
Semenjak kejadian dengan kapten Rian, Maira benar-benar berusaha menghindar dari perwira tampan itu. Kapten Rian sendiri juga sudah tidak menjabat sebagai pembina harian PIA, sehingga dia tak pernah lagi terlihat dalam kegiatan para istri TNI AU. Mungkin karena kejadian itu pula dia dicopot dari jabatan tersebut.
Maira tak terlalu peduli. Yang jelas sekarang dia lebih tenang karena Dewi pun hampir tak pernah lagi mengusiknya. Rupanya perempuan itu kapok mendapat peringatan dari Bu Sapto. Meski tak pernah mengusik, Dewi juga tak pernah menegur Maira. Hal yang juga tak dipedulikan Maira. Baginya yang penting mulut pare Dewi tak lagi menebarkan pahit yang menyakitkan.
"Mbak Maira, kapten Rian pindah Jogja, lho," bisik Nina, saat mereka selesai pelatihan jahit.
Raut wajah Maira berubah tegang. Namun sesaat kemudian dia bisa menguasai keadaan. Kembali dibereskan peralatan jahit di meja.
"Apa mungkin karena kejadian itu? Tapi masak sih, itu kan sudah dua bulan yang lalu? Tapi kalau bukan karena itu, kenapa cepat banget dia pindahnya? Baru empat bulan, lho."
Nina sibuk ngomong sendiri, sementara Maira terlihat tak peduli. Dia masih asyik memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kanvas.
"Ih, Mbak Mai, denger nggak sih, aku ngomong?" Nina gemas begitu menyadari dia dicuekin.
Maira tersenyum. Diangkatnya tas canvas yang sekarang berubah jadi gendut, lalu dikaitkan di bahu. " Udah, ah, aku mau pulang," ucapnya, menghindar dari pertanyaan Nina. Dia sedang tak ingin membahas apa pun tentang kapten Rian. Sudah cukup kesalahan yang pernah dia perbuat. Sekarang waktunya konsentrasi dengan keluarga dan kegiatannya.
Nina hanya bisa bengong melihat Maira berlalu pergi dengan langkah ringan.
***
Usia kandungan Maira memasuki bulan ketujuh. Bayi di dalam perut itu mulai aktif bergerak. Kaki-kaki mungilnya kadang terasa menendang. Oza sering mengelusnya saat ada tonjolan di perut Maira. Dan Oza akan tertawa geli saat tonjolan itu berubah-ubah tempat.
"Bunda, dedek ngajak main Oza, nih, kayaknya!" seru Oza sambil memegang bagian perut Maira yang menonjol. "Ayo, dik, tendang ... tendang!"
Maira tertawa melihat tingkah lucu Oza. Dielusnya kepala anak itu.
"Boleh aku cium ya, Bunda?"
"Boleh."
Lalu Oza menciumi perut Maira, seakan benar-benar mencium sosok adiknya secara nyata.
Bunyi gawai Maira mengagetkan mereka.
"Ayah ya, bunda?"
"Bukan, ah. Ayah kan, jadwalnya baru naik jaga sekarang."
Maira segera mengambil handphone di atas nakas. Ada nama Bayu di layarnya. Segera Maira menjawab panggilan.
"Assalamualaikum, om Bayu."
"Waalaikumsalam ...."
Suara Bayu terdengar serak dan pelan, membuat Maira terkejut.
__ADS_1
"Om, kenapa, ada apa?"
"Karin ...."
"Karin kenapa, Om?" Maira panik. Dia berdiri dari ranjang dengan handphone masih di telinga.
"Karin masuk rumah sakit."
"Apa?! Sakit apa, Om?
Beberapa saat tak ada jawaban.
"Halo, om, om Bayu, Karin sakit apa?" Kekhawatiran Maira semakin menjadi.
"Kanker," jawab Bayu.
Meski suara Bayu sangat pelan, namun seperti bunyi petir di telinga Maira. Perempuan itu kembali terduduk di ranjang.
"Apa?" desisnya. Air mata perempuan itu mulai menggenang.
"Bunda, ada apa, Bun?" Oza menggoyang-goyangkan tubuh Maira.
Maira segera menghapus air matanya. Dia menyuruh Oza diam dengan isyarat tangan.
"Drop. Sempat pingsan, langsung kubawa ke rumah sakit."
Maira berpikir sejenak, tindakan apa yang harus dia ambil sekarang. "Oke, aku ke situ, Om."
"Tapi kamu kan, sedang hamil?"
"Nggak apa-apa. Insyaallah kandunganku baik-baik saja."
