LELAKI PENGGANTI Season 2

LELAKI PENGGANTI Season 2
MEMBANGUN HARAPAN


__ADS_3

Bandung masih seperti beberapa bulan lalu saat ditinggalkan Maira. Kalau pun ada bedanya, dulu Bandung melepas Maira yang nyaris putus asa, sekarang kota itu menerima Maira dengan segala harapannya.


Tiba di Bandung mereka langsung menuju komplek rumah dinas menggunakan taksi. Beberapa hari lalu Maira sudah menghubungi Nina, istri Serka Untung. Dia minta tolong sahabatnya itu untuk menyuruh teh Lina membersihkan rumah. Jadi saat dia dan Janu nanti sampai, suasana rumah sudah nyaman.


"Beres kalau cuma itu, mah. Kita bakalan sulap rumahmu jadi istana yang nyaman untuk honeymoon," kata Nina waktu itu di telepon.


"Ih, mbak Nina nggak usah macam-macam. Cukup minta tolong teh Lina supaya bebersih saja. Biar pas kami datang nggak pengap lagi rumahnya!"


Tapi dasar Nina, dia terlalu bahagia untuk tak melakukan apa pun menyambut Maira dan Janu. Bersama para istri teman satu letting Janu, mereka membantu teh Lina membereskan rumah. Bersih-bersih dan menatanya. Hingga saat hari Maira dan Janu datang, rumah dinas itu sudah bersih, rapi dan nyaman.


Matahari belum tinggi ketika Maira dan Janu sampai. Nina bersama ibu-ibu komplek yang lain menyambut mereka.


"Alhamdulillah, Say, akhirnya kamu bisa berkumpul lagi dengan suami," bisik Nina saat memeluk Maira.


"Terima kasih, mbak." Mata Maira berkaca-kaca. Terharu oleh ketulusan salah satu sahabatnya itu.


"Om Janu belum kembali juga ingatannya?" bisik Nina lagi.


Maira menggeleng lemah.


Ibu-ibu yang lain kemudian bergiliran menyalami Maira dan Janu. Janu sendiri mengamati apa yang dilakukan Maira. Tersenyum, mengangguk dan mengucap terima kasih, seperti apa yang dilakukan Maira. Meski dia tak tahu, siapa para ibu yang didepannya itu.


Nina dan ibu-ibu yang lain ternyata sudah menyiapkan berbagai masakan. Mereka menyilahkan Janu dan Maira untuk makan. Tapi Maira menolak karena kebetulan tadi mereka sudah sarapan di stasiun.


"Nanti siang saja, ibu-ibu," tolak Maira.


"Nah, kebetulan. Nanti sekalian kita makan bareng dengan bapak-bapaknya," kata Nina.


"Mereka mau kesini?" tanya Maira.


Nina mengangguk. "Mungkin sebentar lagi. Teman-teman satu leting om Janu semalam sudah berencana kesini kalau kalian sudah sampai."


Maira mengembangkan senyum bahagia penuh harap. Dia menatap Janu yang duduk terpekur di sofa ruang tamu.


Mudah-mudahan bertemu dengan teman-temannya akan membawa hal baik bagi mas Janu.


Menjelang siang sekitar sepuluh anggota TNI, teman satu letingJanu datang. Mereka meluapkan rasa bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Janu. Lelaki itu mereka peluk erat. Bahkan ada beberapa yang berurai air mata haru.


"Alhamdulillah ya, Allah, akhirnya saudaraku ditemukan juga!" seru Serka Untung sambil memeluk Janu.


Janu sendiri terlihat kikuk. Dia sama sekali tidak ingat orang-orang didepannya. Dia hanya membalas pelukan ala kadarnya dan mengucapkan terima kasih.


"Om Janu masih amnesia, Bang," bisik Nina di telinga suaminya.

__ADS_1


Wajah Serka Untung yang sesaat lalu berbinar, kini berubah murung. Dia kembali mendekat pada Janu yang masih disalami dan dipeluk oleh teman-teman lainnya. Ditepuk-tepuk pundak Janu. Lalu lelaki itu mengajak Janu kembali duduk di sofa.


"Teman-teman, sahabat kita ini, Serka Janu Satria, hingga saat ini masih belum pulih ingatannya." Serka Untung membuka suara. "Jadi maklum kalau beliau menyambut teman-teman sekalian dengan kaku dan kikuk. Serka Janu belum bisa mengingat kita, teman-teman."


Keluh dan helaan napas terdengar. Wajah-wajah gembira itu lenyap berganti murung.


