LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
ANCAMAN KOMANDAN


__ADS_3

Esok harinya Bayu kembali ke Jakarta, sedangkan Karina ditinggal untuk menemani anak-anak. Serka Untung--seperti pembicaraan semalam--hari ini menemui komandan.


"Kamu yakin hal itu memang benar-benar bocor?" tatap mata Kolonel Jemy--komandan kesatuan--menyelidik.


"Siap, betul, Komandan!"


Kolonel Jemy menghela napas. "Kenapa bayi itu pakai dibawa kesini segala, sih, sama Janu?" gerutunya pelan.


"Izin, Ndan, mungkin itu memang sebagai bentuk pertanggungjawaban Serka Janu atas kesalahan yang dia perbuat."


"Tapi itu kan, bisa menyakiti hati istrinya. Apalagi ternyata anggota di sini sudah tahu cerita itu!"


"Mohon izin, Ndan, Bu Janu sendiri yang menghendaki untuk merawat bayi itu."


"Hah? Gila!" Kolonel Jemy menggelengkan kepala, seraya berdecak. "Hebat sekali dia!"


"Tapi setelah Bu Janu mengetahui bahwa istri-istri anggota membicarakan aib keluarga mereka, beliau menjadi kurang nyaman, Ndan. Efeknya beberapa waktu terakhir hubungan dengan Serka Janu jadi agak merenggang. Bahkan bayinya sekarang dirawat di rumah sakit karena kurang perhatian dari Bu Janu."


Mata Kolonel Jemy membelalak. "Wah, wah, kalau urusan sama ibu-ibu, angel wiiis! Ibu negara harus ikut dilibatkan ini!" Lelaki itu mengambil ponsel dari atas meja. Sejurus kemudian dia menghubungi istrinya.


Hari berikutnya Lian sudah boleh dibawa pulang. Karina dan anak-anak menyambut kepulangan mereka dengan bahagia. Oza langsung mengelus-elus kepala Lian dan mencium pipinya.


"Adik Lian jangan sakit lagi, ya! Kasihan dek Hanin gak ada teman main kalau kak Oza sekolah."


Janu tersenyum mendengar ucapan Oza. Dielusnya rambut ikal anak laki-laki itu. Sementara Maira tertegun, hingga rengekan Hanin menyadarkannya. Buru-buru perempuan itu menyerahkan Lian pada teh Lina dan mengambil Hanin dari gendongan Karina.


"Ouw, anak bunda sayang, kangen ya, sama bunda?" Dia lalu menggendong Hanin masuk kamar, meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa lagi.


Karina menatap Janu dengan raut wajah bingung. Sementara lelaki itu hanya menggedikkan bahu. Dia kemudian berfokus pada Lian. Dipegangnya dahi bayi itu, khawatir perjalanan dari rumah sakit membuat Lian drop lagi kondisinya.


"Sepertinya dinenenin dulu saja dedek Liannya, Pak," usul teh Lina.


Janu mengangguk. Dia mengambil alih Lian dan membawanya ke kamar, menyusul Maira.


Di kamar Maira sedang menyusui Hanin sambil duduk di tepi tempat tidur. Dia hanya menatap sekilas Janu yang masuk sambil menggendong Lian. Perempuan itu tetap bergeming saat Janu duduk di sebelahnya.


"Dik, kalau sudah selesai dengan Hanin, Lian juga perlu ASI."

__ADS_1


Maira menjawabnya dengan dengkusan napas.


Tak ada kata lain yang diucapkan Janu, kecuali duduk diam menunggu sambil menepuk-nepuk punggung Lian agar bayi itu tenang.


***


Janu terkejut ketika Untung memberitahu bahwa dia dipanggil komandan siang ini. Lelaki itu bergegas menuju ruangan Kolonel Jemy.


"Lapor, Sersan Kepala Janu Satria, siap menghadap!"


Kolonel Jemy menggerakkan tangan, menyilahkan Janu duduk di kursi depan mejanya.


"Gimana kabarnya, Nu, sehat?"


"Siap, Alhamdulillah, sehat, Komandan!" Janu menegakkan punggung dalam posisi duduk.


"Istri, anak-anak, sehat?"


"Siap, sehat!"


Kolonel Jemy mengangguk-angguk. "Kudengar salah satu anakmu baru saja dirawat di rumah sakit?"


"S-siap, betul, Ndan. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah sembuh," jawabnya sedikit gugup.


"Anak 'itukah' yang sakit?" tanya Kolonel Jemy dengan penekanan pada kata 'itukah'.


Janu tahu apa yang dimaksud Kolonel Jemy. Sepertinya sekarang bukan saatnya lagi menutup-nutupi.


"Siap, benar, Komandan," jawabnya dengan suara lebih pelan.


Kolonel Jemy menghela napas. Dia menjatuhkan punggung ke sandaran kursi. "Apa yang membuatmu memutuskan untuk merawat anak itu, Nu?"


