LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
MEMELUK BIDADARI KECIL


__ADS_3

Malam ini semua berkumpul. Pak Kusno, Bu Kusno, Bayu, Karina, Janu dan Maira. Mereka duduk di ruang tengah--rumah pak Kusno--dengan wajah-wajah serius, bahkan tegang.


"Apa hal itu sudah kamu pikirkan baik-baik, Mai?" tanya pak Kusno.


Semua mata menatap Maira. Perempuan itu menunduk dalam. Tangannya sibuk memainkan ujung jilbab.


"Ini tidak hanya menyangkut kamu dan Janu, tapi juga bayi itu. Bahkan kepentingan anak-anakmu pun terlibat di dalamnya," lanjut pak Kusno.


"Iya, Pak, aku tahu." Maira menghela napas. "Aku sudah pikirkan semuanya. Jika mas Janu mengizinkan, aku akan merawat bayi itu."


"Dik ...." Janu menggenggam tangan Maira yang duduk di sampingnya. Dia tak melanjutkan kata-katanya.


"Kamu yakin ndak akan kerepotan, Mai?" tanya Bu Kusno. "Selain itu, apa kamu juga yakin bisa menyayangi anak-anakmu dan bayi itu secara adil?"


"Nah, itu yang aku khawatirkan juga, Mbak," imbuh Karina.


"Insyaallah, aku bisa, Rin. Hanya tinggal apakah mas Janu mengizinkan atau tidak."


"Dik, dengar, ini satu keputusan besar. Aku nggak mau kamu memutuskan hanya karena merasa tak enak atau karena desakan keinginan untuk bertanggungjawab. Pikirkan dulu baik-baik!" Janu ikut bicara.


"Mas, menurutmu apa lagi yang bisa kita lakukan untuk membalas jasa Bertha? Selain itu, bayi Bertha tanggung jawabmu, Mas!"


Janu tertegun. "A-aku tahu. Aku hanya tidak ingin suatu saat kelak, kamu menyesali keputusan ini. Aku tidak ingin sepanjang hidupmu merasa tersiksa dengan keputusan ini."


Maira menegakkan kepala. "Percayalah, aku akan konsisten dengan apa yang kuputuskan!" ucapnya, tegas.


Semua tahu bahwa Maira adalah seorang yang berpendirian kuat. Jika sudah memutuskan sesuatu, jarang mengurungkan. Tak ada lagi yang bisa memaksanya berpikir ulang.


Esok harinya kembali mereka berempat menuju rumah pendeta Andreas. Janu, Maira, Bayu, Karina tiba saat pendeta dan Bu Harni sedang bersiap menuju rumah sakit, akan menjemput bayi Bertha.


"Kalau begitu, kami ikut ke rumah sakit, pak pendeta," pinta Maira, cepat.


Pendeta Andreas tak bisa berbuat banyak kecuali mengizinkan. Mereka pergi dengan mobil berbeda. Setelah sampai, bertemu kembali di lobi rumah sakit.


"Pak pendeta, tunggu dulu!" cegah Maira, menghentikan langkah mereka.


"Iya, ada apa, ya, Bu Maira?"


"Ada sesuatu yang hendak kami bicarakan. Saya mohon pendeta meluangkan waktu sejenak."


Pendeta mengernyitkan kening. Namun diikutinya juga langkah kaki Maira menuju salah satu sudut lobi, dekat loket pendaftaran. Yang lain pun mengikuti.

__ADS_1


"Pak pendeta, sebelumnya mohon maaf," Maira membuka suara, setelah masing-masing duduk di kursi tunggu. "Tentang bayi Bertha, bagaimanapun juga itu anak mas Janu."


Pendeta Andreas terhenyak. Dia menatap Maira, nanar.


"Jadi, sudah sepatutnya kalau yang bertanggung jawab atas bayi itu adalah suami saya!"


"M-maksud Bu Maira?"


"Kami yang akan merawat bayi itu!" ucap Maira, tegas.


"Tidak!" Tiba-tiba Bu Harni menyela. "Bayi itu anak Bertha yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, Bu Maira. Biarkan kami yang merawatnya."


Maira tercengang. Dia tidak mengira akan mendapat penolakan dari Bu Harni.


"Bu Harni," desis pendeta Andreas.


"Maaf, Bu Harni, saya tahu ibu sangat menyayangi Bertha. Tetapi ini tentang bayinya yang juga darah daging suami saya. Sudah tentu yang paling bertanggungjawab terhadap bayi itu adalah mas Janu."


"Tapi, mengingat bahwa bayi itu ada karena buah dari ketidaksengajaan, apa masih layak jika menimpakan tanggung jawab kepada pak Janu?" elak Bu Harni.


Maira menggelengkan kepala. Dia merasa tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala perempuan tua di depannya.


"Bu Harni, sepenuhnya saya menyadari bahwa bayi itu tanggung jawab saya. Terlepas dari perbuatan saya pada Bertha yang diluar kesadaran, bayi itu tetap darah daging saya. Saya yang harus menanggungnya!" Tegas Janu berusaha meyakinkan.