"Kita doakan saja, semoga dengan kedatangan Janu ke Bandung ini, ingatannya akan segera pulih."


Serentak mereka mengaminkan.


"Ya, sudah, sebaiknya kita segera makan saja, ya!" Nina memecah suasana sendu.


"Woeee ..., ada makannya juga!"


"Mantap!"


"Hayuk atuh, serbu-serbu ...!"


Seperti biasa, tentara adalah makhluk yang paling mensyukuri nikmat makan. Hidangan apa pun, bagi mereka adanya cuma enak dannenak sekali. Dengan sigap mereka segera menyerbu ruang makan. Masakan yang disediakan ibu-ibu lebih dari cukup untuk satu regu pasukan.


Maira mengambilkan makan Janu. Suaminya itu dari tadi tak beranjak dari sofa. Mungkin dia masih bingung mempelajari situasi.


"Ini, Mas!" Maira mengangsurkan piring pada Janu.


"Woo iya, wajib itu!" timpal yang lain.


"Suapin ... Suapin ... Suapin ...!" Seperti dikomando mereka memberi semangat.


Pipi Maira semburat merah. Antara malu dan menahan debar di dada. Mau tak mau tangannya terulur juga, memberikan suapan pada Janu.


Lelaki itu malu-malu membuka mulut. Karena kikuk, nasi yang disuapkan berlepotan di sekitar bibir. Spontan Maira mengelapnya dengan tangan.


"Alamaaak ... Romantis kali lah, mereka!" seru Togap. "Buteeet, kemari kau, suapin Abang kau ini!"


Butet, istri Serka Togap mencibir. "Enak aja. Makan ndiri!" hardiknya.


"Hahahaha ...!" Derai tawa membahana, meriuhkan suasana komplek siang itu.


***


Malam harinya rumah kembali sepi. Sesiangan tadi tamu-tamu hilir mudik datang, menanyakan kabar Janu. Teh Lina juga sudah pulang beberapa jam lalu.


Maira meluruskan kaki di atas sofa depan TV. Dia mengambil gawai di meja hendak menelepon Karina. Tapi diurungkan saat melihat Janu keluar kamar.

__ADS_1


"Belum tidur, Mas?"


Janu menggeleng. Dia berdiri di samping pintu kamar, menatap Maira.


Maira menurunkan kaki dari atas sofa, lalu menggeser duduknya. "Duduk sini dulu kalau belum ngantuk, Mas!" Tangannya menepuk-nepuk sofa


Janu beranjak dan duduk di sebelah Maira.


"Capek ya?" tanya Maira.


Janu mengangguk. Matanya tertuju pada layar televisi yang menyala.


"Dari semua orang yang berkunjung siang tadi, adakah salah satu diantaranya yang mas Janu ingat?"


Janu menatap Maira, lalu menggeleng. "Tidak."


Maira menghela napas. Kini mereka sama-sama terpaku pada layar televisi. Pandangan melekat ke sana, tapi pikiran entah kemana..


"Malam ini, kamu masih mau tidur terpisah denganku, Mas?" tanya Maira hati-hati.


Janu termangu. "Maaf, aku ...."


"Tidak apa-apa. Aku nanti bisa tidur di kamar Oza," jawab Maira cepat.


Tapi dini hari Maira akhirnya pindah kamar. Janu menggigau sangat keras. Maira sampai harus lari pontang panting menuju kamar mereka. Lalu setelah dielus-elus kepala Janu dengan lembut, lelaki itu kembali tenang dan tertidur pulas hingga pagi.


Janu terbangun ketika tangannya terasa memeluk sesuatu yang lembut dan lunak. Mata lelaki itu terbuka lebar saat menyadari dia sedang memeluk Maira. Segera dia bangkit dan melepaskan pelukan.


Sejenak Maira menggeliat, lalu meneruskan tidurnya.


Mata Janu menatap nanar sosok di sebelahnya. Jantungnya berdebar saat melihat wajah Maira. Wajah itu terlihat damai dengan mata terpejam erat, bibir terkatup rapat. Hidung mancungnya tampak mengeluarkan napas halus. Bibir merah jambu terlihat sedikit tersenyum. Sementara anak-anak rambut jatuh liar di pipi dan keningnya.


Janu menelan ludah. Tangannya bergerak, hendak menyentuh wajah Maira.


(bersambung)


// Geregetan gue!


😁😁😁😁


Harap sabar menanti apa yang akan terjadi, yaa ...!


Terima kasih sudah mampir, like, komen dan vote.

__ADS_1


Semoga pembaca semua selalu sehat dan bahagia. //


__ADS_2