LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
PEREMPUAN YANG DIRINDUKAN


__ADS_3

"Allahuakbar Allahuakbar!"


Seruan adzan subuh membuat Janu tersentak. Maira menggeliat bangun. Sudut mata perempuan itu sekilas menangkap tangan Janu yang ditarik cepat oleh pemiliknya.


Maira kembali memejamkan mata. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu setelah mendengar Janu bergerak bangun dari ranjang, dia kembali membuka mata dan bangkit dari tidurnya.


"Maaf, Mas, semalam aku nyusul kesini. Kamu menggigau keras sekali. Aku khawatir ...."


"Tidak apa-apa," potong Janu, sambil bergegas keluar kamar.


Pagi ini Maira berencana membawa Janu menghadap komandan. Dia semalam sudah menelepon ibu komandan. Beliau kemudian menyampaikan langsung permintaan Maira untuk menghadap pada suaminya. Dan komandan menerima dengan tangan terbuka.


Di dapur Maira menyiapkan sarapan. Sisa nasi kemarin masih layak untuk digoreng. Di depan kompor Maira mulai beraksi. Spatula dan wajan saling beradu merdu.


Sreng sreng sreng.


Janu yang duduk di sofa ruang tengah tampak menatap lekat foto keluarga di atas televisi. Ada Maira, Oza dan seorang lelaki berseragam loreng tentara yang mirip dirinya.


Janu menghela napas, merebahkan punggung ke sandaran sofa. Sejenak matanya terpejam. Bibirnya menyeringai, alis berkerut, seperti menahan rasa takut.


Bau harum masakan Maira yang menyeruak, mengalihkan perhatian Janu. Lelaki itu membuka mata dan bangkit dari duduk. Langkah kakinya terarah menuju dapur.


Di ambang pintu dapur Janu terhenyak. Dilihatnya sosok perempuan yang terasa begitu akrab. Berdiri di depan kompor sambil memegang spatula. Sementara rambutnya diikat keatas, menyisakan anak-anak rambut yang jatuh di seputar leher jenjang dan mulus.


Pelan-pelan Janu mendekat pada Maira. Hingga kemudian hampir tak ada jarak antara mereka. Janu bahkan bisa mencium aroma tubuh Maira. Lelaki itu memejamkan mata.


Tanpa sadar wajah Janu mendekat ke tengkuk Maira. Bibirnya bahkan nyaris menyentuh leher perempuan itu. Nafasnya sedikit memburu, menyapu bagian belakang telinga Maira.


"Ahh!" Maira tersentak kaget. Perempuan itu membalikkan badan ke belakang. Di sana dijumpai Janu yang memerah wajahnya.


"M-maaf, a-aku ....!" Janu tergeragap.


Baru saja Janu hendak berbalik, ketika Maira menahan lengannya.


"Jangan mengingkari lagi, Mas!" tegas Maira. "Biarkan memorimu terbebas. Ikhlaskan ingatanmu kembali. Aku yakin, jika kamu ikhlas, ingatan masa lalumu akan segera kembali!"


Janu tertegun. Lelaki itu sesaat memejamkan mata. Maira menunggu dalam resah.


***


POV Janu


Malam ini aku sangat lelah. Sesiangan tadi banyak tamu berkunjung ke rumah ini. Tak satu pun dari mereka kukenal. Namun aku harus bertindak seolah-olah ingat semuanya.


Aku kasihan pada perempuan bernama Maira itu. Aku ingin mengiyakan semua pernyataannya tentang bahwa kami sebenarnya suami istri. Tapi aku tak sanggup. Tak ada sedikitpun ingatanku tentangnya. Dan Bertha, seluruh isi kepalaku hanya dipenuhi ingatan tentang gadis baik itu.


"Aaagh ...," ucap Bertha saat itu, saat kami masih berada di bandar udara Papua. Dia menarik tanganku dan meletakkan di perutnya. Perut yang tak lagi rata.


Aku tahu dia hendak mengatakan sesuatu tentang perutnya. Tapi aku tidak sempat bertanya lebih padanya. Melihat kondisi perut Bertha yang semakin membuncit, aku pikir dia hamil.


