LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
MENENANGKAN DIRI


__ADS_3

Rasa bersalah yang berlebihan bisa jadi mesin pembunuh. Bukan membunuh orang lain, tapi membunuh perasaan sendiri.


Setelah dua kali menjalani sesi terapi, Janu mulai membaik. Tetapi sekarang dia berubah. Beberapa hari yang lalu Janu adalah lelaki yang hangat dengan kasih sayang deras tercurah setelah sekian lama melupakan keluarganya. Sekarang, dia lebih sering berdiam diri, melamun dan bahkan meneteskan air mata. Hubungannya dengan Maira pun menjadi canggung.


"Pak Janu ini mengalami tekanan batin karena rasa bersalah yang berlebihan, Bu," kata Mayor Yusuf, psikiater yang menangani Janu.


"Jadi apa yang harus kami lakukan, Dok? Saya sudah berusaha meyakinkan dia bahwa saya sudah memaafkannya. Tapi kondisinya masih tetap sama. Mas Janu masih tenggelam dalam rasa bersalahnya."


Mayor Yusuf menegakkan punggung. Lelaki itu sekarang fokus ke perempuan yang duduk di seberang mejanya.


"Ini sekedar masukan saja. Disetujui bisa, tidak pun tak apa-apa. Kita tetap teruskan terapi Serka Janu di sini."


"Apa itu, Dok?" Maira tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.


"Serka Janu itu orangnya religius. Itu salah satu penyebab dia susah untuk memaafkan diri sendiri saat melanggar norma agama. Dan sayangnya, itu berimbas pada orang-orang terdekatnya."


Maira mengangguk, mengiyakan.


"Jadi menurut saya, mungkin akan lebih baik jika sementara ini dia diberi kesempatan untuk menenangkan diri dulu. Berpisah dengan keluarga dulu, agar perasaan bersalah yang selalu muncul saat bertemu keluarga pelan-pelan hilang."


Maira menghembuskan napas berat. "Lalu, di mana dia akan menenangkan diri, Dok? Rawat inap di rumah sakit ini kah?"


"Bukan," jawab mayor Yusuf cepat. "Saya punya kenalan seorang kyai yang mengelola pondok pesantren di luar kota Jogja. Orangnya baik. Sering menangani orang-orang yang menderita depresi juga. Kalau Bu Maira setuju, untuk sementara kita bisa titipkan pak Janu di sana."


Kening Maira berkerut. Perempuan itu tampak sedang berpikir, mempertimbangkan usulan mayor Yusuf.


"Tentu saja pengobatan secara medis tetap kita lakukan. Saya masih akan menangani pak Janu. Secara rutin, saya akan berkunjung ke pesantren itu untuk sesi terapi dan memantau perkembangannya."


"Tapi, Dok, bagaimana dengan izinnya? Beberapa waktu lalu kami sudah melapor ke kesatuan di Bandung. Rencananya beberapa hari ke depan mas Janu akan mulai masuk dinas."


"Dalam kondisi demikian saya rasa pak Janu belum bisa menjalankan tugas. Kondisi psikis-nya masih sangat labil. Nanti saya akan memberi surat keterangan untuk pengurusan izinnya. Kalau perlu, saya sendiri yang akan menghubungi komandan di Bandung."


Maira tertegun. "Apa ini tidak terlalu merepotkan Dokter?"

__ADS_1


Dokter TNI itu tersenyum. "Tidak. Terus terang saya sangat ingin Serka Janu pulih seperti semula. Dia prajurit pilihan. Orang baik yang sangat dibutuhkan oleh keluarga mau pun negara. Suatu kehormatan bagi saya bisa ikut andil dalam kesembuhannya."


Maira menunduk dalam. "Terima kasih, Dok," ucapnya lirih. Perempuan itu diam-diam bersyukur dalam hati. Dia selalu di kelilingi oleh orang-orang baik, meski nasibnya terasa jungkir balik.


"Jadi gimana, Bu Maira setuju?"


"Setuju, Pak," jawabnya mantap.


Hari berikutnya dengan di dampingi mayor Yusuf serta keluarga pak Kusno dan Bu Hartini, Janu berangkat ke pesantren yang di maksud. Pemilik pondok pesantren kecil dan bersahaja itu belum terlalu tua. Mungkin beberapa tahun di atas usia mayor Yusuf. Dia memakai baju koko warna putih, sarung dan peci hitam. Terlihat sederhana dan terlalu biasa bagi seorang pemimpin pondok pesantren. Tapi jangan ditanya adab dan ilmunya. Luar biasa.


