LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
BIDADARI HITAM


__ADS_3

Di dalam sebuah goa, tampak seorang lelaki terbaring lemah di atas lempengan batu. Tubuhnya telanjang dada, hanya memakai semacam rumbai di bagian bawah badan dan diselimuti kain usang. Mata terpejam erat, napas turun naik perlahan. Di sebelahnya menyala api unggun sebagai penghangat badan sekaligus menjerang periuk tanah di atasnya.


Srek srek srek ....


Terdengar langkah kaki masuk ke dalam goa. Tak lama muncul sesosok perempuan berambut keriting tebal. Rok rumbainya tampak berayun saat dia berjalan.


Dia mendekati lelaki itu. Tangannya terulur memegang dahi si lelaki. Sesaat kemudian tampak seulas senyum di bibirnya yang tebal. Lalu dia beralih menuju ke api unggun. Diaduknya isi periuk tanah yang ada di atas api.


"Aargh ...." Lelaki itu merintih.


Setelah menyendok isi Periuk ke dalam mangkok kecil dari tanah liat, perempuan muda itu segera beranjak mendekat. Dia duduk di atas lempeng batu, di sebelah lelaki itu.


Tampak si lelaki bergerak-gerak. Matanya mengerjap dan mulai terbuka. Salah satu ujung bibirnya ditarik ke atas, wajahnya menegang. Terlihat dia sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Aargh," rintihnya sekali lagi.


Ketika mata lelaki itu terbuka sepenuhnya, tampak di hadapannya wajah seorang gadis berkulit gelap. Gadis itu tersenyum ramah padanya, tanpa suara.


"D-dimana a-aku?" terbata-bata lelaki itu bertanya.


Si gadis tak menjawab. Dia justru membantu lelaki itu untuk bangun. Kemudian tangannya menahan punggung lelaki itu, sedang tangan yang lain menyodorkan mangkuk berisi cairan berwarna hijau pekat.


"Aa ... Aam ... Ugh ... Em!" Suara-suara aneh keluar dari mulut si gadis. Dia mendekatkan mangkok ke mulut lelaki itu.


Untuk sesaat lelaki itu mencoba menghindar. Namun ketika dilihatnya ada seulas senyum ramah di bibir gadis berkulit gelap itu, si lelaki tak lagi ragu untuk meminum apa yang diberikan padanya.


Lelaki itu mengerutkan kening dan mengerucutkan bibir seusai meminum ramuan yang entah apa itu. Si gadis terkekeh melihat ekspresi wajah lelaki itu. Kemudian dia kembali membantu si lelaki untuk merebahkan badan di atas lempeng batu.


"Ugh ... Ah ...ugh ugh!" ucapnya sambil membuat isyarat gerakan menyuruh tidur.


"A-aku di mana? A-aku kenapa?" Bola mata lelaki itu berputar. Dia memindai isi goa yang terjangkau pandangan. Lalu berakhir pada sosok gadis di depannya.


"K-kamu s-siapa?" tanyanya lirih.


Si gadis tak menjawab. Hanya sebaris gigi rapi berwarna kontras dengan kulit gelapnya yang dia tampakkan.


Lelaki itu mengangkat tangan. Diraba wajah gadis di depannya. Tiba-tiba dia merasa ingin menangis. Lalu bulir bening menetes dari netranya.


"A-aku s-siapa?" tanyanya, lirih dan parau.


***

__ADS_1


Waktu berjalan. Jarum jam bergerak seiring perputaran bumi pada porosnya. Siang berganti malam secara normal.


Lelaki di dalam goa itu mulai membaik keadaannya. Luka-luka di sekujur badannya sudah mulai mengering. Juga luka tembak di paha sudah semakin membaik. Dia sudah bisa duduk dan berbaring sendiri.


Semua tak lepas dari ketelatenan gadis berkulit legam itu. Setiap hari, gadis itu datang pada waktu pagi. Dia akan membawakan makanan dan juga ramuan obat untuk lelaki itu. Lalu seharian dia akan melayani dan menunggui lelaki itu di dalam goa. Memberi obat, menyuapi, mengelap badannya dan berbincang, meski dengan bahasa isyarat. Ya, gadis itu memang tidak bisa bicara.


Menjelang sore, dia akan berpamitan. Setelah menyalakan api unggun, dia akan meninggalkan lelaki itu. Demikian berulang terus setiap harinya.


Hari ini si lelaki sudah mulai bisa berjalan. Dia memakai tongkat kayu yang dibuatkan oleh gadis itu. Dibantu si gadis, lelaki itu tertatih berjalan keluar goa.


"Ugh ... E ...um ...agh!" ucap si gadis, sambil memberi isyarat agar lelaki itu duduk di atas batu di depan mulut goa.


Si lelaki pelan-pelan meletakkan pantatnya. Dia masih meringis kesakitan saat kakinya tertekuk. Buru-buru si gadis berjongkok di depannya dan memijat lembut lututnya yang kaku.


