LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
MERUNUT KENANGAN


__ADS_3

Rindu selalu erat dengan kenangan. Dia akan beku saat kenangan menghilang.


Janu kembali memeluk Maira. Perempuan itu sampai tersengal napasnya karena pelukan Janu yang erat.


"Maaf, Dik." Janu segera melepaskan pelukan. "Aku terlalu bahagia. Ingatanku tentang kamu mendadak muncul di kepala."


Senyum Maira merekah. Mata perempuan itu berbinar. "Alhamdulillah, Ya Allah."


Tangan Janu terulur, menyibak anak-anak rambut di kening Maira. Sekali lagi dia mencium perempuan itu.


"Astaghfirullah!" pekik Maira sambil mendorong tubuh Janu.


"Nasi gorengku gosong, Mas!"


***


Maira menatap lekat lelaki berseragam di depannya. Matanya menyiratkan kekaguman. Serka Janu Satria masih gagah seperti dulu saat Maira mulai menyadari perasaannya pada lelaki itu.


"Kok, gitu lihatnya?" Janu melambaikan tangan di depan wajah Maira.


Perempuan itu tersipu. Buru-buru dia berlalu, menuju meja makan.


Setelah gagal sarapan dengan nasi goreng yang terlanjur gosong, mereka harus puas mengisi perut dengan roti basah. Beruntung masih ada beberapa bungkus di kulkas, sisa bekal mereka di kereta.


"Kamu masih ingat letkol Jemy, komandan detasemen markas, Mas?" tanya Maira, setelah meneguk tehnya.


Janu mengernyitkan kening. "Entahlah. Aku tidak begitu yakin."


"Nanti kamu akan kuajak menghadap beliau. Meski mas masih belum ingat, tolong nanti mas bersikap hormat, ya. Karena beliau atasan mas Janu."


Janu mengangguk sambil mengelap mulut. Diakuinya, pagi ini jantung Janu cukup berdebar. Campur aduk antara bahagia, bersemangat dan sedikit khawatir. Dia takut kealpaannya akan kenangan-kenangan masa lalu akan mengacaukan segalanya. Namun saat menatap Maira yang begitu yakin dan bersemangat, Janu merasa sedikit lega.


Mereka berdua berangkat ke kantor tempat dinas Janu dengan menggunakan mobil Nina. Seperti biasa, Maira yang memegang kemudi karena Janu masih belum sempurna mengingat kembali kemampuan menyetirnya.


"Kamu cantik sekali, Dik," ucap Janu, sambil menatap Maira dari samping.


"Apaan sih, Mas!" Wajah Maira merona. Sekilas dia melirik suaminya yang mengenakan baret jingga. Masih terlihat tampan seperti dulu.


"Kapan-kapan mas harus mulai belajar nyetir lagi, ya!"


Janu menggeleng. "Malas. Lebih enak jadi penumpang begini. Bisa memandang wajahmu sepanjang perjalanan."


Kali ini Maira tak tahan untuk tak mencubit paha Janu.


Tiba di kantor, suasana sepi. Para personel sepertinya sedang mengikuti apel pagi di lapangan upacara. Janu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Terkadang mengerutkan kening, mendesah, memejamkan mata, atau menatap dengan sorot netra berbinar. Lelaki itu pelan-pelan mengumpulkan puzzle kenangan di kepala dan menyusun kembali menjadi satu rangkaian.


"Kamu bisa mengingat semua, Mas?" tanya Maira yang berdiri di sebelahnya.


"Sedikit-sedikit mulai ingat."


"Ingat letak ruangan komandan?" tanya Maira lagi.

__ADS_1


Kembali Janu mengernyitkan kening. Kemudian pelan dia melangkah. Maira mengikuti dari belakang.


Suara aba-aba membubarkan pasukan terdengar dari lapangan upacara. Janu mempercepat langkah. Sesuatu di kepala menuntun arah jalannya. Dia tepat menuju ruangan letkol Jemy.


"Lhoh, Janu!" seru seseorang dari arah samping.


Mereka berhenti. Janu menoleh ke arah suara itu. Seorang lelaki berseragam loreng memakai atribut provost bergegas ke arah mereka.


"Janu, sudah sehat kamu?" Lelaki itu menepuk-nepuk pundak Janu.


Janu menatap lekat padanya. Dia berusaha mengingat ... mengingat ... namun gagal.


"Pak Sam," Maira mengangguk ke arah lelaki itu.


"Eh, Bu Janu, gimana kabarnya?" Lelaki bernama Samsul itu beralih pada Maira dan menyalaminya.


"Alhamdulillah, baik." Maira menyambut uluran tangan Samsul. "Mohon maaf, Pak, mungkin mas Janu belum sepenuhnya bisa mengingat."


"Oh, iya, tidak apa-apa." Kembali lelaki itu menepuk pundak Janu.


"E, Pak, maaf, kami mau bertemu Dandenma. Beliau ada di tempat nggak ya, Pak?" Maira mengalihkan pembicaraan.


"Ada, ada. Mari saya antar!"


Mereka berdua mengikuti Serma Samsul menuju ruangan komandan. Lalu setelah Serma Samsul melapor ke dalam, mereka dipersilahkan masuk. Komandan tampak sudah berdiri menanti kedatangan mereka.