"Izin, Ndan, sebenarnya keputusan itu ada di tangan istri. Saya sangat tidak pantas untuk mengambil keputusan akan anak itu, mengingat kesalahan saya terhadap istri. Tapi entah kenapa istri saya yang kemudian justru ngotot mengambil anak itu."


"Dan pada kenyataannya sekarang istrimu berubah. Begitu, kan, yang terjadi?"


Janu tertegun. Lelaki itu tidak terlalu terkejut jika Komandan tahu apa yang terjadi dengan keluarganya sekarang. Dalam pasukan khusus, hampir susah menyembunyikan rahasia pada pimpinan. Termasuk rahasia keluarga. Loyalitas terhadap pimpinan menjadi alasan tak ada penolakan terhadap investigasi pimpinan.

__ADS_1


Kolonel Jemy rupanya tak membutuhkan jawaban Janu. Dia kemudian melanjutkan bicaranya. "Ada informasi yang mengatakan bahwa perubahan sikap istrimu karena sikap ibu-ibu di sini."


Dahi Janu berkernyit. "Mohon izin, maksudnya, Ndan?"


Kolonel Jemy kembali menegakkan punggung kemudian menyondongkan tubuh ke arah Janu. "Peristiwa yang menimpamu di Papua, ternyata sudah menyebar di sini."


Kali ini Janu benar-benar tersentak. Kursinya berderak karena gerakan tubuh mendadak.


"Ada beberapa ibu-ibu yang mengungkit peristiwa itu dan mempertanyakan kenapa istrimu mau merawat anak itu. Mungkin hal tersebut yang membuat istrimu menjadi tak nyaman dan berubah sikap."


Janu mendesah pelan. Lelaki itu tiba-tiba merasa sangat menyesal selama ini tidak mengetahui penyebab perubahan sikap istrinya.


"Janu, maaf, karena saya sudah gagal membuat mereka patuh pada perintah atasan. Ada saja anggota yang gagal melaksanakan perintah untuk merahasiakan peristiwa di Papua dulu. Tapi saya janji, akan meredam semua ini demi keluarga kamu!"


Bibir Janu bergetar. "S-siap, Komandan," sahutnya. Yang membuatnya resah bukan karena aib yang terbongkar. Dia sudah pasrah apa pun yang akan dihadapi berkaitan dengan kesalahannya di Papua. Dia sekarang lebih sibuk memikirkan perasaan Maira. Tak bisa dibayangkan bagaimana sakit hati perempuan itu ketika harus menerima perkataan-perkataan yang kurang pantas dari ibu-ibu di lingkungan tersebut.


Janji Kolonel Jemy bukan sekedar isapan jempol semata. Saat apel pagi di hari berikutnya, dia memperingatkan dengan tegas pada seluruh anggotanya agar tidak mengusik lagi keluarga Serka Janu berkaitan dengan peristiwa di Papua silam.


"Jika ada yang berani melanggar perintah saya ini, maka akan berhadapan langsung dengan saya!"


"Jika ada yang masih gagal membina istrinya agar tidak mengungkit persoalan ini, maka kalian para suami yang harus bertanggungjawab!"


"Mengerti?!"


"SIAP, MENGERTI!"


Bukan itu saja, bahkan ibu komandan secara khusus mengadakan pertemuan dengan para istri anggota. Istri Kolonel Jemy itu memberi pembinaan pada mereka.


"Keputusan dalam satu keluarga itu hak intern mereka. Ibu-ibu tidak berhak untuk mencampurinya. Termasuk juga keputusan mulia keluarga Serka Janu Satria!"


"Terus terang saya sangat malu pada Komandan saat tahu bahwa banyak istri anggota yang julid terhadap keluarga Bu Janu!"


"Karena menjalankan tugas negara, mereka itu pernah tertimpa musibah. Bukan keinginan mereka jika kemudian sekarang ada efek panjang dari musibah itu. Seharusnya kita turut prihatin dan bangga terhadap sikap mereka. Seharusnya kita bisa menghormati keputusan mereka!"


"Ingat ibu-ibu, istri tentara itu juga harus cerdas dan bijak. Jangan hanya mengedepankan nafsu berghibah semata tanpa mempedulikan nurani!"


Istri Kolonel Jemy tampak memerah wajahnya. Dia benar-benar sedang habis kesabaran menghadapi kepicikan anggotanya. Diliriknya Maira yang tertunduk di pojok kanan ruang pertemuan, dalam pelukan Nina.

__ADS_1


"Ingat, jika sekali saya dengar gosip tentang keluarga Bu Janu dari anggota saya, Komandan sendiri nanti yang akan bertindak!"


Hening. Tak ada satu pun ibu-ibu berani bersuara. Wajah mereka tertunduk menghadapi murka sang ibu Komandan.


__ADS_2