LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
BUKAN MANTAN


__ADS_3

Flashback


POV Maira


Jogja, 2003


Semenjak kedatangan murid baru itu, kami bagai bintang kembar di sekolah. Bersaing untuk menjadi yang paling terang. Meski kadang salah satu di antaranya meredup saat yang lain bersinar. Begitu selalu, bergantian.


Riantama, tanpa sadar persaingan itu kemudian membuatku menjaga jarak dengannya. Bukan karena dia bersikap tak baik, hanya saja aku lebih memandang dia sebagai kompetitor yang layak dihindari. Dan mungkin di sekolah itu, akulah satu-satunya anak perempuan yang bersikap dingin padanya. Ya, Riantama alias Tama, selain pintar juga tampan. Tinggi di atas rata-rata, wajah lonjong dengan dagu belah, serta lesung pipit menggoda saat dia tersenyum atau tertawa. Dia memenuhi hampir semua kriteria cowok idola yang diidamkan gadis remaja.


Sikap Tama sendiri juga terkesan dingin padaku. Awalnya dia hangat dan sering mengajak bercanda. Tapi mungkin karena aku tak terlalu menanggapi, lama-lama dia bosan juga. Pelan-pelan menjauh dan semakin menciptakan jarak antara kami.


Suatu hari seorang gadis berambut cepak dengan rok seragam biru yang sedikit ketat, menarikku ke toilet sekolah. Noni, gadis bertubuh sintal untuk anak seusia kami itu terlihat sembab matanya. Tangisnya pecah saat kami sudah berada di dalam toilet.


"Ada apa, Non?" tanyaku, sambil mengelus pundaknya.


Dia memelukku makin erat. Bahunya tersengal-sengal dalam dekapanku. Untuk sesaat kubiarkan dia begitu. Sesungguhnya aku agak bingung, harus bagaimana menghadapinya. Aku dan Noni sama sekali tak akrab. Dia termasuk gadis populer di sekolah. Bukan karena kepandaiannya, tapi karena cantik dan sensasional.


"Tama, Mai ...," ucapnya kemudian saat tangisnya mulai reda.


Keningku berkerut. "Tama, kenapa?"


"Dia mutusin aku!"


Jleb!


Bahkan Tama jadian dengannya pun aku tak tahu. Selebar itukah jarak kuciptakan antara aku dengannya?


"Aku nggak rela, Mai. Dia mutusin aku begitu saja tanpa alasan. Padahal kami baru sebulan jadian. Huhuhu ...!"


Huh, cinta anak monyet! rutukku dalam hati.


"Sabar ya, Non," hiburku sekedar basa basi.


Noni tiba-tiba melepaskan pelukan, kemudian menatapku lekat. Pandangan matanya sedikit aneh. Aku jengah dibuatnya.


"Mai, maukah kamu bantu aku?"


Kedua alisku bertaut. "Bantu?"


Noni mengangguk.


"Bantu apa?"


"Tolong bicaralah dengan Tama. Tanyakan kenapa dia mutusin aku!"


"Tapi ... Kenapa bukan kamu sendiri yang bertanya?"


"Dia menghindar terus dariku. Semua suratku tak ada yang dia jawab. Dia juga tak mau bertemu denganku."


Aku berkesah. "Kenapa aku? Aku tak akrab dengannya. Kami bahkan jarang bicara!"


Dan aku pun tak akrab denganmu. Kenapa kamu tiba-tiba minta tolong aku? Lanjutku dalam hati.

__ADS_1


Pada akhirnya aku luruh juga. Bujukan Noni yang menghiba, tak sanggup aku tolak. Aku memang sering tak tahan dengan air mata. Maka, siang itu seusai sekolah, kuhampiri Tama yang masih sibuk memasukkan buku-buku ke dalam tas. Saat itu kelas sudah sepi, tinggal kami berdua.


"Aku mau ngomong," ucapku membuka kata.


Tama terperanjat menatapku. Mungkin ini hal yang aneh baginya, karena kami memang jarang saling sapa. Sejurus kemudian dia kembali dengan kesibukannya merapikan buku-buku.


Kutarik kursi di depannya dan aku duduk menghadap dia. "Kenapa kamu mutusin Noni?" tanyaku naif.


Dia menatapku. Salah satu sudut bibirnya ditarik ke atas, menampakkan ekspresi meremehkan. Lalu seperti tak mempedulikanku, dia meraih tas punggungnya dan berjalan keluar.


Aku meradang dibuatnya. Kukejar dia hingga pintu kelas. "Heh, tunggu!"


Dia menghentikan langkah dan berbalik ke arahku. "Apa?" tanyanya dengan nada sedikit galak.


"Kenapa Noni kamu putusin? Kasihan dia, nangis-nangis kecewa!"


Dia mendengus kesal. "Huh, jangan sok sibuk mencampuri urusan orang lain!" bentaknya


Aku terperangah dan tak bisa berkata-kata. Kubiarkan dia berlalu dari hadapan tanpa bisa kucegah. Selanjutnya bisa ditebak, mukaku merah padam menahan malu. Kupukul-pukul kepala menyesali kebodohan yang sudah kulakukan. Memang tak seharusnya aku ikut campur. Siapa aku?


Sejak kejadian itu jarak antara kami semakin melebar. Aku sama sekali tak mau menyapanya. Bahkan dengan sengaja menghindar. Tapi anehnya, justru muncul rumor tak sedap. Mereka bilang Tama suka aku. Gosip murahan apa pula itu?