"Aaa, Serka Janu. Silahkan, silahkan!" Letkol Jemy berseru. Tangannya terentang menyambut kedatangannya anak buahnya.


Janu terkesiap. Lalu dia mengangkat tangan, mengambil sikap hormat dengan kikuk.


"Tidak apa-apa, saya tahu kondisi serka Janu. Mari silahkan duduk!"


Pertemuan dengan komandan detasemen markas pagi ini semakin menguak kabut tebal di kepala Janu. Ingatannya pelan-pelan terkumpul melalui obrolan-obrolan dengan komandan itu. Dan saat pembicaraan sampai kepada almarhum Serda Doni, Janu menjadi sangat emosional. Lelaki itu tak bisa membendung air mata. Dia teringat saat mendampingi Doni menghembuskan napas terakhir karena tertembak oleh kelompok separatis.


"Sabar, Mas, istighfar!" Maira menggenggam tangan Janu dan berbisik di telinganya.


"Insyaallah Sertu Anumerta Doni Pramana sudah tenang di sana, Serka Janu. Kami sudah menguburkan dengan upacara militer di kampungnya. Dia adalah pahlawan. Doakan saja agar lapang jalannya!"


Janu tersedu.


"Oiya, rencana mau balik Jogja kapan?" Letkol Jemy tak mau berlama-lama membiarkan Janu tenggelam dalam duka.


""Izin, nanti sore, bapak," jawab Maira.


"Wah, kalau begitu sebaiknya kuajak kalian menghadap komandan korps Paskhas sekarang!"


"Mohon izin, tapi ingatan suami saya belum sepenuhnya kembali, bapak. Apakah tidak masalah ...?"


"Tidak apa-apa. Tentunya beliau juga sudah mengerti dan memahami kondisi Serka Janu," potong letkol Jemy.


Mengikuti saran kapten Jemy, akhirnya mereka menuju ke kantor komandan tertinggi pasukan khusus TNI AU itu. Sambutan komandan cukup menenangkan. Maira dan Janu semakin bersemangat untuk berusaha mengurai kenangan dan ingatan Janu yang masih samar. Menjelang siang, mereka keluar dari ruangan komandan.

__ADS_1


"Jadi, kalian mau langsung kembali ke rumah?" tanya letkol Jemy.


"Siap, bapak, iya," sahut Maira.


"Perlu dukungan tranportasi?"


"Tidak usah, bapak, kami sudah bawa mobil sendiri."


Di tempat parkir hampir saja mereka menabrak seseorang yang baru saja turun dari mobil.


"Kapten Rian?!"


***


Di Jogja, diam-diam Karina kembali menghubungi pendeta Andreas. Dia menanyakan kabar Bertha.


"Maaf, mbak Karin, apa tidak sebaiknya mbak tidak usah lagi menghubungi kami?" Pendeta Andreas menjawab pertanyaan Karina dengan satu yg pertanyaan berkelit.


"Tapi pendeta ...."


"Ini demi kebaikan Bertha, pak Janu dan Bu Maira juga," potong pendeta Andreas. "Jadi sebaiknya, mulai sekarang kita benar-benar memutus komunikasi."


"Tunggu, Pendeta!" seru Karina buru-buru. "Mas Janu sudah mulai kembali ingatannya!"


Sejenak tak ada suara dari seberang. Karina menunggu dengan cemas. Lalu ....


"Puji Tuhan," lirih Pendeta Andreas berkata.


"Pendeta, bagaimana dengan Bertha dan anaknya kelak?"


"Mbak Karin, seperti kata saya dulu, biarlah Bertha dan anaknya kelak jadi urusan kami. Silahkan kalian meneruskan kembali hidup dengan tenang."


"Tapi Pendeta, sampai sekarang kami belum tahu bagaimana reaksi mas Janu kalau nanti teringat tentang Bertha. Kata mbak Maira, sampai detik ini mas Janu belum mengungkit tentang Bertha. Dia masih disibukkan dengan mengingat semua kenangan-kenangan lamanya."


"Semoga saja tidak akan ada masalah."


"Seandainya ada apa-apa yang berkaitan dengan mas Janu dan Bertha, biarkan kami ikut bertanggungjawab, pendeta!" tegas Karina.


Pendeta Andreas sejenak terdiam. Lalu, "Mbak Karin jangan pernah sekalipun memutuskan sendiri. Bicarakan baik-baik dengan semua pihak yang berada di sisi anda. Saya tidak mau, keputusan mbak Karin hanya menjadi sebatas wacana yang memberi harapan palsu pada pihak Bertha!"


Ucapan pendeta Andreas terasa tajam di telinga Karina. Namun itu justru menjadi pelecut bagi perempuan itu untuk memperjuangkan satu hal. Satu jiwa yang tak berdosa, korban dari ketidaktahuan orang tuanya.


(bersambung)


// Akan ada apa lagi nantinya?


Ikuti terus kisah ini.


Terima kasih sudah baca. Jangan lupa like, komen dan vote nya.


Salam sayang. Semoga pembaca selalu sehat dan bahagia //

__ADS_1


__ADS_2