"Bu Harni!" hardik pendeta Andreas.


Perempuan tua itu tergugu. Sementara Janu hanya tertegun dan Maira terkesiap. Untuk sesaat mereka kehilangan kata-kata mendengar ungkapan kemarahan bu Harni.


"Maafkan kami, pak Janu, Bu Maira." Pendeta Andreas memecah kecanggungan.


Sementara itu, Bu Harni membentuk tanda salip di depan dada. "Maaf," ucapnya lirih.


Lalu pendeta Andreas meminta izin pada mereka untuk berbicara sebentar dengan Bu Harni. Dibawanya Bu Harni ke sudut lain lobi.


"Bu Harni, kenapa ibu bicara seperti itu?"


"Maafkan saya, bapa pendeta."


"Kita harus menghargai itikad baik mereka, Bu. Saya yakin, bagi Bu Maira dan pak Janu ini adalah tindakan yang membutuhkan banyak keberanian. Coba bayangkan bagaimana perasaan mereka setelah mendengar perkataan Bu Harni yang cenderung menghakimi?"


"Iya, Bapa pendeta, saya menyesal. Saya hanya kasihan pada Bertha."

__ADS_1


"Sudahlah, biarkan Bertha tenang di sana. Dan mengenai bayinya, saya tidak yakin kalau Bu Harni yang akan merawatnya. Saya khawatir dengan kondisi kesehatan Bu Harni."


Air mata Bu Harni mulai jatuh. "Maaf, bapa pendeta, saya hanya sangat menyayangi bayi itu, seperti saya menyayangi Bertha. Saya tidak ingin terjadi hal yang buruk pada bayi itu kelak."


"Saya mengerti. Hanya saja pak Janu memang lebih berhak untuk merawat bayi itu. Ibu harus legowo dan sabar. Percayalah, mereka orang-orang baik."


Isak Bu Harni semakin kencang. Pendeta Andreas menepuk-nepuk pundak perempuan tua itu.


Pada kenyataan memang tidak ada yang bisa dilakukan Bu Harni, kecuali menyetujui permintaan Maira dan Janu untuk merawat bayi Bertha. Meski dengan berat hati, Bu Harni dan pendeta Andreas melepas bayi itu, dibawa Maira dan Janu.


Dengan gemetar Maira menerima bayi Bertha dari tangan perawat. Jantungnya berdebar saat melihat wajah bayi berambut keriting itu. Alis tebal, bulu mata lentik seperti Bertha. Hidungnya mancung seperti Janu. Itu membuat Maira merasa sedikit tertekan. Namun sekuat tenaga, rasa itu segera dia enyahkan.


"Terima kasih, Mbak," ucapnya pada perawat.


"Auw, lucunya!" seru Karin sambil melongok bayi di gendongan Maira. "Kira-kira, gimana nanti Oza dan Hanin, ya?"


Deg!


Jantung Maira berdegup kencang mengingat dua anaknya. Semalam dia dan Janu memang sudah bicara pada Oza. Mereka mengatakan akan membawa adik untuk Oza. Namun anak itu belum sepenuhnya mengerti. Ditambah dengan kantuk yang menggelayut di mata Oza, dia tak begitu peduli dengan ucapan bapak ibunya.


"Pak Pendeta, Bu Harni, terima kasih banyak atas apa yang telah bapak dan ibu lakukan pada Bertha. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang telah saya lakukan selama ini," ucap Janu sebelum mereka berpisah.


Pendeta hanya menganggukkan kepala. Sementara Bu Harni menghampiri bayi Bertha dan mencium pipinya. Lalu perempuan itu menatap Maira.


"Bu Maira, tolong jaga dia baik-baik. Perlakukan dia seperti anak ibu sendiri. Kasihani dia yang sudah tidak beribu lagi ini." Air mata Bu Harni kembali membanjir.


Maira hanya bisa mengangguk kelu. Tak ada satu kalimat pun yang sanggup dia ucap. Matanya ikut berkaca-kaca melihat kesedihan Bu Harni.


Karina memeluk bahu Bu Harni. "Maafkan kami, Bu Harni. Terima kasih telah merawat Bertha selama ini." Lalu dia membimbing Bu Harni, menjauh dari Maira.


Mereka kemudian berpisah dengan perasaan masing-masing yang sulit dilukiskan.


(bersambung)


...----------------...


Komentar tentang isi cerita ini sangat aku harapkan. Lewat kisah ini kita diajak ikut berpikir. Ada yang lebih mengedepankan perasaan, ada yang lebih mengedepankan nurani, ada yang lebih mengedepankan logika. Semua tidak ada yang salah, karena pasti semua berharap kebaikan semata.


Namun kembali, ini hanyalah sekedar fiksi. Ambil manfaatnya, tinggalkan mudharatnya. Yang penting kalian happy membacanya.


Terima kasih.

__ADS_1


Semoga kalian selalu sehat dan bahagia


❤️❤️❤️


__ADS_2