Kata Dian, salah satu karibku, Tama putus dengan Noni karena aku. Tama tak pernah berhenti membicarakan aku di depan Noni dan membuat gadis itu jengkel. Bukannya menyesal, Tama justru memutuskannya.


"Kata siapa? Kamu jangan menyebar gosip murahan!"


"Kata Noni sendiri lah!" jawab Dian dengan tatap mata meyakinkan.


Mungkin karena itu tersebar gosip bahwa Tama suka aku. Tapi aku terlalu sibuk belajar untuk persiapan ujian nasional. Tak kuhiraukan sedikit pun gosip-gosip itu. Tama pun kurasa demikian. Dia selalu cuek, dingin dan tak menanggapi olok-olokan teman tentang kami.


"Aku mau bicara!" katanya dingin.


Lalu dia menarikku keluar dari aula, meninggalkan gempita pesta perpisahan. Kami berjalan menuju belakang sekolah. Tak ada seorang pun di sana.


"Selamat ya, kamu mendapat nilai tertinggi." Tama membuka percakapan. Tak seperti biasa, nada suaranya terdengar ramah.


"Terima kasih."


"Kamu mau melanjutkan ke mana?"


Kusebutkan salah satu SMA favorit di tempat kami. "Kalau kamu, mau kemana?"


Dia menarik nafas dalam. "Aku mau pindah ke Jakarta."


"Orang tuamu pindah tugas lagi?"


Papa Tama perwira TNI. Beliau sering berpindah tugas. Itulah sebabnya kenapa setahun yang lalu Tama pindah ke sekolahku.


"Iya, tapi papa pindah ke Makassar."


"Trus, kenapa kamu ke Jakarta?"


"Ikut nenekku. Aku sudah SMA, nggak mungkin aku pindah-pindah sekolah terus. Aku harus menetap di satu tempat."

__ADS_1


"Oh."


Dia terlihat agak gelisah. Berulangkali diusapnya rambut lurus berbelah samping itu. Matanya berusaha menghindar dari tatap mataku.


"Jadi, ada apa kamu mengajakku ke sini?"


Dengan gemetar tangan Tama mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah amplop biru diberikan padaku.


"Apa ini?"


"Bacalah kalau kamu sudah di rumah!"


Lalu dia cepat berbalik dan berlari meninggalkanku.


Penasaran kubuka amplop itu. Sebuah surat.


Maira,


Maafkan aku jika selama setahun ini aku meninggalkan kesan buruk bagimu. Bukan maksudku...


Sebenarnya aku juga ingin berteman denganmu, seperti dengan yang lain. Tapi entah kenapa itu begitu sulit kulakukan. Rasanya sangat canggung jika harus berdekatan denganmu. Entah apa itu namanya, tapi dadaku berdebar hebat saat bersamamu.


Maira,


Tadinya kupikir mendekati gadis lain akan menghilangkan rasa canggungku padamu. Tapi aku salah. Hingga akhirnya aku pun harus menyakiti hati Noni.


(Ini jawaban atas pertanyaanmu dulu tentang kenapa aku memutuskan Noni)


Maira,


Aku mau melanjutkan sekolah di Jakarta. Mungkin kita tak akan bertemu lagi, atau mungkin juga akan bertemu kembali. Kuharap, suatu saat jika kita bertemu, masing-masing kita sudah menggenggam kesuksesan. Dan kuharap, saat itu aku bisa membayar sikap burukku padamu selama ini.


Maaf,


dan terima kasih untuk semua kenangan yang entah apa namanya itu.


Tama


Deg!


Jantungku tiba-tiba bertalu. Tanganku gemetar menggenggam kertas itu. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa jadi sangat kehilangan. Padahal sesaat lalu ketika Tama bilang mau sekolah di Jakarta, aku biasa saja. Tapi ketika kubaca kejujurannya, hatiku tersentuh. Campur aduk rasanya, antara rasa sesal, bahagia dan kecewa.


Aku segera berlari ke depan. Kucari Tama di antara anak-anak yang merayakan kelulusan. Namun tak kutemukan. Kata mereka Tama sudah pulang. Dan itu terakhir kalinya aku melihat Tama. Selanjutnya, tak pernah kudengar lagi kabar mengenai dia. Pelan-pelan aku pun melupakan dia dan kisah yang entah apa namanya.


***


Maira tersenyum mengingat kejadian siang tadi. Sebuah pertemuan yang tak diduga, setelah sekian lama.


Pantas saja aku merasa tak asing dengan kapten Rian.


Tatap mata Kapten Rian yang berbinar tadi siang, masih melekat di ingatan Maira. Lelaki itu terlihat sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Maira. Namun mereka tak sempat bicara banyak. Selain karena masih mencoba menjaga jarak mengingat status masing-masing, Maira juga terburu-buru pulang karena hari sudah menjelang sore.


Maira berkali-kali menggelengkan kepala sambil tersenyum-senyum sendiri. Seakan masih tak percaya dia bisa bertemu kembali dengan Riantama. Hal itu memaksanya kembali mengulas kenangan masa lalu. Bukan kenangan tentang mantan, tapi cukup melekat dalam ingatan.

__ADS_1


(bersambung)


// Terima kasih sudah mampir. Mohon doanya agar pembacaku bertambah. Supaya lelah jempol ini bisa sedikit terobati....hikhikhik....//


__ADS_2