Maira dan anggota keluarga yang lain sedikit lega setelah mengobrol dengan Gus Ikhsan, pemimpin pondok pesantren itu. Kata-katanya yang bijak mampu meredakan kekhawatiran. Tanpa berusaha meyakinkan, Gus Ikhsan bisa membuat mereka percaya bahwa Janu akan membaik di pondok pesantren itu.


"Saya minta, sebaiknya mbak Maira jangan sering-sering nengok mas Janu. Bahkan di awal-awal malah sebaiknya tidak usah ditengok dulu!" ucap Gus Ikhsan, menjelang akhir pertemuan mereka.


"Tapi kenapa, Gus?" Maira penasaran.


"Ini untuk menstabilkan kondisi psikis mas Janu. Nanti akan saya kabari melalui bapak." Pandangan Gus Ikhsan beralih pada pak Kusno. "... Kapan kira-kira mas Janu bisa dijenguk."


Maira dan yang lain hanya bisa mengangguk. Pasrah pada upaya penyembuhan yang diusulkan mayor Yusuf melalui pendampingan di pesantren itu.


Sekarang hanya tinggal Maira dan Janu. Pak Kusno, istrinya, Bu Hartini, mayor Yusuf, dan bahkan Oza serta Hanin mengikuti Gus Ikhsan.


"Mas ...." Maira membuka suara. "Untuk sementara mas Janu kami tinggal di sini dulu, ya." Tatap matanya sendu, memandang suaminya.


Janu tak menjawab. Lelaki itu memandang kosong ke arah depan. Ekspresi wajahnya menampakkan penyesalan. Sekian hari hanya ekspresi itu yang tampak.


Maira menyentuh punggung tangan suaminya. Lelaki itu tersentak. Ditatapnya Maira, nanar.


"Mas, tidak apa-apa kan, sementara di sini?"


Janu menggeleng. "Tidak apa-apa," jawabnya lirih.


"Semangat ya, Mas. Aku dan anak-anak selalu menunggumu kembali pada kami, dalam kondisi seperti dulu lagi." Kristal-kristal bening mulai tampak di bola mata Maira.

__ADS_1


Janu mengangguk. "Maafkan aku, Dik," ucapnya parau.


Maira menyentuh pipi Janu. Diusapnya air mata yang mulai mengalir di pipi lelaki itu. "Kami sudah memaafkanmu sejak lama, Mas. Kuatkan hatimu menghadapi semua ini. Demi kami, aku dan anak-anakmu."


Isak Janu semakin keras. Bahu lelaki itu berguncang keras. Maira segera merengkuhnya dalam pelukan. Dielus punggung lelaki tercintanya.


Setelah tangisnya mereda, Janu menepis pelukan Maira dengan gerakan halus. Digenggam tangan istrinya. "Dik, biarkan aku menenangkan diri dulu di sini," ucapnya dengan suara bergetar.


Maira mengangguk. "Tapi jangan lama-lama, Mas. Aku akan sangat tersiksa kalau mas Janu tak segera kembali." Air mata Maira kembali turun.


***


Seminggu sudah Janu dititipkan ke pondok pesantren. Seminggu pula Maira dan anak-anaknya tak bisa berkomunikasi sama sekali dengan Janu. Oza mulai protes pada bundanya.


"Kenapa kita nggak boleh jenguk ayah, Bun. Oza kan, kangen!" rengeknya.


"Bunda juga kangen, sayang. Tapi kan, ayah memang belum boleh dijenguk. Insyaallah nanti kalau sudah boleh, kita segera ke sana, ya."


Oza tetap cemberut. Dia menatap Maira tajam. Napasnya mendengus kasar. Lalu anak itu melempar begitu saja lego di tangan dan berlari masuk kamar.


"Bunda jahat!" teriaknya.


"Oza!"


Maira tertegun. Baru kali ini Oza terlihat sangat marah padanya. Robekan luka di hati kembali menganga.


"Maafkan bunda, Nak," bisiknya.


...Bahkan bunga pun akan layu oleh waktu. Apalagi cintamu ...?...


(bersambung)


// Terima kasih sudah mampir baca. Mohon maaf telat up nya.

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan like, komen n vote.Terima kasih //


__ADS_2