LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
RUMOR


__ADS_3

...Kesalahan adalah cara Tuhan memperingatkan kita untuk berubah menjadi lebih baik....


Maira dan Dewi tampak duduk berdampingan. Sebuah meja memisahkan mereka dengan Bu Sapto. Hanya ada mereka bertiga di kantor PIA.


Mata Bu Sapto menatap tajam pada mereka. Wajah anggun itu tak seramah biasanya. Tak ada sedikitpun senyum di bibirnya.


"Saya sudah dengar rumor tak sedap di kalangan ibu-ibu," ucapnya dingin. "Saya memanggil ibu-ibu ini karena ingin meminta penjelasan, apa yang sebenarnya terjadi!"


Bu Sapto beralih menatap Maira. "Jadi, apa benar rumor yang saya dengar itu Bu Janu?"


Diam-diam Dewi menyeringai. Puas hatinya melihat Maira ditanya sedemikian rupa oleh ibu perwira.


"Mohon ijin, ibu, kalau yang ditanyakan mengenai saya yang diantar kapten Rian pulang, itu memang benar adanya," jawab Maira tenang.


Bu Sapto mengerutkan kening. Seringai Dewi semakin tajam.


"Tapi itu karena situasi dan kondisi, ibu. Om yang diperintah menjemput saya, salah tempat. Dikiranya saya ada di Dago. Padahal malam sudah larut dan kondisi tempat lomba juga sudah semakin sepi. Kapten Rian menawarkan untuk mengantar saya, mengingat kalau menunggu om yang menjemput pasti akan lebih lama. Dan karena saya juga sudah sangat lelah, saya menerima tawaran kapten Rian, ibu."


"Ijin, ibu, bagaimana pun itu tetap tidak etis kan, ya?" Dewi tiba-tiba nimbrung.


Tanpa menatap Dewi, Bu Sapto mengangkat tangan, membuat isyarat agar Dewi diam.


"Siapa om yang bertugas menjemput Bu Janu?"


Agak ragu Maira menjawab. "Pratu Haris, ibu." Dia takut ini akan menimbulkan masalah bagi pratu Haris.


Sesaat kemudian Bu Sapto beranjak dari duduknya. Dia tampak menelepon seseorang. Sementara Dewi menatap tajam pada Maira.


"Kalau memang salah, jangan suka nyari kambing hitam. Dasar ...!" Bisiknya dengan nada mengintimidasi.


Maira berusaha tak terpengaruh. Dia tetap tenang menatap lurus ke depan.


"Gue tahu Lo cantik. Tapi kecantikan tanpa diimbangi etika, hmmm ... Sama aja bo'ong!" serang Dewi lagi.


Maira masih kukuh bertahan. Jari-jarinya mengepal dalam genggaman. Menahan emosi karena provokasi Dewi.


Tak berapa lama Bu Sapto kembali menghampiri mereka. Dia kembali duduk di kursi. Matanya kini menatap Maira.


"Bu Janu, memang benar adanya, bahwa sebagai perempuan kita harus mengerti etika. Salah satunya tak berduaan dengan lelaki lain. Apalagi di waktu malam. Semoga kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua."


Dewi ikut melirik Maira. Bibirnya kembali mencibir.

__ADS_1


"Namun di situasi seperti kemarin, saya cukup mengerti dengan keputusan Bu Janu untuk bersedia diantar kapten Rian."


Raut wajah Dewi seketika berubah.


"Kami yang seharusnya minta maaf karena kesannya kami seperti menelantarkan Bu Janu. Padahal kami yang meminta bantuan Bu Janu untuk mewakili lomba tersebut."


Maira menghembuskan nafas lega. "Siap, ibu, mohon maaf jika seandainya saya memang telah melanggar etika sebagai istri prajurit."


Bu Sapto mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia beralih pada Dewi.


"Yang tidak saya mengerti, kenapa pratu Haris yang seharusnya bertugas menjemput Bu Janu malah diperintahkan oleh salah satu ibu pengurus yang bertugas di wisma Dago?" tanyanya tajam.


Dewi tergagap. Saat itu dia dan beberapa ibu lain memang bertugas menyiapkan tempat menginap para pejabat mabes di wisma Dago.


"Kenapa, Bu Andre? Apa ada hal yang mendesak sehingga perlu merepotkan pratu Haris yang sedang bertugas?"


"Ee ... S-saya ....saya ..., ijin, ibu, k-kami perlu beberapa perlengkapan untuk digunakan di wisma," jawab Dewi terbata-bata. Saat itu memang dia yang menyuruh pratu Haris untuk ke Dago. Bukan untuk membawa perlengkapan yang tertinggal di lanud, tapi untuk membawakan salah satu jajanan yang sedang happening di Bandung. Mereka yang bertugas di wisma sedang bete dan ingin menikmati makanan itu untuk mengusir bosan.


