LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
DETIK-DETIK MENJELANG


__ADS_3

Waktu menjadi sangat cepat berputar, saat menanti hal yang tak diharapkan.


Pagi ini Maira melihat akun wa nya sudah dimasukkan grup istri personel penugasan Papua. Semua anggotanya rata-rata sudah dia kenal, karena mereka istri rekan-rekan sekantor Janu. Informasi pertama yang muncul adalah undangan pertemuan hari ini di aula kantor.


Setelah mengantar Oza sekolah, Maira bersiap-siap menghadiri undangan kantor. Seragam warna biru muda dengan jilbab senada. Sepatu hitam berhak tak lebih dari lima centi, lengkap dengan tas polos hitam. Maira tampak anggun dengan penampilannya.


Aula kantor belum begitu ramai. Masih sekitar lima belas menit lagi acara dimulai. Maira mengambil tempat duduk di bagian tengah, ketika seseorang menepuk pundaknya.


"Hei, Mbak Janu, apa kabar?"


Maira menoleh. Seorang perempuan berseragam sama seperti dirinya, tersenyum lebar. Rambutnya dicepol ke belakang, menyisakan poni rapi disisir ke samping. Untuk ukuran acara pertemuan seperti ini, make up perempuan itu terlalu tebal.


"Mbak Andre, Alhamdulillah baik." Maira berdiri seraya menyalami perempuan itu.


Sapaan akrab di antara istri tentara biasanya memang menggunakan kata 'mbak' di depan nama suaminya. Dewi, istri Serka Andre, memang satu letting dan cukup dekat dengan Janu. Dulu Andre dan Dewi pernah berusaha menjodohkan Janu dengan Ratih, adik Dewi. Itu Maira dengar dari mulut Dewi sendiri. Namun Maira cukup bijak dengan tak menanggapi cerita Dewi yang kadang berlebihan.


"Ternyata om Janu ikut penugasan juga, ya?"


"Iya, Mbak."


"Semoga kita sama-sama diberi kesabaran dan kekuatan, ya. Semoga suami-suami kita sehat selamat sampai pulang nanti."


"Aamiin."


Mata Dewi menerawang ke depan. Ada sedikit senyum di bibirnya. "Ah, untungnya Ratih nggak jadi nikah sama om Janu. Nggak kebayang gimana dia bakalan kelabakan ditinggal suami jauh gini. Apalagi kalau baru aja nikah. Hmm ...." Dewi menggeleng-gelengkan kepala. Perempuan itu seakan bicara sendiri, tanpa mempedulikan keberadaan Maira.


Maira sendiri mencoba tak peduli. Sudah sering dia dengar omongan nyinyir dari mulut perempuan itu yang berkaitan dengan Janu. Pernah dia bertanya pada Janu, apakah suaminya itu dulu punya hubungan khusus dengan Ratih. Tapi Janu hanya menanggapi dengan tawa. Lalu dia bercerita apa adanya tentang Ratih.

__ADS_1


Kalau kamu menanggapi omongan Dewi, berarti kamu sama edannya dengan dia, komentar Janu saat dulu Maira mengadu tentang julidnya Dewi.


Sejak saat itu Maira tak pernah lagi memasukkan dalam hati setiap kata-kata Dewi. Dia lebih percaya pada Janu dari pada kakak Ratih itu.


"O iya, mbak Janu udah isi belum?" Dewi mengalihkan pembicaraan. Mata dengan maskara agak berlebihan itu menatap ke arah perut Maira.


"Alhamdulillah, sudah, Mbak." Maira memegang perutnya.


"Ya ampun, beneran udah?" Mata Dewi membola. Irisnya yang berwarna coklat muda tampak berkilat karena selaput lensa kontak. "Berapa, bulan?"


"Baru saja, kok, Mbak. Kami tahunya juga baru sekitar dua minggu lalu."


"Wah, berarti nanti nggak bakalan ketungguan ya, lahirannya? Kasihan."


Maira menghela nafas. Yang dia harap bukan belas kasihan, tapi support yang menguatkan untuk melalui semuanya.


Obrolan mereka terputus ketika pembawa acara mengumumkan bahwa acara akan segera dimulai. Maira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata kursi-kursi di sekitarnya sudah terisi penuh. Seseorang di belakang mencubit pelan pundaknya. Maura menoleh. Sebuah senyum manis dari perempuan berjilbab dan berkacamata dia temukan.


"Sudah, mbak Nina," jawab Maira dengan suara pelan juga.


