekalian mau mampir ziarah juga ke makam mas Galang."
"Oh iya, bagus itu. Siapa tahu Janu ingat sesuatu di sana nanti."
Maira mengambil cangkir teh dan memberikan pada suaminya. "Mas, ini diminum dulu tehnya!"
Janu terhenyak. Lelaki itu agak gugup menerima cangkir dari tangan Maira. Dengan gerakan cepat dia meminum teh yang masih panas. Akibatnya dia tersentak karena lidahnya terasa terbakar.
"Hati-hati, Mas, masih panas!" Maira segera mengambil cangkir itu. Dia lalu mengelap sisa-sisa air yang terciprat di sekitar mulut dan dada Janu.
"Bapak berangkat dulu, ya!" pamit pak Kusno sambil berdiri. "Mana ibumu?"
"Oh, di dalam, Pak. Sebentar, ya!" Maira bangkit dan berjalan masuk ke rumah.
Sementara itu Janu masih tertegun. Ditatapnya punggung perempuan yang sesaat lalu mengelap bibir Janu dengan tangan lembutnya.
Apakah dia memang istriku? Kemana semua ingatanku tentang perempuan itu?
Ah, tapi Bertha ....
Janu mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Menjelang siang Maira mulai berkemas. Dia memasukkan beberapa potong baju ganti mereka ke dalam tas. Rencananya siang ini setelah Oza pulang dari sekolah, mereka akan berangkat ke rumah Bu Hartini. Beberapa waktu lalu dia sudah menghubungi mertuanya itu dan berkata akan menginap di sana. Tentu saja Bu Hartini gembira mendengarnya.
Siang menjelang sore mereka berangkat. Maira menyetir mobil, sementara Janu duduk di sebelahnya sambil memangku Hanin. Oza duduk di jok tengah. Dari mulai berangkat tadi anak itu belum bisa diam. Ada saja hal yang diomongkan. Berisik khas anak-anak, renyah terdengar.
Sesekali Maira tersenyum mendengar ocehan Oza. Janu pun demikian. Kadangkala dia terpaksa menyembunyikan senyum di belakang kepala Hanin yang dipangkunya.
"Oza, nggak capek apa, ngomong terus dari tadi?" tegur Maira.
"Bunda ini gimana, sih. Aku cerita banyak ini supaya ayah bisa cepet ingat!" Anak itu memajukan tubuh di antara jok pengemudi dan penumpang di sebelahnya. Lalu dia menoleh pada Janu. "Iya kan, Yah?"
__ADS_1
Sekali lagi Janu hanya tersenyum simpul.
Maira membelokkan mobil ke area pemakaman. Sebelum Oza bertanya, Maira sudah menjelaskan. "Kita mampir nengok ayah Galang dulu ya, Za!"
"Siap, Boss!" sahut Oza bersemangat. Lalu hingga Maira selesai memarkir mobil, mengalirlah cerita Oza mengenai Galang pada Janu.
"Sudah, sudah, ayo turun dulu!" pungkas Maira pada ocehan Oza.
Mereka berempat turun dari mobil. Janu masih menggendong Hanin. Namun kemudian Maira segera mengambil alih.
"Mas, kita ziarah ke makam mas Galang, ya."
Janu mengangguk. Cerita mengenai Galang, adiknya yang juga suami pertama Maira, sudah sering dia dengar. Namun tetap saja hingga detik ini dia belum bisa mengingat.
Oza menggamit lengan Janu. Mereka berdua mengekor langkah Maira, masuk ke area pemakaman.
Di depan nisan Galang, Maira duduk. Hanin tampak tenang di pangkuannya. Sementara Janu dan Oza mengikuti, duduk di samping kanan kiri Maira.
Setelah mendoakan almarhum Galang, Oza mulai membersihkan makam ayahnya. Dicabuti rumput-rumput liar di sekitar nisan.
"Ayah, ayah Janu sudah ketemu," ucap anak itu. "Tapi ayah Janu nggak ingat sama Oza, bunda dan adek Hanin."
Maira dan Janu memperhatikan ucapan Oza. Janu kemudian juga ikut mencabuti rumput, seperti Oza.
Janu mengangguk kikuk.
