
DOR!
DOR!
DOR!
Suara tembakan saling bersahutan. Kilatan mesiu terbakar dari moncong senjata tampak di sana sini. Seperti kembang api memercik di gelapnya malam. Pekik penggelora semangat bertingkah jerit kesakitan terdengar di mana-mana.
Janu tampak merunduk di balik tumpukan batu bata. Sesekali ditembakkan senjatanya dengan taktis. Dia gunakan peluru seefisien mungkin. Amunisi cadangan yang dia bawa tak sebanding dengan jumlah kelompok separatis yang menyerang.
"Bang, jumlah mereka sangat banyak!" seru seseorang di sampingnya.
Sekilas Janu melirik sebelum kemudian kembali konsentrasi ke depan. Doni ternyata sudah tiarap di sebelahnya, sambil menembakkan senjata ke arah musuh.
"Gimana ini, Bang?!" tanya Doni lagi, terdengar panik.
Janu tak menjawab. Dia tetap menembak.
Musuh terus merangsek ke depan. Jumlah mereka seakan tak berkurang. Seperti gelombang laut yang menyerbu daratan. Sementara beberapa prajurit mulai mundur ke belakang. Mereka mulai kehabisan amunisi. Tak ada pilihan lain selain menghindar dari pertempuran.
DOR!
"Aagh ...!" Tiba-tiba Doni menjerit. "Bang, A-aku k-kena!"
Janu tersentak. Perhatiannya kini beralih pada Doni. Dari kilatan cahaya mesiu, sepintas tampak Doni terkapar sambil memegangi dadanya.
"Don!" Janu segera merengkuh tubuh Doni. Senjata dia sangkutkan di bahu. Diangkatnya tubuh Doni dalam papahan.
Setengah berlari Janu membawa Doni ke arah belakang mess. Tak dipedulikan lagi musuh yang nyaris menguasai lapangan udara itu. Jumlah mereka tak seimbang. Amunisi yang di bawa Janu juga sudah tak tersisa.
Hosh, hosh, hosh ...
Nafas Janu memburu. Dadanya sesak oleh rasa lelah dan kekhawatiran pada kondisi Doni. Namun dia tetap bertahan. Janu terus berjalan melintasi ladang jagung di belakang mess, menyeberangi sungai kecil, dan mulai masuk ke dalam kawasan hutan.
Sementara Doni mulai melemah. Tubuh prajurit itu semakin merosot dalam papahan Janu. Hingga kemudian mereka berdua sama-sama tersungkur di rerumputan.
"Doni ... Doni ...!" Janu menggoyang-goyangkan tubuh Doni. Dirabanya dada Doni yang tadi tertembak. Darahnya terasa basah di tangan. Segera ditekannya luka tembak itu untuk mengurangi pendarahan.
"B-bang ... A-aku t-ti-dak ... k-kuat ..., terengah-engah Doni berkata.
"Doni, bertahan, Doni!" bisik Janu tegas, di telinga Doni.
"S-sampaikan maafku ... U-untuk orang tua ... d-dan D-dia ...."
Tubuh Doni semakin melemah. Kepalanya terkulai di pangkuan Janu.
"Doni, Doni, bangun Doni!" Janu menggoyang-goyangkan tubuh Doni. Tapi prajurit itu tak bereaksi. "Doni!"
Hanya sayup-sayup suara tembakan dan teriakan-teriakan yang terdengar, selebihnya senyap. Doni tetap tak bersuara atau pun bergerak. Bahkan bunyi nafas yang sesaat lalu terdengar terengah-engah kini lenyap.
Janu gemetar. Kedua tangan diletakkan di atas dada Doni. Lalu ditekannya berkali-kali sebagai upaya pertolongan pertama. "Doni ... Sersan dua Doni Syahputra, bangun, Ini perintah!" Suara Janu bergetar.
Tak ada reaksi apa-apa dari Doni. Janu memegang nadi leher prajurit itu, tak ada lagi denyutan. Lelaki itu pun kemudian tergugu. Matanya berkaca-kaca. Diusapnya wajah Doni pelan.
__ADS_1
"Innalilahi wainailaihi rojiun," bisiknya bergetar.
Janu meletakkan tubuh Doni di tanah. Kedua tangan prajurit itu dilipat di depan dada. Kemudian dia berdiri dengan sikap tegak. Diberinya penghormatan terakhir untuk almarhum Sersan Dua Doni Syahputra. Telah gugur kembali bunga bangsa di haribaan pertiwi. Semoga baktimu akan menjadi jalan bagi perdamaian di tanah ini.
Tiba-tiba ....
Bugh!
Sesuatu menghantam tengkuk Janu. Lelaki itu pun jatuh tersungkur di sebelah jenazah Doni. Sesaat kemudian kesadarannya lenyap.
***
"Bau, Bundaa ...!"
Oza menutup hidungnya. Anak itu urung menyendok nasi yang ada di magic com. Ditutupnya kembali alat penanak sekaligus penghangat nasi itu.
"Apanya yang bau, Oza?" Tergopoh-gopoh Maira menghampiri.
"Inii ..., nasinya bau lagii ...!" rengek Oza.