Dia dan Nina, istri Serka Untung, memang cukup akrab. Suami mereka juga satu letting. Bahkan mereka lebih nyaman memanggil dengan nama asli dari pada nama suami, seperti kebanyakan lainnya. Dulu Nina yang pertama mengajak kenalan secara personal, saat Maira menjadi anggota baru di sana. Nina juga yang selalu memberi informasi dan membimbing Maira agar tak canggung di organisasi. Perempuan itu sudah seperti kakak bagi Maira.


Acara pertemuan dimulai. Berbagai rangkaian acara dilalui, hingga acara inti, pengarahan dari komandan dan istri. Banyak hal yang disampaikan beliau berdua. Intinya hanya menegaskan kesiapan para istri untuk ditinggal suami. Berikut pesan agar selalu menjaga kekompakan dan selalu berdoa demi keselamatan suami dan seluruh anggota pasukan.


Bukan kali ini saja Maira ditinggalkan tugas jauh. Dulu saat masih menjadi suami Galang, dia juga pernah ditinggal penugasan ke lain pulau. Hanya saja, penugasan dalam waktu yang cukup lama dan ke wilayah rawan konflik, baru kali ini akan dia rasakan. Tentu saja rasa khawatirnya lebih besar. Apalagi kenangan kehilangan orang yang dicintai, masih begitu membekas di ingatan.


"Hidup, mati, jodoh, itu semua di tangan Tuhan. Kita manusia hanya wajib berusaha dan berdoa. Jadi, jangan biarkan rasa khawatir berlebihan menguasai diri kita. Tawakal dan isi hari-hari dengan hal berguna. Jangan pernah merasa jadi orang yang paling menderita karena suami pergi bertugas saat kita sedang sakit, sedang sibuk mengurus anak-anak yang masih kecil-kecil, atau bahkan sedang hamil. Seorang istri tentara harus kuat jiwa maupun raga. Karena kita adalah perempuan-perempuan pilihan untuk mendampingi manusia-manusia kuat pengawal keutuhan bangsa dan negara. Tetaplah berdoa demi keselamatan suami-suami kita."

__ADS_1


Wejangan istri komandan membekas di hati dan pikiran Maira. Kegundahan yang selama beberapa hari memberatkannya, kini terasa ringan. Bertemu teman-teman senasib juga membuatnya merasa tak sendiri. Maira berjanji, akan menjadi perempuan kuat pendamping manusia hebat pengawal NKRI.


"Aku belum pernah merasakan lahiran saat suami bertugas. Agak berat juga mungkin ya, Mbak?" bisik Dewi.


Maira menautkan rahangnya. Mungkin perempuan ini terlalu sering makan pare. Sehingga setiap perkataannya selalu terasa pahit!


***


Detik berganti, jam berputar, hari bergulir. Sehari, dua hari, seminggu, hingga semakin mendekati tanggal pemberangkatan pasukan. Maira mencoba tak mempedulikan, meski debar di dada kian kencang, mengingat saat perpisahan.


"Sayang, nanti kalau aku sudah berangkat, kamu jangan lupa jadwal periksa. Jangan berangkat sendiri, minta tolong diantar teh Lina, ya!" Untuk kesekian kali Janu berpesan. Mereka berdua sedang berbaring di ranjang.


"Siap." Setengah bergurau Maira menjawab. Dia beringsut memiringkan tubuh menghadap ke tubuh Janu yang memeluknya dengan satu lengan. Tangan Maira mengusap-usap dada telanjang Janu Mempermainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sana.


Janu mencium rambut Maira. "Jangan lupa minum vitaminnya."


"Iyaa ...."


"Jangan sering memarahi Oza. Anak itu memang sedang masa aktif-aktifnya. Awasi saja jika sedang bermain!"


"Duh, Mas, apa perlu kubuat daftar tertulis pesanmu?"


Janu tersenyum kecut. Semakin dekat waktu pemberangkatan, dia memang semakin gundah. Berbeda dengan waktu-waktu dulu, dia bisa dengan ringan melangkah untuk menunaikan tugas seberat apa pun. Sekarang, selain bertanggung-jawab pada negara, dia juga harus menanggung orang-orang tercinta. Meski memang, nomor satu tetaplah negara.


"Sudahlah, Mas, jangan terlalu berpikir tentang penugasan itu. Nikmati saja kebersamaan kita selagi masih bisa. Insyaallah semua akan berjalan dengan baik."


"Iya, Dik." Janu mempererat pelukan. Sementara tangannya yang satu mengusap perut Maira.

__ADS_1


Malam tak lagi dingin terasa. Ada kelembutan yang penuh kehangatan mengisinya.


(Bersambung)


__ADS_2