Maira melepaskan napas berat. "Oza, kalau sudah selesai kita balik ke mobil, ya!' ucapnya. "Kasihan Hanin mulai kepanasan."
"Iya, Bunda, sedikit lagi."
Beberapa saat kemudian mereka menyelesaikan ziarah kuburnya. Berempat kembali ke mobil dan duduk di tempat masing-masing.
"Apa Galang dulu dekat denganku?" tiba-tiba Janu bertanya.
Maira yang duduk di belakang setir tertegun. Dia kemudian menoleh pada Janu. "Setahuku dulu mas Janu jarang pulang. Paling kami ketemu mas Janu setahun sekali pas lebaran. Jarang juga berkomunikasi lewat telepon. Jadi, aku kurang begitu tahu apakah kalian dekat atau tidak."
Sebenarnya Maira ingin mengulik kembali kisah Janu yang menyembunyikan rasa cinta padanya meski dia sudah menikah dengan Galang. Namun keberadaan anak-anak membuatnya harus menahan kata-kata.
Janu hanya menganggukkan kepala dengan tatapan tetap lurus ke depan. Tangannya memeluk erat baby Hanin dalam pangkuan.
Setelah menghela napas, Maira mulai menginjak gas. Mobil kembali melaju membelah jalanan desa, menuju rumah Bu Hartini.
Tiba di depan rumah joglo berhalangan luas itu, Janu termangu. Tiba-tiba dia merasa tak asing dengan tempat itu. Dia kemudian turun sambil menggendong Hanin.
Maira buru-buru menyusul turun. Dia memutari mobil, menuju ke tempat Janu. Diambil alih Hanin dari gendongan Janu.
__ADS_1
"Mas ingat sesuatu?" tanya Maira melihat pandangan mata Janu tak lepas dari rumah joglo di depan mereka.
Janu tak menjawab. Tatap matanya masih lekat pada bangunan tua namun tetap bersahaja itu.
Sementara Oza sudah berlari masuk sambil berteriak-teriak memanggil eyangnya. Tak berapa lama, perempuan tua berkaca mata itu keluar. Senyum sumringah menyambut anak dan keluarganya. Sementara Oza tampak mengekor di belakang.
"Januuu ..., Masyaallah, sehat kamu, Lee ...!" Bu Hartini langsung menghambur ke arah Janu. Dipeluknya lelaki itu.
Janu kikuk mengangkat tangannya, membalas pelukan Bu Hartini. Hanya sesaat. Kemudian dia kembali melepaskan tangan dari punggung Bu Hartini.
"Aku ibumu ya, Leee ...," ratap Bu Hartini. Nada putus asa samar ada dalam suaranya.
Maira mengelus lengan Bu Hartini. Seakan dia hendak mengatakan agar ibu mertuanya itu bersabar.
Mereka kemudian masuk rumah. Bu Hartini sekarang mengambil alih Hanin dari gendongan Maira. Kesedihan yang sesaat lalu hadir karena melihat kenyataan anak lelaki tak bisa mengingatnya, kini terobati oleh gelak tawa Hanin.
"Kalian makan dulu. Ibu sudah masak urap kesukaanmu, Mai. Juga sop ikan kesukaan Janu. Ada ayam goreng tepung juga untuk Oza."
Maira menoleh pada Janu. "Mas mau makan sekarang?"
Lelaki itu menggeleng tanpa bersuara.
"Nanti sore sekalian?"
Janu mengangguk.
"Kalau Oza?" Maira beralih pada anaknya yang sibuk bercanda dengan Hanin dan Bu Hartini. "Oza!" ulang Maira.
"Iya, Bun?" Oza menoleh.
"Mau makan sekarang apa nanti?"
"Nanti aja, bareng ayah."
Secuil kebahagiaan teronggok manis di antara luka. Melihat canda tawa anak-anak dan eyangnya membuat Maira tersenyum. Apalagi saat diam-diam dia perhatikan Janu. Lelaki itu juga tampak mengulas senyum di bibirnya. Keriuhan Oza, Hanin dan Bu Hartini membuat Janu terlihat bahagia.
Semoga semua cobaan ini segera berlalu, Mas ....
(bersambung)
// Terima kasih sudah mampir dan baca novelku.
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote yaaa....
Semoga pembaca semua selalu sehat dan bahagia //
__ADS_1