Bu Sapto mendengus kesal. "Perlengkapan apa? Nasi goreng yang lagi viral itu?" sindirnya, menyebut jajanan yang dipesan Dewi dan teman-temannya malam itu.


Dewi tak bisa berkata apa-apa lagi. Percuma membela diri, Bu Sapto sudah tahu semuanya.


"Saya harap permasalahan ini cukup sampai di sini. Tak perlu ibu ketua dan ibu wakil ketua tahu. Kalian selesaikan semua di sini, sekarang juga!" ucap Bu Sapto tegas.


***


Di tempat lain, kapten Rian menghadap mayor Sapto. Wajahnya tampak tegang saat mendengar seniornya itu berkata.


"Seharusnya tak perlu seperti itu!"


"Siap, salah, Bang!"


Mayor Sapto menggeleng-gelengkan kepala. Direbahkan badan ke sandaran kursi kerjanya. Kedua tangan menelangkup di depan muka. Perwira itu gusar dengan sikap kapten Rian yang menimbulkan rumor tak sedap.


"Sebenarnya, apa sih, pertimbanganmu hingga begitu saja mau mengantar istri prajurit di tengah malam? Mungkin memang tak ada apa-apa, tapi itu kan, bisa jadi preseden buruk bagi anggota?"


"Siap, Bang. Sebenarnya istri Serka Janu itu teman SMP saya dulu. Jadi kami memang sudah saling kenal. Yang saya pikirkan saat itu hanya rasa kasihan melihat dia yang sedang hamil harus menunggu jemputan lama, sementara malam sudah semakin larut."


Mayor Sapto mengangguk-angguk. "Ya, sudah. Tapi pastikan hal itu tak akan terulang lagi. Jaga sikap, jaga etika. Beri contoh baik pada anak buah!"


"Siap, Bang!"

__ADS_1


Semenjak kejadian itu, baik Maira maupun kapten Rian memang selalu saling menghindar. Rumor tak sedap itu sudah cukup membuat pusing mereka. Meski si penyebar rumor dan biang keladi permasalahan jemputan untuk Maira sudah mendapat peringatan keras, tetap saja cerita buruk itu membekas bagi Maira dan kapten Rian.


Pada awalnya Maira mengira semua sudah selesai setelah di depan Bu Sapto, dia dan Dewi saling bermaafan. Tapi saat tiba jadwal Janu turun jaga, dia kaget ketika suaminya menanyakan berita itu melalui video call.


"Aku dengar kabar tak sedap tentangmu, Dik!" ucap Janu dengan wajah datar. Sorot matanya terlihat tajam di layar handphone.


"A-apa, Mas?"


"Tentang kamu dan kapten Rian."


Maira terkejut. Dari mana mas Janu tahu?


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Mas Janu tahu dari siapa?"


"Sayangnya, aku tahunya bukan dari kamu sendiri!" ucap Janu dingin.


Baru kali ini Maira melihat Janu seseram itu cara bicara dan raut wajahnya. Dia khawatir Janu telah salah paham.


"Itu cuma salah paham saja, Mas. Kami sudah menyelesaikannya di depan Bu Sapto."


"Tapi di depanku kamu belum mengungkap apa-apa!"


Glek!


Maira menelan ludah. Begitukah saat Janu marah? Kata-katanya singkat namun telak.


"M-maafkan aku, Mas. Lagian kita kan, baru komunikasi sekarang."


"Seandainya tak kutanyakan, apakah kamu juga akan menceritakan?"


Sekali lagi Maira menelan ludahnya. Tenggorokan perempuan itu mendadak sempit terasa. Memang dia tak berniat menceritakan insiden itu pada Janu. Dia menganggap semua sudah berlalu dan tak perlu diungkit-ungkit lagi.


"Mas, kenapa kamu bersikap seperti ini? Sebenarnya apa yang sudah kamu dengar?"


Janu tak menjawab. Dia tampak gelisah. Diusapnya rambut di kepala yang terlihat lebih panjang dari biasanya. Rasa cemburu telah membakar hatinya.


(bersambung)


// Cemburu, itu racun kala LDR. Untuk para pejuang LDR, hati-hati dengan rasa cemburu, yaa ...!

__ADS_1


Saling percaya, selalu jujur pada pasangan, itu kuncinya.


Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa like, komen n vote....❤️❤️❤️ //


__ADS_2