LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
AKU SIAPA? AKU KENAPA?


__ADS_3

Hujan masih mengguyur hutan pedalaman Papua. Di dalam goa, Batu tersentak bangun. Nafasnya memburu, keringat mengalir di pelipisnya. Beberapa saat kemudian dia menoleh ke samping. Dilihatnya sesosok tubuh perempuan setengah telanjang tertidur pulas di sana. Batu terpekik, meloncat dari atas lempeng batu tempat tidurnya.


"Tidak ... tidak ... tidak!" Berkali-kali Batu menggelengkan kepala. Matanya nanar menatap sosok itu. Kedua tangan mencengkeram rambut gimbal dan panjang di kepalanya.


Perempuan itu terlalu pulas. Tak didengarnya kegaduhan yang ditimbulkan Batu. Matanya masih erat terpejam.


Batu berjalan mundur ke belakang, menuju mulut goa. Nyalang matanya masih menatap sosok yang terbaring di atas lempeng batu. Tiba-tiba lelaki itu disergap rasa yang aneh. Rasa menyesal bercampur rasa bersalah. Rasa sedih berbaur rasa putus asa. Kebingungan dan kemarahan bergumul dalam hatinya.


Dia membalikkan badan dan berlari keluar dari goa. Tidak dipedulikan curah hujan yang deras mengguyur tubuhnya. Batu terus berlari dan berlari, hingga sebuah pohon besar menghadang langkahnya.


"TIDAAAAK ...!!!" pekiknya, membelah kesunyian hutan.


Bug bug bug!


Kepalan tangan Batu menghajar batang pohon itu. Buku-buku tangannya berdarah setelah beberapa kali beradu dengan kerasnya kulit pohon. Batu tak peduli. Diabaikannya rasa perih. Dia lebih sibuk dengan perasaannya yang tak menentu.


Setelah beberapa waktu, tangan Batu mulai melemah. Dia tak sanggup lagi memukulkannya. Tubuhnya terkulai memeluk pohon. Air mata yang membaur dengan air hujan terasa hangat di pipinya.


"Aku ini siapa? Aku ini apa? Aku ini apa? Aku ini apa?" rintihnya berulang-ulang.


Sungguh sangat menyiksa. Rasa kosong di kepalanya terlalu hampa dan menyakitkan. Setiap langkahnya adalah sesuatu yang gamang. Dia tak tahu kenapa dan apa alasan atas semua yang dia perbuat. Dan semua itu mengerucut menjadi rasa putus asa yang dalam.


"AAAARRRGH ...!!!" pekiknya lagi dengan suara serak. Batu menutup wajah dengan lengan. Dia mulai terisak.


Sebuah tangan dingin menyentuh pundaknya. Batu menoleh. Dilihatnya gadis itu menatap dengan mata bening. Wajah polosnya tampak datar. Mulutnya sedikit ternganga.


Bidadari Hitam lalu menggamit lengannya. Dituntun Batu berjalan kembali ke arah goa. Tanpa suara dia terus berjalan menembus hujan. Batu mengekor di belakang.


Tiba di dalam goa, Batu terduduk di depan api unggun. Bidadari hitam menyelimuti dengan kain usang, lalu menyodorkan semangkuk minuman hangat tanpa suara. Batu pun meneguknya, tanpa melihat ke arah gadis di sampingnya. Tatap mata Batu nanar memindai api yang berkobar. Hanya suara gemeretak kayu terbakar yang terdengar.


Tiba-tiba Batu melempar mangkuk dan berpaling pada Bidadari Hitam. Tangannya terulur, mencengkeram bahu gadis itu. Matanya berkilat beringas.


"HAH!" Suara gertaknya menggelegar. Rahangnya mengeras. "Siapa ... Siapa aku?!" pekiknya. "Kenapa aku di sini?" Mata Batu tajam mengupas nyali gadis di depannya.


"Kamu ... kamu siapa? Kenapa kamu ada di sini? KENAPA?!"


Bibir Bidadari Hitam bergetar, namun tak ada suara yang keluar. Hanya aliran bening jatuh dari matanya. Gadis itu menangis tanpa suara.


"HAH!" Batu menghempaskan tubuh Bidadari Hitam hingga jatuh ke tanah. Lalu dia beranjak menuju lempeng batu dan duduk menekuk lutut di sana. Disembunyikan wajah diantara kedua lututnya.


Bidadari Hitam bangkit. Diusapnya air mata. Lalu tanpa suara dia berjalan keluar goa setelah mengaitkan tas nokennya di kepala.

__ADS_1


***


Maira melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di dalam kabut. Perempuan itu menajamkan penglihatan, tapi tetap tak mampu menembus kepekatan kabut di depannya.


"Mas Janu?" sapanya ragu.


Sosok itu bergeming.


Maira mulai melangkahkan kakinya. "Mas?" panggilnya sekali lagi. Tangannya terayun berusaha menepiskan kabut.