"Ahh ...," lelaki itu menghembuskan nafas panjang. "Terima kasih," ucapnya.


Si gadis menengadah. Kembali sebaris gigi rapinya diperlihatkan. Cahaya matahari menyinari kulitnya yang legam, membuatnya berkilat seperti mutiara hitam. Matanya berbinar indah, memberi aura bahagia bagi siapa saja yang menatapnya.


Lelaki itu menghela nafas. "Siapa namamu?" tanyanya.


Si gadis mengangkat kedua alis. Senyum simpul kini menghiasi bibir. Lalu dia mulai membuka mulut. "Bb-ra ... Am ..am!" ucapnya.


Senyum kecut terulas di bibir si lelaki. Percuma dia menanyakan nama. Gadis penolongnya itu tak bisa bicara. Dan mungkin tak mengerti juga perkataannya.


"Aaa ...?" Si gadis membulatkan mulut. Ekspresi wajahnya seakan menyiratkan bahwa dia tahu apa yang dikatakan lelaki itu.


"Iya, 'Bidadari Hitam'. Kamu cocok mempunyai nama itu." Si lelaki tersenyum. Tangannya terulur menyentuh rambut Bidadari Hitam. Dielusnya rambut keriting tebal itu, turun hingga ke pipi dan dagunya. "Terima kasih Bidadari Hitam. Meski aku tak tahu kenapa aku di sini, siapa aku, apa yang terjadi denganku, tapi aku bahagia ada kamu di sisiku."


Bidadari Hitam memegang tangan lelaki itu, mengambil dan menciumnya.


"Um ... Argh ...um!" racaunya.


Si lelaki tertawa. "Aku nggak ngerti apa yang kamu omongkan. Tapi, bisakah kamu beri nama padaku?"


Bidadari Hitam mengerutkan kening. Bibirnya mengerucut beberapa centi.


Si lelaki mengangkat tangan dan menunjuk ke dadanya. "Na-ma ...nama ... Na-ma-ku!" ejanya berkali-kali.


Bidadari hitam mengangguk-angguk. Lalu diedarkan pandangan ke sekeliling, hingga akhirnya jatuh pada batu yang diduduki si lelaki. Seketika matanya berbinar.


"Aaaa ...!" pekiknya gembira, sambil menunjuk-nunjuk ke arah batu.

__ADS_1


Si lelaki berganti mengerutkan kening. Dilihatnya batu yang ditunjuk-tunjuk bidadari hitam. "Batu?"


Bidadari Hitam berdiri, mengangguk dan meloncat-loncat sambil meracau berisik.


Si lelaki masih berkerut keningnya. "Batu? Kau beri nama 'Batu' padaku?"


Bidadari Hitam tak menjawab. Dia masih sibuk berjingkrak-jingrak.


"Em, baiklah. Tak buruk juga," ucap si lelaki sambil mengangguk-angguk. "Batu, mulai sekarang namaku Batu. Ya, Batu!"


Bidadari Hitam terkekeh menatap si lelaki yang sekarang bernama Batu. Ditariknya lelaki itu dan diajaknya menari bersama di tengah hutan belantara Papua.


Bidadari Hitam dan Batu tampak gembira dalam kenaifannya.


***


Hari ini Maira dan bayinya sudah boleh pulang. Semua menyambut dengan gembira. Termasuk Bu Hartini dan keluarga Wulan yang baru saja datang dari Solo. Kehadiran bayi mungil itu membuat duka yang beberapa waktu terakhir menyergap mereka, sesaat terlupa.


"Cantik sekali dia, Mai," ucap Bu Hartini saat memangku cucunya itu.


"Persis kayak ibunya," imbuh Wulan, sambil menatap tak berkedip bayi dalam gendongan ibunya.


"Masak sih, Mbak?" Maira tersipu.


Wulan mengangguk. "Hem. Tuh, lihat bulu matanya lentik, hidungnya mbangir dan bibirnya mungil. Persis plek ketiplek dirimu, Dik!"


"Karang yo, anake to, Wul!"Bu Hartini ikut nimbrung.


"Sini gantian aku yang gendong, Bu!" pinta Wulan.


"Mengko sik, to yo. Nanti dulu!" Bu Hartini tambah mempererat pelukannya pada si bayi. "Makanya, kamu itu cepet-cepet bikin adik buat Farel!"


Wulan urung meminta bayi itu. Bibirnya berubah cemberut. Napasnya mendengus kesal. Tingkah itu membuat Maira, Bu Hartini dan Bu Kusno terpaksa harus tertawa.


Setelah puas meluapkan kegembiraan, Bu Hartini kembali menatap bayi dalam gendongannya itu lekat-lekat. Tiba-tiba cairan bening keluar dari netra, membasahi keriput pipinya.


"Semoga ayahmu segera ketemu ya, Nduk ...," bisiknya parau.


// Alhamdulillah masih bisa up lagi.


Terima kasih udah mampir, ya ...

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen n vote nya..🙏🙏😂 //


__ADS_2