Anakku kah?


Ah, dimana gadis itu sekarang?


Aku beranjak keluar kamar. Kulihat perempuan itu tiduran di sofa. Dia segera bangkit dan menurunkan kaki.


"Duduk sini dulu kalau belum ngantuk, Mas!" Tangannya menepuk-nepuk sofa.

__ADS_1


Aku beranjak dan duduk di sebelah perempuan itu.


"Capek, ya?" tanyanya.


Aku mengangguk. Mataku tertuju pada layar televisi yang menyala.


"Dari semua orang yang berkunjung siang tadi, adakah salah satu diantaranya yang mas Janu ingat?" Dia bertanya lagi.


Kutatap wajahnya yang penuh harap. Sebenarnya aku takut mengecewakannya. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa selain, "Tidak."


Dia menghela napas. Kini kami sama-sama terpaku pada layar televisi. Aku tak peduli apa yang sedang tayang di sana. Pikiranku melayang pada sosok Bertha.


"Malam ini, kamu masih mau tidur terpisah denganku, Mas?" tanya perempuan itu hati-hati.


Aku termangu. "Maaf, aku ...."


"Tidak apa-apa. Aku nanti bisa tidur di kamar Oza," ucapnya dengan cepat.


Malam ini akhirnya aku kembali tidur sendiri. Bukannya aku ingin mengecewakan perempuan itu. Tapi aku benar-benar tak bisa jika harus tidur dengannya. Terlebih karena aku merasa dia adalah orang asing bagiku.


Lelah seharian membuat aku segera jatuh tertidur.


Di sebuah Padang rumput hijau dan teduh, kami sedang bercengkrama berdua. Bertha menyuapikan papeda padaku sambil tertawa. Suaranya renyah dan membuat bahagia.


Kuelus perutnya yang buncit. Kucium berkali-kali. Bertha kembali tertawa.


Tiba-tiba perut Bertha bergerak. Kurasakan ada yang bergejolak di dalamnya. Aku surut ke belakang. Kutatap wajah Bertha yang sekarang kaku tak berekspresi. Tawanya mendadak lenyap, berganti suara lengkingan yang entah dari mana datangnya.


"Aaaaaagh ...!"


Mataku membeliak saat perut itu pelan-pelan membelah. Dari dalamnya keluar sesosok makhluk menyeramkan. Kepalanya gundul, mata melotot, mulut terbuka. Dari dalam mulut menjulur lidah berwarna merah. Tetesan darah mengalir dari sela-sela gigi taringnya.


"Huwaaa ...!!!" pekikku.


Mulut makhluk itu bergerak. Lalu suara serak keluar. "Aa-yaaah ...!"


"Tidak, tidak, tidaaaak ...!" Aku menjerit histeris. Makhluk itu memanggilku 'ayah', membuat aku semakin bergidik ngeri.


Dan aku semakin ciut nyali saat kulihat makhluk itu sudah tampak seluruh badan. Bentuknya seperti gurita dengan lengan banyak. Dia bergerak dengan lengan-lengannya sebagai tumpuan. Mendekat, dan semakin mendekat padaku.


"TIDAAAK ...!"


Aku berlari mundur sambil terus berteriak-teriak ketakutan, menjauhi makhluk itu. Tiba-tiba kakiku terantuk sesuatu. Dan hampir saja aku terjatuh.


Seseorang menangkap tubuhku. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa, tenanglah!" ujarnya menenangkanku.


Aku jatuh dalam pelukannya. Kutengadahkan wajah dan kulihat dia adalah perempuan itu, Maira. Dia tersenyum lembut sambil terus mengelus-elus kepalaku.


"Tidak apa-apa, tenanglah, tenanglah!"


Lembut suaranya membuatku merasa mengantuk. Lalu kupejamkan mata dan tenggelam dalam tidur yang sangat lelap


Aku terbangun ketika tanganku terasa memeluk sesuatu yang lembut dan lunak. Kubuka mata dan seketika terkejut melihat apa yang ada di depanku. Segera kutarik tangan yang tadi memeluk tubuh itu. Dan aku bergegas bangkit dari tidur, terduduk di tepi ranjang.