Tak berapa lama setelah Bayu menutup telepon, Maira menghubungi Nina. Niatnya ingin meminta pendapat sahabatnya itu mengenai rencana perjalanan ke Jakarta.
"Jangan naik kendaraan umum!" larang Nina saat Maira mengatakan dia dan Oza akan naik kereta.
"Lha, terus naik apa?"
"Pakai mobil sendiri aja."
"Gila! Aku nggak sanggup nyetir sejauh itu. Apalagi perutku sudah membesar gini. Engap rasanya kalau duduk di belakang setir."
"Ya, jangan kamu dong, yang nyetir. Minta tolong pratu Haris nyopirin. Mudah-mudahan besok dia bebas tugas."
"Duh, nggak enak aku!"
__ADS_1
"Nanti aku yang telepon dia!"
Bersyukur rasanya mempunyai sahabat seperti Nina. Berkat bantuannya, Maira dan Oza bisa berangkat ke Jakarta dengan lebih nyaman. Mereka memakai mobil sendiri dengan pratu Haris menyopiri. Beruntung hari Sabtu ini pratu Haris tidak ada tugas dari kantor.
Setelah hampir tiga jam, mereka sampai di kawasan lanud Halim Perdanakusuma. Mobil langsung menuju ke rumah sakit TNI AU. Maira segera menghubungi Bayu setelah sampai di parkiran.
"Mbak Maira langsung ke ruangan saja. Oza dan Haris suruh nunggu di kantin dulu!"
Setelah meninggalkan uang secukupnya untuk Pratu Haris dan Oza, Maira bergegas menuju ruangan tempat Karina dirawat. Hatinya kecut saat melihat Karina terbaring lemah di bed.
Bayu segera menyambut Maira. Disalami kakak iparnya itu.
"Gimana kondisinya sekarang, Om?" tanya Maira setengah berbisik.
"Sudah sadar. Tapi masih lemah."
"Ya Allah, Karin ...." Mata Maira mulai berkaca-kaca.
Didekati adiknya yang masih memejamkan mata. Lalu dia berdiri di samping bed. Tangannya meraih tangan Karina. Dielusnya tangan yang sekarang terlihat sangat kurus itu. Jarum infus tampak menusuk di pembuluh darah venanya.
Hati Maira miris melihat perubahan fisik adiknya yang sangat drastis. Terakhir bertemu Karina tiga bulan lalu saat dia baru saja resign dari pekerjaan. Saat itu adiknya masih terlihat segar meski tampak lebih kurus dari sebelumnya. Sekarang, tubuh yang terbaring di depan Maira seakan bunga layu yang mulai mengering. Maira tak sanggup menahan kepedihan hati. Dia menangis memeluk adiknya.
Sebuah tangan menyentuh bahunya. "Tidak apa-apa. Dia sudah sadar, hanya sedang tidur saja." Bayu menepuk-nepuk bahu Maira.
"Sejak kapan dia terdeteksi kanker, Om?" tanya Maira lirih. Dia kembali menegakkan badan.
Bayu menghembuskan nafas berat. "Sejak sebelum kami nikah, Karin sudah tahu kalau dia sakit. Tapi dia tak pernah memberitahu aku. Katanya takut aku khawatir. Dia berpikir penyakitnya ini akan segera membaik. Tapi entah kenapa justru setelah dia tak kerja, malah jadi drop gini."
"Ah." Air mata Maira kembali menderas.
Tiba-tiba tangan yang digenggam Maira bergerak. Maira beringsut membetulkan letak duduknya. Dia memperhatikan Karina yang mulai membuka mata.
"Mbaak ...." Serak dan pelan suara Karina. Perempuan itu berusaha memasang senyum di wajahnya yang pucat.
"Karin ...." Sekuat tenaga Maira menyunggingkan senyum di bibir. Namun tak pelak senyumnya berakhir dengan tetesan air mata. Dielus pipi tirus adiknya.
"A-aku sakit k-kanker darah, Mbak." Susah payah Karina berucap. Lehernya terasa kering dan tercekik.
Maira mengangguk. "Kamu harus kuat ya, Rin. HARUS!" Tangannya menggenggam erat tangan adiknya.
Karina kembali tersenyum. Dia memang tak sekuat kakaknya. Tapi Karina tahu, cepat atau lambat dia akan bisa sekuat kakaknya.
...Tahukah kamu, terkadang sakit adalah cara Tuhan membuat kita belajar untuk kuat bertahan....
// Terima kasih sudah menyempatkan baca. Jangan lupa untuk like, komen dan vote dia setiap bab nya. //
__ADS_1