"Mas Janu, benarkah itu mas Janu?" teriaknya lagi sambil terus melangkah mendekati sosok itu.


Beberapa langkah lagi dia akan sampai ke sosok itu. Dan ketika tangannya terulur hendak menyentuh, tiba-tiba sosok itu bergerak menjauh.


"Mas, tunggu, Mas!" seru Maira. Dia mengejar langkah sosok yang semakin menjauh itu.


"Mas Januuu ..., tungguuu ...!!!" pekiknya.


Maira berlari sekencang-kencangnya mengejar sosok itu. Tak dipedulikan betapa pekat kabut menghalangi pandangan. Hingga tiba-tiba saja kakinya terperosok dalam sebuah lubang yang dalam.


"Aaaargh ...!!!"


Maira tersentak bangun. Napasnya memburu.


"Ya, Allah, mimpiku buruk sekali," desisnya.


Dipalingkan wajah ke samping kanan. Oza tampak tertidur lelap. Maira membetulkan letak selimutnya. Dicium anak lelaki pertamanya itu dengan penuh kasih sayang.


Maira terusik oleh rengekan baby Hanin. Perempuan itu berbalik ke kiri. Dia bersiap mengangkat Hanin untuk memberi ASI. Tapi betapa terkejutnya Maira ketika tangannya merasakan badan bayi itu panas.


"Hanin, sayang, kamu kenapa?" ucapnya panik. Segera diangkatnya Hanin dalam gendongan. Bayi itu mulai menangis. Awalnya pelan, lama kelamaan menjadi keras dan tak bisa didiamkan. Dia menolak ketika Maira berusaha memberi ASI. Tangisnya justru semakin kencang.


Pintu kamar diketuk dari luar. Bu Kusno masuk dengan wajah setengah mengantuk.


"Kenapa Hanin, Mai?" tanyanya sambil menghampiri anak dan cucunya.


"Nggak tahu, Bu. Tiba-tiba badan Hanin panas," jawab Maira penuh kekhawatiran.


Bu Kusno segera mengambil alih Janin dari gendongan Maira.


"Walah, kok, panas begini ya, Mai?"

__ADS_1


"Iya, Bu, gimana, ya?" Suara Maira bergetar.


"Kita bawa ke rumah sakit saja, Mai!" Pak Kusno yang sudah berdiri di ambang pintu mengusulkan. Kekhawatiran tersirat di wajahnya.


Bu Kusno mengembalikan Hanin pada Maira. "Coba ibu parutkan bawang merah dulu. Siapa tahu cuma masuk angin saja."


"Ndak dibawa ke rumah sakit saja, Bu?" tanya pak Kusno.


"Kita lihat nanti gimana perkembangannya, Pak. Bisa jadi Hanin cuma masuk angin saja."


Tapi ternyata hingga pagi kondisi Hanin tak membaik. Bahkan pagi ini sudah beberapa kali dia buang air dan muntah. Maira semakin panik dan khawatir.


"Sudah, bawa saja ke rumah sakit!" tegas pak Kusno kembali.


Bu Kusno mengiyakan. "Cepet panggilkan Sutar, Pak. Suruh dia ngantar kita ke rumah sakit!"


Tanpa disuruh dua kali, pak Kusno segera berlari ke rumah Sutar. Dan pagi itu, Maira membawa Hanin ke rumah sakit TNI AU ditemani Bu Kusno dan Sutar.


***


Hari ini cuaca cerah. Bidadari hitam tampak melangkah ringan menembus belukar. Sesekali dia melompat dan berlari kecil mengejar kupu-kupu yang berterbangan. Hingga tak terasa dia sampai di depan goa.


Bidadari hitam masuk ke dalam. Api unggun sudah mati dan menyisakan sedikit bara. Bidadari Hitam menatap lempeng batu yang menempel di dinding goa.


Kosong.


Bidadari hitam terhenyak. Dia kemudian mencarinya ke setiap sudut goa, tapi Batu tak ditemukan.


"Ku ... Ku ..aargh ... Aaahh ...!" Gadis itu menjadi panik. Dia berlari keluar goa. Berteriak-teriak meracau tak jelas. Ditembusnya belukar, berlari di antara pohon-pohon besar. Berusaha mencari keberadaan Batu.


Setelah sekian lama mencari, Bidadari Hitam sampai di bibir jurang. Matanya terpaku pada sosok tubuh yang terbaring tertelungkup di dasar jurang. Bidadari Hitam pun menjerit dan berlari menuruni jurang.


Jeritan Bidadari Hitam semakin kencang saat tiba di dekat tubuh itu dan membalikkannya.


"Aaawwwk ...!!!"


(bersambung)


// Terima kasih untuk yang masih setia mengikuti kisah ini. Tunjukkan dukunganmu dengan memberi like, komen, dan juga vote.


Setiap dukungan yang diberikan sangat berarti bagi author. Setidaknya membuat author semakin semangat up.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih. ..🙏🙏🙏 //


__ADS_2