Perempuan itu, sejak kapan dia di sini?


Sejenak dia menggeliat, lalu meneruskan tidurnya.

__ADS_1


Mataku menatap nanar sosok itu. Tiba-tiba jantungku berdebar saat melihat wajahnya. Wajah itu terlihat damai dengan mata terpejam erat, bibir terkatup rapat. Hidung mancungnya tampak mengeluarkan napas halus. Bibir merah jambu terlihat sedikit tersenyum. Sementara anak-anak rambut jatuh liar di pipi dan keningnya.


Tanpa sadar tanganku bergerak terulur hendak menyentuh wajahnya.


Suara adzan membuatku tersadar. Segera kutarik kembali tangan dan bergegas bangkit dari ranjang. Masih sempat kudengar permintaan maafnya karena menyusul tidur di kamar ini.


"Tidak apa-apa!" sergahku cepat sambil keluar kamar.


Pagi ini setelah mandi aku duduk di sofa ruang tengah. Pandanganku terpaku pada foto keluarga di dinding. Aku ingin meyakini bahwa yang berseragam di foto itu adalah aku. Tapi bagaimana bisa, sedangkan tak ada sedikitpun ingatanku tentang semua itu.


Kurebahkan punggung di sandaran sofa. Sejenak aku teringat mimpi menyeramkan semalam. Rasanya begitu nyata dan menakutkan.


Bau harum masakan dari arah dapur membuatku lapar. Aku tak bisa menolak keinginan. Aku bangkit dan berjalan menuju dapur.


Tapi di ambang pintu jantungku kembali berdebar. Sosok yang berdiri di depan kompor itu serasa tak asing kulihat. Entah apa yang membuatku melangkah mendekatinya. Semua berjalan begitu cepat. Tanpa kusadari aku sudah nyaris mencium leher belakangnya, kalau saja dia tak segera berbalik dan memekik tertahan.


"M-maaf, a-aku ....!" ucapku terbata-bata. Wajahku terasa memanas. Hampir saja aku berbalik meninggalkannya saat dia menahan lenganku.


"Jangan mengingkari lagi, Mas!" tegas perempuan itu. "Biarkan memorimu terbebas. Ikhlaskan ingatanmu kembali. Aku yakin, jika kamu ikhlas, ingatan masa lalumu akan segera kembali!"


Aku tertegun.


Ikhlas? Benarkah selama ini aku tak ikhlas membiarkan kenangan-kenanganku yang hilang kembali?


Sesaat kupejamkan mata. Kuhirup udara dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Saat kembali membuka mata, kutatap lekat wajah itu.


"Mas ...," ucapnya tertahan.


Semua seperti slide film yang terputar di kepala. Seorang perempuan berseragam biru langit dengan perut buncit, menuntun anak laki-laki berambut ikal. Perempuan itu meneteskan air mata, melepas keberangkatanku ke tempat tugas.


"H-hati-hati, Mas," ucapnya saat itu dengan suara serak menahan air mata.


Perempuan itu, Maira, yang sekaligus berdiri di depanku dengan wajah sendu.


"Ma-i-ra," ejaku pelan.


Bibirnya bergetar, mengucap kata. "Iya, Mas, aku Maira-mu."


Entah kekuatan apa yang kemudian membuatku merengkuh tubuh itu dalam pelukan. Aku begitu merindukannya, sangat merindukannya.


"Maira," bisikku lagi di telinganya.


Dia tersedu di pelukanku.


"Maira, oh, Maira." Pelukan semakin kupererat. Berkali-kali kusebut namanya.


Kulepaskan pelukan, kutatap dirinya dengan seksama. Dia yang sekarang berurai air mata, namun ada binar bahagia di wajahnya.


Kuciumi wajah itu. Keningnya, matanya, pipinya, bibirnya. Aku benar-benar merindukannya.


"Maira ... Maira ... Maira ...!"


(bersambung)


// Aku deg2an, gaesss....!


Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote yaa...❤️ //

__ADS_1


__ADS_2