Maira membuka tutup magic com. Sesaat kemudian bau tak enak menguar. Perempuan itu mengerutkan dahi. "Kok, bisa, ya?"
"Terus, Oza makan apa, Bunda?"
Maira berpaling ke arah dapur. "Teh Linaa ...!"
Seorang perempuan paruh baya setengah berlari menghampiri mereka. "Aya naon, ibu?"
Teh Lina membaui nasi di centong. Lalu perempuan itu nyengir menahan bau tak enak nasi tersebut.
"Euleuh ..., kumaha eta teh?"
Maira mengangkat bahu. "Masak jam segini udah bau, sih? Belum sampai tengah hari, lho ini. Kemarin juga gitu. Apa magic com nya yang rusak, ya?"
"Ho oh, nyak?" Teh Lina ikut kebingungan. "Tapi, Bu, ceunah orang-orang tua dulu teh, kalau nasi tiba-tiba basi seperti ini, biasana mah akan ada sesuatu yang jelek terjadi."
"Hush!" hardik Maira. "Nggak baik, ah, bersuuzdon kayak gitu!"
Teh Lina tersipu sambil menutup mulutnya.
Maira mencabut colokan listrik pada alat penghangat nasi itu. "Tolong teh Lina sekarang beliin nasi ke warung Bu Saiful, ya. Buat makan Oza!"
"Nasi saja, Bu?"
"Ya, sama lauk telur atau ikan. Nggak enak kalau cuma beli nasi saja."
Teh Lina mengangguk. Setelah menerima uang dari Maira, perempuan yang kental logat sundanya itu berlalu sambil mengajak Oza.
Sementara Maira masih resah dengan masalah nasi basi nya. Padahal magic com itu baru dia beli bulan lalu.
Masak sudah rusak, sih?
Tiba-tiba omongan teh Lina tentang 'sesuatu yang jelek' melintas di kepalanya.
__ADS_1
Ah.
Maira berdiri dan bergegas masuk kamar. Diambilnya handphone di atas nakas. Ragu di hubunginya nomor kontak Janu.
Tidak aktif.
Sejak kemarin Janu memang sedang bertugas di daerah pedalaman. Tak ada sinyal di sana. Tentu saja Maira tak bisa menghubunginya.
Perempuan itu menghela nafas. Kembali diletakkan handphonenya di atas nakas.
Lindungi suami hamba Ya Allah ....
***
Janu membuka mata perlahan. Digerakkan tangan dan kakinya, namun tak bisa. Kedua tangannya terlipat ke belakang dan diikat kuat. demikian juga kakinya. Tubuh Janu meringkuk di tanah.
Diedarkan pandangan ke sekitar. Tampak beberapa orang berdiri di seputar api unggun. Mereka berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting dan kulit legam. Tampak senjata tersandang di bahu mereka.
"De su bangun," ucap seseorang diantaranya sambil menatap menatap Janu.
Janu kembali berusaha berontak, melepaskan ikatan di tangan dan kakinya.
"Hei,hei, heiii ...!" Salah satu dari mereka menghampiri Janu. Kakinya yang terbalut sepatu lars menendang tubuh Janu. "Ko jang macam-macam. Kutembak kepala ko, pecah suda!"
Janu menatap tajam pada lelaki hitam bertopi laken itu. Wajahnya menegang menahan amarah.
Cuh!
Air liur busuk dihadiahkan lelaki itu pada Janu.
Prajurit TNI itu semakin berang. Dia semakin kuat memberontak. Kembali tendangan sepatu Lars mendarat di tubuhnya.
"Ko tembak saja dia!" seru temannya yang berdiri di dekat api unggun.
Tapi temannya yang lain menghardik. Lalu mereka bicara dengan bahasa Papua. Sepertinya lelaki yang menghardik tadi tak setuju jika mereka mengeksekusi prajurit TNI itu sekarang. Janu tak begitu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
Sementara si topi Laken berjongkok di dekat Janu. Lelaki itu kembali mengencangkan ikatan di tangan dan kaki Janu. Seringai licik terlihat di bibirnya. "Ko jang biking ulah macam-macam. Ko pu nyawa tinggal hitungan jam. Mengerti!!!"
Janu menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dia pejamkan mata. Sesaat melintas bayangan Doni yang sudah gugur. Prajurit itu kembali merapatkan gerahamnya menahan amarah.
Astaghfirullah ....
Tiba-tiba bayangan Maira dan Oza menggantikan bayangan sosok Doni. Amarah yang membakar dada sesaat lalu, mendadak berubah menjadi kesedihan. Air mata Janu pelan mengalir membasahi pipinya.
Maafkan aku jika kelak tak bisa kupenuhi janjiku untuk pulang padamu, Dik ....
(bersambung)
// Turut berdukacita atas gugurnya para prajurit TNI yang bertugas di Papua. Semoga amal bakti kalian diterima Tuhan dan menjadi jalan bagi terciptanya kedamaian dan ketentraman di negeri ini.
Readers, nanti disambung lagi, ya...
tetap jangan lupa untuk tinggalkan like, komen n vote. Terimakasih..... //
__ADS_1